
Setelah melihat pelangi, Raden Untung dan Buto Ijo menuju kamar Aria.
Setelah sampai di kamar.
Aria, Wangsa serta Selamet sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
“Kemana saja kalian? Pelangi sudah ada di depan mata,” ucap Wangsa sambil melotot.
“Tanya sama anak buahmu, sedang apa dia di luar,” balas Buto Ijo sambil menunjuk ke arah Raden Untung.
“Memang apa yang aku lakukan? Tanya Raden Untung tak mengerti.
Sebelum Buto Ijo menjawab, pintu kamar Aria terbuka, tampak Kalasrenggi sudah berdiri.
“Mau pergi tidak? Tanya Kalasrenggi, melihat Aria dan anak buahnya tampak masih santai.
Buto Ijo mengendong Aria, setelah mendapat isyarat dari Wangsa.
Kalasrenggi melihat Aria di gendong oleh Buto Ijo, langsung melirik ke arah pinggang Aria yang tampak kendi kecil menggelantung, kemudian melesat keluar penginapan sambil berkata, “ikuti aku”
Wangsa, Buto Ijo, Selamet serta Raden untung melesat mengikuti Kalasrenggi.
Kalasrenggi terus melesat tanpa menoleh kebelakang.
Tak selang berapa lama, di tengah hutan kecil yang menjadi batas desa, ratusan orang sudah berkumpul di dekat telaga musiman yang tidak begitu besar, ada yang bersembunyi, banyak juga yang terang-terangan berdiri di dekat telaga, menunggu gadis terkutuk yang akan muncul.
Air telaga yang terkena sinar matahari, memantulkan cahaya, sehingga orang yang melihat ke arah telaga, seakan warna air di telaga berubah menjadi warna warni.
Warna merah, kuning dan hijau tampak bersinar, dan sedikit lagi ketiga cahaya warna warni sampai di tengah telaga.
“Dia datang! Batin Aria ketika mendengar suara suling mengalun merdu berkumandang di sekitar telaga warna.
Orang-orang yang berkumpul terkesima, mendengar suara Alunan seruling yang ditiup oleh gadis yang selalu muncul bersamaan dengan pelangi, dan lenyap kembali bersama pelangi.
“Buto Ijo! Kau mengerti dengan apa yang ku katakan tadi? Tanya Aria.
“Raden tidak usah khawatir,” jawab Buto Ijo.
Melihat gadis cantik melayang di atas telaga sambil bibirnya meniup suling.
Orang-orang padepokan Elang emas langsung mengeluarkan tali panjang dan memutar mutar tali yang ujungnya di kaitkan mata tombak.
Mata orang padepokan Elang emas, terus menatap gadis yang seolah berdiri di atas telaga.
Sret….Sret….Sret!
Tambang melesat dari berbagai arah, menuju tubuh gadis yang melayang di atas telaga.
Gadis yang dikutuk melihat dirinya di serang, tubuhnya melesat naik ke atas, sambil terus meniup seruling.
Setelah tambang melesat di bawah kaki, gadis itu turun dan kakinya langsung menginjak tali tambang yang di lemparkan oleh anggota padepokan Elang emas.
Tangan anggota Elang emas naik turun, menggoyang tambang yang di injak oleh gadis pelangi.
“Ketua Aria! Kita turun tangan sekarang? Tanya Kalasrenggi.
“Mari kita kesana! Seru Aria, setelah mendengar perkataan Kalasrenggi.
Aria dan anak buahnya serta Kalasrenggi, melesat mendekati telaga warna, kedua tangan Kalasrenggi mengibas ke arah kumpulan anggota padepokan Elang emas dengan ajian bola matahari.
Blam….Blam!
Anggota padepokan Elang emas yang menyerang menggunakan tambang, terpental dengan tubuh sebagian hangus terbakar, terkena ajian bola matahari yang di keluarkan oleh Kalasrenggi.
