Iblis Buta

Iblis Buta
112 : Hari Pertemuan


__ADS_3

Raut wajah Kalasrenggi, langsung berubah setelah mendengar perkataan Si Elang jantan.


“Sombong sekali! Apa yang jadi andalanmu? Tanya Kalasrenggi dengan raut wajah kelam.


“Kau mau coba? Kali ini Elang betina yang bicara.


“Bangsat, Ini wilayah kami. Jaga mulutmu! Teriak Kalabenda.


Kalasrenggi memberi isyarat kepada Kalabenda untuk duduk kembali ke tempatnya, Kalasrenggi tak mau bertindak karena banyak mata memandang ke arahnya.


Elang jantan menatap Ke arah tenda padepokan Jagad Buwana.


Elang jantan merasa tertarik dengan Aria yang menjadi ketua padepokan Jagad Buwana, padepokan yang namanya baru saja berdiri.


“Kalasrenggi! Hari sudah mulai panas, kau tidak mau memulai pertemuan ini? Tanya Larang tapa dengan nada dingin.


Kalasrenggi mendengar perkataan Resi Larang tapa, kemudian melesat menuju arena.


Suara teriakan menggelegar terdengar, dari mulut Kalasrenggi.


“Kawan-kawan sekalian! Pertemuan yang kita adakan setiap 10 tahun sekali, bertujuan untuk menunjuk padepokan yang menjadi wakil dari ratusan padepokan yang tersebar di tanah Jawa,”


“Paman Singabarong! Bukankah Kalasrenggi itu sebangsa siluman, kenapa di bisa dengan bebas berwujud manusia? Tanya Aria.


“Kalasrenggi memang sebangsa siluman, tetapi karena sering memangsa roh siluman kecil dengan ajian Tuku Belis, juga umurnya yang sudah ribuan tahun, membuat Kalasrenggi bisa berubah wujud sesuka hati,” balas Singabarong.


“Apa mereka tidak tahu dengan perwujudan Asli manusia? Tanya Aria.


Kalasrenggi pandai menutupi bau siluman yang keluar dari tubuhnya, sehingga tidak banyak pendekar yang tahu, bahwa Kalasrenggi adalah siluman murni, tidak seperti aku atau saudara Buto Ijo yang berdarah campuran,” jawab Singabarong.


“Begitu rupanya! Pantas bau siluman di tubuh Kalasrenggi tidak terlalu jelas tercium oleh ku,” ucap Aria.


Saat Aria berbincang dengan Singabarong, Kalasrenggi sudah selesai, memberi kata sambutan.


Teriakan dari para murid padepokan terdengar saat Kalasrenggi turun dari Arena.


Tak lama kemudian naik seorang pria bertubuh besar.


“Aku Ki Sampit ingin berkenalan dengan seorang pendekar yang mendapat julukan iblis buta, karena muridku banyak yang terbunuh olehnya.


“Kalau Iblis buta hadir di sini, tolong ke arena untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


“Ki Sampit! Di sini bukan perseteruan antar orang,” ucap Kalasrenggi dengan nada dingin, tetapi matanya melirik ke arah tenda Jagad Buwana.


Buto Ijo mendengar perkataan Orang yang berada di arena, langsung melesat.


Aria melihat Buto Ijo melesat, lalu berkata kepada Suketi agar diam bersamanya.


Suketi menuruti Aria dan duduk di pegangan kursi Aria.


“Hai tolol! Siapa kau yang berani menantang Ketua? Tanya Buto Ijo.


“Aku tidak ada urusan denganmu,” jawab Ki Sampit sambil menatap tajam ke arah Buto Ijo yang memakai caping.


“Aku selalu bersama dengan ketua, jadi urusannya adalah urusanku, kau siapa berani-berani menantang ketua,” ucap Buto Ijo.

__ADS_1


“Ketua! Ketua apa? Mana bisa gembel seperti dia yang wajahnya di tutupi caping sepertimu, bisa menjadi ketua? Balas Ki Sampit dengan senyum penuh ejekan.


