Iblis Buta

Iblis Buta
Menyerang Alas Purwo 2


__ADS_3

Ki Banyu Alas tersenyum dingin setelah mendapat laporan dari anak buahnya, bahwa Alas Purwo kedatangan tamu.


“Rupanya mereka sudah tidak sabar dan langsung datang untuk mencari mati,” ucap Ki Banyu Alas sambil menatap Darmawangsa.


“Serang dan bunuh mereka semua, kecuali gadis yang bernama Buwana Dewi, jangan lukai dan tangkap gadis itu jika kalian bisa,” Ki Banyu Alas memberi perintah kepada anak buahnya.


Setelah memberi perintah, Ki Banyu Alas kemudian menatap Darmawangsa kemudian bertanya.


“Apa kau siap? Tanya Banyu Alas.


Darmawangsa anggukan kepala, keduanya lalu melesat menuju ke tempat, dimana orang Jagad Buwana sudah masuk dan mulai bertempur dengan anak Buahnya.


Singabarong mengamuk, ajian Tuku beulis tak berhenti mengisap siluman-siluman dengan kekuatan kecil, dan membunuh siluman dengan kekuatan besar dengan ilmu yang ia miliki, sementara itu, Aria bersama para pengawalnya terus masuk lebih dalam, setelah Singabarong mengamankan jalan yang akan ia lalui.


Mata Aria menatap tajam ke arah dua bayangan Aura yang melesat cepat menghampiri ke arah mereka.


Aria angkat tangan memberi perintah kepada Anak buahnya setelah melihat dua aura besar mendekat.


Tak lama kemudian, Ki Banyu Alas dan Darmawangsa sampai di depan Aria Pilong.


Hmm!


“Tak perlu susah mencari, akhirnya kau datang sendiri mencari mati,” ucap Ki Banyu Alas dengan suara dingin.


Apa dia yang bernama Aria Pilong? Tanya Darmawangsa.


“Benar! Pemuda buta itu adalah Aria Pilong, ketua padepokan Jagad Buwana.


Mendengar ucapan Ki Banyu Alas, tanpa banyak bicara, Darmawangsa langsung melesat, telapak tangannya menghantam ke arah kepala Aria Pilong.


Buto Ijo melihat Aria di serang, langsung melesat dan menangkis serangan Darmawangsa.


Plak!


Keduanya mundur, setelah kedua tangan bertemu.


“Mundur kau siluman! Jangan ikut campur, orang itu telah membunuh anakku, Sentanu.


“Jadi kau bapak dari pemuda keparat itu, mari-mari sini, kau hadapi aku biar rasa kesal Ku terobati, karena tidak bisa membunuh anak kerbau yang tidak tahu diri itu,” balas Buto Ijo.


Mendengar putranya di sebut anak kerbau dan tak tahu diri, amarah Darmawangsa langsung memuncak, tanpa banyak berkata, Darmawangsa langsung menyerang Buto ijo.


Wangsa melihat gerakan Darmawangsa, kemudian membantu Buto ijo, karena lawan Buto ijo kali ini bukan orang sembarangan.


Melihat Buto ijo dan Wangsa melayani, orang yang bersama Ki Banyu Alas.


Aria dan Buwana Dewi langsung mendekati Ki Banyu Alas.


“Ayah! Ikutlah bersama kami,” ucap Buwana Dewi.


“Aku dan kakang Aria sudah menikah, kami ingin ayah bisa berkumpul bersama kami dan hidup bersama kami,” lanjut perkataan Buwana Dewi.

__ADS_1


“Aku sangat kecewa denganmu, setelah kau masih juga tidak mengerti dengan pengorbanan ayahmu,” balas Ki Banyu alas dengan nada dingin.


“Pengorbanan apa yang sudah ayah lakukan untukku? Tanya Buwana Dewi.


“Aku dari lahir sudah hidup sendiri, di dunia yang aku tidak tahu dimana, tidak ada manusia atau mahluk hidup di tempat aku tinggal, selain ibu angkat yang datang berkunjung,


“Pengorbanan apa yang sudah ayah lakukan untukku!? Teriak Buwana Dewi sambil mengucurkan air mata, dari kecil aku sudah menderita dan hidup sendiri, kemana Ayah waktu itu? Tetapi ayah Bersembunyi, karena sudah mencuri pusaka milik Ibu Angkat, karena tergiur dengan pusaka, ayah rela meninggalkan istri yang tengah mengandung,” lanjut perkataan Buwana Dewi, wajah Buwana Dewi sudah basah oleh Air mata ketika berkata.


“Diam kau!


“Kau tidak tahu bagaimana perasaanku, setelah tahu ibumu mengandung.


“Aku selalu mencari cara untuk membawa kalian, tetapi selalu di halangi oleh Ratu Laut utara,” teriak Ki Banyu Alas dengan suara keras, membalas perkataan Buwana Dewi.


“Baik! Aku memaklumi situasi ayah, tetapi sekarang aku meminta ayah untuk menebus kesalahan ayah dengan tinggal bersama ku dan kakang Aria,” balas Buwana Dewi.


