Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 85 : Akhir Cerita Tokoh Tua


__ADS_3

“Apa adik Li yakin, titik lemahnya berada di dalam mulut Tumenggung Wirayuda? Tanya Aria.


Li Mei tanpa sadar mendekati Aria, kemudian menarik tangan Aria sambil berkata, “coba kakak ketiga perhatikan! Mulut dari Tumenggung Wirayuda,” ucap Li Mei.


“Maaf! Aku buta,” balas Aria.


Li Mei baru menyadari setelah mendengar perkataan Aria, kemudian gadis itu melepaskan genggaman tangannya.


Li Mei kemudian berbisik kepada sang kakak, Li Ho.


Li Ho setelah mendapat bisikan dari sang adik, lalu memberitahu Buto Ijo.


Setelah Buto Ijo memperhatikan pertempuran antara Wangsa dan Tumenggung Wirayuda, Buto Ijo melihat apa yang di katakan oleh Li Ho.


Titik sinar terlihat, jika Tumenggung Wirayuda bicara.


“Raden! Sepertinya ada semacam pusaka di dalam mulut Tumenggung Wirayuda.


“Pusaka itu mengeluarkan sinar terang dan akan terlihat jika si bangsat itu membuka mulut,” ucap Buto Ijo.


“Hmm….begitu rupanya! Balas Aria.


“Kau beritahu Wangsa agar menyusun siasat bagaimana cara agar mulutnya bisa terbuka, setelah terbuka. Aku yang akan menghancurkan titik lemah Tumenggung Wirayuda,” lanjut perkataan Aria.


“Baik Raden,” balas Buto Ijo.


Buto Ijo lalu melesat bersama Aria ke tempat dimana Wangsa masih lompat sana sini menghindari serangan Tumenggung Wirayuda, yang semakin lama semakin ganas dan cepat.


Aria sudah membekali dirinya dengan tombak yang di ambil oleh Andini dari milik seorang prajurit yang tewas.


“Wongso! Kelemahannya ada di dalam mulut.


“Buka mulutnya biar nanti, Raden yang akan menghancurkan pusaka Tumenggung Wirayuda,” ucap Buto Ijo.


“Bagaimana cara membuka mulut si keparat itu? Tanya Wangsa.


“Ya, pikirkan caranya! Kalau dia di suruh membuka mulut, pasti tidak akan mau,” jawab Buto Ijo.


Hmm!


Wangsa mendengus mendengar perkataan Buto Ijo.


Plak!


Tombak Aria menyambar pinggang Tumenggung Wirayuda, setelah tombak mengenai pinggang, Aria langsung menggetarkan tombak yang ia pegang.


Hantaman serta getaran tombak, membuat Tumenggung Wirayuda terhuyung.


Melihat musuh terhuyung, Wangsa lompat menerkam, sambil tangan kanan menghantam ke arah kepala.


Melihat Wangsa menyerang ke arah kepala, cakar Tumenggung Wirayuda melesat dengan maksud mengadukan tangannya dengan Wangsa.


Wangsa bukan orang bodoh yang mau beradu cakar dengan cakar.


Wangsa menarik serangannya, tubuhnya setelah dekat dengan Tumenggung Wirayuda membungkuk, kemudian kaki kanan Wangsa menghantam ke arah kaki sang Tumenggung.


Whut….plak!


Kaki Wangsa dengan telak menyapu betis Tumenggung Wirayuda.

__ADS_1


Dengan tubuh masih terhuyung dan kaki terkena sapuan musuh, Tumenggung Wirayuda kembali ambruk dengan tubuh terlentang di tanah.


Melihat musuh jatuh terlentang, Buto Ijo langsung melesat, setelah lompat tubuhnya lalu turun dengan cepat, kemudian bokong Buto Ijo menghantam perut Tumenggung Wirayuda.


Buk!


Setelah berhasil menduduki tubuh Tumenggung Wirayuda, Buto Ijo terus menekan perut sang Tumenggung dengan bokongnya.


