
Selamet bergerak setelah mendapat perintah.
Dengan aji Halimun Selamet berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi Selamet bergerak sambil melihat situasi, karena kota Keta sedang gempar, akibat gudang yang berisi barang berharga lenyap tanpa bekas, hanya hamparan tanah yang tampak se ukuran gudang, sedangkan bangunan gudang hilang.
Saat sedang berdiri di dahan pohon yang rindang, Selamet melihat 2 bayangan berambut ke emasan melesat.
“Akhirnya keluar juga,” batin Selamet.
Selamet memang mencari orang dari padepokan Elang emas, markas padepokan tidak akan ia temui, jika tidak membuntuti orang dari padepokan Elang emas itu sendiri.
Selamet terus mengikuti dari kejauhan, setelah tiba di barat kota, rumah penduduk tidak terlalu banyak, ada satu rumah lumayan besar diantara puluhan rumah penduduk
Dua orang yang Selamet ikuti masuk ke dalam rumah tersebut
“Apa rumah itu tempat berkumpul orang padepokan Elang emas di kota Keta,” batin Selamet sambil menatap rumah agak besar diantara rumah di sekitarnya.
Selamet merapatkan tubuhnya ke dahan pohon, setelah melihat Mata elang keluar dari rumah tersebut.
Mata elang bersama kedua orang anak buahnya langsung melesat ke arah tengah kota.
Selamet terus mengikuti Mata elang, setelah melihat Mata elang menuju ke arah kediaman Tumenggung Jati Wilis, Selamet langsung kembali ke penginapan untuk memberi laporan.
“Tuan….apa tuan Mata Elang sudah dengar? Tanya Tumenggung Jati Wilis.
Mata elang anggukan kepala setelah mendengar perkataan Jati Wilis.
“Kami sudah dengar, Tumenggung! Anak buah ku sedang menyelidik ke gudang utara,” jawab Mata elang.
“Aku tak habis pikir,” lanjut perkataan Jati Wilis sambil gelengkan kepala.
“Kalau hanya isi nya saja, masih bisa aku terima , tetapi aku melihat hanya tanah saja, sedangkan gudangnya sudah tidak ada.
“Bagaimana bisa orang mengambil gudang yang begitu besar, sampai penduduk yang tinggal di sekitar gedung tidak mendengar apa-apa, bahkan penjaga gudang sampai kepalanya di penggal, tetap mengaku tidak tahu dan tidak melihat apa yang terjadi,” lanjut perkataan Jati Wilis sambil gelengkan kepala, masih tak mengerti kemana lenyapnya gudang yang penuh dengan barang-barang.
“Ini perbuatan orang berkepandaian tinggi, kita harus hati-hati,” lanjut perkataan Mata elang.
“Apa para teliksandi, tidak melihat ada orang asing masuk kota? Tanya Mata elang.
Jati Wilis mendengar perkataan Mata elang, kemudian menoleh ke arah pengawal pribadinya.
“Apa Ki Udel ada laporan dari teliksandi? Tanya Jati Wilis.
“Tidak ada Tumenggung,” jawab Ki Udel.
“Tetapi sewaktu kita berada dalam gudang, pirasatku mengatakan bahwa kita sedang di awasi.”
“Benar….benar! Aku jadi teringat akan perkataan Ki Udel kemarin,” ucap Jati Wilis.
“Aku mohon diri, Tumenggung! Aku akan memeriksa di sekitar Keta, jika ada kabar, aku akan langsung mengabari Tumenggung,” Mata elang setelah berkata langsung keluar dari kediaman tumenggung.
“Tak sopan,” batin Tumenggung Jati Wilis, melihat Mata elang pergi begitu saja dari hadapannya.
“Bagaimana menurutmu, Ki? Tanya Jati Wilis setelah Mata elang pergi.
“Benar yang di katakan Mata elang, ini di lakukan oleh orang yang berkepandaian tinggi,Tumenggung!
Hmm!
“Kau pikir di keta atau Panarukan, selain anak buah Raden Kusumo apa ada orang lain yang berkepandaian tinggi.
__ADS_1
“Cucu Kusumo bernama Rama yang katanya murid penguasa gunung batok lari terbirit birit di kejar Narpati.
