Iblis Buta

Iblis Buta
Akhir Dari Penghianatan


__ADS_3

Ki Bondo maju,- dan berdiri di hadapan Buto Ijo.


Ujang Beurit setelah kelima murid No. 1 padepokan Srigunting tewas, muncul ke permukaan dan berdiri di sisi Buto ijo, pemuda bermata sayu itu, menatap tajam ke arah Ki Bondo.


“Paman! Padepokan Srigunting dasar ilmunya adalah kecepatan, aku agak repot jika harus mengikuti kecepatannya, tetapi jika dia bisa diam, baru aku bisa membunuhnya,” Ujang Beurit berkata kepada Buto ijo.


“Jangan khawatir, Jang! Aku yang akan membunuhnya,” balas Buto ijo setelah mendengar kerepotan ujang Beurit.


Ki Bondo memutar sepasang pedang pendeknya, sambil menatap Buto ijo dan ujang Beurit bergantian.


Setelah menarik napas dalam-dalam, Ki Bondo melesat ke arah Buto ijo.


Whut!


Ujang Beurit melihat Ki Bondo menyerang, tubuhnya melesat masuk ke dalam tanah.


Sedangkan Buto ijo dengan senjatanya yang sudah banyak terpapas, yakni sebatang pohon sebesar lengan, menunggu datangnya serangan Ki Bondo.


Buto ijo mengarahkan batang pohon layaknya tombak, ke arah Ki Bondo yang tengah bergerak ke arahnya.


Shing….Shing….Sret….Sret!


Dua sinar perak melesat dengan cepat, bergerak ke arah batang pohon yang di pegang Buto ijo.


Dahan, ranting serta daun yang masih menempel di batang pohon, perlahan mulai berguguran terkena sabetan sepasang pedang pendek milik Ki Bondo.


Trak….Trak!


Batang pohon semakin pendek, setelah dua kali terkena tebasan pedang Ki Bondo.


Buto Ijo menarik batang pohon, sebelum semakin pendek tertebas pedang Ki Bondo.


“Bangsat! Ucap Buto Ijo, setelah semua ranting dan daun yang menjadi senjatanya, habis terbabat.


Batang pohon yang tadinya panjang, kini sedikit lebih pendek dari tombak yang biasa di pakai prajurit.


Buto Ijo membalikkan batang pohon yang ia pegang, akar pohon bersama tanah yang masih menempel, kini berada di atas.


“Aku harus membunuhnya sebelum ia berubah menjadi naga,” batin Ki Bondo, yang melihat Buto Ijo bertempur dengan sepasang Elang emas.


Setelah menetapkan hati, Ki Bondo bergerak kembali, pedang pendek di tangan kanan Ki Bondo menyabet pinggang Buto Ijo.


Sret!


Buto Ijo bergerak menghindar ke kiri, kemudian tangan kanannya bergerak ke atas, batang pohon yang di pakai menjadi senjata melesat dari atas, menghantam kepala Ki Bondo.


Ki Bondo melihat kepalanya terancam, bergerak ke kanan, sambil tangan kirinya menyabet ke arah bahu Buto Ijo.


Sret!


Bahu kiri Buto Ijo terkena sayatan pedang pendek Ki Bondo.


Buto Ijo setelah terkena pedang musuh, Batang kayu melesat menyambar pinggang Ki Bondo.


Ki Bondo langsung lompat mundur, menghindari serangan Buto Ijo.


Hmm!


“Rupanya bukan saja kebal pukulan, tetapi lukanya juga langsung menutup jika terkena tebasan senjata tajam,” batin Ki Bondo, setelah melihat luka akibat tebasan pedangnya sudah rapat kembali.


Ki Bondo melesat kembali, kali ini kedua pedangnya mengincar tempat-tempat mematikan di tubuh Buto Ijo.


Buto Ijo memutar batang pohon di depannya, setelah melihat serangan gencar Ki Bondo.


Tak….tak….tak!


