
Setelah kesepakatan tercapai, Rombongan Padepokan gunung Gede akhirnya kembali ke tempat mereka, Ki Sayuti memberikan Si Beurit untuk membantu Aria Pilong.
Singabarong dan Nyai Kidung kencana ke gunung Lawu, semua bangsa ular di perintahkan untuk tunduk kepada Singabarong dan Nyai Kidung kencana, yang akan menempati Istana kali mati dan menjadi pusat dari padepokan Jagad Buwana.
Aria membagi tugas kepada anggota yang lain untuk kembali ke tempatnya, kali ini mereka harus membawa bendera Jagad Buwana, Resi Jayaprana ke gunung batok dan menancapkan bendera Jagad Buwana disana.
Sedangkan Bayusena mengganti nama Bayugeni, dengan Jagad Buwana.
Andini dan Andira kembali berlatih di bawah bimbingan naga hijau, sementara keluarga Kemala, akan mengusung nama Jagad Buwana.
Semua biaya pendirian padepokan baru di tempat masing-masing, akan di suplai dana oleh Raden Kusumo yang kini di bantu oleh sepasang cucu kembarnya, Rama dan Anjani.
Iblis Kawi yang sudah menjadi anggota Jagad Buwana, juga akan membantu masalah dana, kalau masalah harta, Iblis Kawi mempunyai harta ratusan kali lipat lebih banyak dari harta Raden Kusumo.
Kalasrenggi yang tadinya mengajak Kalabenda, akhirnya membatalkan keputusannya dan memilih berangkat sendiri bersama rombongan Aria Pilong.
Kalabenda di suruh mengatur partai Matahari.
Sebelum Kalasrenggi kembali, murid partai matahari di larang turun dari gunung Bromo, mereka di haruskan berlatih bersama Kalabenda.
Setelah para ketua padepokan mengambil keputusan.
Rombongan yang berangkat menuju Alas Purwo adalah.
Aria Pilong sebagai ketua rombongan.
Buto Ijo bersama Suketi serta resi Wangsanaya sebagai pengawal pribadi Aria
Kalasrenggi, Raden Untung, Selamet sebagai utusan dan Si Beurit yang bertugas sebagai telik sandi.
Aria tidak mau membawa banyak orang, karena akan menarik perhatian dan mudah di kenali.
Aria, Buto Ijo serta Kalasrenggi memakai caping, karena wajah mereka menarik perhatian.
Pagi-pagi rombongan besar turun dari gunung Bromo.
Setelah berada di kaki gunung Bromo, rombongan berpencar ke tempat tujuan masing-masing.
Rombongan Aria bergerak menuju timur, ke arah Alas Purwo.
Rombongan Aria tidak mengendarai kuda, mereka jalan santai sambil melihat situasi tempat yang akan mereka lalui, dan mengamati sudah sejauh mana padepokan Elang emas mengembangkan padepokannya, yang terdiri dari para pendekar pelarian.
Buto Ijo jalan di sebelah Si Beurit, wajah dari hidung ke bawah yang berbentuk tirus dan mirip mahluk pengerat, mata sayu yang terlihat seperti mengantuk, membuat bentuk wajah si Beurit membuat orang merasa iba jika melihatnya.
“Rit! Seru Buto Ijo.
“Panggil saja, ujang,” balas Si Beurit sambil jalan, tampak kedua tangan masuk saku celana dan kepala setengah menunduk ke tanah.
“Kenapa namamu sama dengan senjata Raden? Tanya Buto Ijo setelahmendengar si Beurit menyebut nama, Ujang.
“Itu kujang, Jo,” ucap Wangsa yang jalan dekat mereka berdua, ketika mendengar perkataan Buto Ijo.
“Diam kau, tolol! Aku tak bicara denganmu,” ucap Buto Ijo.
“Bangsat! Bicara yang sopan sama orang tua,” Wangsa berkata sambil melotot.
Phuih!
“Aku tak sudi punya orang tua seperti kau,” balas Buto Ijo membalas tatapan Buto Ijo.
Plak!
Wajah Wangsa terkena lemparan kacang tanah Suketi,
Suketi di buatkan kantong berisi kacang tanah yang sudah di kupas dan di selempangkan bahunya, bisa buat cemilan, bisa juga di pakai untuk menyerang musuh.
