Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 83 : Ilmu Yang Susah Di Hadapi


__ADS_3

Tumenggung Wirayuda menghadapi Aria Pilong dengan tenang, sehingga pertempuran berjalan alot.


Pengalaman bertempur Tumenggung Wirayuda sudah tidak perlu di ragukan lagi, menghadapi jurus tongkat sedagitik Tumenggung Wirayuda tidak mau berlaku ayal, karena sang Tumenggung melihat ilmu tombak yang di pakai Aria aneh dan gerakannya susah di tebak.


Batang tombak terkadang bergoyang naik turun, setelah Aria yang menggenggam pangkal tombak di getarkan.


Mata tombak terkadang turun naik, ke kiri dan kanan sebelum menyerang bagian tubuh Tumenggung Wirayuda.


Plak!


Telapak kanan Tumenggung Wirayuda menepak batang tombak, saat tombak menyabet ke arah samping mengincar pinggang kiri.


Setelah tombak Aria di tepak, Tubuh Aria berputar kali ini tombak mengincar perut Tumenggung Wirayuda.


Whut!


Tumenggung Wirayuda mundur, sambil kakinya menendang satu kerikil kecil ke arah tubuh Aria.


Shing!


Trak!


Tangan kiri Aria langsung menghantam ke arah batu yang melesat ke arahnya.


Bangsat!


Dia buta, tetapi semua seranganku berhasil dia hindari, dia juga seperti bisa melihat aku, walau aku sudah bergerak dengan perlahan, dia seperti melihat kemana aku bergerak.


“Benar-benar Iblis buta,” batin Tumenggung Wirayuda sambil menatap Aria Pilong.


Mata Wirayuda menoleh ke arah rumahnya yang terbakar serta puluhan bahkan mungkin ratusan prajuritnya yang tewas bergelimpangan.


“Aneh! Kenapa ribuan prajurit Tumapel yang tersebar di kota, serta para penduduk tidak berbondong bondong kemari, apa mereka tidak mendengar suara pertempuran dan melihat rumahku yang terbakar? Tumenggung Wirayuda bertanya tanya dalam hati setelah melihat ke anehan yang terjadi.


Tumenggung Wirayuda tampak termenung.


“Kenapa diam? Tanya Aria, melihat Aura di tubuh Tumenggung Wirayuda, diam tak bergerak.


Tumenggung Wirayuda tersadar dari lamunannya setelah mendengar perkataan Aria.


“Pantas Singalodra tewas di tanganmu,” ucap Tumenggung Wirayuda.


“Sudah selesai kita main-main, sekarang bersiaplah! Seru Tumenggung Wirayuda.


“Main-main? Tanya Aria sambil mendengus, mendengar perkataan Tumenggung Wirayuda.


“Kenapa kau sebut main-main, tetapi napas mu kempas kempis seperti babi hutan yang sedang lari di buru? Lanjut perkataan Aria Pilong.


“Jangan jumawa anak muda! Balas Tumenggung Wirayuda.


Setelah berkata, Tumenggung Wirayuda langsung pasang kuda-kuda, kedua tangan bergerak naik turun sambil menyilang.


Napas sang Tumenggung turun naik, mengikuti perut yang tampak mengembung dan mengempis.


Huuuah!


Perlahan mata Tumenggung Wirayuda berubah hijau, bola hitam berubah mengerucut seperti mata binatang buas.


Kulit Tumenggung Wirayuda juga perlahan berubah warna menjadi hijau, dan kulit yang ada di tubuh tampak mengeras seperti kulit kayu, raut wajah Tumenggung Wirayuda tampak mengerikan setelah kulitnya berubah.


Aria kerutkan kening, melihat aura Tumenggung Wirayuda berubah menjadi hijau, dan kekuatan aura yang terlihat kali ini sangat hebat ,beberapa kali lipat dari sewaktu sang Tumenggung belum berubah.


Wangsa kerutkan kening setelah melihat perubahan yang terjadi kepada Tumenggung Wirayuda.


“Kulitnya sama denganku,” ucap Buto Ijo.


“Coba kau perhatikan kembali wajah Tumenggung Wirayuda! Wangsa berkata.

__ADS_1


Buto Ijo setelah mendengar perkataan Wangsa, terus memperhatikan Tumenggung Wirayuda.


