
Wulan setiap melihat ke arah Aria tak bisa menahan tawa, Aria tak bicara di gendong oleh Buto Ijo.
Istirahat hanya makan dari bekal yang mereka bawa, malam hari rombongan Ki Birawa sampai di pinggiran kota Wengker.
Ki Birawa langsung membawa rombongan ke arah kedai nasi di pinggiran kota Wengker, kedai yang tidak terlalu besar dan tidak ramai pengunjung.
Ki Birawa masuk dari belakang, setelah memberi tahu pelayan, seorang pria bertubuh gemuk datang dan memberi hormat.
“Selamat datang guru! Ucap pria bernama Tejo.
“Bagaimana keadaanmu, Jo? Tanya Ki Birawa sambil menepak bahu Tejo.
“Ya, seperti yang guru lihat, murid baik-baik saja,” jawab Tejo
“Silahkan masuk guru! Ucap Tejo, lalu memimpin rombongan menuju satu ruangan untuk istirahat dan bercakap-cakap.
Di dalam ruangan dengan cahaya remang-remang, Ki Birawa, Wulan, Aria serta Buto Ijo duduk sambil melepas lelah.
Tejo mengerutkan kening melihat Aria dan Buto Ijo yang memakai caping, karena keduanya tidak ia kenal.
“Jo! Kamu tahu kan maksud kedatanganku ke kota Wengker? Tanya Ki Birawa.
“Untuk membebaskan paman guru Wisesa,” jawab Tejo.
“Kau benar, tetapi bukan itu saja maksud kedatanganku,” balas Ki Birawa.
“Guru! di kota Wengker heboh setelah kematian Mahesa.
“Murid dengar padepokan Tapak suci di jaga ketat, begitu pula dengan padepokan Baju merah.
“Dua ketua padepokan serta beberapa orang tokoh persilatan sedang berkumpul di padepokan Tapak suci,” lanjut perkataan Tejo dengan suara pelan.
“Wisesa pasti di tawan di padepokan tapak suci,” ucap Ki Birawa.
“Guru benar, paman Wisesa di tawan di padepokan Tapak suci.
“Tetapi guru! Tersiar kabar kurang sedap di kota Wengker, bahwa padepokan kita bersekutu dengan golongan hitam untuk menghadapi tuntutan ketiga padepokan,” Tejo berkata dengan nada pelan, sambil melihat kiri dan kanan, seperti takut perkataannya ada yang mendengar.
“Bersekutu dengan golongan hitam? Tanya Ki Birawa sambil kerutkan keningnya.
“Benar guru! Kata mereka, Mahesa ketua padepokan Tapak suci tewas di padepokan Wisanggeni di bunuh oleh sekutu mereka, Buto Ijo,” jawab Tejo.
Hmm!
Buto Ijo mendengus mendengar perkataan Tejo.
“Rupanya kedatangan Buto Ijo, di jadikan alasan oleh mereka dan semakin menyudutkan padepokan Wisanggeni,” ucap Ki Birawa.
“Apa benar yang mereka katakan? Tanya Tejo.
__ADS_1
Ki Birawa menarik napas panjang mendengar pertanyaan Tejo, ketua padepokan Wisanggeni bingung menjawabnya.
“Aku tidak pernah bersekutu dengan siapapun,” ucap Buto Ijo.
Tejo menoleh ke arah pria bercaping yang tadi bicara, lalu membalasnya.
“Yang di maksud oleh mereka adalah Buto Ijo bukan tuan.”
“Buto Ijo yang kau maksud berada di depanmu,” ucap Buto Ijo sambil menatap tajam ke arah Tejo.
“Jangan bunuh paman Tejo, kau belum kenal dengannya,” ucap Wulan melihat Buto Ijo terus menatap ke arah murid kakeknya.
“Ja….jadi Tuan ini adalah Buto Ijo? Tanya Tejo sambil menatap Wulan, raut wajah Tejo tampak pucat pasi ketika berkata.
“Benar paman,”Jawab Wulan.
Tejo menelan ludah, kemudian secara perlahan, menggeser kursinya menjauh dari Buto Ijo.
“Wisanggeni tidak bersekutu dengan Buto Ijo, sewaktu ketiga padepokan mendesak kami, Buto Ijo lewat dan tanpa sengaja membunuh Mahesa,” ucap Ki Birawa.
“Apa mereka percaya,” Tejo berkata dalam hati.
“Langkah apa selanjutnya yang akan guru lakukan di Wengker? Tanya Tejo.
“Besok aku akan ke padepokan Tapak suci untuk membebaskan Mahesa,” jawab Ki Birawa.