“Jangan ikut campur Suketi! Calon suami mu sudah salah, masih saja ngotot,” Wangsa berkata.
“Rit….Beurit, tunggu! Seru Buto Ijo sambil mengejar ke arah pemuda yang tengah berjalan santai dengan kedua tangan masuk di saku celana.
“Gara-gara resi palsu, aku jadi di tinggal pergi,” ucap Buto Ijo.
“Coba kau lihat! Buto Ijo tidak pernah marah jika bicara dengan ujang,” Raden Untung berkata kepada Selamet yang berjalan di sebelahnya, setelah memperhatikan Buto Ijo jalan bersama dengan ujang di depan mereka.
“Bagaimana mau marah, kalau sudah melihat wajah si ujang,” balas Selamet.
“Kau benar juga! wajah pemuda itu seperti sedang banyak beban dan membuat iba orang yang melihatnya,” Raden untung membenarkan perkataan sahabatnya.
Kalasrenggi bersama Aria jalan paling belakang, keduanya jalan sambil bercakap-cakap.
Aria jika jalan bersama, tampak seperti orang yang tidak buta, karena Aria mendengarkan dan mengikuti langkah orang yang di sebelahnya.
“Ujang,” ucap pemuda yang terlihat santai, setelah Buto Ijo berada di sebelahnya.
“Ujang….Ujang,” balas Buto Ijo mengulang nama Si Beurit.
Ujang hentikan langkah, kemudian wajahnya menatap ke arah langit.
Buto Ijo ikut berhenti dan memperhatikan tingkah laku sahabat barunya si Beurit.
“Apa satu ekor rusa cukup untuk makan malam? Tanya ujang dengan wajah masih menatap ke arah langit.
__ADS_1
“Cukup! Seorang resi biasanya tidak makan daging,” jawab Buto ijo.
Phuih!
Wangsa yang jalan beberapa langkah di belakang Buto ijo langsung meludah, setelah mendengar perkataan sang raksasa.
“Di pukul juga percuma, tidak akan ada rasanya buat si bangsat ijo, tapi dengerin omongannya bikin orang marah,” batin Wangsa sambil menatap tajam ke arah punggung Buto ijo.
“Di depan ada rusa,” Ujang bicara.
Buto ijo matanya menyipit, dan akhirnya melihat se ekor rusa tengah makan rumput, di sisi hutan.
“Kau tahu ada Rusa di depan, tetapi kenapa kau menatap ke arah langit? Tanya Buto ijo.
“Hari sudah sore dan sebentar lagi malam, kita butuh makanan untuk nanti malam. Sedangkan rusa ada di depan! Kan aku yang beritahu paman,” jawab Ujang.
“Hebat….hebat! Kau pintar jang, umurmu masih muda, tetapi otak mu lebih pintar dari seorang resi,” Buto Ijo berkata, hatinya merasa senang di panggil paman oleh si ujang.
Phuih!
Wangsa kembali meludah, setelah mendengar perkataan Buto Ijo.
Setelah mendengar perkataan Buto Ijo, Ujang merangkapkan kedua tangannya tegak lurus ke atas.
Tubuhnya lalu berputar semakin lama semakin cepat, setelah tubuh ujang tak terlihat, akibat berputar sangan cepat, tiba tiba tubuh ujang yang berputar amblas ke tanah, lalu bergerak cepat di dalam tanah menuju ke arah rusa.
Sret…Crep!
Buto Ijo sampai berhenti ketika melihat rusa yang berada jauh di depan tampak seperti di tarik dari dalam tanah, setelah setengah badan rusa berada di dalam tanah.
Tanah merekah, putaran tubuh Ujang keluar dari dalam tanah dan berdiri di samping rusa, tangan ujang yang sudah menggengam pisau kecil, melesat ke arah leher rusa yang tak bisa bergerak, karena setengah tubuhnya seperti di jepit tanah.
Crash!
Rusa hanya bisa mengoyangkan kepala, berusaha menahan sakit, akibat urat di lehernya sobek, setelah di sabet pisau kecil milik ujang.
Setelah darah berhenti mengucur dari leher dan rusa tak bergerak, ujang mengambil rusa.
