Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 46 : Persiapan Sayembara


__ADS_3

Prabu Samarawijaya diam mendengar perkataan Aria, begitu pula dengan Tumenggung Wirabumi.


Resi Sarpa kencana akhirnya berkata setelah semuanya diam.


“Baginda! Tidak semua pendekar cocok dengan aturan dan biasa di atur, banyak pendekar lebih memilih hidup berkelana dan membaktikan diri mereka membantu kaum yang lemah dan menegakkan kebenaran.


Prabu Samarawijaya dan Tumenggung Wirabumi anggukan kepala mendengar penjelasan bijaksana dari Resi Sarpa kencana.


“Bagaimana Raden? Tanya Resi Sarpa kencana.


Setelah berpikir bahwa sayembara yang di usulkan oleh Resi Sarpa kencana memang bisa menimbulkan kekacauan.


Aria memutuskan menunda perjalanan menuju gunung Semeru sampai sayembara selesai, karena hal ini juga sangat penting, bilamana yang di ceritakan oleh resi Sarpa kencana benar, kerajaan Kadiri dalam bahaya.


“Baiklah! aku akan berusaha membantu sebisa mungkin agar sayembara ini berjalan sukses,” Aria menjawab pertanyaan resi Sarpa kencana.


“Tetapi sekali lagi aku tegaskan! aku hanya membantu dan bukan pembantu, jadi dalam hal ini aku tak mau di atur, biarkan kami bekerja menurut cara kami sendiri,” lanjut perkataan Aria.


Tumenggung Wirabumi menatap ke arah Prabu Samarawijaya.


Prabu Samarawijaya anggukan kepala melihat Tumenggung Wirabumi melihat ke arahnya, walau hatinya kecewa mendengar penolakan Aria, tetapi Prabu Samarawijaya sadar betul, tenaga Aria sangat di butuhkan olehnya saat ini.


Hati Tumenggung Wirabumi lega melihat Prabu Samarawijaya anggukan kepala.


Tumenggung Wirabumi takut Prabu Samarawijaya tersinggung dengan penolakan Aria dan terjadi hal-hal yang tak di inginkan.


Setelah bercakap-cakap, Prabu Samarawijaya kembali ke istana di pusat kota Daha, Aria yang menolak tinggal di istana, akhirnya tinggal di kediaman Tumenggung Wirabumi setelah di desak oleh sang Tumenggung dan di jadikan tamu terhormat oleh Tumenggung Wirabumi.


Beberapa hari Setelah Tumenggung Wirabumi melaksanakan tugasnya untuk mengadakan sayembara.


Kota Daha berbenah, hiasan dan umbul-umbul memenuhi sisi jalan, pengumuman sayembara bagi para pendekar terpampang di tempat-tempat keramaian.


Berbagai macam orang mulai masuk ke kota Daha dari kota terdekat sampai kota yang berada agak jauh.


Pendekar-pendekar yang mencoba peruntungan dengan mengikuti sayembara mulai memasuki kota Daha, berbagai macam pakaian aneh yang di pakai oleh para pendekar tampak menjadi hiburan tersendiri buat para penduduk kota Daha.


Penduduk kota Daha sangat bergembira dengan adanya sayembara, karena kota Daha sejak Prabu Samarawijaya memimpin, sudah lama tidak ada acara keramaian seperti sekarang ini.


Aria di temani Wulan, Sarka, Rara Ayu serta Buto Ijo keliling ke tempat-tempat keramaian, melalui mata Wulan dan Sarka, Aria memperoleh informasi apa yang terlihat di kota Daha.


“Raden! Bagaimana Kalau istirahat sebentar di rumah makan itu,” Ucap Sarka sambil menatap rumah makan yang terlihat banyak pengunjung.


“Memangnya di rumah Wirabumi kau tidak makan? Tanya Buto Ijo.


“Sudah,” jawab sarka


“Tidak usah tanya aku! Kau lapar tidak?


Sebelum Buto Ijo berkata, kembali sudah di dahului Sarka.


