
Memang benar apa yang di katakan oleh Nyoman Sidharta, Gopala yang hendak kembali ke Kahuripan membatalkan niatnya setelah pulau Bali geger, karena Elang raksasa yang meneror mereka berhasil di kalahkan.
Setelah Gopala mengetahui bahwa yang membunuh Elang raksasa adalah Iblis buta, Gopala meng urungkan niatnya kembali ke Kahuripan, dan ingin memantau situasi di kerajaan Bali, apa maksud kedatangan Iblis buta ke kerajaan Bali, sebab rumor sudah beredar di Kahuripan bahwa Iblis buta lebih condong ke arah Kadiri dari pada Kahuripan, tetapi untuk mengganggu, Gopala tidak berani, sebab para petinggi kerajaan Kahuripan sudah banyak yang tewas oleh Iblis buta.
Gopala ketika di hubungi oleh Senopati Gala dan di beritahu maksud dan tujuan patih Nyoman Sidharta, akhirnya Gopala mau bertemu.
Gopala tanpak gelengkan kepala mendengar perkataan Patih Nyoman Sidharta yang berkata hendak merebut kerajaan Bali di saat upacara pernikahan.
“Kau gila! Seru Gopala sambil lanjut berkata.
“Apa yang kau andalkan hendak menyerang mereka? Apa kau tahu siapa mereka sebenarnya? Gopala terus memberondong Nyoman Sidharta dengan berbagai pertanyaan.
Nyoman Sidharta kemudian membocorkan rencananya, yang hendak meracuni Prabu Anak Wungsu serta kerabat kerajaan.
Gopala masih tetap gelengkan kepala, tak yakin dengan rencana Nyoman Sidharta, lalu memutuskan.
“Aku tidak mau gegabah menerima permintaan kalian untuk bergabung, tetapi aku ingin melihat apa kalian bisa berhasil melaksanakan rencana kalian? jika kalian berhasil, Aku bisa menjamin Prabu Mapanji Garasakan tidak akan menuntutmu, walau kau sudah membunuh pamannya.
Nyoman sidharta mengerti dengan keputusan Gopala, karena ia tahu seorang utusan tidak bisa mengambil keputusan.
Malam hari, ratusan anak buah Senopati Gala dan Gali, bergerak ke arah istana Tampak Siring, karena besok hari upacara pernikahan, para prajurit yang berkhianat semuanya menyamar dengan memakai pakaian sama dengan penduduk Bali, Nyoman sidharta sengaja menyuruh mereka bergabung dan berbaur dengan penduduk, serta menghasut para penduduk agar pelaksanaan acara pernikahan berantakan.
***
Buwana Dewi tidak bisa tidur, walau sudah berbaring dan pejamkan mata, tetapi jantungnya berdetak kencang dan kembali matanya terbuka, kemudian duduk di ranjang sambil menatap Aria yang tengah duduk di kursi.
“Kenapa tidak istirahat? Tanya Aria, ketika mendengar suara ******* napas Buwana Dewi.
“Aku tidak bisa tidur, kakang! Aku sudah berusaha tetapi tetap saja tidak bisa, aku ingin malam ini cepat berlalu dan berganti pagi,” Buwana Dewi setelah berkata, kemudian turun dari tempat tidur, melangkah ke arah Aria dan duduk di samping sang calon Suami.
“Kakang juga tidak tidur? Tanya Buwana Dewi.
“Kau mana tahu aku sudah tidur atau belum?,” jawab Aria sambil tersenyum.
“Tentu saja tahu! Kalau kakang tidur, mana mungkin bisa membalas perkataanku,” balas Buwana Dewi.
“Perempuan memang pandai bicara,” ucap Aria Pilong ketika mendengar balasan Buwana Dewi.
Perlahan kepala Buwana Dewi bersandar di bahu Aria.
Aria menoleh ke arah kepala Buwana Dewi, sambil menarik napas panjang.
“Entah seperti apa wajah Buwana Dewi,” batin Aria.
Aria banyak mendengar cerita orang, bahwa kecantikan Buwana Dewi laksana bidadari turun dari kayangan, tetapi hanya cerita, karena kebenaran dari cerita itu tidak bisa ia buktikan, karena ia tak dapat melihat wajah Buwana Dewi.
Kalau Nyi Selasih memang cantik seperti bidadari jika berwujud manusia, karena Aria dapat melihat Nyi Selasih setelah menikah dan batin mereka menyatu.
Tetapi dengan Buwana Dewi, apa dia bisa melihat wajah serta tubuh calon istrinya setelah mereka menikah? Seperti terhadap Nyi Selasih.
