
Semua yang menyaksikan pertempuran langsung sorak dan bertepuk tangan melihat Buwana Dewi berhasil membunuh Sentanu dan membuat Ki Banyu Alas pergi bersama pasukan siluman yang ia boyong.
Buto Ijo sampai menari nari di tengah arena saking senangnya melihat musuh yang ia benci tewas.
“Kenapa kau senang sekali? Seperti kau yang membunuh Sentanu,” tanya Wangsa.
“Ada dua alasan kenapa aku sangat senang hari ini,” jawab Buto Ijo.
“Alasan pertama? Tanya Wangsa.
“Aku senang karena anak kerbau itu tewas di tangan Buwana Dewi, jadi cinta Raden tidak ada saingan,” jawab Buto Ijo.
“Alasan kedua? Kembali Wangsa bertanya setelah mendengar alasan Buto Ijo yang pertama.
“Aku senang karena Raden tidak jadi bertempur dengan Si bapak kerbau,” jawab Buto Ijo.
“Memangnya kenapa kau senang? kau pikir ketua akan kalah kalau bertempur dengan Ki Banyu Alas? Kembali Wangsa bertanya setelah mendengar alasan Buto Ijo.
Phuih!
“Aku tidak meragukan kemampuan Raden, tetapi jika mereka bertempur, entah sampai kapan akan selesai, kalau tidak selesai! aku harus terus menunggu Raden bertempur, tetapi jika mereka tidak jadi bertempur, malam ini aku bisa bulan madu dengan Suketi, itu yang membuat aku senang,” Buto Ijo berkata sambil tertawa senang.
Suketi langsung mencium pipi Buto Ijo, setelah mendengar perkataan sang suami.
“Suketi! Aku ingatkan kau, agar nanti malam jangan berubah menjadi gadis, sebab nanti malam kau akan di siksa oleh suamimu,” Wangsa berkata sambil tersenyum mendengar perkataan Buto Ijo.
“Bangsat, dasar Resi palsu! Kalau bicara yang bukan-bukan, ku patahkan batang lehermu,” ucap Buto Ijo dengan nada geram.
Ha Ha Ha
Wangsa tertawa mendengar balasan Buto Ijo sambil melangkah pergi ke arah Rombongan orang-orang dari padepokan Jagad Buwana.
Sementara itu Buwana Dewi setelah berhasil menewaskan Sentanu, tubuhnya perlahan turun dan di sambut oleh Aria dan Ratu Laut utara.
Sang Ratu tersenyum melihat putri angkatnya sudah berhasil menggunakan ilmu yang ia berikan.
“Buwana Dewi, aku merestui pernikahan kalian berdua, hari ini aku sengaja datang karena ayahmu datang hendak mengacaukan pernikahanmu, tetapi aku tidak bisa bertindak terhadapnya, karena janji yang sudah ku ucapkan.
Semua hal yang terkait Banyu Alas aku serahkan kepada kalian semua, karena jarum pusaka tongkat emas yang di curi berhasil kembali.
Satu hal yang harus kalian ingat mengenai Banyu Alas, dia pasti tidak akan tinggal diam setelah muridnya tewas, kalian harus hati-hati, karena Darmawangsa ayah Sentanu, pasti akan mencari kalian berdua, karena kalian sudah membunuh putranya, soal Resi Sapta Darma, biar aku yang tangani karena kalian berdua tidak akan mampu melawan Resi Sapta Darma yang sedang menyucikan diri untuk mencapai Moksa.
“Buwana Dewi! Aku ingin bicara sebentar dengan calon suamimu,” ucap Ratu laut utara setelah memberikan nasehat kepada calon pengantin.
Buwana Dewi anggukan kepala, kemudian pergi berkumpul bersama dengan orang dari padepokan Jagad Buwana.
“Raden Aria! Aku ingin bertanya, apa tindakanmu terhadap Banyu Alas, setelah melihat tindakan Banyu Alas hari ini? Ratu laut utara berkata sambil menatap Aria.
