Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 90 : Kesempatan Kedua


__ADS_3

Suketi yang mengendus bau Aria, terus bergerak ke arah timur.


“Kau duduk saja di bahuku lalu tunjukan jalannya,” ucap Buto Ijo.


“Tidak bisa Jo! Bagaimana nanti bisa mencium bau, kalau Suketi duduk di bahumu,” ucap Wangsa.


Phuih!


“Memalukan! Kera kok endas endus,” Buto Ijo berkata dengan nada kesal.


“Kau ingin adik ketiga selamat atau tidak? Tanya Wangsa.


“Sudah….sudah, Ayo kita ikuti Suketi! Bicara terus, kau dari tadi,” balas Buto Ijo.


“Bangsat, Dasar keparat! Yang bicara dari tadi adalah kau, malah aku yang di salahkan,” ucap Wangsa dengan nada kesal sambil mengikuti langkah Suketi.


Tak lama kemudian Suketi berhenti di depan goa, di bawah bukit bagian timur hutan gelap, sambil tangannya yang mungil menunjuk ke arah mulut goa.


Nguk….nguk!


Suketi seakan berkata bahwa Aria ada di dalam goa.


Buto Ijo langsung menyambar Suketi, kemudian masuk kedalam goa, di ikuti oleh Wangsa dan Srikantil.


Semakin masuk kedalam, jalan goa semakin lebar, akhirnya mereka sampai di ruangan luas.


Buto Ijo melihat Aria tengah bertarung dengan Singa barong, langsung melesat.


Sedangkan Srikantil yang tengah melihat gurunya sedang duduk sila, langsung mendekat.


“Guru….guru tidak apa-apa? Tanya Srikantil dengan nada cemas, setelah melihat wajah gurunya yang pucat.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Nyai Kidung kencana.


“Apa orang-orang ini datang bersamamu? Tanya Nyai Kidung kencana.


“Benar guru! Itu yang di sana bilang dia kenal sama guru,” ucap Srikantil.


Nyai Kidung kencana kerutkan kening, sambil melihat Wangsa yang memakai caping.


“Aku tidak bisa melihat wajahnya,” ucap Kidung kencana.


Wangsa membuka caping, kemudian menatap Nyai Kidung kencana.


“Sekarang kau kenal aku? Tanya Wangsa.


“Resi Maung Bodas,” ucap Kidung Kencana sambil tersenyum senang.


“Bagaimana kabar Nyai? Tanya Wangsa.


“Seperti yang resi lihat,” ucap Nyai Kidung kencana sambil tersenyum pahit.


“Kau tenang saja! Sekarang kau aman,” ucap Wangsa.


“Resi! Tolong hentikan mereka, aku takut pria itu tewas oleh Singabarong,” ucap Nyai Kidung kencana.


“Kau tenang saja! Adik ketiga tidak akan tewas dengan mudah, apalagi ada Buto Ijo yang ikut membantu,” balas Wangsa.


Singabarong yang menggunakan cemeti badai api, cemetinya terus memecut kemana saja Aria bergerak.


“Raden! Ambil tongkat,” ucap Buto Ijo sambil melempar tongkat ke arah Aria, kemudian kakinya menendang ke arah pinggang Singabarong.


Singabarong mendengus lalu cemetinya menyambar kaki Buto Ijo.


Tap!


Ujung cemeti membelit kaki Buto Ijo, kemudian Singabarong langsung menarik cemetinya.


Whut!


Setelah tubuh Buto Ijo dekat, tangan kiri Singabarong langsung menghantam bahu Buto Ijo.

__ADS_1


Buk!


Tubuh Buto Ijo langsung terhempas ke lantai goa, setelah terkena hantaman tangan kiri Singabarong.


Buto Ijo langsung bangkit, lalu menepak nepak bahunya yang terkena tinju, sebagian capingnya rusak, Buto Ijo merenggut caping kemudian membanting capingnya ke lantai goa.


Brak!


“Aku kebal pukulan! Jadi kau bebas memukul di mana saja,” ucap Buto Ijo sambil menatap tajam.


“Kau mundur! Seru Aria dengan nada dingin kepada Buto Ijo.


