
Kalasrenggi tekan lengannya yang patah ke batang pohon.
Krak….Krak!
Setelah kedua tulang lengannya yang patah tersambung kembali, Kalasrenggi menatap tajam ke arah Aria.
Hmm!
“Belum terpikir olehku bagaimana caranya menghadapi ajian Pancasona, sekarang ajian Rengkah gunung dia gabungkan dengan ajian Rogo Demit, untung aku waspada, sehingga dadaku tidak hancur oleh ajian Rengkah gunung,” batin Kalasrenggi.
Aria berdiri gagah, menunggu Kalasrenggi bangkit.
Setelah melihat aura merah berkibar semakin dasyat, Aria bersiap dengan ajian Rengkah gunung, sedangkan tongkatnya sudah di aliri ajian Cakra candhikala.
Kalasrenggi hentakan kakinya ke tanah.
Blam!
Suara gemuruh terdengar dari dalam tanah, tampak tangan yang hanya berupa tulang belulang keluar dari dalam tanah, dan perlahan mulai berdiri di depan Kalasrenggi.
Ada 10 tengkorak yang berdiri gontai ke kiri dan ke kanan, sambil menunggu perintah orang yang memanggil mereka.
Kalasrenggi mengeluarkan ajian Tulang iblis untuk menghadapi Aria, karena siluman merah itu belum tahu apa kelemahan dari Ajian pancasona, pasukan tengkorak yang ia panggil hanya untuk mengulur waktu, sampai ia bisa mencari cara untuk menghabisi ketua padepokan Jagad Buwana.
Kalasrenggi juga tidak mau mendekati Aria, karena takut terkena hantaman ajian Rengkah gunung, yang sudah ia rasakan kedasyatannya.
Mulut Kalasrenggi tampak berkomat kamit, mulai membaca mantra.
Perlahan tengkorak-tengkorak yang baru saja keluar dari dalam tanah mulai bergerak, setelah mulut Kalasrenggi membaca Mantra Aji.
Di sisi lain Aria kerutkan kening, mendengar suara tulang beradu, yang semakin lama suara itu semakin mendekat ke arahnya.
Wangsa melihat Aria hanya diam, padahal puluhan tengkorak sudah mulai Mendekat, keningnya berkerut dan bertanya-tanya dalam hati, “kenapa ketua diam saja? Batin Wangsa bertanya-tanya.
Aria mendengar suara tulang beradu dan mendekat, tetapi ia tak bisa melihat apa yang mendekat, karena ke 10 tulang belulang yang hidup itu tidak mempunyai aura tenaga dalam, mereka di gerakan oleh mantra yang di ucapkan oleh Kalasrenggi.
“Awas! Teriak Wangsa, melihat salah satu tengkorak hidup melesat, sambil 5 tulang jarinya mengancam dada Aria.
Aria mendengar teriakan Wangsa serta desir angin yang menuju ke arah dari atas, langsung menyabetkan tongkatnya.
Trak!
Suara benturan terdengar, tengkorak hidup jatuh, tulang belulangnya berhamburan ke tanah, tetapi setelah menyentuh tanah, tulang belulang itu langsung menyatu kembali dan langsung menyerang Aria.
Aria mundur sambil memutar tongkat, karena merasakan banyak desiran angin menuju ke arahnya.
Trak….Trak….Trak!
Tongkat kembali membentur tulang, beberapa tengkorak hidup rontok ke tanah, tetapi saat lobang mata di tengkorak mengeluarkan sinar merah, tulang tengkorak yang berserakan menyatu kembali.
Wangsa cemas, kalau membantu Aria, ajian benteng angin akan melemah dan gadis pelangi bisa di rebut oleh musuh, tidak membantu, sepertinya Aria bingung dengan musuh yang ia hadapi.
“Hati-hati, ketua! Mereka adalah tengkorak yang di gerakan oleh mantra Kalasrenggi, jika hancur dan menyentuh tanah, mereka hidup kembali,” teriak Wangsa.
