
Aria di bantu Wulan terus melesat ke arah Hutan, dimana Nyi Selasih bertempur dengan Ki Loreng geni.
Wulan tidak sulit mengetahui letak Nyi Selasih dan Ki Loreng geni bertempur, karena banyak pohon yang tumbang akibat perkelahian mereka.
Keduanya bertempur dengan ber ubah ubah wujud, terkadang wujud manusia, terkadang berbentuk ular dan Harimau.
Wulan setelah sampai di tempat keduanya bertempur, hanya bisa menatap dan tak bisa bicara, karena saat itu Wulan melihat satu sosok ular hijau bertubuh besar yang bergerak di antara pepohonan, berusaha menghindar dari kejaran Harimau berkaki tiga.
Loreng geni berusaha menerkam Nyi selasih yang selalu menghindar diantara pohon-pohon besar, setelah berhasil lolos dari terkaman, Nyi Selasih dengan gesit membelit pohon besar, lalu naik ke atas pohon itu.
“Kenapa kau diam saja, apa kau sudah melihat Nyi Selasih? Tanya Aria.
“Tidak….tidak ada Nyi Selasih, hanya ada Harimau yang tengah mengejar se ekor ular besar berwarna hijau,” jawab Wulan.
Aria terkejut mendengar perkataan Wulan, lalu mengerahkan tenaga dalam ke arah mata.
Setelah mengerahkan kekuatannya, Aria melihat aura hijau bergerak lambat ke atas pohon, sementara aura berwarna merah berada di bawah, tetapi aura merah tiba-tiba melesat cepat naik ke atas pohon besar.
Aria dengan cepat melesat ke arah kedua aura yang terlihat oleh matanya.
Sedangkan Wulan menatap Aria dengan cemas.
“Memangnya kau tidak tahu, bahwa ular itu adalah Nyi selasih? Tanya Buto Ijo.
“Tahu darimana? Aku selama ini hanya mendengar nama Nyi Selasih dan baru tahu wujudnya, tadi yang kulihat adalah gadis cantik, bukan ular,” jawab Wulan.
“Kau sudah tahu Nyi Selasih yang bertempur, kenapa kau diam saja? Tanya Wulan.
“Yang di tanya kau, bukan aku,” jawab Buto Ijo.
Wulan tak menanggapi perkataan Buto Ijo dan melihat ke arah pertempuran.
Ki Loreng geni berubah menjadi manusia, tubuhnya melesat naik ke pohon dimana Nyi Selasih berada.
Nyi Selasih yang baru saja berubah menjadi manusia, terkejut saat Ki Loreng geni sudah berada di dekatnya.
Tangan kanan Ki Loreng geni meraih pinggang Nyi Selasih.
Nyi Selasih berusaha meronta, tangan kanan bergerak hendak menghantam Ki Loreng geni, tetapi dengan cerdik Ki Loreng geni mendorong tubuh Nyi Selasih ke arah batang pohon.
He He He
“Kau tak bisa lari lagi cantik,” ucap Ki Loreng geni sambil tertawa.
Setelah berkata, Ki Loreng geni wajahnya mendekat dan bibirnya maju berusaha mencium bibir Nyi Selasih.
Tanpa di sadari oleh Ki Loreng geni, dari samping kanan melesat bayangan sangat cepat menghantam pipi Ki Loreng geni.
Buk!
Pelukan Ki Loreng geni terlepas dan tubuhnya terpental ke bawah menabrak beberapa dahan pohon sampai patah.
Brak!
Hoak!
Ki Loreng geni menyemburkan darah segar dari mulutnya, dari semburan darah yang keluar dari mulut, tampak 3 buah gigi Ki Loreng geni yang ikut tanggal, terkena hantaman Aria.
Ki Loreng geni berubah ke wujud aslinya dan meraung sangat kencang, suaranya menggelegar di kesunyian malam
Wulan sampai menutup telinga, karena tidak tahan mendengar suara raungan Ki Loreng geni.
__ADS_1
“Kau tidak apa-apa Nyi? Tanya Aria, sambil memeluk Nyi Selasih.
“Terima kasih Raden, Raden datang di saat yang tepat,” setelah berkata, kedua tangan Nyi Selasih merangkul leher Aria, perlahan bibirnya mengecup pipi Aria.
Cis….Cis….Cis
Suara Wulan meludah dengan kesal, melihat adegan mesra antara Nyi Selasih dan Aria Pilong.
Buto Ijo yang berada di samping Wulan melihat keduanya, tersenyum dan berkata.
“Sangat cocok! Raden sangat tampan sedangkan Nyi Ratu cantik seperti….
“Siluman,” ucap Wulan memotong perkataan Buto Ijo.
“Kau benar! Cantik seperti siluman,” balas Buto Ijo.
“Ih! Tuan dan anak buah sama-sama gila,” Wulan berkata mendengar ucapan Buto Ijo.
Ki Loreng geni melihat adegan mesra Nyi Selasih kepada Aria meraung.
Harimau hitam dengan belang merah bertubuh besar berdiri dengan kedua kaki belakang.
Kaki depannya yang tinggal satu menghantam ke arah pohon dimana Aria dan Nyi Selasih berada.
Krak!