“Apa yang kakang pikirkan? Tanya Buwana Dewi, setelah gadis itu merasakan hembusan napas sang kekasih di kepalanya.
“Aku sedang berpikir, berapa anak yang akan kau berikan untukku, setelah kita menikah? Tanya Aria.
Buwana Dewi langsung menarik kepalanya dari bahu Aria, kemudian menatap sang kekasih.
“Kakang maunya berapa? Buwana Dewi balik menantang sambil tersenyum menggoda.
“Kenapa malah adik Dewi yang balik menantang aku? Aria berkata sambil tersenyum.
“Kan kakang Aria yang bicara terlebih dahulu,” jawab Buwana Dewi.
“Tapi ingat kakang! Setelah kita menikah, Buto Ijo tidak boleh tinggal satu kamar dengan kita,” lanjut perkataan Buwana Dewi.
“Buto Ijo selalu masuk tanpa mengetuk pintu.”
Gigi Aria terlihat ketika tidak bisa menahan tawa mendengar perkataan Buwana Dewi.
“Aku pernah bilang apa padamu? Tanya Aria, kemudian lanjut berkata sambil tersenyum.
“Buto Ijo sama seperti mu, dari kecil sudah di tinggal oleh orang tua dan di asuh di dunia siluman.
“Kau masih lebih baik, karena di asuh oleh Nyai ratu dan di ajarkan perihal kehidupan, sedangkan Buto Ijo tidak, dari kecil kehidupannya sudah keras untuk bisa bertahan hidup.
“Aku tahu kakang….! Tetapi setelah menikah, ada hal yang tidak boleh di ketahui orang,” Buwana Dewi membalas perkataan Aria.
Aria mengerti maksud hati Buwana Dewi. “Adik Dewi benar,” ucap Aria sambil lanjut berkata.
“Nanti aku akan beritahu Buto Ijo.”
Buwana Dewi tersenyum mendengar perkataan Buto Aria.
__ADS_1
Akhirnya Aria dan Buwana Dewi bercakap-cakap karena tidak bisa tidur.
Sementara di kamar lain, Selamet juga tengah bercakap-cakap dengan Ujang Beurit.
“Kau sudah memeriksa di sekitar istana Tampak Siring? Tanya Selamet.
Ujang Beurit menjawab dengan anggukan kepala.
“Apa kau melihat ada yang aneh? Karena aku yakin sesuatu akan terjadi di acara pernikahan ketua.
“Suasana di luar istana terasa tidak enak, seperti ada ribuan pasang mata tengah mengintai, jika aku lewat hutan di luar kota,” jawab Ujang Beurit.
“Perasaanmu sama denganku! Seru Selamet, kemudian lanjut berkata, apa rombongan iblis Kawi yang datang? Tanya Selamet.
“Aku tidak tahu! Kalau iblis Kawi datang, pasti langsung menemui kita,” jawab Ujang Beurit.
Selamet anggukan kepala mendengar perkataan Ujang Beurit, kemudian berkata.
“Kita harus selalu waspada jangan sampai kecolongan.
Keduanya terus bercakap-cakap membahas kemungkinan yang akan terjadi
Sedangkan Wangsa tidur di kamarnya.
Begitupula Buto Ijo dan Suketi.
***
Sebelum matahari terbit, pintu kamar Aria di ketuk kepala dayang istana Tampak Siring.
Kepala Dayang istana meminta ijin kepada Aria untuk menghias Buwana Dewi yang akan menikah, Aria anggukan kepala memberi ijin kepada kepala dayang istana utusan Prabu Anak Wungsu.
Karena sebelumnya Prabu Anak Wungsu sudah memberitahu Aria, Kepala dayang akan merias Buwana Dewi.
Wangsa dan Selamet menemani Aria yang di rias oleh dayang istana.
Sementara itu, Kilani terus memastikan gentong berisi air yang sudah di berkati, jika air sudah di pakai, gentong akan tidak ada di sana, karena harus di ganti oleh gentong air yang baru, karena Air suci yang sudah di berkati tidak boleh sembarang wadah, harus gentong baru yang menjadi wadahnya.
Prabu Anak Wungsu belum memberi perintah padanya untuk memasak.
Seperti biasa pelayan dapur istana akan sibuk ketika acara sudah di mulai, setelah selesai acara, makanan siap dan langsung di hidangkan.
“Kenapa aku sangat gelisah, bukankah aku sudah biasa melakukan hal seperti ini ( memasak )” batin Kilani.