Hmm!
“Pantas aku tidak bisa melihat aura apa yang menyerangku, rupanya tengkorak itu di gerakan oleh mantra Kalasrenggi,” Aria berkata dalam hati, setelah mendengar teriakan Wangsa.
Aria setelah pasti mengetahui musuhnya, langsung hantamkan tangan kiri ke arah kumpulan tengkorak di depannya menggunakan ajian Mawageni.
Blam!
Tulang tengkorak berhamburan, setelah terkena pukulan berhawa panas.
Sebelum tengkorak yang hancur hidup kembali,
Aria Pilong melesat ke arah Kalasrenggi yang berdiri di dekat pohon, sambil memerintahkan tengkorak hidup untuk menyerang Aria.
Aria dengan kekesalan yang memuncak, menyabetkan tongkatnya ke arah kepala Kalasrenggi.
Shing!
Kalasrenggi bungkukan badan menghindari serangan, kemudian kaki Kalasrenggi balas menendang pinggang Aria.
Whut!
Aria menangkis tendangan Kalasrenggi dengan tangan kiri.
Plak!
Melihat tendangannya berhasil di tangkis, tangan kanan Kalasrenggi berubah warna menjadi merah, kemudian menghantam Aria.
Blar!
Suara keras terdengar setelah Aria memutar tongkatnya untuk menahan pukulan Kalasrenggi, keduanya mundur.
Tengkorak hidup kembali bergerak ke arah Aria.
Buto Ijo serta Si Beurit datang membantu Aria, setelah berhasil menghalau sebagian orang dari padepokan Elang emas, keduanya mendengar teriakan Wangsa, kemudian mulai mengobrak abrik tengkorak hidup ciptaan Kalasrenggi.
__ADS_1
10 tengkorak hancur di amuk oleh Buto Ijo, tetapi tetapi tengkorak langsung hidup, setelah tulang belulang tersambung Kembali.
“Bangsat! Kenapa tidak mati-mati,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.
“Sudah mati, Jo! Memangnya Kau tidak lihat? mereka cuma tulang,” balas Wangsa.
“Cari cara supaya tengkorak-tengkorak itu tidak menyerang,” lanjut perkataan Wangsa.
“Kau yang pikirkan caranya, tolol! Sedang bertempur, mana bisa berpikir,” balas Buto Ijo dengan kesal.
Prak!
Kembali tengkorak hidup hancur, terkena hantaman Buto Ijo.
Si Beurit mengambil sulur pohon kecil, kemudian tubuhnya melesat sambil tangan kanan menyambar kepala tengkorak.
Tap!
Setelah mengambil kepala tengkorak, Si Beurit mengikat kepala tengkorak tersebut dengan sulur, lalu mengikat sulur di dahan pohon.
Kepala tengkorak hidup bergelantungan tertiup angin, sementara tubuh tengkorak tanpa kepala, hanya berkeliling di sekitar pohon, menunggu kepalanya jatuh.
Buto Ijo tersenyum melihat aksi Ujang Beurit.
“Bagus, Jang! Otakmu lebih pintar dari seorang resi,” ucap Buto Ijo sambil angkat jempolnya ke arah Si Beurit.
Phuih!
Wangsa langsung meludah dengan kesal, mendengar perkataan Buto Ijo.
Buto ijo dan Si Beurit mengambil sulur pohon di sekitar mereka, dan mulai mengikat kepala tengkorak hidup satu persatu di dahan pohon besar.
Tak butuh waktu lama semuanya beres.
Wangsa gelengkan kepala, melihat Buto ijo dan Si Beurit tengah duduk berdua sambil tertawa tawa sambil tangan mereka berdua terkadang menunjuk dan melihat 10 badan tengkorak yang tengah mengelilingi pohon besar, tempat sepuluh kepala tengkorak terikat di atas pohon.
