
Murid-murid padepokan Gajahwungkur langsung memburu ke arah Ketua mereka yang tergeletak di lantai arena.
Setelah memeriksa sang ketua dan mendapati ketua mereka sudah tewas, salah seorang murid mencabut golok, kemudian membacok kepala Buto Ijo yang tengah melangkah ke arah tenda padepokan Jagad Buwana.
Whut!
Buto Ijo bergerak ke kanan setelah merasakan angin tajam bergerak ke arah kepala.
Setelah golok tak mengenai sasaran, Buto Ijo sambil berbalik, tangannya menghantam murid Ki Sampit.
Buk!
Sang murid terpental, kemudian muntah darah dan akhirnya tewas.
Kalabenda melesat menuju arena.
“Kalau padepokan Gajahwungkur masih penasaran dan mempunyai jago, selain ketua atau orang yang di percaya mewakili padepokan, di larang menyerang di dalam arena,” Kalabenda mengingatkan kembali akan aturan yang berlaku, setelah anak murid Gajahwungkur tewas di tangan Buto Ijo.
“Selain ketua kalian, ada lagi tidak yang ingin bertanding? Tanya Kalabenda.
Murid Gajahwungkur gelengkan kepala, sejak kejadian Tumenggung Wirayuda tewas, padepokan Gajahwungkur menjadi terpuruk, rakyat Tumapel mulai tak memberi hati, apalagi setelah pengganti Tumenggung Wirayuda tidak suka dengan Ki Sampit.
Membuat Ki Sampit semakin terpuruk dan mendendam kepada Aria, orang yang di anggap menjadi penyebab keterpurukan padepokan Gajahwungkur.
“Ketua pertemuan sudah menetapkan lima padepokan teratas, jika para ketua padepokan ada yang penasaran, Silahkan menantang kelima padepokan.
“Jika padepokan penantang yang memenangkan pertandingan, maka dia berhak menggantikan tempat padepokan yang di kalahkan.
Setelah berkata, Kalabenda kembali ke tenda merah.
Suasana langsung riuh, tetapi setelah lama tak ada yang masuk ke dalam arena, Kalasrenggi berdiri, kemudian dengan suara yang di aliri tenaga dalam tinggi, Kalasrenggi berkata.
“Apa tidak ada yang akan menantang kelima padepokan? Tanya Kalasrenggi.
Karena memang padepokan yang tersebar, sudah tahu kemampuan kelima padepokan yang di tunjuk, sehingga mereka enggan ber urusan dan hanya ingin melihat keramaian antar padepokan yang terpilih, menjadi lima teratas.
Setelah tak ada yang naik setelah Kalasrenggi berkata, siluman merah kemudian berkata kembali.
“Untuk mempersingkat waktu, kelima padepokan akan memperebutkan tempat pertama, jika ada yang ingin menantang padepokan untuk memperebutkan tempat pertama, silahkan masuk ke dalam arena.”
Aria melesat dan sudah berdiri di dalam arena, semua orang terkejut, karena mereka Aria tidak melesat, tetapi tiba-tiba muncul di dalam arena menggunakan ajian Rogo Demit.
“Dia bisa hilang, ketua padepokan Jagad Buwana bisa menghilang,” teriak suara orang-orang yang terus melihat ke arah tenda padepokan Jagad Buwana.
Ketua Jagad Buwana, lebih di kenal dengan sebutan iblis buta.
“Ketua ingin menantang siapa di antara ke empat padepokan? karena untuk memperebutkan tampuk pimpinan, tidak ada aturan yang berlaku di sini, bahkan jika ingin langsung memimpin, ketua bisa menantang kami, ke empat padepokan,” ucap Kalasrenggi sambil menyeringai.
“Aku ingin menantang Larang tapa, lalu sisanya baru kalian,” balas Aria dengan nada dingin.
“Sombong sekali kau! Seru Kalasrenggi, setelah mendengar perkataan Aria.
“Bagaimana padepokan Tangan hitam? Kalian menerima, menolak atau bahkan meminta bantuan kepada salah satu dari kami bertiga,” Kalasrenggi berkata sambil meledek Larang tapa yang masih saja duduk di tenda.
Larang tapa dan Kalasrenggi yang tadinya bekerja sama, sekarang keduanya menjadi renggang, karena keduanya ingin menjadi pemimpin ketua padepokan setanah Jawa, kedua nya tidak mau mengalah untuk jadi nomor 1.
“Sebaiknya kau bersiap, karena setelah membunuh si buta, aku yang akan membunuhmu Kalasrenggi,” ucap resi Larang tapa dengan tatapan dingin.
__ADS_1
Ha Ha Ha
“Silahkan! aku akan selalu menunggu,” balas Kalasrenggi.
Larang Tapa berdiri, hendak menuju arena, tetapi panglima hitam memegang tangan Resi Larang Tapa.
“Biar aku yang hadapi si Iblis buta, karena dia masih punya hutang satu nyawa padaku,” ucap Panglima hitam sambil menatap tajam ke arah arena.
Larang tapa anggukan kepala mendengar perkataan sahabatnya, kemudian duduk kembali.
Tubuhnya panglima hitam berubah menjadi asap, dan bergerak menuju arena pertempuran.
Setelah sampai di depan Aria, panglima hitam berubah wujud menjadi kakek berwajah hitam dengan tampang yang bengis.
Kau masih ingat dengan suaraku? Tanya Panglima hitam kepada Aria.
Aria kerutkan kening karena mendengar suara Panglima hitam, bukan Larang tapa.
“Mana Larang Tapa? Tanya Aria.
“Langkahi dulu mayatku sebelum kau melawan resi Larang tapa,” ucap Panglima hitam dengan nada dingin.
