Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 26 : Cerita Naga Langit


__ADS_3

Aria dengan suara pelan berkata kepada Buto Ijo.


“Selamatkan Wisesa dari perguruan Tapak Suci, lalu lindungi kami keluar dari sini,” ucap Aria memberi perintah kepada Buto Ijo.


Anak murid ketiga padepokan tak bisa berbuat banyak, apalagi sepasang pedang kembar terlihat tidak mengambil tindakan setelah sang ketua tewas.


Sedangkan keluarga Mahendra yang menjadi akar permasalahan, tak bisa berkata-kata, karena menyadari ada sesuatu yang lebih besar daripada kematian Mahendra.


Istri Mahendra memberi isyarat kepada murid padepokan Tapak suci untuk membawa Wisesa keluar, sebelum Buto Ijo mengamuk.


Setelah Wisesa keluar, pria paruh baya itu melihat ke arah sekeliling, saat Wisesa melihat putrinya tengah memeluk seseorang yang wajahnya berlumuran darah, Wisesa langsung bergerak ke arah sang putri.


Setelah melihat Ki Birawa terbujur kaku, Wisesa berteriak kencang, berusaha melepaskan kesedihan yang ia rasakan.


Wisesa membawa mayat sang ayah dengan menunggangi se ekor kuda, begitu pula dengan Wulan yang mengendarai se ekor kuda, sedangkan Buto Ijo menggendong Aria yang kehabisan tenaga.


Mereka meninggalkan padepokan Tapak suci kembali ke Wisanggeni. di iringi oleh tatapan murid ketiga padepokan, kepergian mereka tanpa mengalami hambatan, karena murid ketiga padepokan telah melihat sendiri, pertempuran yang melibatkan sang musuh, juga menewaskan ketua mereka, sehingga mereka tidak berani menghalangi kepergian Buto Ijo bersama yang lain.


Setelah sampai di padepokan Wisanggeni, Ki Birawa langsung di makamkan, sementara jabatan ketua di pegang oleh Wisesa yang merupakan putra Ki Birawa.


Buto Ijo atas perintah Nyi Selasih meminta kamar khusus kepada Wisesa, untuk bercakap-cakap dengan Naga langit.


Sedangkan Aria di rawat oleh Wulan, menyembuhkan luka dalam yang di derita oleh pemuda itu sewaktu bertempur dengan Resi Larang tapa.


Di satu kamar Khusus, kekuatan Nyi Selasih sudah pulih kembali dan tengah berbincang-bincang dengan sosok mahluk menyerupai se ekor Naga berwarna kuning ke emasan, di kepala sang Naga di hiasi oleh sebuah mahkota bertabur mutiara.


Nyi Selasih sujud di hadapan Sang Naga.


“Lelembut bangsa ular sangat kehilangan, setelah leluhur pergi tanpa meninggalkan jejak,” ucap Nyi Selasih.


“Bangkit lah Nyi,” jawab Naga langit melihat Nyi Selasih masih saja sujud di hadapannya.


Nyi Selasih lalu bangkit dan duduk di hadapan sang leluhur, siap mendengarkan apa yang akan di ceritakan oleh Naga Langit.


“Sewaktu kami berdua sedang tapa brata, Resi Lanang jagad mendapat sebuah petunjuk bahwa tanah Jawa, akan di landa musibah, kami lalu menyelesaikan tapa brata, kemudian kami berangkat menuju gunung Semeru untuk meminta petunjuk lebih jelas, bencana apa yang akan terjadi.


“Ketika hendak pergi ke gunung Semeru, kami berdua lewat kerajaan Kadiri, saat kami lewat kerajaan Kadiri, Kami melihat sinar berwarna ke emasan berputar-putar di atas kotaraja.


“Aku dan Resi Lanang jagad terus mengikuti arah kemana sinar itu berhenti.


“Ternyata sinar itu mengarah ke satu rumah besar, kami berdua lalu melihat ke kamar dimana sinar itu turun, di dalam kamar itu, kami berdua melihat seorang ibu muda tengah berdoa atas keselamatan bayi yang tengah ia kandung.