“Ketua sedang bertempur, mereka berdua malah ketawa tawa melihat tengkorak-tengkorak itu.
Hmm!
“Masa kecil kurang bahagia,” batin Wangsa melihat kelakuan Buto ijo dan Si Beurit.
Di sisi lain.
Kalasrenggi sangat kesal dengan Buto ijo, ajian tulang iblisnya tak berguna, setelah semua kepala tengkorak di gantung terpisah di batang pohon.
Kepercayaan diri Kalasrenggi mulai goyah, setelah mengetahui para pendekar melarikan diri, begitupula dengan orang-orang dari padepokan Elang emas.
Apalagi setelah tahu ke empat orang itu tidak terpengaruh, walau terkena jarum pusaka tongkat emas.
“Satu-satunya jalan, aku harus mengambil jiwanya dengan ajian Tuku Belis,” batin Kalasrenggi, tetapi hatinya ragu karena pendekar hebat seperti Aria Pilong.
Kalasrenggi harus mendekat, atau tangannya menempel di tubuh Aria lalu menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi untuk menarik jiwa dari dalam badan.
Setelah menemukan cara tepat, Kalasrenggi langsung hantamkan ajian bola matahari.
Bola berwarna merah dengan hawa yang sangat panas melesat cepat, menyerang Aria.
Aria bergerak ke samping kanan, menghindari ajian bola matahari milik Kalasrenggi.
Blar!
Batu besar langsung hancur, tanah dan pohon di sekitar batu, hangus terbakar terkena hantaman Ajian bola matahari.
Kedua tangan Kalasrenggi terus menyerang ke arah Aria.
Shing….Shing!
Dua bola matahari melesat kembali, Aria berguling, kemudian tubuhnya melesat naik, menghindari serangan Ajian Bola matahari yang di lepaskan oleh Kalasrenggi.
Kalasrenggi tersenyum melihat Aria berada di udara.
Telapak tangan kanan di buka, perlahan bola matahari semakin lama semakin besar, setelah bola matahari yang berada di telapak tangan sebesar kepala.
Kalasrenggi melirik ke arah Aria sambil tersenyum.
Tangan kiri perlahan bergerak, tampak satu lidah berwarna hitam keluar dari telapak kiri.
Whut!
Kalasrenggi melontarkan ajian bola matahari ke arah Aria.
Aria mendengus melihat aura besar berwarna merah melesat ke arahnya.
“Aura yang sangat mengerikan,” batin Aria.
Aria kerutkan kening setelah melihat ajian Bola matahari berhenti di depannya.
Sret….Sret….Sret!
__ADS_1
Bola matahari sebesar kepala, perlahan membelah diri menjadi beberapa bola kecil, satuan, puluhan hingga ratusan.
Setelah berubah menjadi ratusan bola matahari berbentuk kecil, bola matahari langsung menyebar.
Raut wajah Aria berubah setelah melihat perubahan yang terjadi.
Tubuh Aria menghilang, dan mundur menjauh dari anak buahnya, agar mereka terhindar dari serangan membabi buta yang di lakukan oleh Kalasrenggi.
Setelah Aria mundur dan muncul kembali, ratusan bola matahari langsung menyerang Aria dari berbagai arah.
Shing….Shing….Shing!
Aria memutar tongkat di depan dada melihat puluhan bola matahari menyerang dari depan, sedangkan tangan kiri yang mengandung ajian Mawageni menghantam ke arah samping kiri.
Blam!
Puluhan bola matahari rontok, terkena hantaman ajian Mawageni.
Puluhan bola matahari yang mengantam tongkat, membuat tubuh Aria terpental.
Setelah terpental dan hendak jatuh ke tanah, tongkat di tangan kanan di tusukan ke tanah.
Crep!
Tubuh Aria melenting sambil bersalto, kemudian perlahan turun dengan kedua kaki.
