Iblis Buta

Iblis Buta
Menyebrang Ke Pulau Bali


__ADS_3

“Ibu….ibu! Seru Sri Buwana Dewi sambil air matanya bercucuran.


Tak lama kemudian setelah Sri Buwana Dewi teriak, sinar hijau muncul dari laut.


Whut!


Seorang wanita cantik berpakaian ala keraton berwarna hijau dengan mahkota di kepala tiba di hadapan Sri Buwana Dewi.


Ibu angkat Buwana Dewi yang biasa di sebut Nyai Ratu, tersenyum.


“Aku tahu satu hari nanti, hal ini akan terjadi,” lanjut perkataan Nyai Ratu.


“Buwana Dewi kau pasti tidak menerima ketika mendengar Aria Pilong hendak membunuh orang tuamu, benar tidak apa yang aku katakan? Tanya Nyai Ratu Penguasa lautan.


Buwana Dewi anggukan kepala.


“Dengarkanlah kisah ini, sebelum kau ambil keputusan,” Nyai Ratu penguasa lautan berkata, kemudian lanjut cerita seperti cerita yang Mpu Barada katakan kepada Aria dan rombongannya.


Setelah bercerita, Nyai Ratu berkata sambil menatap anak yang sudah ia asuh sejak dari bayi.


“Aku yang meminta Barada untuk meminta tolong kepada Aria Pilong, agar membunuh Banyu Alas, karena aku sudah berjanji tidak akan turun tangan terhadapnya, kalau Ayahmu Banyu alas tidak di hentikan, dunia ini akan kacau balau oleh niat Banyu Alas yang akan menghancurkan dunia.


“Hanya darahmu yang bisa membunuh Banyu Alas dan itu pula yang membuat ragu Aria Pilong untuk turun tangan, setelah kau dekat dengannya.


“Ada atau tidaknya Kau di sisi Aria, pemuda itu akan tetap melanjutkan apa yang sudah ia janjikan untuk membantuku membunuh Banyu Alas.


“Ayah kandung yang sudah menelantarkan ibumu dan kau sejak kau dalam kandungan serta mencuri dua pusaka dari istana bawah laut, coba kau pikir kembali! Apa pantas orang seperti itu kau bela? Tanya Nyai Ratu.


Nyai Ratu penguasa lautan tampak menarik napas panjang, kemudian lanjut berkata.


“Semua sudah di tentukan oleh takdir, tetapi aku sangsi Aria Pilong bisa membunuh Banyu Alas tanpa bantuanmu.


“Kau ikuti kata hatimu, jangan sampai menyesal di kemudian hari, karena sesal di kemudian hari tidak akan bisa mengulang waktu yang telah berlalu, cam kan itu baik-baik.”


“Kenapa Kakang Aria tidak bercerita mengenai hal ini kepada Buwana Dewi? Tanya sang gadis, kepada ibu angkatnya.


“Karena Aria tidak ingin menyakiti perasaanmu, Buwana Dewi,” jawab Nyai Ratu.


“Pikirkan kembali apa yang akan kau lakukan, sebelum terlambat.


“Karena Aria sudah bergerak menuju tempat kediaman Ayahmu,” lanjut perkataan Nyai Ratu, penguasa laut utara.


“Setelah berkata dan memberi arahan, tubuh Nyai Ratu perlahan memudar dan meninggalkan Buwana Dewi sendiri di tepi pantai.


“Ibu! dimana kakang Aria sekarang!? Teriak Buwana Dewi, sambil air matanya tak berhenti berderai.


“Aria sedang menuju Bali,” terdengar suara di telinga Buwana Dewi, yang berasal dari Nyai Ratu penguasa laut utara.


***


Aria, Wangsa, Buto Ijo dan Selamet serta Ujang Beurit bergerak menuju desa Ketapang, tempat dimana terdapat kapal, yang akan menyebrangkan orang dari Jawa bagian timur ke pulau Bali.