Pedang pendek Ki Bondo menghantam ke arah batang pohon, lama kelamaan batang pohon yang di pegang Buto Ijo semakin pendek, terkena tebasan pedang.

__ADS_1


Buto Ijo terus bergerak menghindari tebasan pedang pendek Ki Bondo.


“Aku harus bisa menahan dia, agar si Ujang bisa membantuku membunuh si keparat ini,” batin Buto Ijo.


Sret….Sret!


Kembali dada dan pinggang Buto Ijo terkena tebasan, jika tidak menghindar mungkin dadanya sudah tertembus pedang milik Ki Bondo.


Buto Ijo semakin geram karena terus menghindar dan tak bisa menyerang.


Walau lukanya cepat menutup, tetapi rasa sakit tetap ia rasakan, dan itu yang membuat Buto Ijo geram dengan Ki Bondo.


Pangkal batang pohon yang masih banyak akarnya di putar oleh Buto Ijo saat Ki Bondo menyerang kembali.


Whut…Whut!


Setelah batang pohon di putar, akar yang merumbai panjang ikut berputar, salah satu akar pohon menyambar ke arah telinga Ki Bondo.


Plak!


Ki Bondo terkejut dan langsung mundur, saat merasakan telinganya terasa perih.


Buto Ijo melihat Ki Bondo mundur, terus menyerang dan memutar batang pohon semakin kencang.


Kali ini tanah yang menempel di akar berhamburan ke arah Ki Bondo dan sama sekali tidak di duga oleh ketua padepokan Srigunting.


Plak….plak….plak!


Beberapa butiran tanah menghantam wajah Ki Bondo, salah satunya mengenai mata.


Ki Bondo berguling di tanah menjauh dari Buto Ijo, wajahnya terasa perih dan salah satu matanya yang terkena tanah, tampak mengeluarkan darah.


Saat Ki Bondo masih terkejut dan merasakan sakit, tiba-tiba kakinya ada yang mencekal.


Raut wajah Ki Bondo langsung pucat, Ki Bondo tundukkan kepala, setelah melihat ke bawah, tampak dua tangan sedang mencekal kakinya, tangan kanan Ki Bondo bergerak cepat menebas ke arah tangan yang keluar dar dalam tanah.


Sret!


Ketua padepokan Srigunting berusaha melepaskan diri, tetapi tanah yang menjepit semakin lama semakin kencang, rasa kalut dan takut yang di rasakan oleh Ki Bondo, membuat ketua padepokan Srigunting menyabetkan pedang pendeknya ke arah tanah.


Buto Ijo yang melihat kesempatan bagus tersebut, langsung lompat dan menghantamkan akar pohon ke arah kepala Ki Bondo.


Prak!


Kepala Ki Bondo langsung pecah, tubuhnya bergerak gerak menahan sakit, dan tak lama kemudian gerakannya semakin berkurang dan diam untuk selamanya.


Phuih!


Buto Ijo meludahi kepala Ki Bondo yang pecah, karena kesal kepada ketua padepokan Srigunting tersebut.


Setengah badan Ki Banda sebatas pinggang berada di dalam tanah, akibat di tarik oleh si Beurit yang menggunakan ajian Dasar bumi.


“Kalau tidak ada kau, susah sekali membunuh keparat ini, gerakannya sangat cepat,” ucap Buto Ijo, saat Si Beurit sudah berdiri di sisinya.


“Mari kita bantu yang lain, paman! Kalasrenggi sudah berhadapan dengan ketua, aku tak berani mendekat,” balas Ujang Beurit.


“Baik! Seru Buto Ijo, keduanya lalu melesat ke arah Selamet dan Raden Untung yang bertempur dengan orang dari padepokan Elang emas, saat orang padepokan Elang emas bersama puluhan pendekar berusaha mendekati gadis pelangi yang berada di dalam benteng angin yang di jaga oleh Wangsa.


Sedangkan Aria bertempur sengit dengar Kalasrenggi, Siluman merah sangat bernafsu menyerang Aria.