Air telaga muncrat dan menyebar, tetesan air telaga terasa panas saat terkena kulit, akibat terkena hantaman Ajian Bola matahari.
Tetapi air yang muncrat ke arah si gadis, se akan menembus tubuh si gadis yang terkadang berubah menjadi bayangan.
Mata gadis menatap cemas melihat mayat puluhan orang hangus terbakar, matanya sekali kali menatap ke arah pelangi, seperti berharap pelangi akan segera hilang dari telaga warna.
Kalasrenggi setelah berhasil menghantam orang-orang padepokan Elang emas, lalu kembali ke samping Aria, kemudian tangan kiri mengambil sesuatu barang dari balik baju.
__ADS_1
Saat Aria hendak meraih kendi dari pinggangnya.
Mata Aria melihat dua Aura yang tidak terlalu besar, melesat ke arah tengah telaga, Aria mengurungkan niatnya mengambil kendi kecil dari pinggang.
2 orang murid padepokan Srigunting melesat ke arah tengah telaga, berusaha menangkap gadis pelangi.
Mata Elang, salah seorang tetua yang di percaya oleh Elang emas untuk memimpin perburuan, terhadap anak majikannya, langsung melemparkan 2 jarum emas.
Shing….Shing!
Empat tangan siap memeluk tubuh gadis pelangi, tetapi dua sinar berwarna kuning, melesat ke arah pemilik empat tangan.
Crep…..Crep….Byur!
Setelah Aria melihat dua aura jatuh.
Tangannya bergerak ke arah pinggang, saat hendak meraih kendi.
Satu tangan mendahului.
Sret….Whut!
Aria mengibaskan tangannya, tetapi kendi sudah berpindah tangan.
Setelah pencuri melesat menjauh dari Aria, terdengar teriakan suara Wangsa.
“Bangsat! apa yang kau lakukan? Ucap Wangsa, saat dirinya hendak mengejar bayangan merah dan akan mengambil kendi kecil.
Tangan kiri orang itu, yang tak lain adalah Kalasrenggi, melempar dengan tangan kiri ke arah Aria.
Whut….Shing….Shing!
Lima sinar berwarna ke emasan, melesat dengan cepat menyebar ke arah, Aria, Wangsa, Buto Ijo, Selamet serta Raden Untung.
Crep….Crep….Crep!
Jarum yang terbagi Lima, masing masing melesat dan menancap Di tubuh Aria sera anak buahnya, karena tidak menyangka akan serangan yang di lakukan oleh kawan se perjalanan, kelima orang langsung jatuh tersungkur.
Suketi langsung turun, dan mencabut jarum yang menancap di dada Buto Ijo, sambil menggigit jarinya, Suketi mengusap luka jarum emas di dada, kemudian luka menutup.
Suketi lompat, kemudian naik ke atas pohon dan menghilang di balik dedaunan.
Ha Ha Ha
“Akhirnya penantian ku tidak sia-sia! Siapa yang bisa menguasai dan membebaskan gadis pelangi, maka dia akan menjadi penguasa Alas Purwo yang baru,”
Kalasrenggi tertawa senang, kemudian berkata.
Hmm!
“Dugaanku benar! Rupanya kau mempunyai maksud dan tujuan lain,
Saat ikut bersamaku,” ucap Aria dengan nada dingin.
Phuih!
“Kau pikir aku mau menyerahkan nyawaku kepada Ki Banyu alas, jika tidak ada gadis pelangi, aku mungkin akan bergabung, tetapi jika aku bisa menguasai
Ki Banyu Alas, untuk apa aku membunuhnya, lebih baik dia aku jadikan anak buah.”
“Kau mau tahu apa yang Mpu Barada bisikan kepadaku? Tanya Aria.
“Bukankah engkau sudah mengatakannya? Kalasrenggi berkata.
“Mana mungkin perkataan penting aku beritahu padamu,” Jawab Aria.
“Apa yang di katakan oleh Mpu Barada? Tanya Kalasrenggi merasa penasaran.
