
Lelaki berpakaian khas Jawa dengan bibir yang selalu tersenyum, terus memperhatikan Senopati Kebo wulung dan Buto Ijo.
Buto Ijo langsung melesat ke arah Senopati Kebo wulung, tangannya yang besar dan panjang menyambar ke arah dada Senopati Kebo wulung.
Phuih!
“Kau pikir bisa menyerang ku dengan serangan seperti itu,” Kebo wulung berkata dalam hati.
Tangan kanan Senopati Kebo wulung menebas ke arah tangan Buto Ijo yang hendak menghantam dadanya.
Sret!
Buto Ijo tarik tangan kanannya, kemudian tangan kiri ganti menghantam ke arah bahu Senopati Kebo Wulung.
Whut!
Kebo wulung mundur satu langkah, lalu loncat sambil kaki kanan menendang bahu kiri Buto Ijo.
Buk!
Buto ijo yang tidak bergerak, bahunya terkena tendangan Kebo Wulung.
“Celaka! Ucap Kebo wulung setelah berhasil menendang bahu Buto ijo.
Tanpa menunggu waktu lama setelah bahunya terkena tendangan, Buto ijo langsung menangkap kaki Senopati Kebo Wulung, kemudian membanting sang Senopati ke tanah.
Tetapi sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, Senopati Kebo wulung sudah siap, tubuhnya berputar dan kedua kakinya yang sampai terlebih dahulu menginjak tanah, kemudian dengan cepat tangan kanan balik menyerang, menebas ke arah pinggang Buto ijo.
Buto ijo kali ini tidak menghindar, tangannya menangkis serangan Senopati Kebo wulung.
Plak!
Sambil bibirnya meringis menahan sakit, Tangan Buto ijo meraih pinggang Senopati Kebo wulung.
Setelah berhasil meraih pinggang, kedua tangan Buto ijo langsung mengunci pinggang Kebo Wulung, Buto ijo layaknya seorang pegulat, tubuh Senopati Kebo wulung di angkat kebelakang, kemudian Senopati Kebo wulung di banting ke tanah.
Brak!
Punggung Senopati Kebo wulung terhempas, tubuh sang Senopati tampak menggeliat, berusaha menahan sakit ketika punggungnya dengan keras menghantam tanah.
Setelah musuh berhasil di banting, Buto ijo langsung menendang pinggang Kebo wulung.
Buk!
Tubuh Senopati Kebo wulung terlempar beberapa tombak, terkena tendangan Buto ijo.
Beberapa orang prajurit yang masih hidup, langsung memburu ke arah Senopati Kebo wulung, kemudian memeriksa sang Senopati yang masih terbaring.
“Masih hidup,” ucap prajurit yang memeriksa nadi Senopati Kebo wulung.
Tanpa berpikir panjang, para prajurit yang tersisa lalu menggotong tubuh Kebo wulung pergi.
Phuih!
Buto Ijo meludah, melihat para prajurit menggotong tubuh atasan mereka.
“Buta….eh salah! Buto, Kau hebat,” ucap Sarka sambil jempolnya terangkat.
“Diam kau! Semua ini gara-gara kau,” balas Buto Ijo sambil melotot.
Sarka langsung diam mendengar bentakan Kebo Ijo.
Aria lalu mengajak mereka pergi.
Tetapi belum jauh mereka melangkah, 2 orang langsung menghadang.
Setelah memberi hormat, salah seorang berkata.
“Maaf kisanak sekalian, saya mengganggu perjalanan! perkenalkan nama saya, Kunto,” ucap orang itu.
“Maaf kisanak! Ada apa menghadang perjalanan kami? Tanya Aria, sebelum Buto Ijo angkat bicara.
Kisanak tadi bertempur dengan prajurit kota Daha, dan yang tadi tak sadarkan diri adalah Senopati Kebo wulung, jika kisanak tidak segera menyingkir dari sini dan menemukan tempat aman, kisanak akan terus di kejar oleh prajurit Daha,” balas Kunto.
“Benar apa yang dikatakan oleh orang ini,” bisik Wulan kepada Aria.
Melihat rombongan di depannya diam, Kunto berkata kembali.
“Aku ingin membantu kisanak semua, aku ada satu tempat aman, bisa di jamin prajurit kota Daha tidak berani datang ke tempat itu.”
“Ada makanan tidak? Tanya Buto Ijo.
__ADS_1
“Ada….ada kisanak, kalau soal makanan dan tempat menginap jangan khawatir, semuanya tersedia,” jawab Kunto.
“Mari kita pergi,” balas Buto Ijo.
Aria akhirnya anggukan kepala, tapi Aria berbisik kepada Wulan, “kau yang menjadi mataku, jangan lengah! siapa tahu ini hanya jebakan,” ucap Aria.
“Baik! Kakang tenang saja,”
“Siapkan kereta kuda! Seru Kunto kepada orang yang bersamanya.
“Baik juragan,” balas orang itu, setelah berkata, orang itu langsung pergi.
“Kereta! Ucap Buto Ijo, “untuk apa kereta kuda? Tanya Buto Ijo.