“Aku lapar! Jawab Buto Ijo.


“Kalau lapar jangan suka jual mahal,” Sarka berkata setelah mendengar jawaban Buto Ijo.


“Mari kita kesana! Rara Ayu berkata sambil menarik tangan Aria.


Wulan melihat Rara Ayu yang mulai berani, wajahnya tampak tidak suka, tetapi Wulan tidak berani banyak bicara.


Keduanya lalu masuk, dan memang rumah makan itu banyak pengunjung, karena makanan yang ada di rumah makan itu terkenal karena kelejatannya.


Buto Ijo tanpa ragu langsung menyantap makanan yang tersedia.

__ADS_1


Sarka yang melihat Buto Ijo makan gelengkan kepala, tangan kiri memegang ayam, sedangkan tangan kanan terus memasukan nasi ke dalam mulut.


“Kau makan napas tidak? Tanya Sarka.


Melihat mulut Buto Ijo yang penuh isi.


Bhuaah!


Nasi dan lauk pauk yang sudah setengah lembut di kunyah di dalam mulut, menyembur ke arah Sarka, membuat wajah pemuda itu penuh dengan nasi beserta sayuran.


Wajah Sarka berubah kelam, apalagi para tamu banyak yang melihat dan tertawa, sambil menggebrak meja Sarka menunjuk ke arah Buto Ijo, “kau sengaja kan?


“Tidak! Aku mau jawab pertanyaanmu tapi susah bicara, jadi semuanya malah keluar,” balas Buto Ijo setelah mulutnya kosong dari makanan.


“Bangsat! Ucap Sarka sambil mengambil batang kangkung yang menempel di hidungnya, kemudian Sarka masukan kedalam mulut.


Wulan dan Rara Ayu terpingkal pingkal melihat keduanya. Sedangkan Buto Ijo tetap terus makan, seperti tak peduli.


Sarka terus menggerutu kemudian berdiri, lalu keluar setelah melihat ada kerumunan di luar rumah makan.


Aria kerutkan kening saat mendengar teriaka dan kata-kata kasar dari halaman rumah makan.


“Ada apa di luar? Tanya Aria.


“Sepertinya ada keributan, kakang,” jawab Wulan.


“Mari kita lihat! sebelum Rara Ayu bertindak, Wulan terlebih dahulu menarik tangan Aria.


Hem!


Ucap Rara Ayu melihat Wulan memegang tangan Aria, hatinya cemburu.


Rara Ayu merasa derajatnya lebih tinggi, karena Sarka bilang, Wulan juga seperti dirinya yang hanya ikut berkelana dengan Aria, dan Sarka tidak melihat ada hubungan antara Aria dan Wulan.


Ternyata di tengah kerumunan ada pertempuran, satu hal yang sudah biasa terjadi, dan menjadi hiburan tersendiri bagi penduduk kota Daha.


Wulan membawa Aria mendekati Sarka yang tengah berdiri menonton pertempuran, sementara Buto Ijo berdiri agak jauh.


Seorang pria paruh baya yang menggenggam keris di temani oleh seorang gadis, tengah bertempur dengan rombongan orang-orang yang memakai ikat kepala hitam dan berpakaian serba hitam, wajah orang-orang berpakaian hitam itu tampak bengis.


Wulan dan Rara Ayu menceritakan apa yang mereka lihat kepada Aria.


“Sarka, Kau bantu mereka! Seru Aria, setelah mendengar kabar dari Wulan dan Rara Ayu.


“Tanpa Raden suruh, aku memang berniat membantu mereka,” ucap Sarka sambil tersenyum.


Cis!


“Dasar mata keranjang, kau mau membantu karena melihat gadis itu kan? Tanya Wulan.


Sarka tak menjawab hanya senyum yang tampak di bibir pemuda itu.


“Raden matanya tak bisa melihat, tetapi sudah punya 2 kekasih, masa aku yang tampan dan bisa melihat, masih saja susah dapat kekasih,” batin Sarka yang membandingkan dirinya dengan Aria.


