
Wangsa menarik Ajian benteng angin, setelah melihat tengkorak hidup ciptaan Kalasrenggi tidak bergerak, kemudian tulang belulang terlepas dan menghilang.
Aria jalan menghampiri, di iringi Selamet serta Raden Untung.
Di bawah pohon besar, Wangsa, gadis pelangi, Buto ijo dan Si Beurit sudah menunggu kedatangan Aria.
“Kalian tidak ada yang terluka? Tanya Aria setelah sampai di depan anak buahnya.
“Semua tidak terluka, kecuali Suketi,” jawab Buto ijo.
“Kenapa Suketi bisa terluka? Kembali Aria bertanya dengan nada cemas, setelah mendengar keterangan Buto ijo.
“Dia gigit jarinya sendiri untuk menolong gadis itu,” jawab Buto ijo.
Phuih!
“Bikin kaget orang saja! Seru Wangsa mendengar perkataan Buto ijo.
“Bangsat! Kenapa kau yang kaget, memangnya kau suka dengan Suketi? Tanya Buto ijo.
“Hati-hati kau bicara! Aku masih waras,” Seru wangsa sambil menunjuk Buto Ijo.
“Jadi kau menuduhku tidak waras? Tanya Buto Ijo balas menunjuk wajah Wangsa.
Gadis pelangi duduk bersimpuh di hadapan Aria, “Terima kasih atas pertolongan tuan,” ucap Gadis Pelangi setelah mengetahui, bahwa pemuda itu pemimpin orang-orang aneh yang ada di sekitarnya.
Perkataan dan tindakan gadis pelangi meredakan pertengkaran Buto Ijo dan Wangsa.
“Bangkitlah! Aku bukan orang yang patut di sembah,” Aria membalas perkataan Gadis pelangi, setelah mendengar suara yang keluar dari mulut gadis itu berasal dari bawah.
“Cah Ayu! Sekarang berdiri, dan penuhi permintaan Raden.”
Setelah berkata, Buto Ijo hendak membangunkan Gadis pelangi.
Plak!
Pipi Buto Ijo di tampar oleh Suketi yang berada di bahunya.
“Mana cah Ayu? Tanya Suketi.
“I….ini! Seru Buto Ijo sambil menunjuk gadis pelangi yang ada di sampingnya.
Plak!
Kembali pipi Buto Ijo di tampar oleh Suketi.
“Kalau di sebut tolol, kau tidak terima, tetapi kenyataannya! kau memang tolol,” ucap Wangsa.
“Sudah….sudah! Seru Aria yang terus mendengar keduanya bertengkar.
“Nu hiji ambek’an, Ari nu hiji dei sok ngahereuyan, nepika iraha ge moal ereun pasea,” ( yang satu suka marah, satunya lagi tukang ngeledek, pasti berantem terus ) Ujang Beurit hanya bisa berkata dalam hati, melihat Buto Ijo dan Wangsa terus bertengkar.
“Apa kau sudah tahu berada dimana sekarang ini? Tanya Aria, setelah gadis pelangi di bantu untuk berdiri oleh Selamet.
Gadis pelangi gelengkan kepala.
“Aku dari kecil berada di tempat asing yang tidak ada orang, hanya di musim hujan, aku bisa melihat orang yang sama denganku,” balas gadis pelangi.
“Raden! Ini saatnya untuk Raden bisa melihat kembali, bukankah waktu itu Pengiwa berkata, kalau berhasil membebaskan gadis ini, kita boleh minta apa saja,” Buto Ijo berkata.
“Siapa Pengiwa? Dan apa yang diminta? Sebab Aku tidak punya apa-apa untuk di berikan.
“Kalau kau tidak bisa membuat Raden melihat, untuk apa kau berada di sini? Tanya Buto Ijo.
__ADS_1
Aria angkat tangan memberi isyarat Buto Ijo agar diam.
“Kalau kau hidup sendiri, bagaimana kau bisa mengerti bahasa kami dan pandai meniup suling? Tanya Aria.
“Ada ibu yang datang jika musim panas, beliau mengajarkan aku baca dan tulis, bahasa serta meniup suling, dia sangat sayang padaku.
“Ibu? Tanya Aria sambil kerutkan kening, mendengar perkataan gadis pelangi.
“Benar! Tetapi setiap dia pergi dan aku ingin ikut, dia tidak pernah mau mengajakku, aku selalu sendiri di dalam goa, hiburan untuk ku jika musim hujan tiba, aku bisa setiap hari keluar dan melihat kehidupan yang di ceritakan ibuku,” butiran air mata tampak menetes dari mata Jernih gadis pelangi, raut wajah sang gadis terlihat sedih ketika bercerita.
“Siapa namamu? Tanya Wangsa.
“Manusia terkutuk, So! jawab Buto Ijo.
Wangsa langsung menoleh, mendengar Buto Ijo yang menjawab pertanyaannya.
“Aku tidak tanya kau,” ucap Wangsa.
Gadis pelangi gelengkan kepala, “aku tidak tahu, ibuku hanya memanggil ku, Nak.” Gadis pelangi menjawab perkataan Wangsa.
“Sepertinya perkataan Pengiwa tidak benar, kabar itu di sebarkan Mpu Barada, agar keberadaan gadis ini di ketahui oleh dunia persilatan, seperti yang pernah di ceritakan oleh sang Mpu sendiri,” Aria berkata sambil menarik napas panjang.
“Perempuan yang kau panggil ibu, tidak memberi tahu apapun, selain yang kau katakan? Kembali Aria bertanya.