“Kalau tidak naik kereta, kisanak sekalian akan gampang di kenali oleh prajurit dan mata-mata Tumenggung Adiguna, karena daerah ini adalah daerah kekuasaan Tumenggung Adiguna,” jawab Kunto.
“Sepertinya raksasa ini adalah pemimpin mereka,” batin Kunto, “jika mereka bergabung dengan Tumenggung Wirabumi, niscaya Adiguna tidak akan berani macam-macam terhadap Tumenggung Wirabumi.
Tak lama kemudian kereta kuda datang, Kunto, Wulan, Aria serta Sarka naik kereta kuda, sedangkan Buto Ijo tidak mau naik kereta dan lebih memilih berlari mengikuti kereta.
Kereta kuda bergerak dengan cepat, menyusuri jalan menuju ke arah timur.
Buto ijo terus menggerutu selama berlari, karena kereta kuda tidak berhenti.
Sebelum sore kereta kuda masuk ke gerbang besar yang di jaga oleh prajurit berseragam lengkap.
“Kenapa banyak prajurit? Tanya Wulan yang curiga setelah mereka masuk gerbang.
“Ini adalah kediaman Tumenggung Wirabumi Nisanak, tentu saja banyak prajurit,” ucap Kunto.
“Itu artinya kalian juga prajurit kota Daha,” Wulan berkata kembali.
“Nisanak benar, tetapi kota Daha terpecah menjadi 2, antara Tumenggung Adiguna yang menguasai barat kota Daha, dengan Tumenggung Wirabumi yang menguasai wilayah timur,” Kunto membalas perkataan Wulan.
Kereta berhenti di depan rumah besar, Aria beserta rombongan turun, lalu mereka di bawa oleh Kunto ke sebuah pendopo yang berada di belakang rumah besar itu.
Setelah berada di pendopo, Kunto kemudian memanggil pelayan dan menyuruh pelayan itu untuk menyediakan makanan untuk rombongan Aria, setelah memerintahkan pelayan, Kunto pergi ke dalam rumah besar, melapor kepada sang majikan, Tumenggung Wirabumi.
Tak lama kemudian makanan datang, dan benar apa yang dikatakan oleh Kunto, makanan yang di bawa oleh para pelayan sangat banyak.
Saat Buto Ijo hendak mengambil makanan yang sudah tersedia.
Wulan langsung menepak tangan Buto Ijo.
Wulan mengambil jarum perak dari kantong yang di ikatkan di pinggangnya.
Phuih!
“Kalau sudah lapar! Beracun atau tidak, tetap akan ku makan,” ucap Buto Ijo sambil mengambil satu ayam bakar dan mulai melahapnya.
Aria hanya gelengkan kepala mendengar perkataan Buto Ijo, sedangkan Sarka menunggu Wulan memeriksa makanan yang tersedia.
Wulan menancapkan jarum peraknya ke daging ayam setelah itu, mencelupkan ke dalam sayur, warna jarum tidak berubah, Wulan anggukan kepala.
“Aman,” ucap Wulan.
Sarka mendengar perkataan Wulan, langsung menyambar cukil nasi, kemudian mulai mengisi wadah nasinya dengan nasi, serta lauk pauk yang tersedia.
Cis!
“Kami yang di undang, tapi kami makan bekas kau,” ucap Wulan dengan nada ketus.
“Biarkan saja,” Aria membalas ucapan Wulan.
Wulan mengambilkan makanan untuk Aria, tak lama kemudian mereka bersantap.
Tak butuh waktu lama makanan sudah habis tak tersisa.
Di dalam rumah kediaman Tumenggung Wirabumi.
Kunto tampak sedang bercakap-cakap dengan sang Tumenggung serta Putri Tumenggung, Rara Ayu.
“Apa kau tidak salah orang? Tanya Tumenggung Wirabumi.
Diam-diam Tumenggung Wirabumi sudah melihat dari jauh ke arah pendopo dan keningnya berkerut saat melihat Buto Ijo, serta yang lain makan dengan lahapnya.
“Tidak salah Tumenggung! Ketuanya yang bertubuh besar sangat kuat, Senopati Kebo wulung sampai di gotong oleh prajurit Tumenggung Adiguna melawan orang itu,” ucap Kunto berusaha meyakinkan Tumenggung Wirabumi.
Tumenggung Wirabumi menarik napas, ia banyak uang serta jabatan, tetapi para pendekar memilih bergabung dengan Tumenggung Adiguna, sehingga Tumenggung Wirabumi, tidak ada kekuatan untuk menghadapi adiknya sendiri, Tumenggung Adiguna.
“Kau tidak salah lihat? Tanya Tumenggung Wirabumi, mendengar Senopati Kebo wulung berhasil di kalahkan.
__ADS_1
“Hamba melihat dengan mata kepala hamba sendiri,” ucap Kunto.
“Tapi Cuma satu orang yang mempunyai kepandaian, bagaimana dengan yang lain? Malah aku lihat seperti ada orang buta bersama mereka,” tanya Tumenggung Wirabumi.
Kunto memang terlambat datang dan hanya melihat Buto Ijo bertempur dengan Senopati Kebo wulung.