“Tapi Raden! Ucap Buto Ijo.


“Mundur kataku! Seru Aria dengan nada tinggi.


Mendengar nada suara Aria, Buto Ijo mundur dan membiarkan Aria yang menghadapi Singabarong.


“Jika kalian berdua menghadapi aku, sepertinya aku sedikit lebih repot, kenapa kau malah menyuruhnya mundur? Tanya Singabarong.


“Bicaralah sepuas hatimu, karena itu adalah kata-kata terakhirmu,” ucap Aria.


Bangsat….Ctar!


Suara cemeti mengegelegar menghantam batu yang ada di dalam goa, batu langsung terbakar dan hancur terkena cemeti badai api.


“Jangan mimpi! Seru Singabarong, setelah mendengar perkataan Aria.


“Resi! Tolong halangi kakang Singabarong, agar ia tidak tambah berdosa dengan membunuh orang,” ucap Kidung kencana dengan nada cemas, setelah melihat Singabarong mulai melecutkan cemeti badai api.


“Hai perempuan! Enak saja kau bicara Raden akan di habisi, yang ada orang itu yang akan di bunuh oleh Raden,” ucap Buto Ijo.


“Kawanku ini benar, Nyai! Sepertinya iblis buta tidak akan membiarkan Singabarong hidup melewati hari ini,” balas Wangsa.


“Jadi tuan itu adalah Iblis Buta? Yang baru-baru ini mengacak acak dunia persilatan tanah Jawa,” tanya Kidung kencana.


“Benar Nyai,” jawab Wangsa.


Hmm!


“Kidung kencana berada di pihak mana sebenarnya? Wangsa bertanya tanya dalam hati setelah melihat wajah Kidung kencana.


Ujung Cemeti menyambar kepala Aria.


Tongkat naik ke atas, berusaha menahan ujung cambuk.


Ctar!


Tangan kiri Aria menghantam perut Singabarong yang ada di hadapannya.


Singabarong balas menghantam melihat tangan Aria berubah warna menjadi merah.


Plak!


Singabarong mundur selangkah, tangan kiri terasa panas, akibat ajian Mawageni.


“Ternyata kau hebat juga! Jangan salahkan aku jika aku akan menyedot rohmu untuk menambah kekuatanku,” ucap Singabarong sambil menatap tajam ke arah Aria Pilong.


“Apa kau mampu? Tanya Aria dengan nada dingin.


Singabarong semakin bernafsu setelah mendengar perkataan Aria.


Singabarong lalu merapalkan Ajian Tuku Belis untuk menghadapi Aria.


Perlahahan bentuk tubuh Singabarong menjadi besar, wajahnya juga berubah menjadi seperti raksasa, dengan taring menyembul di sisi kanan dan kiri bibir, mata melotot berwarna merah serta hidung besar, rambut riap-riap an, membuat penampilan Singabarong menjadi menyeramkan.


Tangan kiri terangkat ke arah Aria, di tengah telapak tangan kiri Singabarong tampak ada seperti mulut dengan lidah menjulur keluar dari mulut yang ada di telapak tangan.


Hmm!


“Ajian Tuku Belis! Aku ingin tahu apa kau mampu menyerap mahluk halus yang ada di tubuh adik ketiga? Ucap Wangsa sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Setelah tangan kiri terangkat, dan mulut di telapak tangan kiri terbuka, angin yang keluar dari telapak tangan kiri Singabarong terus menyedot.


“Suami! Biarkan dia mengeluarkan ajian Tuku Belis, aku ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh Singabarong, setelah melihat mahluk yang ada di tubuh suami unjukkan diri,” ucap Nyi Selasih.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Nyi Selasih.


Hawa sedot yang keluar dari tangan kiri Singabarong yang mengarah ke tubuh Aria semakin besar, Aria bukannya menghindar, tetapi malah maju mendekati tangan kiri Singabarong.


“Resi! Cepat halau Singabarong , ajian Tuku Belis akan menyedot roh yang ada di tubuh pemuda itu,” ucap Kidung kencana.


Tapi sebelum Wangsa menjawab, dari tubuh Aria keluar 3 larik sinar berwarna Hijau, putih serta kuning ke emasan.