Tangan kanan Tumenggung Wirayuda menghantam ke arah pinggang Buto Ijo dari samping, agar Buto Ijo tidak lagi menduduki perut.


Tetapi tangan kiri Buto Ijo langsung menahan siku Tumenggung Wirayuda yang hendak bergerak menyerang.


Tangan kiri Tumenggung Wirayuda ganti menghantam setelah tangan kanan tak bisa bergerak, kali ini kaki kanan Buto Ijo yang ganti menjepit tangan Tumenggung Wirayuda.


Satu kaki Buto Ijo lalu menekan sisi pinggang Tumenggung Wirayuda yang terus meronta, berusaha membebaskan diri dari jepitan Buto Ijo.


“Cepat….cepat! Teriak Buto Ijo.


Melihat Tumenggung Wirayuda tidak bisa bergerak di jepit oleh Buto Ijo.


Wangsa ikut menerkam, lalu kedua tangan Wangsa masing-masing memegang satu kaki Tumenggung Wirayuda.


Tumenggung Wirayuda terus meronta berusaha membebaskan diri, tetapi jepitan Buto Ijo dan Wangsa yang sangat kuat, membuat Tumenggung Wirayuda tak bisa bergerak.


“Raden, cepat habisi!


Aria melesat setelah mendengar perkataan Buto Ijo, setelah jongkok di samping Tumenggung Wirayuda, kemudian Aria bertanya.


“Dimana mulutnya? Tanya Aria.


“Di atas, Raden! Seru Buto Ijo.


“Itu Raden….itu diatas, Raden! Seru Buto Ijo sambil bibirnya monyong ke arah mulut Tumenggung Wirayuda.


Melihat bibir Buto Ijo yang monyong monyong, seperti menunjuk ke arah mulut,” kembali Wangsa berkata dengan nada kesal.


“Jangan tunjuk pakai bibir, tolol! Sudah tahu tidak bisa melihat, arahkan tangan adik ke tiga ke mulut si keparat ini,” ucap Wangsa terus menggerutu, karena kedua kaki Tumenggung Tumenggung Wirayuda terus meronta.


Wangsa cemas, karena takut tenaganya tidak kuat bertahan lama untuk menahan kedua kaki Tumenggung Wirayuda, yang terus meronta dari pegangan kedua tangannya.


“Bangsat! Apa Kau tidak lihat kedua kaki dan tanganku sedang apa? Balas Buto Ijo dengan nada kesal.


Li Mei melihat tangan Aria masih meraba raba, sementara Buto Ijo dan wangsa terus beradu omongan, kemudian melesat dan tangan Li Mei menarik tangan Aria ke arah mulut Tumenggung Wirayuda.


Plak!


Aria menampar mulut Tumenggung Wirayuda, setelah tangannya di arahkan oleh Li Mei.


Tetapi Tumenggung Wirayuda walau tubuh dan pikirannya sudah di rasuki oleh Siluman buaya.


Tumenggung Wirayuda tahu jika pusaka yang ada di dalam mulutnya diambil, dirinya bisa celaka itu sebabnya Tumenggung Wirayuda tutup mulut dan tak mau membuka mulut walau Aria beberapa kali menampar pipi Sang Tumenggung.


Li Mei melihat musuh masih tak mau membuka mulut, dengan cepat Jarinya menotok di cekungan leher, serta urat leher Tumenggung Wirayuda.


Tuk….Tuk!


Setelah menotok, Li Mei lalu menampar keras ke arah Kiri dan kanan rahang.


Lalu mencekal mulut Tumenggung Wirayuda.

__ADS_1


Mulut Tumenggung Wirayuda langsung terbuka, setelah Li Mei mencekal mulut sang Tumenggung.


“Tuan Aria, cepat ambil! Ucap Li Mei.


Mendengar perkataan Li Mei, tangan Aria langsung masuk kedalam mulut, setelah merasakan di tangannya ada benda bulat kecil.


Aria langsung menarik tangannya yang mengambil benda bulat berhawa dingin, setelah mengambil, tangan kiri Aria langsung menghantam kepala Tumenggung Wirayuda.