Tetapi setelah melihat lama, tidak ada ke anehan yang terlihat di wajah Tumenggung Wirayuda, Buto Ijo kerutkan kening, kemudian bertanya.


“Aku lihat biasa saja, memangnya kenapa dengan wajah Tumenggung Wirayuda?


“Kau kan bilang kulitnya hijau sama denganmu, itu sebabnya aku suruh kau perhatikan wajah Tumenggung Wirayuda! Kalau mirip denganmu, mungkin saja dia kakakmu,” jawab Wangsa.


“Bangsat….keparat….dasar resi palsu,” teriak Buto Ijo terus memaki, sambil tangannya menghantam ke arah bahu Wangsa.


Plak!


Wangsa menangkis serangan Buto Ijo.


“Sabar….sabar! Kan aku bilang mungkin saja,” ucap Wangsa sambil mundur menjauh.


“Tutup mulutmu, Bangsat! Kau kan tahu aku anak tunggal,” ucap Buto Ijo.


“Kau kan anak tunggal dari ibumu! Siapa yang tahu, dia juga anak tunggal dari ibu tirimu,” balas Wangsa.


“Diam kau, bangsat! Ucap Buto Ijo dengan nada geram.


Perhatian Buto Ijo terpecah, setelah melihat Aria melesat dan tombaknya menusuk dada Tumenggung Wirayuda.


Shing!


Saat dadanya di tusuk, Tumenggung Wirayuda bukannya menghindar, malah membusungkan dada menerima tusukan tombak Aria Pilong.


Mata tombak tepat mengenai dada Tumenggung Wirayuda, tetapi mata tombak yang digunakan Aria, tidak bisa menembus kulit Tumenggung Wirayuda.


Aria terkejut, kemudian menambah tenaganya, tetapi batang tombak malah melengkung dan akhirnya.


Trak!


Tombak yang di gunakan Aria patah menjadi dua.


“Sepertinya Tumenggung Wirayuda memiliki ilmu kebal,” batin Aria.


Suara tertawa Tumenggung Wirayuda berkumandang, setelah tombak Aria patah saat menusuk dadanya.


“Pilih….kau pilih di bagian mana yang kau suka,” ucap Tumenggung Wirayuda dengan suara parau seperti suara yang berasal dari alam ghaib.


“Rupanya dia menggunakan ilmu siluman,” batin Aria, setelah mendengar suara tertawa Tumenggung Wirayuda.


“Hati-hati suami, tubuh Tumenggung Wirayuda kebal dari senjata serta pukulan.


“Setahu aku! Ajian yang di keluarkan oleh Tumenggung Wirayuda adalah milik Ratu siluman buaya yang menguasai sepanjang sungai Wuluyu ( Bengawan Solo ),” ucap Nyi Selasih, ajian itu bernama Ajian Larang Boyo.


“Kalau dia kebal pukulan dan senjata! Bagaimana aku bisa mengalahkan dia? Tanya Aria.


“Setiap ilmu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, tetapi aku tidak tahu kelemahan ajian Larang Boyo.


“Saat ini Selasih tidak bisa membantu suami, karena Selasih berusaha mempertahankan pagar ghaib di sekitar rumah Tumenggung Wirayuda, agar para penduduk dan prajurit yang berada di luar tidak bisa melihat apa yang kita lakukan di dalam sini,” lanjut perkataan Nyi Selasih.


“Nyi Selasih tidak usah khawatir! Aku akan berusaha sendiri mencari kelemahan Tumenggung Wirayuda,” balas Aria.


Suara Nyi Selasih menghilang setelah mendengar perkataan Aria.


Suara Nyi Selasih menghilang setelah mendengar perkataan Aria, Nyi Selasih kembali berkonsentrasi dengan pagar ghaib nya, sementara Aria mulai bersiap.


Baru saja Aria selesai bicara, dengan Nyi Selasih.


Tumenggung Wirayuda meraung, kemudian melesat ke arah Aria, dengan tangan kanan menghantam kepala Aria.


Whut….plak!


Aria menangkis pukulan Tumenggung Wirayuda, tetapi kali ini tubuhnya terseret mundur selangkah, tangan Aria juga sakit dan panas setelah menangkis hantaman Tumenggung Wirayuda yang menggunakan Ajian Larang Boyo.

__ADS_1


Aria mendengus lalu balik menghantam dengan ajian Mawageni


Blam!