Sepanjang jalan menuju ke desa Ketapang, banyak tumbuh pohon Ketapang di kiri kanan jalan yang mereka lalui.


Di dermaga desa Ketapang tampak puluhan penduduk dan pedagang yang hendak menyebrang, berdiri di dermaga menunggu kapal yang akan menyebrangkan mereka ke pulau Bali.


Tak lama kemudian kapal yang mereka tunggu datang mendekat.


Setelah bersandar di dermaga, para penumpang setelah membayar kepada pemilik kapal penyeberangan sebesar satu keping uang perak, mulai memasuki kapal.


Begitupula dengan rombongan Aria.


Kapal yang di pakai untuk menyebrang berbeda dengan kapal untuk menangkap ikan.

__ADS_1


Kapal yang bagian tengahnya agak lebar, dengan sebuah bangunan agak besar di tengah kapal, untuk tempat meneduh para penumpang yang berani membayar lebih, agar mereka terhindar dari panas matahari dan hujan.


Setelah barang-barang para penumpang naik kapal, serta kapten kapal dan anak buahnya selesai istirahat.


Awak kapal perlahan membuka layar utama, salah seorang menarik tali jangkar dan melepaskan tali pengait antara kapal dan dermaga.


Kapal perlahan mulai bergerak membawa hampir 50 orang, termasuk Aria serta anak buahnya.


Cuaca di tengah laut cerah, tak ada angin besar serta gelombang yang harus di khawatirkan oleh kapten kapal serta anak buahnya.


Layar menggelembung tertiup angin yang membuat kapal melaju dengan tenang, sedangkan nahkoda kapal mengarahkan kemudi kapal menuju ke Gilimanuk, tempat kapal penyeberangan berlabuh, mengantar para penumpang yang hendak menyebrang ke pulau Bali.


Aria, Wangsa, Buto Ijo, Selamet serta Ujang Beurit berdiri di haluan kapal.


Selain Aria Pilong, mereka tampak asyik melihat ujung kapal yang memecah ombak, ikan terbang terkadang lompat di samping kapal, di sambut oleh tepuk tangan Suketi yang melihatnya.


“Untung cuaca sedang bagus, sehingga kapal tidak ter ombang ambing oleh ombak,” Wangsa berkata, sambil menikmati pemandangan laut yang terhampar di depannya.


“Kau bisa berenang, Jo? Tanya Wangsa.


“Tidak,” jawab Buto Ijo


“Kau bisa berenang, Met? Wangsa bertanya kepada Selamet.


“Bisa tetua,” jawab Selamet.


“Bagus! Ucap Wangsa sambil anggukan kepala.


“Kalau kau bagaimana, Jang? Kembali Wangsa bertanya.


“Dasar tolol! Untuk apa si ujang bisa berenang? Kali ini Buto Ijo yang membalas perkataan Wangsa.


“Untuk apa! Seru Wangsa sambil kerutkan kening mendengar perkataan Buto Ijo, kemudian lanjut berkata “Ya, untuk bertempur di atas perahu.”


“Kau yang tolol! Seru Wangsa sambil menunjuk wajah Buto Ijo, kemudian lanjut berkata dengan nada kesal.


“Aku bicara berenang di dalam air bukan di tanah.”


Buto Ijo membalas karena kesal wajahnya di tunjuk oleh Wangsa.


“Kau yang tolol! Si ujang, kalau tenggelam tinggal masuk ke dalam tanah, kan beres,”


“Coba….coba kau lihat, Jo! Mana….mana tanah? Tanya Wangsa sambil menunjuk ke arah lautan luas.


“Kau terjun ke dasar dan lihat! Di bawah pasti ada tanah, jadi Si ujang tinggal masuk ke dalam tanah, kan selamat.


“Kalau si ujang terjunnya ke atas, dia yang repot, karena diatas tidak ada tanah,”


“Asa Lier ngadenge na ( jadi pusing dengernya ), Si Beurit berkata mendengar pembicaraan antara Buto Ijo dan Wangsa.