Aria Pilong menarik napas setelah mendengar pertanyaan Ratu Laut utara, lalu menjawab.
“Aku tidak ingin membuat Buwana Dewi sedih, sebisa mungkin aku berusaha untuk menyadarkan Ki Banyu Alas agar tidak lagi ber ambisi mengacaukan dunia ini dan mengajaknya untuk tinggal bersama.
“Kalau Banyu Alas menolak ajakanmu, lantas apa tindakanmu selanjutnya? Kembali Ratu Laut utara bertanya setelah mendengar jawaban Aria Pilong.
“Tidak ada jalan lain, aku terpaksa harus berhadapan dengan Ki Banyu Alas,” jawab Aria.
“Walau nanti ke depannya Buwana Dewi akan kecewa terhadapmu, karena sudah membunuh ayahnya? Balas Ratu Laut utara.
Aria angkat kepala sambil matanya menatap langit yang gelap, sebuah kegelapan yang selalu menemaninya, Aria kembali menarik napas, seperti sedang menanggung beban berat.
“Aku siap di benci oleh Buwana Dewi, tetapi aku tidak ingin rasa bersalah menghantui selama hidupku, karena tidak bisa membasmi orang yang akan membuat kekacauan,” jawab Aria, kemudian lanjut berkata, “tetapi aku tidak yakin bisa mengalahkan Ki Banyu Alas, setelah kami tadi bertempur, tenaga dalamku kalah setingkat dengan Ki Banyu Alas, dia juga mempunyai ilmu ke abadian, yang di sebut Ajian Rawarontek.
__ADS_1
Ratu Laut utara anggukan kepala sambil tersenyum mendengar perkataan Aria, kemudian membalas.
“Lebih tinggi tenaga dalam, belum tentu menang dalam pertempuran, semua tergantung otak dan kecerdikan serta semangat orang yang bertempur.
Ajian Rawarontek memang hampir sama dengan ajian Pancasona yang kau miliki, tetapi tidak ada ilmu yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik sang pencipta.
“Tanah adalah sahabat, sedangkan ruang hampa adalah tempat yang cocok untuk tempat istirahat.”
“Kau ingat perkataanku jika kau menghadapi Banyu Alas dan satu lagi yang harus kau ingat.
“Kelemahan ajian Pancasona yang kau miliki ada pada gading atau tulang suci, jika kau di lukai oleh senjata yang terbuat dari benda yang tadi aku sebut, ajian Pancasona tidak bisa mengobati luka yang di sebabkan oleh kedua benda tersebut.
“Kau harus hati-hati! setahu aku Resi Sapta Darma mempunyai Sebilah pisau yang terbuat dari tulan lembu kencana, yang di sucikan di negara asalnya.
“Tulang dari lembu kencana oleh resi Sapta Darma di buat sebatang tombak, yang di beri nama Tombak gading kencana.
“Jika tombak gading kencana ada di tangan Banyu Alas, kau harus hati-hati, karena senjata itu bisa membunuhmu,” Ratu Laut utara memberi tahu kelemahan ajian Pancasona yang di miliki oleh Aria Pilong, karena tahu kelemahan ilmu yang kita miliki membuat kita bersiap meng antisipasi.
“Terima kasih, Nyai Ratu sudah memberitahu kelemahan aji Pancasona yang aku miliki,” Jawab Aria Pilong.
Ratu laut utara tersenyum mendengar perkataan Aria, “pemuda yang rendah hati,” batin Ratu Laut utara.
“Aku juga akan memberitahu kabar gembira untukmu,” ucap Ratu laut utara sambil tersenyum.
“Kabar gembira! Kabar apa Nyai Ratu? Tanya Aria.
“Apa Kau tidak merasa kenapa istrimu, Nyi Selasih semakin lemah jika terlalu banyak memakai tenaga, sehingga butuh waktu lama untuk memulihkan tenaganya? Tanya Ratu Laut utara sambil tersenyum.