“Aku memang hendak membunuhmu, karena kau mempunyai rencana busuk bersama Larang tapa,” balas Aria dengan nada dingin.
Perlahan matanya mulai melihat aura hitam perwujudan dari Panglima hitam.
Tubuh panglima hitam melesat menerkam ke arah Aria.
Aria menangkis kedua tangan musuh, yang dalam penglihatan Aria hanya terlihat bayang-bayang berwarna hitam.
Plak!
Orang ber ilmu tinggi dan mempunyai kekuatan batin yang kuat, dapat melihat Aria tengah melawan Macan berwarna hitam, tetapi jika kepandaiannya menengah ke bawah, mereka melihat Aria tengah melawan Kakek yang berwajah hitam.
Dahulu hanya qodam dari panglima hitam yang melawan Aria, tetapi sekarang Aria melawan sendiri, si penjaga kawasan tengah.
Terkaman serta hantaman Panglima hitam selalu membuat Aria mundur selangkah, karena kuatnya tenaga dalam yang di miliki oleh panglima hitam.
Dengan ilmu tongkat Sedha gitik, Aria selalu berhasil menangkis dan terkadang balas menyerang.
Gerakan-gerakan macan berwarna hitam sangat susah di tebak, tetapi ilmu tongkat sedha gitik yang unik dapat mengatasi jurus serangan panglima hitam.
Tongkat Aria yang di aliri ajian Cakra Candhikkala, menyambar ke arah perut panglima hitam, panglima hitam menggeser tubuhnya.
Kemudian cakar depan panglima hitam balas menyerang pinggang kiri Aria.
Aria hantamkan tangan kiri, menahan serangan cakar Panglima hitam.
Plak!
Setelah tangan kiri menangkis, tongkat Aria menyambar ke arah kepala Panglima hitam.
Shing!
Panglima hitam tundukkan kepala, cakar kanan lalu menyambar kaki Aria Pilong.
Bret!
__ADS_1
Betis Aria terkena serangan cakar panglima hitam.
Aria langsung jongkok.
Kemudian berguling mundur.
Anggota Jagad Buwana tampak cemas melihat kaki Aria terkena cakar panglima hitam.
Larang tapa yang tengah menunggu kesempatan baik.
Matanya selalu mengawasi pertempuran antara Aria dan Panglima hitam, ketika melihat kaki Aria terluka dan pemuda itu jongkok sambil tangan kiri memegangi kaki.
Larang tapa menyeringai, tubuhnya hilang dari tenda padepokan tangan hitam, sinar putih dengan kecepatan laksana kilat melesat ke tengah arena dari arah padepokan tangan hitam.
Shing!
Sinar putih melesat ke arah Aria Pilong yang tengah jongkok, telapak Larang tapa yang di miringkan menebas laksana sabetan pedang ke arah leher aria yang tengah jongkok.
Sret!
Kepala Aria jatuh menggelinding, begitu pula dengan tubuh si pemuda yang sudah tanpa kepala, ambruk ke lantai arena.
Suara jerit terdengar dari tenda Jagad Buwana, begitupula dengan padepokan padepokan kecil yang merasa simpati kepada Jagad Buwana, mereka terkejut melihat kepala Aria terpisah dari badan.
“Jo….Jo! Ketua mati Jo,” seru Wangsa.
“Berisik! Balas Buto Ijo, “yang bakal mati adalah kau, kalau tidak bisa diam,” balas Buto Ijo.
Suasana langsung hening.
Ha Ha Ha
Suara tertawa keras dari Mulut Resi Larang tapa terdengar menggelegar.
“Jagad Buwana sudah kalah, sekarang siapa lagi yang akan maju? Resi Larang tapa berkata sambil menatap Kalasrenggi.
“Curang!? Teriak Anjani dengan penuh emosi sambil menunjuk resi Larang tapa.
“Curang….curang! suara saling sambung menyambung terdengar di sekitar lantai arena dari ketua padepokan yang hadir, mereka tidak suka melihat resi Larang tapa membokong ketua Jagad Buwana.
Diam!
Resi Larang tapa berteriak kencang, suaranya menggelegar, menggetarkan hati mereka yang hadir, suasana di tempat pertemuan langsung hening.
“Kalasrenggi! Jagad Buwana menantang padepokan tangan hitam, aku sebagai orang dari padepokan tangan hitam, apa salah jika menyerang ketua Jagad Buwana? Tanya Resi Larang tapa.
“Kau tidak salah,” jawab Kalasrenggi.
“Kalian dengar….kalian dengar tidak perkataan ketua pertemuan? Tanya Resi Larang tapa sambil menatap ke arah sekeliling.
“Dalam pertempuran harus selalu siap, karena serangan datang, bisa berasal darimana saja dan tidak terduga.
“Jadi kalau Iblis buta mampus oleh seranganku, apa aku salah? Tanya Resi Larang tapa sambil tersenyum penuh kemenangan, lalu menatap Kalasrenggi.
Suara kaget dan jerit tertahan terdengar dari sekitar arena saat mereka melihat kepala, serta tubuh Aria Pilong bergerak-gerak.
Resi Larang tapa tidak melihat apa yang terjadi, karena ia membelakangi Aria Pilong, resi Larang tapa berpikir, seruan kaget ketua padepokan karena mendengar perkataannya.
__ADS_1
Kalasrenggi tersenyum dingin sambil menatap Resi Larang tapa, melihat Aria Pilong sudah berdiri sambil memegang tongkat, Kalasrenggi sambil tersenyum dingin kepada Sang Resi, membalas perkataan Resi Larang tapa.
“Kau pikir mudah membunuh Iblis buta?