Ki Banyu Alas mendengus mendengar perkataan putrinya.


“Kau yang harus tinggal bersamaku, tetapi tidak dengan dia! Ucap Ki Banyu Alas dengan nada dingin, kemudian lanjut berkata.


“Karena aku akan membunuhnya Sekarang.”


“Ternyata perkataan Ibu angkat benar, bahwa ayah tidak pernah mau berubah dan menyadari apa yang sudah ayah perbuat selama ini,” balas Buwana Dewi.


“Jangan mengguruiku, lebih baik kau menyingkir dan tutup mata, karena aku tidak mau melihat kau menyaksikan kematian si buta ini,” setelah berkata, tangan Ki Banyu Alas mengibas.


Tubuh Buwana Dewi langsung terpental dan menghantam pohon, kemudian tak sadarkan diri.


Plak!


Tangan tangan kanan Ki Banyu Alas menangkis serangan tongkat, kemudian telapak kiri Ki Banyu Alas menghantam dada Aria dengan ajian Kilat Bayu.


Blam!


Aria terhuyung mundur setombak, setelah menangkis ajian Kilat Bayu dengan ajian Cakra Candhikalla.


Melihat musuh yang sanga ia benci, Ki Banyu Alas langsung memburu, tangan kanan yang mengandung ajian Lahar bumi menghantam ke arah kepala.


Aria melihat aura besar melesat ke arahnya, kemudian merapalkan Ajian Rogo Demit untuk menghindari hantaman Aji Lahar Bumi.


Blam!


Batang pohon besar langsung terbakar setelah terkena hantaman ki Banyu Alas., karena Aria menghindari serangan.


Aria berputar setelah menghindar, kemudian tongkatnya menusuk ke arah punggung Ki Banyu Alas.


Merasakan punggungnya di serang, Ki Banyu Alas lompat salto ke belakang Aria, menghindar sambil mencari kesempatan untuk menyerang.


Tongkat Aria menusuk angin, setelah Ki Banyu Alas menghindar, kini situasi berbalik, Ki Banyu Alas Setelah lompat menghindar, kini Ki Banyu Alas berada di belakang Aria.


Telapak Tangan kanan dengan Ajian Lahar bumi, menghantam ke arah punggung Aria.

__ADS_1


Aria merasakan hawa panas menuju ke arah punggung, kemudian melesat ke atas sambil tubuhnya berputar, dan tongkat balik menyambar menyerang dada Ki Banyu Alas.


Whut!


Ki Banyu Alas mundur menjauh, tetapi kembali ia terkejut karena setelah mundur, Aria dari atas meluncur cepat sambil tongkatnya ke arah kepala.


Tubuh Aria yang melesat dari atas, kemudian turun, sambil tongkat mengincar kepala Ki Banyu Alas.


Ki Banyu Alas sedikit bergerak ke samping kiri, menghindari tusukan tongkat aria yang mengincar kepala.


Setelah tongkat lewat di dekatnya, Ki Banyu Alas mengerahkan kepala, tanduk hitam di kepala Ki Banyu Alas menyambar tongkat.


Trang!


Suara nyaring terdengar saat tongkat dan tanduk bertemu.


Aria terkejut, karena balik di serang.


Setelah tongkatnya terkena hantaman, Aria lompat sambil bersalto, mundur beberapa tombak menjauh, dari Ki Banyu alas.


Setelah mundur menjauh, Ari langsung hantamkan tangan kiri ke tanah, menggunakan Ajian Rengkah gunung, dengan kekuatan penuh.


Syuuut!


Bayangan putih melesat, dan menghantam ke arah dada Ki Banyu Alas.


Ki Banyu Alas melihat bayangan putih layaknya hantu, kemudian rapatkan kedua tangan di depan dada, untuk menangkis ajian Rengkah gunung yang menyerang dada


Krak!


Suara patahan tulang lengan terdengar jelas, Ki Banyu Alas sampai mundur beberapa langkah, akibat hantaman Ajian Rengkah gunung.


Aria melihat musuh mundur, tongkatnya mengibas dengan Ajian Cakra Candhikkala.


Shing!


Sinar berwarna lembayung senja, melesat ke arah kI Banyu Alas yang tengah terhuyung.


Sret!


Perut Ki Banyu Alas robek terkena kibasan Tongkat, Ki Banyu alas sampai terpental dan jatuh di lantai arena, sambil muntahkan darah segar.


Ki Banyu Alas tak bisa menangkis, karena kedua tangannya patah akibat menahan Aji Rengkah gunung.


Ki Banyu Alas perlahan bangkit setelah ajian Rawarontek menyembuhkan luka yang ia derita.


Setelah berdiri, Ki Banyu Alas menatap tajam Aria Pilong, kini di tangan Ki Banyu alas tampak menggenggam tombak pendek berwarna putih.


Sebelum menyerang, Ki Banyu Alas menatap Aria dengan penuh kebencian.


“Sekarang saat yang tepat bagimu untuk pergi ke neraka, iblis buta,”

__ADS_1


__ADS_2