“Lantas kau pikir siapa lagi yang punya kepandaian seperti itu? Tanya Jati Wilis.
“Hanya orang dari padepokan Elang emas,” jawab Ki Udel.
“Ternyata pikiran kita sama,” balas Jati Wilis, raut wajah Jati Wilis tampak geram ketika berkata.
***
Aria setelah mendapat laporan dari Selamet, lalu memastikan kepada Si Beurit apa sanggup memindahkan gudang utara, yang masih berada di dalam bumi ke daerah barat kota Keta, tempat dimana orang-orang padepokan Elang emas berkumpul.
Setelah Ujang Beurit mengatakan sanggup jika di bantu oleh tenaga dalam Aria.
Aria mulai memberikan instruksi apa yang akan di lakukan malam nanti.
“Kau pastikan kembali dengan rencana yang sudah kita bicarakan, Met! Aria berkata.
“Baik ketua! Hamba sudah bertemu dengan pedagang-pedagang yang barang dagangannya di rampok, besok pagi hamba akan mengumpulkan mereka dan menyebarkan isu tentang keberadaan gudang utara,” balas Selamet.
“Sore ini hamba kembali akan menemui pedagang lain, untuk membicarakan hal yang sudah di rencanakan,” lanjut perkataan Selamet.
“Bagus! Seru Aria
“Kami akan berangkat di sepertiga malam, karena di waktu itu, waktu yang tepat untuk memindahkan gudang utara.
Setelah Aria memberikan instruksi untuk nanti malam, mereka istirahat untuk memulihkan tenaga, sementara Selamet keluar penginapan untuk bertemu dengan para pedagang yang sebagian besar anak buah Raden Kusumo yang di pimpin oleh Rama.
“Kakang lebih baik istirahat,” ucap Buwana Dewi sambil memijit bahu Aria, setelah melihat Aria masih duduk termenung di dalam kamarnya, sudah lama setelah Aria memberikan instruksi, tetapi pemuda itu tidak tidur dan istirahat hanya duduk diam
“Tidak apa, Dewi! Lebih baik kau yang istirahat, karena sebentar lagi kita akan berangkat,” balas Aria.
“Wajahmu tampak pucat Nyi? Tanya Aria.
“Aku tidak apa-apa Raden,” jawab Nyi Selasih sambil tersenyum.
Buwana Dewi kerutkan keningnya mendengar ucapan Aria, kemudian bertanya.
“Kakang Aria bisa melihat Kak Selasih?
“Benar! Batin kami sudah menjadi satu setelah menikah, jadi aku bisa melihat Nyi Selasih.” Jawab Aria.
“Apa Nyi Selasih masih bisa untuk membuat pagar ghaib, nanti malam. Dengan keadaan seperti ini? Kembali Aria bertanya.
“Raden jangan khawatir! Selasih masih sanggup, tetapi setelah ini. Mungkin Selasih akan istirahat lebih lama dari biasanya,” jawab Nyi Selasih.
“Aku minta maaf karena sering merepotkan Nyi Selasih,” balas Aria dengan nada sedih.
“Raden! Ini tidak seberapa, bahkan jika nyawa yang harus di korbankan, Selasih akan melakukannya, karena Raden adalah suami selasih,” Nyi Selasih berkata sambil memegang tangan Aria.
“Terima kasih, Nyi! Aria balas memegang tangan sang Istri.
Aria terharu dengan istrinya yang berasal dari alam ghaib, semua yang ia punya satu persatu di berikan kepada Aria, bahkan tenaga dan ilmu yang sudah di latih ratusan tahun hampir setengah lebih berpindah ke tubuh aria, setelah mereka menikah sehingga kekuatan Nyi Selasih jauh menurun.
“Raden tidak usah berkata seperti itu! Kewajiban seorang istri adalah berbakti kepada seorang Suami, jadi Raden tidak usah khawatir terhadap Selasih.
“Sekarang Selasih lebih tenang karena ada adik Buwana Dewi yang menjaga Raden selama aku memulihkan kekuatan, adik Buwana Dewi lebih sempurna dari aku, jadi tak ada yang perlu di khawatirkan,” Nyi Selasih berkata.
