
Aria melihat Elang jantan berani menyerang kerajaan dengan turun tangan sendiri, pasti ada sesuatu di balik itu.
Saat Selamet berkuda di samping Buwana Dewi, Aria memerintahkan Selamet berangkat terlebih dahulu, untuk melihat situasi dan di perintahkan melakukan hal yang di anggap perlu serta melaporkan apa yang sudah ia lihat.
Selamet mengerti maksud sang ketua, tubuhnya perlahan berubah menjadi asap dan lenyap dari atas punggung kuda.
Setelah berada di dalam, Selamet mendengar semua percakapan antara Elang jantan dan Prabu Anak Wungsu.
Selamet terus menunggu waktu yang tepat untuk menyelamatkan Prabu anak Wungsu, karena musuhnya kali ini bukan orang sembarangan.
Melihat Elang jantan pergi dan Lembusora bertempur melawan panglima Wisnutama, Selamet menyelamatkan Prabu Anak Wungsu dengan aji Halimun miliknya.
“Siapa orang itu? Tanya Prabu Anak Wungsu kepada I Gusti Wardana.
“Dia salah satu rombongan tamu kita, Baginda Prabu,” jawab I Gusti Wardana.
“Jadi mereka tamu kita yang sudah membunuh Elang raksasa? Kembali Prabu Anak Wungsu bertanya.
“Benar,” jawab I Gusti Wardana, lanjut perkataan I Gusti Wardana.
“Tetapi itu hanya salah satu anak buah, tepatnya seperti seorang pesuruh, Baginda.”
Hmm!
“Seorang pesuruh sudah seperti itu, apalagi ketuanya,” batin Prabu Anak Wungsu.
“Semoga saja mereka bisa membantu kita,” lanjut perkataan Prabu Anak Wungsu setelah menarik napas dalam-dalam, “ patih Nyoman Sidharta serta Senopati Gala dan Gali telah berkhianat, mereka mendukung langkah Elang jantan yang hendak menggulingkan kerajaan.”
“Kurang ajar! Tidak di sangka patih Nyoman Sidharta berkhianat,” panglima laut I Gusti Wardana sangat geram, mendengar keterangan dari Prabu Anak Wungsu.
“Mari Baginda! Kita bersembunyi dulu, sampai keadaan aman,” seru I Gusti Wardana, mereka lalu pergi di kawal oleh puluhan Prajurit.
Pertempuran berkecamuk di dalam serta di luar benteng kerajaan.
Di dalam benteng kerajaan, Senopati Gala dan Gali bertempur dengan prajurit yang setia kepada Prabu Anak Wungsu, sedangkan di luar benteng, Rombongan Aria bertempur dengan Elang jantan serta pasukannya, Lembusora memutuskan keluar untuk membantu Elang jantan, bersama seratus orang anggota padepokan Elang emas.
Suasana di luar benteng tampak kacau, Buto Ijo mencabut batang-batang pohon yang ada di sekitar tempat mereka bertempur, kemudian melemparkan ke arah Elang raksasa, terkadang batang pohon itu di pakai senjata oleh Buto Ijo untuk menghalau Elang raksasa yang menyerang mereka.
Sedangkan Ujang Beurit masih santai, ia hanya berdiri di bawah pohon, karena musuhnya berada di udara, Ujang Beurit hanya menonton Buto Ijo melemparkan batang-batang pohon.
Cras….Krak!
Wangsa memapas dahan serta ranting, batang pohon yang tidak terlalu besar, setelah terpapas, batang pohon berubah menjadi seperti Lembing ber ukuran raksasa.
“Pakai ini! Seru Wangsa sambil melemparkan batang kayu yang sudah di papas.
Buto Ijo langsung mengambil Batang pohon pemberian Wangsa, setelah membidik, kemudian batang pohon ia lemparkan dengan kedua lengan.
Whut!
Elang raksasa naik menghindari Batang pohon, suara riuh terdengar saat batang pohon tidak mengenai sasaran, dan jatuhnya menimpa rumah penduduk yang berada di luar benteng kerajaan.
“Hati-hati kalau melempar, tolol! Beberapa rumah hancur terkena lemparanmu.
“Diam, kau! Kau beritahu burung itu supaya tidak menghindar, agar batang pohon tidak menimpa rumah penduduk,” balas Buto Ijo dengan nada kesal sambil menerima batang pohon pemberian Wangsa, kemudian melemparkan ke arah Elang raksasa.
“Nu Burung moro Burung, nya hese,” ( kurang waras berburu burung, ya susah ) batin Wangsa.
Whut!
Selama Buto Ijo mencabut batang pohon, kemudian melempar ke arah Elang raksasa, Wangsa selalu menunggu jatuhnya batang pohon, lalu memapas dahan serta ranting pohon tersebut, kemudian di berikan kepada Buto Ijo.