“Nyi Selasih memang seperti itu sejak menikah, karena setengah kekuatannya pindah ke dalam tubuhku,” jawab Aria.
“Aku tahu! Tetapi kali ini berbeda, karena dia lebih lemah dari biasanya, dan kau harus menjaga Nyi Selasih dengan baik.
“Menjadi ayah? Tanya Aria dengan raut wajah bingung, kemudian lanjut bertanya.
“Apa maksud Nyai Ratu?
“Nyi Selasih sekarang sedang berbadan dua, istri pertamamu semakin lemah seiring dengan kandungannya yang mulai membesar,” jawab Ratu Laut utara.
“Ap….apa! Istriku mengandung? Tanya Aria dengan raut wajah tak percaya.
“Benar! Nyi Selasih sekarang sedang mengandung anakmu, jadi kau harus menjaganya dengan baik,” Jawab Ratu laut utara.
“Aria tak bisa berkata-kata mendengar perkataan Ratu laut utara, berbagai perasaan berkecamuk di hati Aria, perasaan bahagia yang tak bisa di ungkapkan oleh kata-kata.
Ratu laut utara lalu memberi isyarat kepada Buwana Dewi agar mendekat.
Setelah berada di depan Ratu Laut utara, sang Ratu kemudian berkata.
“Tugasku menjaga serta membingbingmu sudah selesai, sekarang kau sudah besar, kau sudah tidak butuh lagi pengawasanku, karena Raden Aria yang akan menjagamu menggantikan aku.
“Bersikaplah bijak di segala situasi, dengar apa yang di katakan suamimu, aku akan kembali ke laut utara dan entah kapan aku bisa bertemu lagi denganmu,” Ratu laut utara memberi nasihat kepada Buwana Dewi dan salam perpisahan.
Mata Buwana Dewi berkaca-kaca, hatinya sedih mendengar perkataan Ratu Laut utara, karena yang di ucapkan oleh ibu angkatnya adalah salam perpisahan.
“Apa aku bisa bertemu lagi dengan ibu? Tanya Buwana Dewi
“Jika kau ingin bertemu aku, bawa kembang setaman dan taburkan di laut utara, nanti aku akan menemuimu,” jawab Laut utara.
Bibir Buwana Dewi tersenyum mendengar perkataan Ibu angkatnya, sambil anggukan kepala dan berkata.
“Terima kasih ibu.”
__ADS_1
Prabu anak Wungsu memberi hormat, setelah tahu wanita anggun bermahkota itu adalah penguasa laut utara, penguasa yang selalu menjaga kerajaan di timur Jawa.
Setelah berbasa basi sebentar, Ratu laut utara pergi bersama Mpu Barada.
“Nak! Tidak kusangka kau adalah putri dari penguasa laut utara, aku berterima kasih sekali, karena tuan putri sudah menyelamatkan kerajaan.
“Aku bukan putri, tetapi Buwana Dewi, panggil saja nama, karena umur Prabu Anak Wungsu, 2 atau 3 kali lipat dari umurku,
“Baik-baik! Apa Buwana Dewi berkenan jika aku ambil menjadi anak angkat.
“Anak angkat? Tanya Buwana Dewi ke arah Prabu Anak Wungsu dengan raut wajah tak mengerti.
“Benar!, Anak angkat, karena aku sejak menikah belum di karunia anak,” jawab Prabu Anak Wungsu dengan nada sedih.
“Bagaimana kakang Aria? Tanya Buwana Dewi mendengar permintaan Prabu Anak Wungsu.
Aria anggukan kepala memberi jawaban, dan akhirnya Buwana Dewi setuju menjadi anak angkat Prabu Anak Wungsu.
Prabu Anak Wungsu sangat gembira setelah Buwana Dewi mau menjadi anak angkatnya, kemudian memberitahu para pejabat kerjaan tentang niatnya dan mendapat sambutan yang positif dari para bawahan Prabu Anak Wungsu.