Ketiga sinar setelah keluar langsung berubah wujud dan menatap tajam ke arah Singabarong yang langsung mundur dengan wajah pucat.


Nyi Selasih, Maung Bodas serta Naga langit, berdiri menatap tajam ke arah Singabarong.


“Kau pilih! Mau ambil roh yang mana dari dalam tubuhku,” ucap Aria dengan nada dingin.


Singabarong tak menjawab setelah melihat roh halus yang keluar dari tubuh Aria.


Kakinya terus mundur setelah melihat Maung Bodas maju mendekat.


Langkah kaki Singabarong langsung terhenti, setelah punggungnya menyentuh dinding goa.


Raut wajah Nyai Kidung kencana tampak pucat, setelah melihat Maung Bodas si penjaga barat bergerak menghampiri Singabarong yang tengah menyandar di dinding goa, karena tak bisa lagi mundur.


Nyai Kidung kencana melesat, setelah berdiri di depan Singabarong, Nyai kidung kencana lalu sujud di depan Maung Bodas.


“Maaf kan aku leluhur! Tolong jangan bunuh kakang Singabarong, karena sekarang dia adalah suamiku,” ucap Nyai Kidung kencana.


“Kidung kencana! kau dulu memang pernah membantu menyadarkan aku, tetapi sekarang aku sudah mempunyai pemilik, jika pemilikku ( Aria Pilong ) sudah menetapkan! Walau dia suamimu, aku harus membunuhnya,” Maung Bodas berkata.


Mendengar perkataan Maung Bodas, Nyai Kidung kencana langsung melesat dan sujud di depan Aria Pilong.


“Raden! Tolong ampuni nyawa suami hamba,” ucap Nyai Kidung kencana sambil ber urai airmata.


Aria tak menjawab perkataan Nyai Kidung kencana.


Maung Bodas tangannya menghantam ke arah Singabarong.


Plak!


Singabarong terpental, setelah bahunya terkena hantaman Maung Bodas, dari mulutnya langsung menyembur darah segar, tanda luka dalam.


Ajian Tuku Belis yang di miliki Singabarong belum cukup kuat, untuk menyedot roh siluman yang mempunyai kekuatan besar seperti Maung Bodas, sehingga ajian itu tidak berarti sama sekali di hadapan Maung Bodas.


Wangsa tidak menyangka sama sekali setelah mendengar Kidung kencana berkata, bahwa wanita itu sudah menikah dengan Singabarong.


“Raden! Kami berdua siap menjadi budak Raden, jika Raden mengampuni kami.


“Kakang Singabarong, cepat berlutut sebelum terlambat! Teriak Nyai Kidung kencana dengan nada cemas, melihat Maung Bodas terus melangkah mendekati sang suami.


Singabarong memang sudah pasrah, ia sangat terkejut melihat roh siluman yang keluar dari tubuh Aria yang sama sekali tidak ia bayangkan sebelumnya, baru melawan Maung Bodas saja ia masih belum mampu, apalagi Naga langit dan Nyi Selasih yang belum bergerak.


Singabarong akhirnya menuruti perkataan Nyai Kidung kencana.


“Raden! Jika Raden memberi kesempatan kedua kepada kami, sepasang suami istri.


“Aku dan istriku akan setia menjadi budak Raden,” ucap Singabarong sambil bersujud.


Sementara Maung Bodas sudah berdiri di hadapan Singabarong, kaki depan yang besar sudah terangkat, siap menyerang Singabarong yang tengah sujud.


“Adik ketiga! Ampuni keduanya, akan ada banyak kebaikan yang akan Raden dapatkan jika mempunyai kedua pelayan seperti mereka,” ucap Wangsa.


Aria angkat tangannya mendengar perkataan Wangsa, perlahan Aria menarik roh yang keluar dari dalam tubuh, kecuali Nyi selasih.


Nyai kidung kencana tersenyum penuh haru sambil anggukan kepala kepada Wangsanaya.


Singabarong dan Nyai kidung kencana lalu sujud di depan Aria Pilong serta menyatakan kesetiaan, kemudian berkata dengan suara lantang.


“Terimalah hormat kami junjungan,”

__ADS_1


__ADS_2