Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 65 : Telaga Kelud


__ADS_3

Malam di taman rumah Tumenggung Wirabumi, Aria duduk menikmati dinginnya angin malam di kota Daha.


Aria di temani oleh Kemuning yang memang sengaja ingin bertemu Aria, sebelum pemuda itu melanjutkan perjalanan.


“Kakang! Aku ingin ikut bersama kakang, kemana saja kakang pergi,” ucap Kemuning sambil menatap Aria.


Aria menarik napas mendengar perkataan Kemuning.


“Perjalanan ku masih panjang dan berbahaya, aku tidak ingin ada wanita yang menjadi korban, jika ikut bersamaku.” Aria membalas perkataan Kemuning


“Kemuning suka dengan kakang Aria, Kemuning ingin hidup bersama kang Aria,” kembali Kemuning berkata.


“Cinta tidak bisa di paksakan! Aku menganggap mu seperti adik juga sebagai sahabat,” balas Aria sambil memegang tangan Kemuning, “aku tidak mau adikku terluka jika ikut bersamaku,” lanjut perkataan Aria.


Kakang….!


Kemuning berkata, kemudian memeluk Aria dan menangis di dada pemuda itu.


Aria menarik napas dalam-dalam sebelum bicara, sambil mengelus kepala Kemuning.


“Aku dulu tidak tahu apa-apa, setiap ketemu wanita selalu aku ajak pergi dan aku tawari tidur bersama, tetapi sekarang aku mengerti bahwa perkataan ku itu tidak baik, terkadang bisa juga menimbulkan salah sangka dan memberikan harapan tak pasti untuk seorang wanita, untuk ke depannya aku akan hati-hati bicara jika mengenai wanita,” Maaf kan aku adik Kemuning.”


Setelah berkata, Aria menggenggam erat tangan Kemuning.


“Aku mengerti kakang! tetapi di dalam lubuk hatiku selalu ada tempat untuk kakang Aria,” ucap Kemuning sambil membalas genggaman tangan Aria.


Keduanya tersenyum setelah menyadari kesalahan masing-masing, terkadang rasa persahabatan yang tulus lebih kuat dari ikatan cinta.


“Pagi-pagi, tiga orang keluar dari tempat kediaman Tumenggung Wirabumi.


Ketiganya bergerak menuju ke arah selatan, menuju arah gunung Kelud.


Ki Wangsa sepanjang jalan terus saja menggerutu karena Aria ingin berjalan,


“Kenapa kita tidak memakai kuda saja, menuju gunung Semeru? Tanya Ki Wangsa.


“Kau kalau mau berangkat lebih dulu, Silahkan saja, aku tidak biasa berkuda,” balas Buto Ijo.


“Kenapa tidak bilang dari tadi, kan kau bisa berlari, sementara aku berdua sama Aria naik kuda.”


“Kau hendak menghina Raden, sudah buta di suruh naik kuda? Tanya Buto Ijo.


“Berdua denganku, tolol! Jawab Ki Wangsa dengan nada kesal.


“Lebih baik begini! Kalau Raden malas jalan, aku bisa menggendongnya,” balas Buto Ijo.


“Dia bisa kau gendong, apa kau mau gendong aku? Tanya Ki Wangsa.


“Kalau kau mau aku gendong, tunjukan dulu makammu di mana, nanti aku antar,” jawab Buto Ijo dengan nada kesal.


Sudah berhari hari mereka jalan, dan terkadang berlari, tak terasa mereka sudah memasuki kawasan gunung Kelud.


Pagi-pagi mereka melihat beberapa rombongan jalan menuju ke arah puncak gunung Kelud.


“Mau apa mereka ke sana? Tanya Ki Wangsa berkata sendiri.


“Mana aku tahu,” jawab Buto Ijo.


“Aku tidak tanya kau,” ucap Ki Wangsa.


“Maaf kisanak! Kenapa banyak orang yang naik ke puncak gunung Kelud? Tanya Ki Wangsa, kepada satu rombongan yang sedang lewat dekat mereka.


“Keluarga Kemala akan mengadakan Salamatan di telaga Kelud, untuk meminta berkah bagi para penduduk sekitar lereng, dan terhindar dari amukan naga hijau penjaga gunung Kelud ini,” jawab salah seorang dari mereka yang hendak menuju puncak.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita melihat lihat dulu! biasanya kalau ada acara seperti ini, pasti banyak makanan dan pertunjukan,” ucap Ki Wangsa.