“Aku Ki Sampit, ketua padepokan Gajahwungkur, puluhan muridku sudah tewas oleh iblis buta, jadi kau turun! karena masalah ini bukan urusanmu,” balas Ki Sampit dengan nada dingin.


“Kau lihat tenda biru! Itu adalah padepokan Jagad Buwana, bahkan Kalasrenggi menghormati kami.


Orang yang tadi kau sebut iblis buta adalah ketua dari padepokan Jagad Buwana,” ucap Buto Ijo.


Ki Sampit sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang ia cari adalah Ketua padepokan Jagad Buwana dalam hatinya menyesal, maksud hati ia berkata untuk menaikkan pamor padepokannya di hadapan padepokan lain, tetapi kata sudah terlontar dan tak bisa ia tarik kembali.


Buto Ijo membanting caping yang ia pakai, Ki Sampit kerutkan keningnya, melihat wajah Buto Ijo yang berkulit hijau.


Sebagian penonton teriak karena terkejut melihat Buto Ijo, karena setahu mereka Buto Ijo adalah tokoh golongan hitam yang tidak mau terikat aturan, tetapi kali ini berbeda, sang tokoh sudah bergabung dengan padepokan Jagad Buwana.


“Maju kau, Sampit! puluhan anak buahmu aku yang bantai, Raden Aria tidak pernah mau membunuh bangsa cecurut macam kau,” ucap Buto Ijo dengan nada penuh ejekan.


“Bangsat! Ki Sampit geram mendengar perkataan Buto Ijo.


Tubuhnya melesat menghantam Buto Ijo, Buto Ijo sambil menyeringai menangkis pukulan Ki Sampit.


Plak!


Setelah kedua tangan bertemu bersilangan, keduanya dengan bertumpu kepada kedua kaki, lalu saling dorong.


Ki Sampit, ketua padepokan Gajahwungkur selalu melatih pisiknya, karena ajian Gajahwungkur yang menjadi andalan dan di pakai sebagai nama perguruan, membutuhkan tubuh serta tenaga yang kuat.


Jika memakai ajian Gajahwungkur, tenaga Ki Sampit sama seperti tenaga dua ekor gajah dan tubuhnya ikut membesar, pohon akan tumbang, batu juga hancur terkena pukulan yang mengandung ajian Gajahwungkur andalan Ki Sampit, tetapi kali ini Ki Sampit belum merasa perlu untuk menggunakannya, karena ia masih mengukur tenaga Buto Ijo.


Ki Sampit mendengus, sedikit demi sedikit kakinya melangkah maju mendorong Buto Ijo.


Brak!


Kaki Ki Sampit mulai tertahan dan tak lagi maju, urat di leher serta tangan Ki Sampit tampak membesar dan menegang, karena mengerahkan segenap tenaga untuk terus mendorong Buto Ijo.


Wajah Buto Ijo dan Ki Sampit tepat berhadapan, gemeretuk gigi keduanya terdengar, karena masing-masing mengerahkan segenap tenaga.


Buto Ijo menyeringai sambil menatap wajah Ki Sampit.


“Kau masih belum pantas menjadi ketua padepokan Gajahwungkur,” ucap Buto Ijo sambil menyeringai ke arah Ki Sampit.


“Tidak pantas dari segi apa? Tanya Ki Sampit.


Phuih!


“Dasar tolol! Coba kau pikir, nama padepokan mu Gajahwungkur, tapi kenapa belalai mu malah ada di bawah, tidak sama dengan gajah yang kulihat, belalai nya berada di kepala,” ucap Buto Ijo sambil tersenyum mengejek.


“Bangsat, kau terima tenaga gajah ku ini! Teriak Ki Sampit mendengar olok-olok Buto Ijo.


Dari hidungnya keluar asap saat mendengus.


Ki Sampit langsung merapalkan ajian Gajahwungkur setelah mendengar ledekan Buto Ijo, kaki, tangan dan badan Ki Sampit perlahan membesar dan tenaganya mulai bertambah puluhan kali lipat dari tenaganya yang biasa.