“Lanang jagad kemudian memberitahu aku, bahwa bayi di dalam kandungan wanita itu lemah, jika tidak di bantu, bayi yang akan lahir kemungkinan akan cacad atau meninggal dunia.

__ADS_1


“Setelah kami berdua berembug, kami memutuskan untuk menolong wanita itu, karena kami yakin bahwa sinar yang jatuh dari langit ke rumah itu adalah suatu pertanda baik.


“Lanang jagad memberi kekuatan agar kandungan wanita itu kuat, sedangkan aku menyalurkan kekuatan kepada bayi yang sedang di kandung, tetapi setelah aku masuk ke dalam tubuh si bayi, aku tak bisa keluar, karena tertutup oleh lingkaran suci pembawaan si bayi.


“Lanang jagad lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke gunung Semeru, sedangkan aku, terus menjaga bayi itu sampai lahir.


“Setelah bayi lahir, kekuatanku banyak berkurang, lalu aku bersemedi di dalam tubuh si bocah, sampai semadiku terhenti saat mendengar teriakan anak yang aku jaga.


“Ternyata kekuatan yang kami berikan tersimpan di mata sang anak, membuat penglihatan anak itu tertutup oleh kekuatan kami,” ucap Naga Langit menceritakan kisahnya, bagaimana ia bisa sampai berada dalam tubuh Aria.


“Apa Raden bisa melihat kembali, jika kekuatan yang ada di matanya menghilang? Tanya Nyi Selasih.


“Aku belum bisa memastikan, hanya Lanang jagad yang bisa memberikan jawaban pertanyaanmu itu,” jawab Naga Langit.


“Satu hal yang hamba tidak mengerti, leluhur! Bagaimana sipat Resi Larang tapa yang dulu pendiam, sekarang berubah menjadi seperti itu? Tanya Nyi Selasih.


“Manusia tidak lepas dari unsur keduniawian, jika manusia masih tertarik dengan harta, tahta serta wanita, dan ingin mendapatkannya dengan segala cara, itulah contoh yang tepat untuk Larang tapa,” jawab Naga Langit.


“Satu hal lagi leluhur? Tanya Nyi Selasih.


“Apa ada hubungannya kitab 7 racun yang di inginkan oleh Resi Larang tapa, dengan kekacauan yang akan terjadi di tanah Jawa yang di lihat oleh Resi Lanang jagad? Tanya Nyi Selasih.


Naga Langit menghembuskan napas, mendengar perkataan Nyi Selasih sebelum menjawab.


“Yang pertama adalah Racun 2 dunia, racun dengan ramuan khusus yang dapat di gunakan untuk meracuni manusia maupun mahluk ghaib.


“Sedangkan yang kedua adalah racun rogo pati, racun yang sangat kejam dan dapat membunuh manusia sesakti apapun, tetapi kedua racun itu sangat sulit membuatnya, karena bahan yang terkadung di dalamnya tidak mudah untuk di cari,” Naga Langit bercerita


Setelah mendengar cerita sang leluhur, Nyi Selasih jadi teringat saat Wulan hendak menangkap Raja ular yang terkenal beracun, lalu di gagalkan oleh Aria.


Setelah Wulan membawa Aria ke padepokan Wisanggeni, Nyi Selasih mendengar Ki Birawa berkata, bahwa Raja ular adalah salah satu bahan untuk membuat racun Rogo pati, untuk membalas dendam kepada ketiga padepokan.


Melihat Nyi Selasih diam, Naga langit berkata kembali.


“Aku juga tak mengerti! Bagaiman kitab yang menjadi salah satu pusaka kita, bisa jatuh ke tangan Ki Birawa.” Ucap Naga Langit.


“Kalau benar kitab itu ada di padepokan Wisanggeni, kita harus mendapatkannya sebelum kitab itu jatuh ke tangan Larang tapa,” lanjut perkataan Naga langit, di balas dengan anggukan kepala Nyi Selasih.