Phuih!


“Hai Wongso! Setahu aku seorang resi itu pendiam, jarang ke tempat keramaian dan jarang makan, tetapi kau malah kebalikannya, Kau resi gadungan ya? Tanya Buto Ijo sambil terus menatap Ki Wangsa.


“Namaku Wangsa Naya, bukan Wongso,” ucap Ki Wangsa mendengar Buto Ijo memanggilnya Wongso.


Buto Ijo tidak memperdulikan Ki Wangsa, ia bertanya kepada Aria.


“Bagaimana Raden? Tanya Buto Ijo.


“Kita lihat ke atas! Kalau memang benar banyak makanan, kita bisa numpang makan di sana, sudah dua hari ini kita makan buah,” ucap Aria.


Ki Wangsa dan Buto Ijo, anggukan kepala mendengar perkataan Aria.


“Mari Raden! Lebih Baik Raden aku gendong saja, karena jalannnya mulai menanjak.


Aria anggukan kepala, mereka lalu bergerak naik ke atas gunung di mana terdapat satu telaga yang airnya jernih dan sering di kunjungi oleh orang-orang yang ingin berwisata ke gunung Kelud.


Orang-orang melihat ke arah Buto Ijo, manusia bertubuh besar serta memakai caping, yang tengah menggendong seorang pemuda yang juga memakai caping.


Dua ekor kuda berlari dengan kencang, menuju ke atas, 2 orang gadis berpakaian hijau, sepertinya tidak peduli dengan mereka yang tengah jalan, keduanya terus memacu Kuda mereka, sambil memecut mecut bagian belakang kuda.


Sebelum hari siang, mereka bertiga sampai di pinggir telaga Kelud, memang benar yang dikatakan orang sewaktu di tanya oleh Wangsa.


Di sekitar telaga Kelud telah berkumpul banyak orang, di salah satu tempat luas dekat telaga, ada satu panggung dan didekat panggung, tampak kursi dan meja yang sudah di sediakan oleh keluarga Kemala untuk mereka.


Seorang tua dengan memegang tongkat, sementara di depannya terdapat satu gentong besar yang terus mengepulkan asap wangi, asap wangi itu menyebar di sekitar telaga, menutup bau belerang yang tercium dari asap yang keluar dari kepundan gunung Kelud.


Orang tua yang berdiri di atas panggung terus membaca mantra sambil mengibas ngibaskan tongkat ke arah asap, yang keluar dari gentong besar.


Setelah selesai membaca mantra, si kakek lalu memberi isyarat tangan.


Kepala kerbau di atas rakit kecil, setelah berada di tengah telaga perlahan diam.


Tiba-tiba air telaga Kelud bergerak berputar, setelah sesaji berada di tengah.


Gerak putaran air semakin lama semakin besar dan perlahan mulai menenggelamkan sesaji yang berada di tengah, setelah sesaji tenggelam, perlahan air telaga mulai tenang kembali.


Melihat sesaji sudah tidak ada di tengah telaga, kakek tua yang di atas panggung berteriak.


“Para penduduk di sekitar lereng gunung Kelud, persembahan kita sudah di terima oleh Naga hijau, sekarang kita sudah bisa tenang, untuk ke depannya kita bisa jauh dari bencana.


“Silahkan nikmati hidangan yang di sediakan oleh keluarga Kemala,” ucap Si kakek dengan suara lantang, di sambut sorak sorai orang-orang yang menyaksikan, dan mereka mulai menyerbu makanan yang sudah di siapkan.


Buto Ijo segera berlari setelah melihat para penduduk mengambil makanan, nasi serta lauk pauk mulai berpindah.


Kini di depan Aria sudah tersedia berbagai macam makanan, serta minuman yang di ambil oleh Buto Ijo.


“Bibi! Coba bibi lihat di sana? Tanya seorang gadis yang usianya lebih muda.


“Lihat apa? tanya sang bibi.


“Itu di bawah pohon, ketiga orang itu seperti sedang pesta, apa mereka tidak tahu bahwa makanan yang ayah sediakan, untuk di bagikan kepada para penduduk, tetapi kenapa mereka mengambil makanan sebanyak itu?


“Biarkan saja! Mungkin mereka sedang lapar,” ucap sang bibi mendengar keterangan keponakannya itu.