Akhirnya Kilani melangkah keluar dari dapur istana, ketika mendengar suara gamelan, karena ia harus berada tidak jauh dari pejabat kerajaan, karena perintah Prabu Wungsu turun melalui kepala rumah tangga istana Tanpak siring yang menjadi atasannya.
Hari yang di tunggu telah tiba, matahari pagi menyapa hangat rakyat Bali yang antusias menyaksikan acara pernikahan pendekar dari tanah Jawa yang sudah menolong mereka dari teror Elang raksasa.
Prabu Anak Wungsu memang menyuruh pembantunya memberi kabar kepada rakyat Bali, agar ikut meramaikan dan memeriahkan acara pernikahan Aria, sehingga pagi hari alun alun istana Tampak Siring di penuhi oleh Rakyat Bali yang hendak menyaksikan acara.
Acara hiburan sudah di mulai menemani rakyat Bali, sebagian dari mereka ada yang ikut meramaikan sambil minum tuak dan berjoget mengikuti irama gamelan dan tarian khas daerah Bali.
Para penari, terus menari nari di atas panggung, memberi hiburan untuk para penduduk sebelum acara pernikahan di mulai.
Para pemain gamelan mulai melambatkan irama musik setelah mendapat isyarat dari seorang pejabat kerajaan, begitupula dengan para penari, gerak tari mereka perlahan melambat dan akhirnya turun dari panggung, sedangkan pemain gamelan mulai memainkan musik yang biasa di mainkan jika sang pengantin akan masuk ke panggung upacara untuk melaksanakan ritual pernikahan.
Tak lama kemudian musik pengiring mulai menaikkan Tempo, Prabu Anak Wungsu dari tenda kerhormatan berdiri di ikuti oleh para pejabat kerajaan Bali, ketika melihat Aria keluar di iringi oleh Wangsa.
Aria berpakaian khas Bali, dengan bunga di taruh di telinga.
Aria naik ke panggung upacara, dimana Brahmana tunggal yang akan memimpin upacara pernikahan sudah menunggu.
Setelah Aria keluar, tak lama berselang, Buwana Dewi keluar di iringi oleh dayang istana, Buwana Dewi sangat cantik sekali di balut pakaian pengantin berwarna hijau muda, para penduduk yang menyaksikan tak berhenti bertepuk tangan dan terus memuji kecantikan Buwana Dewi.
Buwana Dewi duduk bersimpuh di sebelah Aria yang juga duduk dengan cara sama.
Brahmana Tunggal, ketua agama di kerajaan Bali setelah melihat Aria dan Buwana Dewi duduk bersimpuh, perlahan mulai menaburkan dupa ke tempat pembakaran, bau wangi dupa langsung menyebar di sekitar panggung.
Ketika Brahmana Tunggal hendak berkata, mulutnya tertahan ketika musik mulai mengalun kembali.
“Memangnya ada dua yang menikah,” batin Brahmana tunggal yang tidak tahu bahwa Buto Ijo akan menikah.
Melihat Buto Ijo melangkah di iringi oleh Selamet, tak lama kemudian Suketi yang sudah berubah wujud menjadi gadis berparas hitam manis ikut melangkah ke arah panggung.
Diam-diam Brahmana Tunggal memberi isyarat kepada Wangsa agar mendekat.
Wangsa menghampiri Brahmana tunggal setelah meminta ijin kepada Aria.
“Memangnya berapa orang yang akan menikah? Tanya ketua agama kerajaan Bali.
“Ada dua,” jawab Resi Wangsanaya.
__ADS_1
“Kenapa tidak bilang dari kemarin kalau pengantinnya ada 2,” Brahmana Tunggal berkata dengan nada cemas.
“Loh! Memangnya Brahmana tidak di beritahu? Tanya Wangsa sambil kerutkan keningnya mendengar perkataan Brahmana Tunggal.
“Tidak ada yang memberitahu aku, aku baru saja selesai bertapa, kemudian di suruh memimpin upacara pernikahan, aku tahunya hanya satu orang,” jawab Brahmana Tunggal.
“Memangnya masalah buat Brahmana kalau menikahkan dua orang? Kembali Wangsa bertanya.
“Tidak masalah, tetapi aku hanya menyiapkan satu gentong air untuk upacara mandi kembang bagi sepasang pengantin.
“Kurang satu gentong lagi, kisanak tolong ambil air dengan wadahnya, jangan lupa beri kembang setaman dan bawa kesini, tetapi jangan lama.
“Saat acara pasangan tuan ( Aria ) ini selesai, langsung akan lanjut ke acara kedua, jadi airnya harus ada,” Brahmana tunggal berkata kepada Wangsa.