“Ngomong apa kau Jang? Tanya Buto Ijo dengan tatapan curiga.


“Ada ikan terbang di depan,” jawab si Beurit sambil menunjuk ikan terbang yang lompat dari bawah laut di depan kapal, sambil membuka sirip layaknya sayap.


Buto Ijo anggukan kepala mendengar dan melihat ikan yang di tunjuk oleh Ujang Beurit.


Phuih!


“Aneh! Di kadalan ku si ujang mah tara ambeg, ( di tipu ku si ujang mah ga pernah marah ) batin Wangsa.


“Kau tanya sana, tanya sini! Apa kau bisa berenang? Tanya Buto Ijo.


“Tentu saja bisa, buat apa aku bertanya kalau tidak bisa,” jawab Wangsa.

__ADS_1


Phuih!


“Kalaupun kau tidak bisa berenang, tetapi aku yakin kau tidak akan tenggelam,”


“Kenapa bisa begitu, mang? Tanya Si Beurit.


“Kau lihat saja tubuhnya, Jang! Papan saja yang lebih berat, tidak tenggelam. Apalagi dia yang tubuhnya lebih tipis dari papan kayu,” jawab Buto Ijo.


Hmm!


“Kau mau berkelahi di sini? Tanya Wangsa sambil menatap tajam, saat tubuhnya yang kurus di ledek oleh Buto Ijo.


“Kau pikir aku takut,” jawab Buto Ijo sambil balas menatap Wangsa.


Cuuuiiiit….Cuuuuuiiit!


Suara cuitan panjang terdengar, membuat Buto Ijo dan Wangsa yang sedang bertengkar langsung diam sambil menatap ke arah langit.


“Ono wulung….Ono Alap-alap! Suara dari para penumpang kapal terdengar, raut wajah mereka tampak terlihat takut sambil melihat ke arah langit, dimana tampak dua ekor burung raksasa terbang mengitari perahu yang mereka tumpangi.


Hmm!


“Burung apa itu? Besar sekali,” Wangsa berkata sambil menatap ke arah langit.


“Kau tidak dengar mereka menyebut Alap-alap,” Jawab Buto Ijo.


Tiba-tiba salah satu burung menukik dan menyambar ke arah salah seorang penumpang kapal.


Whut!


Kaki Aria menendang sebatang bambu yang ada di dekatnya, ke arah burung yang tengah menyambar.


Shing!


Burung Elang Raksasa seperti tahu ada orang yang menyerangnya.


Sayap Elang mengepak dan tubuhnya bergerak naik, sambil kakinya menghantam ke arah Bambu yang meluncur cepat.


Plak!


Bambu tang di tendang oleh Aria, terpental dan jatuh ke laut.


Salah satu penumpang kapal menarik napas lega, setelah selamat dari sambaran Elang.


Elang yang lain tampak marah, melihat kawannya tidak berhasil menyambar buruan yang sudah mereka incar.


Sambil mencuit panjang, Elang tersebut melesat lebih cepat dari yang pertama, tetapi kali ini Buto Ijo sudah bersiap, sambil mengambil sebuah pendayung yang ada di dekatnya.


Kaki Elang besar di hantam oleh pendayung yang di pegang Buto Ijo.


Whut!


Tetapi Elang raksasa tersebut ternyata sungguh cerdik, kedua sayapnya mengepak lebih cepat dan berhasil menghindari serangan.


Buto Ijo matanya menatap buas melihat Elang raksasa berhasil menghindari hantaman dayungnya.


Begitu pula sang Elang yang seperti tengah menunggu, dan terbang tidak jauh dari Haluan Kapal.


Suara dengusan keluar dari hidung Buto ijo, setelah mlihat kaki Elang raksasa itu, hanya ada satu.


Buto Ijo dan Elang raksasa sama-sama mengenal musuhnya, keduanya saling tatap dan tatapan keduanya seperti di liputi oleh dendam.


Hmm!

__ADS_1


“Rupanya musuh lama”


__ADS_2