Suasana di ruangan istana yang porak poranda di tata ulang, pernikahan antara Buwana Dewi dan Aria Pilong di lanjutkan setelah kedua calon pengantin setuju dan tidak mau menunda pernikahan.
Brahmana tunggal langsung memimpin upacara pernikahan Aria Pilong dengan Buwana Dewi.
Orang-orang dari padepokan Jagad Buwana sebagian mengamankan istana Tampak Siring dari musuh yang hendak mengganggu pernikahan sang Ketua.
Doa-doa suci di lantunkan dan keluar dari mulut Brahmana tunggal, air suci di pakai untuk menyiram kedua mempelai sebagia simbol agar mereka bersatu dan seperti air, jika tertumpah akan mengalir memberi kebaikan.
Suara tepuk tangan dan ucapan meriah terdengar dari mulut para pejabat kerajaan, Prabu Anak Wungsu sampai meneteskan air mata setelah pernikahan anak angkatnya sukses tanpa ada gangguan dari musuh.
Pesta dengan berbagai macam makanan serta minuman langsung di gelar setelah acara pernikahan selesai, rakyat Bali ikut berpesta dan bersila cita atas suksesnya pernikahan pendekar yang sudah menyelamatkan mereka dari teror Elang raksasa.
Suketi dan Buto Ijo melahap makanan, yang tersedia, hingga perut mereka tidak bisa lagi menampung makanan.
***
Mentari bersinar cerah diatas istana tampak Siring setelah semalam terjadi dua peristiwa penting, penyerangan yang di lakukan oleh penguasa Alas Purwo, dan terlaksana nya pernikahan ketua padepokan Jagad Buwana dan Buwana Dewi tanpa mengalami hambatan, setelah Ki Banyu Alas berhasil di pukul mundur dan muridnya tewas di tangan anaknya sendiri.
Aria turun dari tempat tidur, dan membuka jendela kamar, matahari pagi langsung menerpa wajah Aria setelah jendela terbuka.
Buwana Dewi perlahan membuka mata, senyum bahagia terlihat di mata Nyonya Aria, semalam ia sudah melaksanakan kewajibannya sebagai istri Aria Pilong, hingga Buwana Dewi sangat letih, sehingga bangun saat matahari mulai naik tinggi di atas istana Tampak siring.
Setelah memakai pakaian, keduanya keluar dari kamar, beberapa dayang dan pelayan yang berpapasan dengan sang pengantin baru, langsung memberi hormat dari bibir mereka tampak senyum menggoda sambil sesekali melirik ke arah Aria Pilong dan Buwana Dewi.
“Tuan putri dan tuan Aria sudah di tunggu di meja makan oleh Baginda Prabu,” ucap kepala dayang istana, sambil tersenyum.
Buwana Dewi anggukan kepala, kemudian mengikuti kepala dayang istana, menuju meja makan, semuanya sudah berkumpul, saat Aria dan Buwana Dewi datang memasuki ruangan, mereka yang tengah duduk langsung berdiri, sedangkan Prabu Anak Wungsu serta permaisuri menatap putri angkat mereka dengan tatapan haru.
Semua yang ada di meja makan tampak ceria, hanya Buto Ijo yang wajahnya terlihat masam.
“Kenapa kau, Jo! Masam sekali mukamu, bukankah semalam kau baru berbulan madu? Tanya Wangsa.
Phuih!
“Tidak jadi! Jawab Buto Ijo dengan nada ketus.
Kening di di wajah Wangsa tampak berkerut mendengar jawaban sang sahabat, kemudian bertanya kembali, “memangnya kenapa sampai tidak jadi, Jo?
Buto Ijo menjawab sambil melirik ke arah Suketi, bermaksud menyindir istrinya.
“Gara-gara kebanyakan makan, aku ketiduran.”
__ADS_1