Tanah tak lagi menjepit setengah badan rusa, sewaktu Ujang menarik rusa dari dalam tanah.
Ujang langsung memanggul rusa di bahunya, kemudian berdiri sambil menunggu rombongan.
Wangsa gelengkan kepala setelah melihat Ujang menangkap rusa dengan cara yang unik.
“Jadi itu ajian Dasar bumi, yang di maksud oleh Ki Sayuti.
Malam hari di dalam hutan, rombongan istirahat.
Selamet dan Raden Untung membakar rusa yang di dapat Ujang.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Kalasrenggi.
Yang lain juga ikut merasakan hawa aneh, bulu kuduk berdiri, udara di sekitar menjadi dingin.
Buto Ijo mendengus sambil menatap ke arah dua titik sinar yang terkadang timbul tenggelam, “Pengiwa” ( pengguna ilmu sihir Leak dari Bali ) Buto Ijo berkata dalam hati, setelah memastikan dua titik sinar yang timbul tenggelam karena tertutup dedaunan.
Buto Ijo langsung berlari sambil menyambar sulur pohon yang ia lewati sambil berlari.
“Sulur pohon ini kuat dan liat untuk menangkap Pengiwa,” batin Buto Ijo, setelah sambil berlari terkadang kedua tangan menarik sulur, untuk memastikan kekuatan sulur yang seperti akar pohon.
Sepasang mata merah dengan rambut gimbal tengah menatap rombongan Aria dari kejauhan, dibawah mata merah terlihat hidung besar serta lidah menjulur panjang keluar dari mulut yang di kiri dan kanan nya terdapat gigi taring panjang.
Yang lebih menyeramkan lagi, sebatas kepala kebawah tulang leher memanjang, untuk tempat menempel jeroan di dalam tubuh untuk tempat menggelantung, seperti paru-paru, serta usus yang melingkar dan menempel di sekitar tulang yang memanjang dari leher.
Melihat Buto Ijo berlari ke arahnya, mata Pengiwa melotot, kemudian berbalik dan melesat dengan cepat, berusaha melarikan diri.
Buto Ijo menambah tenaga untuk berlari, melihat Pengiwa berusaha melarikan diri.
Setelah agak dekat, Buto Ijo langsung lompat, berusaha menangkap mahluk yang ia sebut Pengiwa.
Suketi setelah kekasihnya lompat, dirinya ikut lompat dan menyambar ranting pohon, kemudian duduk di ranting itu.
Pengiwa bergerak dengan cepat ke kanan, menghindari terkaman Buto Ijo.
Kepala Pengiwa berputar, lalu dari mata keluar dua sinar berwarna merah ke arah Buto Ijo.
Shing!
Buto Ijo berguling di tanah menghindari sinar merah dari mata Pengiwa.
Blam!
Sinar merah menghantam batang pohon sebesar lengan, batang pohon patah setelah terkena hantaman sinar merah yang keluar dari mata Pengiwa.
Buto Ijo setelah menaruh sulur pohon agar ia bisa bebas bergerak, langsung bergerak kembali menerkam.
Whut!
Raden Untung serta Wangsa langsung melesat mengejar Buto Ijo, setelah mendengar suara patahan batang pohon, sedangkan Ujang berjalan santai mengikuti Wangsa.
Selamet tetap membakar rusa untuk makan malam, tidak ikut sahabatnya Raden Untung.
__ADS_1
Sementara Aria dan Kalasrenggi tetap duduk sambil bercakap-cakap.
Buto Ijo berusaha menangkap Pengiwa yang sudah mulai ketakutan, setelah beberapa kali sinar merah dari matanya berhasil di hindari oleh Buto Ijo.
“Pelgi…pelgi Sana! Jangan ganggu aku,” suara Pengiwa yang cadel mulai cemas.
Whut!
Buto Ijo berusaha menangkap bagian isi perut yang terlihat, Pengiwa lalu melesat naik menghindari tangan Buto Ijo.
Buto Ijo hentakan kaki, tubuhnya melesat naik, kemudian tangan kiri Buto Ijo menyambar rambut gimbal Mahluk berwujud aneh itu.
Tap…Auuuuw!
Pengiwa menjerit, setelah rambutnya berhasil di Jambak oleh Buto Ijo.