“Ibuku bilang, suatu saat akan ada orang yang membebaskan aku, dan aku harus ikut kemana orang itu pergi serta menuruti perkataan orang itu.
“Karena tuan yang sudah membebaskan aku, jadi aku akan ikut kemana tuan pergi dan menuruti apapun perkataan tuan.
“Apa kebisaan mu? Tanya Buto Ijo.
Gadis pelangi kerutkan keningnya mendengar perkataan Buto Ijo.
“Ibu hanya mengajarkan menari, serta meniup Suling.
Phuih!
“Kau pikir kami rombongan sirkus! Seru Buto Ijo.
“Kami ini hendak bertarung dengan setan Alas Purwo dan padepokan Elang emas.
“Nanti kalau Kami bertempur, kau melihat sambil meniup suling dan menari? Tanya Buto Ijo.
Gadis pelangi diam sambil tundukkan kepala, tak menjawab perkataan Buto Ijo.
Lanjut perkataan Buto Ijo, melihat Gadis pelangi diam.
“kalau kau tidak bisa apa-apa! untuk apa kau ikut dengan kami?
Wangsa kerutkan keningnya mendengar perkataan Buto Ijo.
“Apa si Buta Hejo, tidak dengar perkataan Mpu Barada, bahwa gadis ini yang bisa membantu kita membunuh Demit alas Purwo, Ki Banyu Alas,” batin Wangsa menatap Buto Ijo, kemudian balik menatap ke arah Aria.
“Kita yang sudah membebaskannya, jadi kita bertanggung jawab untuk menjaga dia walau dia mempunyai ke ahlian,” Aria angkat bicara mendengar perkataan Buto Ijo.
Aria tidak mau mengatakan sekarang, bahwa gadis pelangi di butuhkan untuk membunuh Ki Banyu alas, alias Demit Alas Purwo.
Karena Ki Banyu alas adalah ayah kandung, gadis yang kini ada di hadapannya.
“Terima kasih tuan! Amanat ibu memang seperti itu, aku harus ikut dan mengabdi kepada orang yang membebaskan aku,” balas gadis pelangi, bibirnya tersenyum karena Aria mau menerimanya.
Biar sipat Aria dan anak buahnya aneh, tetapi gadis pelangi tidak melihat tatapan liar, seperti tatapan orang-orang yang hendak menangkapnya.
Dan gadis pelangi percaya bahwa Aria serta anak buahnya orang-orang baik seperti yang pernah ia dengar dari perempuan yang ia panggil ibu.
__ADS_1
“Jika kau ikut dengan kami, kau harus mempunyai nama, karena tak mungkin aku serta yang lain memanggilmu gadis pelangi,” ucap Aria.
“Aku tidak tahu nama panggilan yang bagus, harap tuan memberi nama untukku,” ucap si gadis sambil tersenyum penuh arti.
Hmm!
“Kalian ada nama yang bagus buat nona ini, Resi Wangsanaya ada saran? Tanya Aria.
“Kalau soal nama gadis, aku tidak begitu paham, mungkin yang lain lebih mengerti, ketua,” Ucap Wangsa.
“Buto Ijo ada saran? Tanya Aria.
“Aku tidak tahu, Raden! Sebab tidak ada nama gadis yang bagus selain Suketi,” balas Buto Ijo.
Suketi langsung memberi kacang ke mulut Buto Ijo, setelah dirinya di puji.
“Phuih!
“Nama yang aneh kau bilang bagus,” ucap Wangsa.
Selamet! Kau ada saran? Tanya Aria.
“Gadis ini sangan cantik! Laksana bidadari yang baru turun dari kayangan, nama Dewi, cocok untuk nona,” jawab Selamet.
Aria anggukan kepala mendengar saran Selamet.
“Raden Untung bagaimana?
“Aku setuju dengan Saudara Buto Ijo yang pertama, Cah Ayu,” jawab Raden Untung.
“Itu panggilan, Tung! Bukan nama,” balas Wangsa.
Raden Untung diam, mendengar perkataan Wangsa.
“Jang! Menurutmu apa nama yang cocok buat dia? Tanya Buto Ijo.
Si Beurit yang jarang banyak teman, dan hanya tahu nama panggilan gadis di tempatnya, lalu menyebut satu nama.
“Neng Onong! Paman.
Buto Ijo kerutkan keningnya mendengar nama yang di sebut oleh Si Beurit.
“Itu nama manusia, Jang? Tanya Buto Ijo.
“Benar paman,” jawab Si Beurit
“Cing atuh Jang, mere ngaran teh ciga jang budak ololeho,” ( ngasih nama, jangan seperti kasih nama buat anak kecil ) balas Wangsa.
“Apa ketua ada nama sendiri? Tanya Wangsa.
“Aku terpikir dengan apa yang di katakan oleh Selamet,” jawab Aria.
“Aku hanya ingin tuan yang memberikan nama untukku,” balas Gadis Pelangi.
Lanjut perkataan gadis pelangi dalam hati, “sebab ibu pernah berkata, orang yang memberi nama untukku adalah calon pendampingmu kelak.”
Bagaimana dengan nama.
“Sri Buwana Dewi.”
Semua tersenyum mendengar nama yang di sebutka oleh Aria, mereka setuju.
Gadis pelangi langsung duduk bersimpuh sambil memberi hormat dan berkata.
__ADS_1
“Sri Buwana Dewi,” siap mengabdi kepada tuan penolong.”