“Tumben mereka bisa akur dan bekerja sama,” Buwana Dewi berkata ketika melihat Buto Ijo Serta Wangsa.
“Tidak akan lama,” balas Aria.
“Ini! Seru Wangsa memberikan batang pohon kepada Buto Ijo, keringat tampak membasahi baju dan wajah sang raksasa berwajah hijau.
“Bangsat! Ucap Buto Ijo sambil membanting caping.
__ADS_1
“Kau saja yang lempar, kenapa selalu di berikan padaku? Tanya Buto Ijo dengan nada kesal, karena tenaganya mulai terkuras karena terus melempar batang pohon, kedua telapak tangannya tampak merah.
“Kau kan suka melempar, aku yang mencarikan kayunya, harusnya kau berterima kasih kepadaku, kenapa malah marah-marah,” jawab Wangsa.
“Kau lempar saja sendiri batang-batang pohon itu, aku bisa mengambil sendiri tak perlu kau sediakan,” balas Buto Ijo.
“Bilang dari tadi kalau tidak butuh bantuan,” ucap Wangsa.
“Aku bukan orang tolol, jadi untuk apa menghambur hambur tenaga, melemparkan batang pohon.” Wangsa berkata kembali.
Perlahan tubuh Wangsa berubah menjadi setengah macan berwarna putih, tangannya mengambil batang pohon sebesar lengan yang agak panjang, kemudian melesat ke arah Elang yang berada Paling bawah di antara Elang lain.
Whut!
Elang raksasa terkejut, kemudian melesat dan berusaha naik setelah melihat batang pohon menghantam ke arah dirinya.
Plak!
Badan Elang masih bisa selamat, tetapi bulu buntut Elang raksasa sebagian rontok ke tanah, terkena hantaman batang pohon yang ada di tangan Wangsa.
Phuih!
“Tentu saja kau bisa mengenai walau hanya sekedar bulu, kau kan menggunakan ajian Macan Putih, sedangkan aku tidak,” batin Buto Ijo.
Ujang Beurit melihat batang-batang pohon berserakan, perlahan mulai mengambil dan menancapkan batang pohon ke tanah satu persatu.
Batang pohon yang berserakan mulai berdiri tidak beraturan, ada yang tinggi dan ada yang pendek, begitupula dengan jaraknya.
“Jangan membuat rumah di sini, Jang! Nanti Prabu Anak Wungsu marah,” Buto Ijo berkata setelah melihat batang-batang pohon yang di tancapkan oleh Ujang Beurit.
“Ini bukan buat mendirikan rumah, paman! tetapi sebagai pijakan,” Ujang Beurit membalas perkataan Buto Ijo.
Buwana Dewi terus menceritakan apa yang ia lihat, sedangkan Aria terus mempelajari situasi dari apa yang sudah di lihat oleh Buwana Dewi.
“Apa Dewi sudah lancar menggunakan tenaga dalam serta aji kesaktian yang di ajarkan oleh Nyai Ratu? Tanya Aria.
“Masih belum lancar kakang! Terkadang aku tidak bisa mengontrol tenaga dalam yang keluar dari dalam tubuhku,” jawab Buwana Dewi.
“Baik Kakang! Ucap Buwana Dewi.
Wangsa bergerak dengan sangat lincah, setelah turun dan menyelinap di batang yang tertancap di tanah. Elang raksasa tidak berani turun terlalu bawah, karena Di tanah sudah tertancap batang-batang kayu yang membatasi gerak sang Elang.
“Jadi itu maksud dari Ujang menancapkan batang pohon ke tanah,” batin Aria setelah mendengar cerita Buwana Dewi, Elang susah bergerak di antara batang pohon dan Wangsa bisa balas menyerang dengan naik ke atas batang pohon dari yang rendah sampai ke batang tertinggi.
Elang jantan, menatap satu persatu ke arah rombongan Aria, melihat pria bertubuh tinggi dengan wajah berkulit hijau.
Elang Jantan mengusap-usap leher Elang raksasa, “kau perhatikan pria berkulit hijau dibawah sana, dia adalah musuh kita berdua, apa kau siap? Tanya Elang jantan.
Raja Elang raksasa memekik panjang mendengar perkataan sahabat sekaligus majikannya.
Elang kaki satu melesat, sambil matanya menatap tajam ke arah Buto Ijo.
Buto Ijo berguling di tanah sambil menghindari sambaran Elang, setelah berdiri, Buto Ijo langsung mencabut Batang pohon yang di tancapkan Ujang Beurit, kemudian melempar batang pohon tersebut ke arah Elang kaki satu.
Whut!
Elang kaki satu melesat naik menghindari lemparan Buto Ijo.
Melihat Raja Elang menjauh, Buto Ijo berdiri sambil memalangkan batang kayu di bahunya, siap membalas serangan Elang kaki satu.