Telapak kiri Aria yang mengandung ajian Mawageni dengan telak menghantam dada Tumenggung Wirayuda.


Tumenggung Wirayuda terhuyung dan mundur setombak kebelakang, baju di bagian dada tampak hangus terkena ajian Mawageni, tetapi Tumenggung Wirayuda menyeringai tidak tampak ada luka di dada sang Tumenggung walau, tadi terkena pukulan telak Aria,


Mata Tumenggung Wirayuda yang sudah berubah dan berwarna hijau, semakin terang dan menatap tajam ke arah Aria Pilong.


“Keluarkan semua pukulanmu! Pilih saja di mana kau suka! Ucap Tumenggung Wirayuda.


Baru saja Tumenggung Wirayuda berkata.


Buk!


Satu pukulan menghantam punggung sang Tumenggung dengan sangat telak, Tumenggung Wirayuda sampai terpental, saking kerasnya hantaman.


Setelah terpental, Tumenggung Wirayuda langsung bangkit dan menatap orang yang sudah memukulnya.


Buto Ijo, Wangsa dan Suketi sampai dan berdiri di samping Aria.


“Keras sekali tubuh keparat itu,” ucap Buto Ijo, yang baru saja menghantam punggung Tumenggung Wirayuda.


“Tentu saja keras! Karena Kau menghantam kulit siluman buaya.” Ucap Wangsa.


“Kulit siluman buaya? Tanya Buto Ijo.


“Benar! Tumenggung Wirayuda memakai ilmu terlarang, Ajian Larang Boyo,” jawab Wangsa


“Segala macam pukulan dan senjata tidak akan mempan terhadap orang yang menggunakan ajian Larang Boyo,” lanjut perkataan Wangsa.


“Seperti tubuhku! Ucap Buto Ijo.


“Ilmu kalian berbeda, kau mempelajari ilmu dan sebagian ilmu di berikan langsung oleh Naga hijau yakni ayahmu,


Sementara ilmu Larang Boyo bisa di miliki setelah orang yang memiliki ilmu itu mau menjalani rutial dan perjanjian dengan sang pemilik ilmu, yakni ratu siluman buaya, penguasa sungai Waluyu.


“Setiap orang yang memiliki ilmu Larang Boyo dan menggunakannya, umur orang itu akan berkurang,” lanjut perkataan Wangsa.


“Itu tidak mungkin! Ucap Buto Ijo.


Wangsa kerutkan keningnya mendengar bantahan Buto Ijo.


“Kenapa tidak mungkin? Tanya Wangsa.


“Coba kau pikir! Ratu siluman buaya pasti akan mati terlebih dahulu, karena dia pemilik ajian Larang Boyo,” jawab Buto Ijo.


“Dasar tolol! Si pemilik ( Ratu siluman buaya ) ilmu tidak akan terpengaruh, karena memang dia yang menciptakannya,” ucap Wangsa.


Phuih!


“Sama-sama hijau dan sama-sama tak mempan pukulan, kupikir sama saja,” balas Buto Ijo.


“Ini berbeda, Ratu siluman buaya, merupakan Buaya muara, sedangkan kau adalah Buaya Darat,” Wangsa berkata dengan nada kesal.


“Kalian malah bertengkar! Apa kalian tidak lihat, kakak ketiga sedang sibuk melawan Tumenggung Wirayuda, bukannya membantu malah kalian berdua ribut terus,” ucap Andini dengan nada kesal.


Buto Ijo langsung menoleh ke arah pertempuran yang semakin sengit, para prajurit yang masih selamat langsung menyingkir, karena hawa tenaga dalam yang keluar dari tubuh Aria dan Tumenggung Wirayuda sanggup melukai orang yang berada dekat dengan mereka, yang sedang bertempur.


Wangsa dan Buto Ijo melihat beberapa kali tubuh Tumenggung Wirayuda terkena pukulan Aria, tetapi sang Tumenggung terus bangkit.


Hmm!


“Hanya ada satu cara menghadapi orang seperti ini,” ucap Buto Ijo, setelah melihat pertarungan antara Aria dan Tumenggung Wirayuda.


“Kau punya cara apa? Tanya Wangsa.

__ADS_1


Buto Ijo menoleh ke arah Wangsa, kemudian berkata.


“Kita Keroyok dia.”


__ADS_2