Sementara itu di kamar yang lain, Aria tengah di obati oleh Wisesa dan Wulan.


Wisesa meracik obat untuk mengencerkan darah beku yang membuat sesak dada Aria.


Sedangkan Wulan membuat obat gosok, yang akan di balurkan ke perut serta dada Aria, untuk menghangatkan dada dan melancarkan peredaran darah pemuda itu.

__ADS_1


Sementara Buto Ijo berjaga di depan pintu kamar Aria.


Setelah selesai memasak obat untuk Aria, Wisesa membawa obat, lalu meminumkan obat tersebut.


Setelah Aria meminum obat pemberian Wisesa, tak lama kemudian Aria merintih, lalu muntah sambil mengeluarkan darah beku yang membuat sesak dadanya.


Buto Ijo mendengar rintihan Aria, langsung membuka pintu, lalu masuk sambil melotot ke arah Wisesa, “kau apakan Raden sampai merintih seperti itu? Tanya Buto Ijo sambil melotot.


Wisesa kerutkan kening melihat Buto Ijo melotot.


“Apa kau tidak lihat, Kami sedang mengobati Raden? Jawab Wisesa dengan raut wajah heran terhadap Buto Ijo.


Buto Ijo mendengus mendengar perkataan Wisesa, “awas kau! Jika sampai menyakiti Raden, aku pelintir batang lehermu,” ucap Buto Ijo sambil melangkah keluar kamar dan kembali berjaga di pintu.


Setelah beberapa kali minum obat pemberian Wisesa dan memuntahkan banyak darah beku, dada Aria terasa lebih enak dan napasnya mulai teratur.


Wisesa anggukan kepala ke arah Wulan setelah melihat pemuda itu mulai bisa bernapas dengan teratur, setelah di dalam badan terasa enak, tak terasa Ari tertidur, karena memang Wisesa mencampur obat yang ia bikin dengan sedikit ramuan yang bisa membuat orang yang meminum obat itu tertidur, Wisesa memberi ramuan itu agar Aria bisa istirahat.


Wulan lalu mengambil obat gosok, kemudian membuka baju Aria, di Perut serta dada pemuda itu, tampak bekas pukulan Resi Larang tapa berwarna biru kehitaman.


Saat tangan Wulan hendak membalur perut Aria yang ada bekas pukulan Resi Larang tapa.


Brak!


Wulan terkejut dan tidak jadi membalur perut Aria, mendengar suara keras pintu yang terbuka.


Buto Ijo masuk setelah membuka pintu dengan kasar, ketika melihat Wulan hendak memegang perut Aria, Buto Ijo melotot sambil jarinya menunjuk ke arah Wulan.


“Sedang apa kau? Kau hendak mencelakai Raden? Ucap Buto Ijo sambil melotot, apalagi Buto Ijo sejak tadi berjaga di luar, tidak mendengar suara sang majikan.


Cis!


“Lagi-lagi kau! Kami berdua sedang berusaha menyembuhkan Radenmu ini, kalau kau tidak percaya kepada kami! Kau saja yang membalur dada Radenmu,” ucap Wulan dengan nada kesal, sambil memberikan obat gosok, kemudian mengajak sang ayah keluar kamar, karena kesal dengan kelakuan Buto Ijo yang tidak percaya dan selalu curiga kepadanya.


Aria setelah tertidur, tubuhnya terasa lebih enak, perlahan Aria membuka mata saat merasakan, perutnya tengah di raba-raba dan terasa hangat.


Tampak bibir Aria tersenyum sambil merasakan kehangatan telapak tangan, karena sebelum ia tidur, Aria ingat bahwa Wulan berkata hendak membalur perutnya dan dada dengan ramuan, agar luka luarnya cepat sembuh.


Aria berkata pelan, sambil merasakan hangatnya tangan yang tengah meraba perut dan dada


“Terima kasih Wulan,” ucap Aria.


“Sama-sama Raden,” jawab Buto Ijo.

__ADS_1


__ADS_2