Jika ia berhasil membunuh Aria, maka gadis pelangi yang sangat ia inginkan, pasti akan jatuh ke tangannya.


Shing….Shing….Shing!


Bola-bola kecil berwarna merah yang di ciptakan dari Ajian Bola matahari milik Kalasrenggi, melesat menyerang Aria Pilong dari berbagai arah.


Aria memutar tongkatnya berusaha menahan serangan bola-bola matahari, sedangkan tangan kiri dengan ajian Mawageni di lesatkan ke arah Kalasrenggi.

__ADS_1


Kalasrenggi melesat menghindari sinar merah dari ajian Mawageni.


Ajian Mawageni langsung menghantam pohon besar yang berada di belakang Kalasrenggi, membuat batang pohon besar itu hancur.


Blam….Blam….Blam!


Bola-bola matahari kecil ciptaan Kalasrenggi, langsung meledak setelah menghantam tongkat.


Aria melesat naik ke atas, puluhan bola matahari meledak saling hantam dan menimbulkan ledakan besar, pohon-pohon kecil dan semak belukar terbakar akibat hawa panas dari ajian bola matahari.


Dua bola matahari yang tersisa, melesat ke arah aria yang tengah berada di atas setelah melesat menghindar.


Blar!


Tubuh Aria terpental setelah dadanya terkena ajian bola matahari.


Kalasrenggi tersenyum melihat Aria terpental, tampak dari dada Aria mengepul asap serta bau daging yang terbakar.


Wangsa serta gadis pelangi yang berada di dalam benteng angin, tampak cemas melihat Aria terkena ajian musuh.


Aria perlahan bangkit, di bantu oleh tongkatnya.


Dada Aria tampak melesak bau daging terbakar tercium dari dadanya yang hangus.


Perlahan dada Aria kembali seperti semula, hanya tampak bajunya saja yang bolong seperti bekas terbakar.


Aria tancapkan tongkatnya, lalu merapalkan ajian Rengkah gunung dan menghantamkan tangan kanannya ke tanah.


Blam!


Bayangan putih yang merupakan Sukma Aria Pilong melesat cepat ke arah Kalasrenggi.


Kalasrenggi tersenyum melihat ajian Rengkah gunung yang di keluarkan oleh Aria, kemudian berkata.


“Ajian Rengkah gunung memang sangat dasyat, tetapi jika mengenai orang yang di tuju, jika tidak berhasil mengenai musuh, ajian Rengkah gunung tidak berbahaya.”


Aria tersenyum dingin mendengar perkataan Kalasrenggi.


“Coba kau hindari ajian Rengkah gunung miliku,” balas Aria dengan nada dingin.


Kalasrenggi tersenyum mengejek mendengar perkataan Aria.


Saat tubuh Kalasrenggi hendak bergerak menghindar, tiba-tiba Sukma Aria menghilang dari hadapan Kalasrenggi.


Kalasrenggi kejut bukan kepalang, ia langsung bergerak mundur.


Tiba-tiba Sukma Aria sudah berdiri di depan Kalasrenggi, dan langsung menghantam ke arah dada.


Kedua tangan Kalasrenggi langsung bergerak ke arah dada, berusaha menahan ajian Rengkah gunung.


Blam….Krak!


Suara patahan tulang terdengar.


Kalasrenggi terpental beberapa tombak, dari mulutnya semburkan darah segar tanda luka dalam.


Setelah menghantam batang pohon, tubuh Kalasrenggi jatuh ke tanah.


“Keparat! Kenapa sukmanya bisa menghilang? Kalasrenggi berkata dalam hati, sambil berusaha bangkit


Aria tersenyum melihat aura merah yang merupakan perwujudan Kalasrenggi terpental.


“Tidak sia-sia aku menggabungkan ajian Rengkah gunung dan Rogo Demit,” batin Aria.


Aria mencabut tongkatnya sambil tersenyum dingin, lalu berkata setelah melihat Aura merah perwujudan Kalasrenggi bangkit.


“Bersiaplah Kalasrenggi”

__ADS_1


__ADS_2