Prak!


Kepala Tumenggung Wirayuda langsung pecah, kaki dan tangan yang bergerak-gerak perlahan mulai diam.


Aria setelah berhasil membunuh Tumenggung Wirayuda, perlahan tubuhnya mundur dan duduk tidak jauh dari mayat sang Tumenggung, tubuhnya sangat lemas, setelah terus bertempur dengan Tumenggung Wirayuda.


Buto Ijo dan Wangsa juga sama seperti Aria, keduanya duduk karena lelah, apalagi Buto Ijo berlari dari desa jatijajar, setelah sampai Tumapel langsung bertempur.


Prajurit Tumapel yang tersisa di rumah Tumenggung Wirayuda sudah tidak banyak, mereka juga sangat takut, setelah melihat sang pemimpin tewas dengan kepala hancur.


Andini di bantu oleh Li Ho tanpa banyak bicara langsung memburu dan membunuh prajurit yang tersisa, mereka tidak mau ada saksi yang melihat rombongan mereka membunuh Tumenggung Wirayuda.


Aria bangkit dari duduknya setelah mendengar suara ayam berkokok, tanda hari mulai menjelang pagi, aktivitas para penduduk Tumapel mulai menggeliat, para petani membawa pacul bergerak menuju ke sawah, para pedagang meyiapkan dagangannya.


“Adik ke tiga! Adik kelima menunggu kita di simpang jalan, yang menuju ke arah gunung Semeru,” Wangsa berkata.


“Mari kita pergi dari sini! Seru Aria setelah mendengar perkataan Wangsa.


“Hari menjelang pagi, sebentar lagi tempat ini pasti ramai oleh penduduk dan prajurit Tumapel, karena pagar ghaib yang di buat oleh istriku hanya bisa bertahan sampai ayam jantan berkokok,” lanjut perkataan Aria.


Buto Ijo setelah istirahat sebentar, tenaganya sudah pulih kembali dan di bahunya kini sudah duduk kera kecil jelmaan dari Suketi.


Buto Ijo lalu jongkok di samping Aria, kemudian berkata kepada Wangsa.


“Angkat Raden dan taruh di punggungku,” ucap Buto Ijo.


Wangsa menuruti perkataan Buto Ijo, setelah menggendong Aria yang masih tampak kelelahan dan menaruhnya di punggung Buto Ijo, mereka lalu melangkah meninggalkan rumah Tumenggung Wirayuda yang kini hanya tersisa puing-puing hitam bekas terbakar.


Saat melewati tempat Saudagar Ming yang tak sadarkan diri, Buto Ijo berkata kepada Wangsa.


“So, Coba kau lihat si gendut! Pasti sebentar lagi dia sadar, setelah tahu kita hendak pergi,” ucap Buto Ijo.


Ketika Wangsa hendak menjawab, suara mulutnya tertahan setelah melihat tubuh saudagar Ming bergerak gerak.


Wangsa langsung tersenyum sambil menoleh ke arah sahabatnya.


“Kau benar, Jo! Ucap Wangsa.


“Dimana aku….dimana aku? Tanya saudagar Ming saat dirinya di bantu berdiri oleh Li Ho.


Buto Ijo mendengar perkataan saudagar Ming, “dimana aku….dimana aku,” langsung melotot.


“Pingsan hanya buat alasan saja, pakai tanya, dimana aku,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.


Setelah Aria beserta rombongan sudah keluar dari Tumapel, sayup-sayup telinga mereka mendengar suara kentungan yang di pukul terus menerus oleh prajurit dan penduduk kota tumapel.


Tetapi sebagian penduduk hanya menatap ke arah rumah besar, dengan mulut ternganga karena mereka melihat rumah besar milik Tumenggung Wirayuda kini hanya tinggal puing bekas terbakar.


Puluhan pertanyaan menyelimuti masing-masing penduduk dan prajurit.


Apa yang Telah terjadi di rumah Tumenggung Wirayuda?

__ADS_1


__ADS_2