Sedangkan Suketi berdiri di salah satu batang pohon sambil mengawasi kekasihnya.
Aria setelah di beri tahu Buwana Dewi ada se ekor Elang yang bisa di jangkau.
Aria lompat dan hinggap di batang kayu, kemudian Aria menginjak batang kayu sebagai tumpuan, Aria langsung melesat.
“Tap….tap!
“Sebelah kanan atas! Seru Buwana Dewi.
__ADS_1
Aria langsung lompat ke kanan, matanya bersinar berusaha melihat aura penunggang Elang, setelah terlihat, Aria langsung menghantam ke arah punggung Elang.
Penunggang Elang terkejut, kemudian dengan cepat menarik busur dan melepaskan anak panah ke arah Aria yang tengah melesat ke arahnya.
Trak!
Aria mengibaskan tongkatnya dan menghantam panah musuh, kemudian tangan kiri mendorong ke arah Aura penunggang Elang yang tidak terlalu besar dengan ajian Mawageni.
Blar!
Tubuh si penunggang Elang terpental
Terkena hantaman tangan kiri Aria.
Setelah Aria berhasil menghantam penunggang Elang, Elang raksasa seperti bingung, melihat majikannya terjatuh, sebelum sang Elang memutuskan memutuskan tubuhnya naik menghindar atau menyelamatkan sang majikan, Tongkat kayu cendana sudah menghantam punggung Elang.
Buk!
Tubuh Elang langsung jatuh
Wangsa melihat satu elang raksasa jatuh, tubuhnya langsung melesat menuju ke arah Elang raksasa, sebelum Elang jatuh ke tanah, kedua tangan Wangsa menyambar ke arah perut Elang.
Bret….Bret!
Perut Elang robek besar, terkena cakaran Wangsa, pekik Elang raksasa terdengar sebelum terhempas ke tanah dan tewas.
Elang jantan sangat terkejut, mengetahui Aria menyerang Elang lain, selagi ia sibuk menyerang Buto Ijo.
“Cepat naik! Jangan sampai berada di jangkauan Iblis Buta,” teriak Elang jantan sambil menepak leher tunggangannya, memberi isyarat agar Elang kaki satu segera naik.
Kedua Elang langsung bergerak naik, sambil menghindari lemparan batang pohon yang di lempar oleh Buto Ijo.
“Panah mereka dengan anak panah yang ada jarum emas,” teriak Elang Jantan memberi perintah kepada kedua penunggang Elang yang tersisa.
Kedua penunggang Elang langsung memasang anak panah yang ujungnya terdapat jarum emas, kemudian membidik Aria Pilong, yang baru saja turun setelah berhasil mengantam jatuh se ekor Elang.
Shing….Shing!
Aria memutar tongkat di atas kepala, ketika mendengar suara mendesing menuju ke arahnya.
Tring….tring!
Dua anak panah jatuh ke tanah, setelah tak berhasil menembus putaran tongkat Aria Pilong.
Lembusora setelah keluar dari dalam istana, matanya langsung menatap ke arah Buwana Dewi, diam-diam anak buah Ki Banyu Alas perlahan mendekati Buwana Dewi.
Sementara itu, seratus anak murid padepokan Elang Emas langsung bergerak mengepung Buto Ijo, Aria Pilong serta Selamet yang baru saja datang dan puluhan prajurit anak buah panglima I Gusti Wardana yang tidak ikut mengawal Prabu Anak Wungsu bersembunyi.
Ujang Beurit yang tengah istirahat setelah menancapkan batang batang pohon, kedua mata sayunya terbuka menatap ke arah seratus anggota padepokan Elang emas.
Perlahan tangan kanan mengambil pisau kecil, lalu tubuhnya masuk ke dalam tanah.
Lembusora melihat Buwana Dewi tengah berdiri seorang diri sambil menatap Aria serta anak buahnya sedang kepung.
Lembusora hendak menerkam ke arah Buwana Dewi.
Tetapi raut wajahnya terkejut, ketika melihat kedua kakinya tidak bisa di gerakkan.
Lembusora langsung menbungkukkan badan, kemudian tangannya menghantam tanah menggunakan ajian Gebrak Bumi.
Blar!
Setelah menghantam tanah, Lembusora langsung mundur dua tombak sambil menatap ke arah dimana tadi ia berdiri.
Dari tempatnya berdiri, Lembusora melihat Ujang Beurit muncul dari dalam tanah.
Kalau tadi Lembusora tidak mengeluarkan Aji gebrak bumi, pasti akan celaka.
Ujang Beurit selalu mengawasi gerak gerik Lembusora setelah keluar dari istana, melihat Lembusora diam-diam mendekati Buwana Dewi, Ujang Beurit langsung masuk kedalam tanah menolong Buwana Dewi.
__ADS_1
Ujang Beurit menatap ke arah Lembusora dan berkata.
“Jangan ganggu Dia!