Pipi Buwana Dewi basah dengan air mata melihat dan mendengar percakapan suami istri beda alam tersebut, Buwana Dewi merasa terharu atas kesetiaan Nyi Selasih dan pengorbanan yang di lakukannya.
__ADS_1
“Kak Selasih jangan khawatir! Buwana Dewi akan menjaga Kakang Aria, seperti….seperti Kak Selasih menjaga kang Aria selama ini,” Buwana Dewi berkata sambil tundukkan kepala, rona wajah gadis itu terlihat memerah setelah berkata.
Aria menarik napas dalam-dalam mendengar perkataan Buwana Dewi.
“Bagaimana jika kau tahu, bahwa aku datang ke sini untuk membunuh ayah kandungmu,” batin Aria.
Pikiran Aria pilong berkecamuk dan hatinya selalu gelisah jika memikirkan apa persoalan itu.
“Aku….aku ada satu permintaan, jika kak Selasih dan kakang Aria berkenan,” Buwana Dewi berkata setelah menetapkan hati.
“Adik, katakan saja! Seru Nyi Selasih
“Buwana Dewi ingin kakang Aria menyatukan batin dengan Buwana Dewi seperti yang apa sudah di lakukan Nyi Selasih, agar….agar kakang Aria bisa melihat ku seperti kakang bisa melihat kak Selasih,” Buwana Dewi berkata, raut wajahnya berubah merah, hatinya berdebar dan jantung Buwana Dewi berdegup kencang, setelah berkata.
Kata hati yang selama ini terpendam dan baru sekarang bisa ia ucapkan, karena saat ini adalah saat yang tepat untuk ia bicara.
Setelah menunduk, Buwana Dewi angkat wajahnya sambil menatap wajah Aria.
“Apa….apa kakang Aria sudah bisa melihatku? Buwana Dewi bertanya tanya dalam hati, karena Buwana Dewi yang tengah berhadapan dengan Aria, melihat Aria saat ini tengah menatap ke arahnya.
Raut wajah Buwana Dewi tampak gelisah dan jantungnya berdegup semakin kencang, setelah melihat bibir Aria bergerak hendak bicara.
Saat bibir Aria terbuka hendak berkata, tiba-tiba pintu terbuka dari luar.
Brak!
“Raden! sudah waktunya kita berangkat,” Buto Ijo berkata sambil melangkah masuk setelah membuka pintu.
Buwana Dewi langsung menoleh ke arah Buto Ijo, wajah gadis itu berubah kelam, karena merasa terganggu oleh kedatangan Buto Ijo.
Kata-kata yang sangat ia tunggu dan akan keluar dari mulut Aria batal, gara-gara kedatangan raksasa bertubuh hijau.
Suhu di dalam ruangan perlahan berubah sangat dingin, Suketi yang duduk di bahu Buto Ijo kedua kakinya gemetar, kemudian Suketi menutup kedua matanya dengan tangan, setelah melihat tatapan mata Buwana Dewi, karena Mata Buwana Dewi sudah berubah warna menjadi biru.
Buto Ijo langsung hentikan langkah setelah merasakan perubahan hawa dan hatinya tercekat melihat tatapan Buwana Dewi.
Entah kenapa kali ini melihat tatapan gadis itu, Buto Ijo merasa takut dan tak berani balas menatap.
Buto Ijo langsung balikan tubuh dan keluar dengan langkah cepat.
“Kau mau kemana? Tanya Aria mendengar suara langkah Buto Ijo menjauh.
“Aku….aku akan memberitahu yang lain untuk bersiap,” jawab Buto Ijo.
Hawa didalam ruangan perlahan kembali hangat, setelah Buto Ijo keluar.
Nyi Selasih tersenyum sambil anggukan kepala melihat mata biru Buwana Dewi perlahan berubah kembali menjadi semula.
Nyi Selasih berbisik kepada Aria.
“Apa boleh Selasih memberi saran untuk Raden? Nyi Selasih berkata.
Aria kerutkan kening mendengar perkataan istrinya itu, lalu menjawab.
“Katakan saja Nyi,” balas Aria.
Nyi Selasih lalu berbisik di telinga Aria.
“Usahakan Jangan sampai calon istri mu yang bernama Buwana Dewi marah.”
__ADS_1