Setelah melihat keduanya terdesak oleh rombongan orang berpakaian hitam.


Sarka langsung melesat, tangannya yang sudah berbentuk cakar menyambar punggung pria berpakaian hitam yang hendak memegang tubuh gadis yang sudah terdesak.


Bret!


Sebagian kulit dan baju pria berpakaian hitam, robek terkena cakaran Sarka.

__ADS_1


Pria yang merasakan punggungnya terasa perih langsung berbalik dan menebas dengan golok.


Whut!


Sarka mundur menghindari tebasan golok musuh, setelah mundur, pemuda itu loncat dan kakinya balik menghantam ke arah kepala pria yang menyerangnya.


Plak!


Leher pria berpakaian hitam terpelintir akibat kerasnya tendangan Sarka yang mengenai kepala orang itu, Pria berpakaian hitam langsung tersungkur dan tewas seketika.


Suara riuh dan tepuk tangan orang-orang yang menonton pertempuran, terdengar saat Sarka berhasil menjatuhkan musuhnya.


Pria paruh baya yang tengah di keroyok, mundur menghampiri sang anak, setelah mendengar suara tepuk tangan.


Sarka menghampiri gadis yang terduduk di tanah, kemudian menjulurkan tangannya, untuk membantu gadis itu berdiri.


“Terima kasih aku bisa berdiri sendiri,” ucap si gadis sambil berdiri.


“Kau tidak apa-apa? Tanya pria paruh baya yang sudah berdiri di dekat gadis itu


“Aku tidak apa-apa ayah,” ucap gadis itu sambil menepak-nepak pakaiannya yang kotor, karena jatuh terkena serangan musuh.


“Paman jangan khawatir, aku akan membantu paman melawan mereka,” Sarka berkata.


Pria paruh baya itu kerutkan kening mendengar perkataan Sarka yang terdengar aneh, begitu pula si gadis.


“Tuan bukan dari daerah sini? Tanya pria itu.


“Aku Sarka kisanak, dari tanah Pasundan,” jawab Sarka sambil memperkenalkan diri.


“Terima kasih atas bantuan tuan Sarka,” ucap pria itu.


“Siapa mereka paman? Tanya Sarka.


Mereka berasal dari padepokan Tangan Hitam, salah satu dari padepokan ber aliran hitam yang di takuti di daerah utara.


“Tangan hitam,” ucap Sarka sambil keningnya berkerut.


“Benar tuan muda, mereka tadi menggoda anakku sehingga kami bertempur,” ucap pria itu.


Tetapi sebelum Sarpa berkata, orang-orang berpakaian hitam mendekati mereka.


He He He


“Rupanya ada satu anak tikus yang hendak menjadi pahlawan kesiangan,” ucap salah seorang berpakaian hitam.


“Diam kau! Ucap Sarka.


“Mari kita lihat! Siapa pahlawan dan siapa anak tikus yang kau maksud,” ucap Sarka.


Setelah berkata Sarka melesat dan tangannya berusaha menghantam ke arah dada pria berpakaian hitam, tetapi pria itu mundur menghindari serangan Sarka.


Melihat kawan mereka di serang, puluhan orang berpakaian hitam bergerak mengurung Sarka.


Buto Ijo melihat Sarka di kurung bergerak mendekat


Pria paruh baya yang di tolong oleh Sarka, sewaktu melihat Buto Ijo mendekat, wajahnya berubah pucat, Pria itu tahu Buto ijo adalah tokoh golongan hitam yang sangat di takuti.


Apalagi saat mendengar teriakan Buto ijo sambil menunjuk ke arah Sarka.


“Bangsat! Kau mau buat onar disini?

__ADS_1


Pria paruh baya itu lalu menarik tangan anak gadisnya, dengan nada lirih, karena takut terdengar, pria itu berkata.


“Kemuning, Hati-hati! Raksasa itu sangat kejam.


__ADS_2