Saking kerasnya hantaman, sebagian batang pohon hancur, Ki Loreng geni kembali menghantam ke arah batang pohon.
Krak!
Perlahan batang pohon bergerak dan mulai doyong tak kuat menahan beban, setelah batangnya hancur terkena hantaman Ki Loreng geni.
Nyi Selasih memegang tangan Aria, kemudian melesat turun dari pohon yang tumbang.
Ki Loreng geni yang murka, langsung melesat ke arah Aria dan Nyi Selasih.
Ki Loreng geni menerkam ke arah Aria dengan mulut terbuka memperlihatkan gigi taringnya yang besar dan panjang, sedangkan kaki kanan menyambar ke arah Nyi Selasih.
Nyi Selasih melihat Ki Loreng geni menyerang, langsung berubah wujud menjadi ular, kemudian dengan gesit menghindari sambaran Ki Loreng geni.
Sedangkan Aria memalangkan tongkatnya, saat mulut Ki Loreng geni berusaha menggigit kepala Aria.
Krek!
Ki Loreng geni Menggigit tongkat dan menjepitnya dengan gigi taring.
Aria berusaha menarik tongkatnya, tetapi tenaga Ki Loreng geni yang lebih besar, menahan tarikan Aria.
Kepala Ki Loreng geni bergerak ke kiri dan kanan, berusaha melemparkan Aria yang masih berusaha mempertahankan tongkatnya.
Tubuh Aria mengikuti arah gerak kepala Ki Loreng geni.
Wulan sangat cemas melihat tubuh Aria bergerak ke kiri dan kanan.
“Kenapa kau tidak bantu kang Aria? Tanya Wulan dengan nada cemas.
“Raden tidak memberi perintah,” jawab Buto Ijo.
“Apa kau mau lihat Raden mu mati terlebih dahulu, baru bergerak menolong,” balas Wulan.
“Kau lihat saja! Nyi Selasih tidak akan tinggal diam melihat kekasihnya terluka,” ucap Buto Ijo
__ADS_1
Cis!
“Kekasih apa….gadis bernama Wulan baru kekasihnya.” Ucap Wulan dengan nada kesal.
Tetapi Wulan melihat kembali ke arah Nyi Selasih, yang sudah berubah menjadi ular berwarna hijau.
Nyi Selasih perlahan merayap di bawah perut Ki Loreng geni, yang berusaha melempar Aria.
Perlahan Nyi Selasih membelit tubuh Ki Loreng geni yang berwujud Harimau.
Semakin lama belitan Nyi Selasih semakin erat, tubuh ular Nyi Selasih yang panjang membelit tiga bagian perut Ki Loreng geni.
Ki Loreng geni melepaskan gigitan tongkat Aria.
Lalu meraung, sambil berusaha melepaskan belitan Nyi Selasih.
Mulut ular Nyi Selasih terbuka, perlahan kepala Nyi Selasih mendekati leher Ki Loreng geni, sambil tubuhnya terus membelit.
Crep!
Dua taring panjang yang di miliki oleh Nyi Selasih menancap di leher Ki Loreng geni.
Darah berwarna hitam keluar dari leher Ki Loreng geni akibat gigitan Nyi Selasih.
Ki Loreng geni jatuhkan dirinya, lalu berguling di tanah berusaha melepaskan belitan Nyi Selasih yang semakin lama semakin membuat ia susah bernapas.
Nyi Selasih terus bertahan, tidak mengendurkan belitan dan gigitannya, walau tubuhnya terkadang tertindih oleh Ki Loreng geni.
Aria melihat kesempatan baik, mengusap tongkat dengan ajian Cakra Candhikkala, setelah tongkat di usap.
Aria kemudian melesat sambil menusukan tongkat ke arah kepala Ki Loreng geni yang berwujud Harimau.
Crak!
Tongkat menancap di kening diantara dua mata Ki Loreng geni.
Ki Loreng geni menerima tusukan Aria kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, menahan sakit.
Tetapi belitan dan gigitan Nyi Selasih yang semakin kuat, membuat semakin lama gerakan Ki Loreng geni semakin pelan, dan akhirnya Ki Loreng geni berhenti bergerak, hanya terdengar napasnya masih memburu.
Melihat musuhnya diam, Nyi Selasih mengendurkan belitannya, kemudian berubah wujud kembali menjadi gadis cantik berkebaya hijau dengan mahkota di kepala, berdiri di samping Aria.
Suara erangan lirih terdengar dari mulut Ki Loreng geni.
Perlahan matanya menutup.
Plak!
Tongkat Aria jatuh ke tanah, saat tubuh Ki Loreng geni perlahan mulai memudar dan berubah menjadi asap dan seonggok debu hitam.
***
Di suatu tempat gelap dan dingin di dalam goa bawah tanah di area kuburan kuno, seorang kakek tua yang seluruh kulit tubuhnya berwarna hitam, tengah bersemedi.
Tiba-tiba mata kakek yang tengah terpejam, perlahan terbuka, kemudian keningnya berkerut, seperti tengah mendapat suatu firasat.
Mata kakek itu tampak seperti bukan mata manusia, karena berwarna merah dengan garis hitam lurus di tengah mata seperti layaknya mata binatang buas.
Hmm!
“Siapa yang berani membunuh cucu Panglima Hitam.”
__ADS_1