“Kenapa tidak air itu saja di pakai untuk berdua, memangnya tidak cukup? Tanya Wangsa dengan wajah cemberut.
“Tidak cukup tuan pendekar, air itu hanya cukup untuk upacara sepasang pengantin,” jawab Brahmana Tunggal.
“Phuih….Bangsat! Kau yang hendak menikah, tetapi aku yang di buat pusing,” gerutu Wangsa setelah membayangkan wajah Buto Ijo.
Brahmana Tunggal tak membalas makian Wangsa.
Wangsa akhirnya turun dari panggung dan melesat ke dalam istana.
“Dimana aku bisa mencari air sekaligus dengan wadahnya? belum lagi bunga sebagai campuran,” Wangsa terus menggerutu sambil berjalan cepat.
Tiba-tiba teringat oleh Wangsa, dimana ia bisa menemukan apa yang butuhkan oleh Brahmana Tunggal.
Wangsa Langsung melesat ke arah dapur istana, kepala pelayan yang tengah berjaga di dapur terkejut melihat kedatangan Wangsa.
“Cari apa tuan? Tanya kepala pelayan bagian dapur yang kenal dengan Wangsa.
“Brahmana Tunggal menyuruhku mengambil air untuk upacara,” ucap Wangsa.
“Biasanya sudah di sediakan di dekat pengantin,” balas Kepala pelayan.
“Brahmana Tunggal hanya menyiapkan satu wadah, ia tidak tahu bahwa hari ini yang menikah ada dua pasangan,” Wangsa membalas perkataan Kepala pelayan.
“Bawa saja salah satu wadah air itu! Seru Kepala pelayan sambil menunjuk ke arah gentong berpita merah, kepala pelayan tahu, air yang di pakai untuk upacara pernikahan haruslah air suci yang sudah di berkati dan di bacakan doa, dan air itu ada di sini, di pakai masak masakan keluarga kerajaan, tetapi masih ada air cadangan, sehingga kepala pelayan dapur berani memberikan air tersebut.
“Terima kasih Nyi,” lanjut perkataan Wangsa, “sekalian Bunga setaman.”
“Semua bunga sudah di pakai di acara pernikahan tuan pendekar,” balas Kepala pelayan.
Hmm!
Mata Wangsa menjelajah di sekitar dapur, saat matanya melihat beberapa rempah yang sebagian sudah di iris, bibir Wangsa tersenyum penuh arti.
Wangsa langsung menadatangani dan bertanya.
“Ini apa, Nyi? Tanya Wangsa.
“Irisan daun bawang, Bawang merah serta Bawang putih, serta beberapa rempah, seperti pala dan kayu manis.
“Dari pada tidak ada,” ucap Wangsa, kemudian meraup apa yang tadi di sebutkan oleh kepala pelayan, ke dalam gentong.
Saat semua rempah masuk, yang tadinya segar langsung berbuih dan perlahan mengering dan jatuh ke dasar gentong.
Wangsa tidak melihat kejadian tersebut, karena ia di tegur oleh kepala pelayan, ketika memasukan semua bumbu dapur.
“Kenapa air nya di beri bumbu tuan, nanti Brahamana tunggal marah,” ucap Kepala pelayan dengan nada cemas.
“Kalau marah! Suruh dia cari sendiri, bunga adalah tumbuhan yang tadi ku masukan juga tumbuhan, lalu apa bedanya? Tanya Wangsa.
“Buto Ijo tidak akan protes, yang penting dia bisa menikah,” Wangsa berkata dalam hati.
Kepala pelayan hanya diam, dia sudah mendengar tentang tamu sang Prabu, yang bertabiat aneh, sehingga tak membantah perkataan Wangsa.
Wangsa menutup kembali gentong air, kemudian melesat ke arah panggung upacara.
Brahmana Tunggal melihat Wangsa membawa gentong berpita merah, Brahmana tunggal tersenyum sambil anggukan kepala.
Setelah Wangsa menaruh, Gentong air di taruh, Brahmana tunggal mengambil gayung air yang terbuat dari batok.
“Kenapa tidak di beri bunga? Tanya Brahmana Tunggal.
“Sudah! Bunganya mungkin tenggelam,” jawab Wangsa tanpa melihat ke arah gentong.
Matahari yang mulai naik, memantulkan cahaya dari air yang terdapat di dalam gentong sehingga, Brahmana tunggal tidak bisa melihat dengan jelas.
Air dalam gentong di ambil, gayung di dekatkan ke hidung.
__ADS_1
Kening di wajah Brahmana tunggal tampak berkerut setelah mencium bau air dalam gentong, sambil berkata dalam hati.
“Baunya seperti kuah sayur.”