Iblis Buta

Iblis Buta
Maafkan Aku, Kakang


__ADS_3

Suara suling semakin jelas terdengar, bukan saja oleh Aria yang mempunyai pendengaran tajam, penumpang kapal di saat tengah panik, akhirnya mendengar suara suling mengalun merdu di tengah lautan.


Kedua Elang yang sedang berputar sambil mengibaskan kedua sayap, ketika mendengar suara suling yang membuat sakit telinga mereka, perlahan berhenti mengelilingi perahu, lalu naik tinggi ke atas langit biru dan berputar putar di atas, untuk mengetahui apa yang terjadi.


Sementara itu, Wangsa terus menggerutu karena kebodohan Buto Ijo, mendayung perahunya ke arah kapal penyeberangan dan naik ke atas kapal.


Selamet terus menatap ke arah titik yang semakin lama semakin jelas terlihat, tengah menuju ke arah mereka dari arah depan.


“Ada perahu mendekat….Ada perahu mendekat,” teriak Selamet.


Para penumpang kapal mendengar teriakan Selamet ada perahu mendekat dari arah depan, para penumpang langsung berebut untuk melihat perahu kecil yang semakin mendekat ke arah kapal penyeberangan.


Kapal sampai doyong ke depan akibat semua penumpang menumpuk di haluan kapal untuk melihat perahu kecil yang di yakini membawa orang yang tengah meniup suling dan mengusir kedua Elang saat tengah menyerang kapal dengan kibasan sayap kedua binatang tersebut.


Para penumpang kapal langsung sujud sambil memberi puja puji, setelah mereka melihat jelas seorang wanita cantik laksana bidadari tengah berdiri di atas perahu sambil meniup suling.


Perahu kecil yang di tumpangi si wanita perlahan meluncur mendekati kapal, riak ombak laut seperti tidak berpengaruh terhadap perahu Kecil dimana gadis itu berdiri.


“Apa Buwana Dewi yang berada di atas perahu? Tanya Aria kepada Selamet.


“Benar ketua,” jawab Selamet setelah memastikan wanita yang ada di atas perahu adalah Buwana Dewi.


Aria tersenyum mendengar jawaban Selamet.


Ujang Beurit dari buritan kapal menghampiri, setelah melihat Selamet berada di dekat Aria.


Begitupula dengan Buto ijo serta Wangsa yang baru saja naik ke atas kapal, mereka berkumpul di dekat Aria.


Suketi langsung memburu ke arah Buto ijo, memeluk leher sang kekasih dan menciumi pipi Buto Ijo, setelah cemas melihat sang kekasih terus di serang tanpa bisa balik menyerang Elang raksasa berkaki satu.


“Kenapa sudah kembali, paman? Tanya Ujang Beurit kepada Buto Ijo.


“Aku cemas dengan Suketi, Jang! Jawab Buto Ijo.


Phuih!


Wangsa meludah mendengar perkataan Buto Ijo.


“Ngomong we sien ku cai, pedah te bisa ngojay sia teh, kehed! ( ngomong saja takut air karena tidak bisa berenang ) Ucap Wangsa dengan nada kesal.


Buto Ijo tak menanggapi perkataan Wangsa, karena melihat Nahkoda kapal menurunkan tangga yang terbuat dari tambang, setelah perahu kecil yang di pakai Buwana Dewi mendekat dan berada di sisi perahu.


Buwana Dewi naik melalui tangga yang terbuat dari tambang, penumpang kapal sebagian masih sujud kepada Buwana Dewi.


“Terima kasih Dewi kayangan sudah membantu kami mengusir kedua Elang raksasa,” Nahkoda kapal berkata.


Buwana Dewi hanya anggukan kepala mendengar perkataan Sang Nahkoda kapal.


Buwana Dewi melangkah ke arah Aria, saat melihat Aria berdiri memakai caping.


Walau Aria tidak bisa melihat, tetapi batin Buwana Dewi yakin, Aria pasti tengah menatap ke arahnya dengan banyak pertanyaan dalam hati.


“Maafkan aku, kakang! Karena pergi tanpa pamit,” ucap Buwana Dewi dengan nada sedih.


“Darimana kau tahu, kami ada di sini? Tanya Aria.


“Ibu angkat yang memberitahu bahwa Kakang Aria pergi ke pulau Bali.