Kaki kananya menghentak ke tanah, kemudian mulai mendorong Buto Ijo.


Buto Ijo yang merasakan tenaga dorongan Ki Sampit semakin besar berusaha menahan, tetapi tetap saja kedua kaki Buto Ijo yang berusaha menahan, mulai bergerak mundur.

__ADS_1


Brak!


Kaki kanan Buto Ijo menghantam lantai arena, Kaki Buto Ijo melesak masuk kedalam lantai arena, yang terbuat dari batu alam sampai mata kaki.


Dorongan Ki Sampit kembali tertahan, setelah kaki Buto Ijo amblas ke lantai arena.


“Ku patahkan nanti kakimu, jika masih tak mau mengaku kalah! Seru Ki Sampit sambil terus mendorong.


Kedua tangan Buto Ijo terus di dorong, kaki kanannya yang amblas ke lantai arena, membuatnya tak bisa bergerak dan tubuhnya mulai ikuti terdorong dan mulai melengkung kebelakang.


“Benar apa yang di katakan si Gajah palsu, kaki ku bisa patah kalau terus menahan dorongannya,” batin Buto Ijo.


Tubuh Ki Sampit semakin maju mendekat dan terus mendorong.


Kaki kanan Buto Ijo yang tengah amblas di lantai arena, perlahan mulai bergerak-gerak, tanpa di sadari oleh Ki Sampit.


Singabarong kerutkan keningnya, melihat Buto Ijo hanya saling dorong dengan ketua padepokan Gajahwungkur.


“Apa seperti itu gaya bertarung saudara Buto Ijo? Tanya Singabarong.


Wangsa tertawa mendengar pertanyaan Singabarong.


“Buto Ijo kalau bertarung tidak peduli jurus, ya seperti yang kau lihat.


“Tetapi yang seperti itu malah bikin pusing, coba saja kau lihat hasilnya,” jawab Wangsa.


Ki Sampit terus mendorong kedua tangannya yang saling menempel dengan tangan Buto Ijo.


“Cuma segini saja tenagamu? Tanya Buto Ijo sambil tersenyum mengejek.


“Bangsat…”Gajahwungkur akan mematahkan tubuhmu! Teriak Ki Sampit, kemudian kaki kananya melangkah ke depan, menambah daya dorong kedua tangannya.


Tubuh Buto Ijo semakin menekuk kebelakang, tanpa disadari Ki Sampit, kaki kananya sudah berhasil melangkahi kaki kanan Buto Ijo yang amblas semata kaki.


Buto Ijo menyeringai saat melirik ke bawah dan telapak kakinya yang terbenam tepat berada di bawah, tempat belalai Ki Sampit.


Kaki kanan Buto Ijo yang bergerak gerak di dalam lantai arena, setelah di aliri tenaga dalam.


Batu alam langsung pecah, kaki kanan buto Ijo langsung melesat naik dan menendang tepat ke arah belalai Ki Sampit.


Buk!


Jerit tertahan keluar dari mulut ki Sampit.


Mata Ki Sampit sampai mendelik, menahan linu yang terasa sampai ke ulu hati, saat belalainya terkena tendangan Buto Ijo.


Perlahan tubuh Ki Sampit yang membesar karena ajian Gajahwungkur berubah kembali seperti semula.


Kedua tangan Ki Sampit lalu bergerak perlahan ke bawah setelah memegang dan memastikan belalainya hancur serta banyak darah di campur air seni muncrat membasahi lantai arena.


Perlahan tubuh Ki Sampit rubuh ke lantai arena dan tewas dengan belalai serta daerah di sekitarnya hancur, terkena tendangan Buto Ijo yang mengandung ajian Brajamusti.


Phuih!


Buto Ijo setelah meludahi mayat Ki Sampit, kemudian berkata sambil melangkah ke arah tenda padepokan Jagad Buwana

__ADS_1


“Ingin di sebut Gajah, tapi belalainya di bawah, mana bisa?


__ADS_2