“Tidak bisa….ini tidak bisa di biarkan! Aku harus menegur mereka.” Si keponakan berkata sambil melangkah, menghampiri Aria yang tengah menyantap hidangan.


“Aku lihat kisanak sekalian mengambil makanan secara berlebih, apa kalian tidak kasihan kepada penduduk lereng Kelud yang tidak kebagian jatah makanan.


Aria yang hendak menyantap nasi, lalu menaruh kembali nasi di tangannya ke wadah daun jati.

__ADS_1


“Semua kebagian makanan, malah ada yang mengambil lebih banyak dari aku,” ucap Buto Ijo.


“Benar nona! Banyak dari mereka yang mengambil lebih banyak makanan, tetapi kenapa nona hanya menegur kami saja? Wangsa ikut bicara.


“Sudah….sudah kenapa meributkan masalah makanan, biarkan saja mereka makan,” sang bibi datang menghampiri, setelah berkata, kemudian menarik tangan si keponakan.


Suara puluhan kuda terdengar dan tak lama kemudian terdengar suara orang tengah beradu omong di tempat keluarga Kemala berkumpul.


Tampak Puluhan Orang-orang berpakaian hitam mengepung tenda keluarga Kemala.


“Siapa kalian dan kenapa menyerang kami? Tanya Pranaya, pemimpin keluarga Kemala.


“Kami anak buah Buto Ijo penguasa tiga gunung, ingin mengambil alih gunung Kelud ini dari tangan keluarga Kemala,” ucap seorang bertopeng.


“Buto….Buto Ijo,” ucap Pranaya, sambil keningnya berkerut, raut wajah Pranaya tampak pucat setelah mendengar nama Buto Ijo.


“Jangan asal bicara! Kami keluarga Kemala sudah turun temurun menjaga gunung Kelud ini, enak saja kau bicara ingin mengambil alih,” ucap gadis yang tadi menegur Aria.


“Kau berani melawan penunggu gunung Kelud? Kakek yang tadi memimpin upacara, ikut bicara.


“Penunggu gunung Kelud sudah di taklukan oleh pemimpin kami, Buto Ijo.


Jika kalian tidak pergi, kami akan membasmi keluarga Kemala,” ucap Si pemimpin membalas perkataan kakek yang baru saja bicara.


“Tutup mulutmu!


“Kau pikir pemimpin mu bisa mengalahkan Naga hijau? Si kakek membalas perkataan orang bertopeng dengan nada geram.


“Kau panggil Naga hijau! Jika hadir di sini, kami akan segera turun dan tidak akan mengganggu keluarga Kemala,” kembali lelaki bertopeng itu berkata.


Wangsa mendengar suara ribut, kemudian mengajak Aria dan Buto Ijo untuk melihat.


“Ada apa Ki? Tanya Wangsa.


“Rampok ganas pimpinan Buto Ijo, hendak mengambil alih keluarga Kemala.


“Oh! Ucap Wangsa.


“Apa kau bilang tadi? Raut wajah Wangsa berubah setelah berkata, Oh.


“Ada rampok pimpinan Buto Ijo.” Bisik orang itu.


Aria keningnya berkerut mendengar perkataan orang itu, sedangkan tangan kiri terus mencekal tangan Buto Ijo untuk tidak bergerak ke arah tenda keluarga Kemala, Aria lalu berbisik kepada Wangsa dan Buto Ijo.


“Mari kita kesana, tetapi kalian diam saja, jangan bertindak dahulu sebelum semuanya jelas.


“Pasti ada maksud di balik ini, kenapa mereka menggunakan nama Buto Ijo.


Aria, Buto Ijo serta Wangsa menghampiri dan melihat kakek yang tadi memimpin upacara duduk di sebuah batu, hendak memanggil Naga Hijau.


Sebagian penduduk lereng memilih pergi, karena takut.


Hanya tinggal keluarga Kemala, para begal dan rombongan Aria.


Mereka duduk dan melihat si kakek sedang merapalkan mantra untuk memanggil Naga Hijau.


“Menurutmu Naga Hijau akan keluar atau tidak? Tanya Wangsa kepada Buto Ijo.


“Tidak,” jawab Buto Ijo.


“Kenapa tidak? Tanya Wangsa, Buto Ijo menoleh, lalu berkata sambil menatap Wangsa.


“Karena ada aku di sini”

__ADS_1


__ADS_2