Akibat rasa sakit karena rambutnya di tarik, Mulut Pengiwa langsung terbuka, kemudian kedua taringnya menghunjam ke arah pinggang Buto Ijo.
Crep!
Buto Ijo meringis saat pinggangnya di gigit, tangan kanannya langsung menghantam Pengiwa, tetapi tenaga hantaman di kurangi oleh Buto Ijo.
Plak!
Gigitan terlepas, Pengiwa langsung terhempas ke tanah setelah terkena hantaman dan jambakan rambutnya di lepas.
Mata Pengiwa yang melotot besar tampak berputar, lidahnya bergoyang goyang kepalanya sangat pusing setelah di hantam oleh Buto Ijo, walaupun tenaga hantaman Buto Ijo di kurangi, tetapi tetap saja mengandung ajian Brajamusti yang membuat Pengiwa sampai klenger dan tak bisa berbuat apa-apa.
Bret!
Buto Ijo merobek lengan bajunya setelah mengambil sulur pohon yang tadi ia bawa.
“Pejamkan matamu, bangsat! Seru Buto Ijo.
Pengiwa gelengkan kepala mendengar perkataan Buto Ijo.
“Cepat….! Ucap Buto Ijo setelah melihat Pengiwa itu gelengkan kepala, kemudian menampar kepala si Pengiwa.
Plak!
Kembali si Pengiwa terhempas.
“Jangan pukul….jangan pukul! Ucap Pengiwa, “aku pejamkan mataku….akan aku pejamkan,” lanjut perkataan Pengiwa, karena takut Buto Ijo akan memukul lagi.
Karena Pengiwa merasa kepalanya serasa hancur setelah terkena hantaman Buto Ijo.
Pengiwa lalu memejamkan mata
Buto Ijo lalu menutup mata Pengiwa dengan robekan kain lengan baju.
Sret….auuuw!
Suara Pengiwa terdengar, ketika Buto Ijo mengikat kain dengan sangat kuat.
“Jangan terlalu kencang, tolol! Sakit,” ucap Pengiwa yang kesal.
“Bangsat! Masa galakan tawanan,” ucap Buto Ijo sambil menampar kepala Pengiwa.
Plak….Auuuuw!
Pengiwa langsung diam setelah teriak kesakitan, karena takut di tampar.
“Lebih baik sekarang aku pura-pura tak sadarkan diri sambil memulihkan tenaga, setelah si bangsat itu lengah, baru aku melarikan diri.
“Walau mataku di tutup dan tak dapat melihat, tetapi untuk kabur masih bisa, kalau pusing di kepalaku sudah hilang,” batin Pengiwa.
Hmm!
Buto Ijo mendengus melihat Pengiwa diam tak bergerak.
Buto Ijo lalu mengambil Sulur kecil tetapi liat yang tadi ia bawa, perlahan ia mengikat sulur ke beberapa organ bagian dalam tubuh Pengiwa yang terlihat, lalu mengikat ujung sulur ke batang pohon yang tadi patah, terkena hantaman sinar merah dari mata Pengiwa.
“Apa yang dia lakukan, pada bagian tubuhku,” batin Pengiwa sambil menahan rasa sakit, karena matanya tak bisa melihat, ia tidak tahu bahwa Buto Ijo sedang mengikatnya.
Raden untung dan Wangsa yang tiba di tempat, hanya bisa gelengkan kepala melihat kelakuan Buto Ijo.
“Bener ceuk si Sayuti, jelema owah ( orang gila ),” batin Wangsa, kemudian bertanya setelah berada di dekat Buto Ijo.
“Sudah beres, Jo? Tanya Wangsa.
Buto Ijo berbalik, lalu membalas.
“Beres.”
Pengiwa sewaktu mendengar suara Buto Ijo yang sudah berbalik, kemudian melesat berusaha untuk melarikan diri.
Whut….auuuw!
Tali sulur langsung menarik dan mengikat lebih erat, setelah Pengiwa melesat.
Tubuh Pengiwa langsung ambruk ke tanah karena ususnya di ikat sulur pohon, kalau ia memaksa bergerak, ia akan mati dengan usus putus.
__ADS_1
Sambil diam tak bergerak, Pengiwa berteriak kencang dengan nada cemas.
“Lepaskaaaan akuuuu….!