Kalasrenggi menyentilkan tangan kanan, setelah melihat musuhnya tengah salto di udara, satu bola matahari sebesar kelereng melesat cepat ke arah Aria Pilong.
Shing!
Kalasrenggi melesat di belakang ajian bola matahari yang ia lontarkan.
Aria yang baru saja turun dan berdiri, tak bisa menghindar dari serangan ajian bola matahari yang di lesatkan oleh Kalasrenggi.
Blam….Trak!
Tangan kanan Aria hancur terkena ajian bola matahari, Aria terhuyung mundur setombak kebelakang.
Kalasrenggi yang melesat di belakan ajian bola matahari, telapak kiri Kalasrenggi yang terbuka melesat ke arah dada Aria Pilong, lidah menjulur keluar dari mulut yang berada di tengah telapak kiri Kalasrenggi, Ajian Tuku Belis.
Plak!
Aria terkejut, kakinya seperti terpaku dan tak bisa bergerak, setelah telapak kiri Kalasrenggi menempel di dada.
Kalasrenggi menyeringai dan berkata.
“Kau tak bisa menang melawan Kalasrenggi.”
Setelah berkata, Kalasrenggi mengerahkan seluruh tenaga dalam, menyedot jiwa Aria dengan ajian Tuku Belis.
Hiaaaaat!
Teriak Kalasrenggi.
Sinar berwarna putih tampak di sekeliling telapak kiri Kalasrenggi yang menempel di dada Aria Pilong.
Kaki Aria Pilong menekuk dan tubuhnya membungkuk, sehingga dengkulnya mulai menyentuh tanah.
Setelah menyedot Jiwa Aria, Kalasrenggi melesat mundur dan berdiri dua tombak di depan Aria, kemudian berkata.
“Setelah Ajian tuku Belis berhasil menaklukkan dan memakan jiwamu, kau akan Mati.”
Ari dengan satu kaki menekuk dan dengkul kanan menyentuh tanah, dengan tubuh lemah dan tangan kanan hancur, membalas perkataan Kalasrenggi sambil tersenyum dingin.
“Itu bisa terjadi, jika aku belum mempelajari ajian Rengkah gunung dan aku sudah merencanakan semua ini.”
Senyum terlihat di bibir Aria Pilong setelah berkata, dengan mengerahkan sisa tenaga, tangan kiri Aria langsung menghantam ke arah tanah, menggunakan ajian Rengkah gunung.
Blam!
Raut wajah Kalasrenggi pucat, telapak tangan kiri terbuka sambil mengerahkan ajian Tuku Belis.
Tangan kiri Kalasrenggi menghentak, berusaha mengeluarkan jiwa atau Sukma Aria Pilong yang kini berada di dalam tubuhnya.
Tapi terlambat, mata Kalasrenggi melotot, jeritan panjang terdengar, saat dari dalam tubuhnya seperti hancur, dadanya seperti di robek dari dalam.
Sebelum tubuh Kalasrenggi meledak, akibat hantaman ajian Rengkah gunung yang di lakukan Sukma Aria, dari dalam tubuhnya sendiri, bayangan putih melesat keluar dan masuk ke dalam tubuh Aria Pilong.
Whut….Blar!
Tubuh Kalasrenggi hancur, daging tubuhnya berserakan.
Aria setelah tangan kanannya kembali seperti semula, mengambil tongkatnya yang jatuh, kemudian berdiri sambil memegang tongkat.
Perlahan bagian tubuh Kalasrenggi mulai berubah hitam dan menjadi abu.
Tengkorak hidup setelah Kalasrenggi tewas, langsung jatuh berserakan.
Buto Ijo melihat Tengkorak hidup yang tengah keliling pohon, jatuh dan tidak hidup kembali, matanya menatap ke arah sekeliling sambil berkata dengan nada kesal.
__ADS_1
“Mengganggu kesenangan orang”