“Jika aku tidak pergi ke sana, nyawa Wisesa menjadi taruhannya, aku juga akan membereskan salah paham yang terjadi antara Wisanggeni dengan keluarga juragan Mahendra.
“Kalian tidak usah ikut denganku, jika aku tidak keluar dari padepokan Tapak suci dalam keadaan hidup, kalian berpencar dan jangan mengaku anak murid Wisanggeni,” Ki Birawa berkata.
“Baik guru,” balas Tejo dengan nada sedih.
Pagi-pagi 2 ekor kuda dan satu orang yang berlari, melesat ke arah barat kota Wengker.
Di sebelah barat kota Wengker termasuk wilayah ramai, padepokan Tapak suci di kelilingi oleh rumah penduduk, pasar, serta kedai nasi dan tempat minum tuak.
Ki Birawa masuk setelah di beri ijin oleh penjaga gerbang padepokan Tapak suci.
Saat sampai di depan padepokan Tapak suci, puluhan orang sudah menunggu kedatangan Ki Birawa.
“Maaf sudah merepotkan para ketua, Aku kesini untuk membawa pulang anakku Wisesa yang di tawan oleh ketua padepokan Tapak suci,” ucap Ki Birawa sambil memberi hormat.
Hmm!
“Lantas bagaimana pertanggung jawaban padepokan Wisanggeni atas kematian saudara Mahesa? Tanya Seorang pria kurus, bertubuh tinggi, memakai pakaian berwarna merah.
“Ketua padepokan Baju merah, sewaktu sepasang pedang kembar berada di Wisanggeni, anak buahmu tahu apa yang telah terjadi,” Ki Birawa membalas perkataan ketua Baju merah yang tak lain Sura kendil.
Seorang kakek yang masih terlihat gagah, sambil memegang tongkat ikut bicara.
__ADS_1
“Birawa! kami berkumpul untuk membahas apa tindak lanjut terhadap padepokan Wisanggeni,”
Ki Birawa menatap tajam ke arah Wiratama, orang yang tadi berkata adalah ketua Padepokan tombak terbang.
“Apa Ki Ronggo tidak memberi laporan padamu? Tanya Birawa dengan tatapan sinis, melihat Wiratama diam, Ki Birawa berkata kembali.
“Pantas kalau tidak ada laporan, sebab anak murid padepokan Tombak terbang pulang lebih dahulu.”
“Tutup mulutmu! Kami padepokan dari aliran putih, tidak sama dengan aliran hitam, padepokan tombak terbang tidak ingin banyak korban, jadi pergi lebih dahulu dari padepokan Wisanggeni,” balas Wiratama.
Ha Ha Ha
“Pengecut yang banyak alasan,” ucap Ki Birawa.
“Keparat! Rupanya kau sudah tidak menghargai para ketua yang hadir, bicara se enaknya,” balas Wiratama.
Ketika hendak melesat ke arah Ki Birawa.
Tangan Sura kendil menahan bahu Wiratama, lalu memberi isyarat agar ia tenang.
“Kau lihat sendiri Birawa! Apa kau mampu melawan kami semua yang ada di sini? Tanya Sura kendil.
“Aku datang bukan untuk bertempur, tetapi aku datang untuk menjemput anakku pulang,” jawab Ki Birawa.
“Baik! Kami sepakat akan mencabut tuntutan kami dan menyudahi urusan dengan Wisanggeni, dan melepaskan Wisesa, tetapi ada syaratnya! Seru Sura Kendil, sambil sesekali wajahnya menatap seorang pria tua yang tengah berdiri di samping pilar gedung padepokan Tapak Suci.
“Apa syarat yang maksudkan? Tanya Ki Birawa.
“Serahkan kitab 7 racun padaku dan aku akan menjamin Wisesa dan kebebasan kalian keluar dari kota Wengker.
Mendegar perkataan Sura kendil wajah Ki Birawa berubah kelam.
“Rupanya tujuan utama kalian adalah kitab 7 racun.
“Sura Kendil, siapa Resi yang di maksud oleh Mahesa?
Raut wajah Sura kendil berubah mendengar perkataan, Birawa.
“Tidak….tidak ada resi! Jawab Sura kendil dengan wajah ketakutan, sambil menatap ke arah pilar, dimana tampak seorang kakek tengah berdiri di sana.
Sementara itu Buto Ijo berbisik kepada Aria.
“Raden, jika bertempur apa boleh aku membunuh orang yang tidak kukenal?
Aria sudah merasakan gelagat buruk sejak masuk ke dalam padepokan Tapak Suci, pertempuran tidak akan terhindarkan.
Mendengar perkataan Buto Ijo, Aria membalasnya.
“Bunuh saja sesukamu,”
__ADS_1