“Maafkan aku kakang! Kembali Buwana Dewi berkata, karena belum mendengar Aria membalas permintaan maafnya.


“Sudahlah! Tidak usah dibahas, yang penting kau sudah kembali,” Aria berkata setelah mendengar kembali permintaan maaf Buwana Dewi.


“Terima kasih, kakang! Balas Buwana Dewi sambil menatap dengan mata penuh rasa cinta, mendengar perkataan Aria.

__ADS_1


Nahkoda kapal dan penumpang kapal terkejut, setelah mendengar dan melihat perkataan gadis penolong mereka.


“Jadi….jadi putri Dewi saling kenal dengan kisanak ini? Tanya si Nahkoda.


“Ini Buwana Dewi, kekasih Raden. Tentu saja saling kenal,” Buto Ijo yang membalas perkataan Sang Nahkoda.


Mendengar Buto Ijo menyebut Raden kepada Aria, tubuh Si Nahkoda tampak gemetar, kemudian sambil membungkuk sang Nahkoda berkata dengan nada penuh penyesalan.


“Ma….Maafkan hamba! Karena tadi hamba sudah berprasangka buruk, terhadap Raden serta rombongan.”


“Sudahlah! Lebih baik sekarang kita memikirkan bagaimana caranya terlepas dari kedua Elang itu,” Aria membalas perkataan sang Nahkoda.


“Satu-satunya cara adalah membunuh kedua Elang itu,” Buto Ijo ikut bicara.


“Kalau itu tidak usah kau katakan, tolol! anak kecil di kapal ini juga tahu,” Balas Wangsa.


“Diam kau! Jangan berpikir kau sudah membantuku, jadi aku diam,” ucap Buto Ijo sambil menunjuk Wangsa.


“Mereka datang! Seru beberapa orang yang terus memperhatikan kedua Elang raksasa yang berputar putar di langit biru.


“Pancing mereka agar mendekat, Biar aku yang membunuh kedua Elang itu,” ucap Aria yang masih memegang lembing pemberian sang Nahkoda kapal.


Lanjut perkataan Aria.


“Ujang Beurit, Buto Ijo serta Resi Wangsa, sambung tambang ini biar lebih panjang, setelah kalian sambung, pegang ujung tambang sekuat tenaga kalian dan tunggu perintahku.


“Sedangkan Selamet, terus beritahu aku, berapa jarak antara aku dengan Elang terdekat.


“Baik ketua! Seru mereka ber empat setelah mendengar instruksi Aria Pilong.


Nahkoda kapal mendengar empat orang aneh ber ilmu tinggi memanggil Aria dengan sebutan, ketua. Hati sang Nahkoda semakin takut dengan perkataannya terhadap Aria.


“Ambil tambang, jangan bengong saja kau,” ucap Buto Ijo sambil melotot ke arah si Nahkoda.


Nahkoda serta anak buah kapal langsung mengumpulkan tambang yang di pesan oleh Aria, setelah tambang terkumpul, Wangsa lalu menyambungkan tambang.


“Sebentar lagi alap-alap itu mendekat, ketua.” Ucap Selamet sambil menghitung jarak antara kapal dan Elang raksasa yang mendekat.


Sang Elang terus menukik dan semakin mendekat, sedangkan Elang berkaki satu memutuskan berputar putar, sambil mengamati situasi, saat kawannya menyerang.


Nahkoda serta penumpang kapal terus memperhatikan Aria yang tengah memegang lembing.


“Dengan keadaan matanya buta, apa dia bisa melempar lembing dan membunuh Elang raksasa,” batin Nahkoda serta sebagian penumpang kapal, sambil terus menunggu.


Sedangkan Selamet terus fokus menghitung jarak.


15….14….13….12….11….10 tombak di samping kanan ketua,” ucap Selamet, setelah memastikan hitungannya.


Semua mata memandang Aria tidak berkedip.


Blast!


Hanya tambang dan lembing yang terlihat melesat sangat cepat menuju ke arah sang Elang.


Setelah memperhitungkan jarak, Aria merapalkan ajian Rogo Demit, tubuhnya langsung pindah tempat, ke punggung Elang.


Sebagian penumpang kapal ada yang bersujud sambil berteriak, “Dewa turun ke Bumi….Dewa turun ke Bumi,” melihat Aria menghilang di hadapan mereka.


Crep!