“Satu sudah cukup, daripada tidak ada sama sekali Tumenggung,” jawab Kunto.
Tumenggung Wirabumi menarik napas panjang, kemudian berkata kepada Kunto.
“Mari kita temui mereka!
Aria, serta Wulan tampak sedang melihat ke arah taman tak jauh dari pendopo, sementara Sarka terus melirik ke arah Buto Ijo yang sedang rebahan di pendopo.
Tumenggung Wirabumi, Kunto serta Rara Ayu jalan menuju Pendopo.
Setelah mereka sampai.
“Kisanak sekalian! Perkenalkan ini Tumenggung Wirabumi yang tadi aku ceritakan.
Aria, Wulan serta Sarka memberi hormat, sementara Buto Ijo seperti tidak peduli dan terus rebahan.
“Maaf kan kami hanya bisa menyuguhkan makanan ala kadarnya untuk tuan-tuan pendekar,” ucap Tumenggung Wirabumi.
“Kami berterima kasih kepada Tumenggung yang sudah memberikan makanan kepada kami,” balas Wulan.
“Kalau boleh tahu siapa nama tuan dan nona pendekar, serta berasal dari padepokan mana? Tanya Tumenggung Wirabumi.
“Hamba Sarka! berasal dari padepokan macan putih,” Sarka memperkenalkan diri sambil tersenyum kepada Rara Ayu.
Rara Ayu anggukan kepala sambil tersenyum kepada Sarka.
“Tidak sopan,” ucap Wulan kepada Sarka.
“Hamba Wulan! Tidak punya padepokan, hanya berkelana mengikuti, calon suami,” ucap Wulan dengan rona wajah berubah merah.
“Enak saja calon suami,” ucap Nyi Selasih dari dalam tongkat.
“Tuan yang sedang rebahan itu siapa? Tanya Tumenggung Wirabumi setelah mendengar keterangan Kunto, bahwa pemimpin rombongan adalah orang bertubuh besar yang tengah berbaring.
“Aku Buto Ijo, Tumenggung,” jawab Buto Ijo sambil tetap berbaring.
Rara Ayu melihat Buto Ijo berkata kepada ayahnya dengan posisi masih berbaring.
Raut wajahnya berubah.
“Kalian bertemu seorang pembesar, tetapi perlakuan kalian terhadap seorang pembesar negeri sungguh tidak sopan,” ucap Rara Ayu sambil melirik ke arah Buto Ijo.
“Memangnya aku harus membungkuk-bungkuk kepada kalian, bukankah kalian yang mengundang kami,” jawab Buto Ijo membalas ucapan Rara Ayu.
“Biarkan saja! Memang benar kita yang mengundang mereka,” ucap Tumenggung Wirabumi sambil tersenyum pahit.
“Tapi ayah!
Rara Ayu langsung diam melihat sang ayah menoleh ke arahnya sambil anggukan kepala.
Rara Ayu tahu ayahnya sedang bermusuhan dengan adik lain ibu, yakni Tumenggung Adiguna yang mencoba mempengaruhi Raja Kadiri, tetapi selalu di tentang oleh kakaknya, yakni Tumenggung Wirabumi.
Tumenggung Adiguna lalu mengumpulkan dan membayar para pendekar pilih tanding, untuk bekerja dengannya.
Mendengar hal itu Tumenggung Wirabumi tahu bahwa adiknya sudah bersiap, ia kemudian menyuruh anak buahnya untuk mencari bantuan kepada para pendekar, tetapi para pendekar yang di temui tidak mau, karena sebelumnya mereka sudah diancam oleh tumenggung Adiguna, kalau mereka bergabung dengan Tumenggung Wirabumi, mereka akan dihabisi.
Walau perlakuan mereka tidak sopan, tetapi Ayahnya hanya bisa diam, karena berharap kepada para pendekar ini mau membantu untuk menghadapi Tumenggung Adiguna.
Rara Ayu menarik napas panjang setelah berpikir.
Aria mendengar tarikan napas Rara Ayu, kemudian berkata.
“Buto Ijo! Bangun dan beri hormat kepada Tumenggung Wirabumi.
Mendengar nada dingin Aria, tanpa menunggu waktu lama, Buto Ijo langsung bangkit, kemudian memberi hormat kepada Tumenggung Wirabumi.
“Aku Buto Ijo minta maaf! Karena perlakuanku, Raden jadi malu,” ucap Buto Ijo.
Tumenggung Wirabumi, Rara Ayu serta Kunto terkejut, sambil menoleh ke arah Aria.
Hanya sekali perintah, manusia raksasa itu langsung nurut, Siapa pria yang membawa tongkat? pikir mereka bertanya-tanya.
Tumenggung Wirabumi tersenyum, sambil membalas hormat Buto Ijo, “jangan panggil Raden, panggil saja Tumenggung Wirabumi,” ucap Tumenggung Wirabumi.
Buto Ijo kerutkan kening mendengar perkataan Tumenggung Wirabumi, kemudian meludah lalu berkata sambil menunjuk ke arah Aria.
__ADS_1
Phuih!
“Radenku adalah dia, bukan kau,”