“Mpu Barada berbisik kepadaku, “Hati-hati terhadap Kalasrenggi,” Jawab Aria.
“Lantas kenapa tidak kau dengar perkataan Mpu Barada? Tanya Kalasrenggi dengan senyum mengejek.
__ADS_1
“Karena aku sudah menyiapkan semuanya, untuk membuktikan apakah benar yang di katakan oleh Mpu Barada,” jawab Aria.
Kalasrenggi kerutkan kening, mendengar perkataan Aria.
“Apa maksudmu? Tanya Kalasrenggi dengan raut wajah penasaran.
Aria mengeluarkan botol kecil, setelah membuka tutup botol, Aria menuangkan sedikit darah dan langsung menyentilkan darah yang ada di tangannya, ke arah Wangsa, Selamet, Buto Ijo serta Raden Untung.
“Celaka! Teriak Kalasrenggi.
Tubuhnya melesat hendak mencegah darah yang di sentil kan oleh Aria, dengan Ilmu Bola Matahari.
Sret….Crep!
Tiba-tiba tubuh Kalasrenggi seperti di tarik masuk ke dalam tanah.
Siluman merah terkejut.
“Si Beurit,” batin Kalasrenggi.
Ketua Partai matahari lalu mengerahkan tenaga dalamnya, tubuhnya berubah semakin merah dan sangat panas.
Si Beurit melepaskan cekalannya, karena telapak tangannya terasa seperti terbakar.
Kalasrenggi langsung melesat naik, setelah terbebas dari cekalan Si Beurit.
“Suketi! Teriak Aria.
Kera berbulu hitam, dari pohon rimbun melesat ke arah tengah telaga.
Kalasrenggi melihat Suketi bergerak ke arah Gadis pelangi, langsung menghantamkan tangannya yang mengandung ajian bola matahari ke arah Suketi.
Whut!
Buto Ijo melesat naik setelah kaki kanan menjejak tanah, ajian Bola matahari langsung menghantam dadanya.
Blam!
Buto Ijo terpental dan masuk telaga, dan itu sangat menguntungkan untuk Buto Ijo, karena langsung mendingin kan tubuhnya yang terasa sangat panas, setelah terkena hantaman Ajian Bola matahari.
Mata Elang terkejut, setelah melihat pelangi perlahan mulai menghilang.
Suketi yang mengambil darah dari dada Buto Ijo yang terkena jarum emas, lalu menyatukan dengan darahnya, jarinya melesat cepat ke arah kening gadis pelangi yang perlahan mulai dari kaki sudah berubah menjadi bayangan.
Tap!
Kedua kaki yang sudah berubah menjadi bayangan, langsung berubah kembali.
Gadis pelangi terkejut, melihat sinar pelangi mulai hilang, sementara tubuhnya masih mengambang.
Gadis pelangi menatap ke arah Suketi.
Suketi anggukan kepala sambil tersenyum, kemudian berkata.
“Kau sudah bebas.”
Gadis pelangi tersenyum sambil anggukan kepala, tak lama kemudian tubuh keduanya melesat turun ke telaga warna.
Mata Elang melesat ke arah telaga, ketua padepokan, serta Kalasrenggi melesat berusaha menangkap gadis pelangi yang hendak jatuh ke telaga.
Gadis pelangi merangkul Suketi saat tubuhnya jatuh.
Blash!
Aria dengan ilmu Rogo Demit sudah berada di belakang gadis pelangi, setelah pinggang si gadis berhasil ia peluk.
Tubuhnya menghilang kembali, dan sudah berada di bawah pohon besar dimana Wangsa sudah menunggu.
Aria menurunkan gadis pelangi, lalu berkata.
“Kau sudah aman sekarang,”
__ADS_1
Gadis pelangi tersenyum lalu menunjuk ke arah belakang Aria, setelah melihat ratusan orang bergerak cepat ke arahnya, kemudian berkata.
“Belum! Mereka sedang menuju ke sini,”