“Tarik!? Teriak Aria sambil mengerahkan tenaga dalam, setelah lembing ia tancapkan ke leher Elang raksasa.


Buto Ijo, Wangsa serta Ujang Beurit langsung menarik tambang.

__ADS_1


Kreeek!


Suara pekik panjang terdengar dari mulut Elang, saat merasakan sakit di lehernya.


Elang kaki satu mendengar pekikan panjang, serta melihat Aria duduk di punggung kawannya langsung melesat, berusaha membantu sang kawan.


Buk….Buk!


Kedua telapak Aria bergantian menghantam punggung Elang, berusaha melemahkan Elang yang masih kuat menahan tarikan, Buto Ijo, Wangsa Serta Ujang Beurit.


Elang yang lehernya tembus oleh lembing, terus meronta sambil mengepakan kedua sayap.


Darah berceceran membasahi bulu sayap dan sekitar tempat dimana lembing tertancap.


Tetapi Ujung lembing ada pengait seperti mata kail, semakin Elang berusaha melepaskan diri, lehernya semakin terasa sakit, belum lagi hantaman kedua telapak Aria ke arah punggung Elang.


“Awas kakang!? Jerit Buwana Dewi melihat Elang kaki satu melesat cepat, sambil menyambar tubuh Aria.


Aria mendengar teriakan Buwana Dewi, tangannya langsung mengibas ke belakang.


Whut!


Elang kaki satu yang sudah terlatih, menggeser tubuh, kemudian sayap kiri langsung menghantam ke arah Aria Pilong.


Plak!


“Kakaaaaaang….!


Teriakan panjang Buwana Dewi terdengar, saat melihat tubuh Aria terjun bebas dari punggung Elang yang ia hantam.


Cuaca berubah, seiring perubahan yang terjadi terhadap raut wajah serta mata Buwana Dewi.


Angin hitam langsung menyelimuti di langit di atas kapal, petir terlihat keluar dari awan hitam dan saling sambar.


Beberapa tombak dari kapal, Air laut mendadak berputar dan menimbulkan pusaran Air.


Kedua tangan Buwana Dewi terangkat ke atas, seiring tubuhnya bergerak naik dan berdiri di udara


“So….tarik So! Buwana Dewi ngamuk, So,” ucap Buto Ijo dengan nada gentar melihat pusaran air yang sangat besar tak jauh dari kapal.


“Bantu, tolol! Jangan bicara saja,” balas Wangsa.


Ketiganya lalu menarik dengan mengerahkan segenap tenaga.


Perlahan Elang yang terkena lembing, mulai kehabisan darah dan tenaganya mulai melemah.


Tak lama kemudian, Elang raksasa Tewas tubuhnya meluncur deras ke laut.


Sementara itu, dari pusaran air laut yang di ciptakan oleh Buwana Dewi, sulur sulur air melesat seperti menari nari dan terus memanjang berusaha mengejar Elang berkaki satu.


Rasa takut tampak dari mata Elang berkaki satu, melihat perubahan alam yang terjadi, serta sulur sulur air yang mengejar ke arah sang Elang.


Elang berkaki satu langsung mengepakan sayapnya dan terbang lebih tinggi ke langit dan akhirnya hanya terlihat titik hitam yang melesat ke arah pulau Bali dan akhirnya hilang tertutup awan.


Aria yang terjun bebas mendengar desir angin di atasnya, lalu merapalkan ajian Rogo Demit.


Tubuh Aria menghilang dan tampak sudah berdiri di atas tubuh elang yang tewas, Aria pindah tempat dan berdiri di atas lembing, kemudian memberi isyarat dari kejauhan agar anak buahnya menarik lembing.


Crash….Byur!


Lembing tercabut seiring tubuh Elang tercebur ke laut dan perlahan mulai tenggelam, lembing melesat ke arah kapal, akibat tarikan ketiga anak buah Aria, tubuh Aria berdiri dia atas lembing yang melesat kembali ke kapal.


Selamet sangat cemas karena tubuh Buwana Dewi masih saja berdiri di udara, dan pusaran air semakin besar, kemudian berkata sambil kedua tangan merangkap di depan dada, lalu memberi hormat.

__ADS_1


“Sri Buwana Dewi! Sudahi kemarahanmu, Raden sudah kembali dalam keadaan selamat.”


__ADS_2