Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 61 : Janji Dua Orang Pendekar


__ADS_3

Raut wajah Senopati Singalodra berubah mendengar perkataan Aria, tetapi perubahan di wajah sang Senopati tidak lama.


“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan,” balas Senopati Singalodra.


Hmm!


“Sekarang aku mengerti! Benang kusut itu sudah mulai terlihat, Senopati Singalodra dan Resi Larang tapa menggunakan Kahuripan untuk membuat tanah Jawa ini bergolak,” Aria berkata dalam hati.


“Senopati! Mari kita bunuh dia di depan para pendekar Kadiri, biar mereka lihat! bahwa orang-orang Kahuripan, bukan sekedar nama kosong,” bisik Bahurekso yang sudah berada di sebelah Senopati Singalodra.


Buto Ijo yang berada di sisi Aria menatap tajam ke arah Bahurekso.


“Raden duduk saja! Biar aku yang habisi mereka.”


“Kau tak akan mampu melawan mereka! Balas Aria.


“Kau tidak terdaftar, Buto Ijo.


Lebih baik kau turun,” Bahurekso ikut bicara.


Buto ijo mendengar perkataan Bahurekso meludah.


Phuih!


Tubuhnya melesat menuju ke arah Bahurekso sambil berkata.


“Daftar atau tidak, memangnya aku peduli.”


Whut!


Bahurekso menghidari hantaman Buto Ijo yang ke arah dada.


Setelah bergerak ke kanan, Bahurekso balas menghantam pinggang Buto Ijo.


Plak!


Tangan kiri Buto Ijo menangkis serangan Bahurekso.


Plak!


Keduanya mundur selangkah, setelah kedua tangan bertemu.


Perlahan kedua tangan Bahurekso berubah warna menjadi hitam, bau amis tercium di sekitar Bahurekso, bau yang keluar dari kedua tangan Bahurekso yang mengandung racun keji, Aji Wisa Ireng.


Ha Ha Ha


“Sini….sini! Kau pilih badan ku, hantam dengan tangan arang mu,” ejek Buto Ijo sambil tertawa.


Mendengar perkataan Buto Ijo, wajah Bahurekso berubah kelam, tubuhnya langsung melesat, telapak tangannya menghantam ke arah dada Buto Ijo.


Whut….plak!


Kaki Buto ijo terseret ke belakang, tubuhnya mundur dua langkah, setelah dadanya terkena hantaman Aji wisa ireng. milik Bahurekso.


Buto Ijo merobek baju yang ia pakai karena bolong terkena telapak Bahurekso,


Bret! kemudian mencampakan bajunya ke lantai arena.


Senopati Singalodra terkejut melihat Buto Ijo masih bisa berdiri tegap, setelah terkena hantaman Aji wisa ireng milik Bahurekso.


“Gila” setahu aku tidak ada orang yang bisa bertahan lama, setelah terkena tapak wisa ireng Bahurekso.


Bahurekso menatap tajam ke arah Buto Ijo, hal ini yang membuat Bahurekso segan ber urusan dengan Buto Ijo, karena tubuh raksasa itu kebal pukulan.


“Tumenggung Wirabumi! Raksasa itu tidak terdaftar sayembara, suruh dia turun sekarang,” teriak Senopati Singalodra.


“Kau bilang urusan ini jangan di sangkut pautkan dengan hal lain,,” lanjut perkataan Tumenggung Wirabumi, jadi kalian ber empat bebas berbuat apa saja di arena, kami anggap ini urusan pribadi kalian dan tak ada sangkut pautnya dengan sayembara.”

__ADS_1


“Keparat kau Tumenggung Wirabumi! Senopati Singalodra berkata dalam hati, setelah mendengar perkataan Tumenggung Wirabumi yang menyerangnya dengan kata-kata, yang tadi ia ucapkan sebelum melesat ke arena.


Tanpa membalas perkataan Tumenggung Wirabumi, Senopati Singalodra melesat ke arah Aria dengan kecepatan kilat.


Sedangkan Buto Ijo masih berhadapan dengan Bahurekso.


“Cepat! Mau pukul lagi, apa tidak? Tanya Buto Ijo, sambil memukul dadanya sendiri.


Hmm!


Dengus Bahurekso, mendengar perkataan Buto Ijo.


Bahurekso langsung melesat, tangan kirinya lurus menuju ke arah ulu hati Buto Ijo.


Setelah dekat, tiba-tiba Bahurekso menarik tangan kirinya, sedangkan tangan kanan Bahurekso yang berisi tenaga dalam penuh, menghantam ke arah wajah Buto Ijo.


Buto Ijo terkejut melihat kelicikan Bahurekso, kedua tangan langsung ia silangkan di wajahnya menahan telapak kanan Bahurekso.


Plak!


Kali ini Buto Ijo sampai mundur dua tombak, menahan hantaman telapak kanan Bahurekso yang mengincar wajahnya.


“Dada bangsat! Bukannya kepala,” teriak Buto Ijo dengan raut wajah geram.


Phuih!


“Kita dari golongan hitam, tak perlu basa basi, aku bebas mau menyerang kemana aku suka,” Bahurekso membalas perkataan Buto Ijo.


Buto Ijo melesat ke arah Bahurekso, kedua tangan Buto Ijo terbuka, berusaha menangkap tubuh Bahurekso.


Bahurekso mundur, kemudian berputar sambil bergerak ke kanan, lalu kakinya menghantam ke arah pinggang Buto Ijo.


Plak!


Tangan kiri Buto Ijo menangkis, lalu tangan kanan melesat berusaha menangkap pergelangan kaki Bahurekso.


Bahurekso tarik kaki kanan sambil kaki kirinya mengentak, tubuh Bahurekso melesat ke atas, setelah berada di atas, tangan kanan Bahurekso menghantam ke arah kepala Buto Ijo.


Tangan kanan Buto Ijo menghantam ke arah perut Bahurekso, tangan Buto Ijo lebih panjang, jika Bahurekso memaksa menghantam kepala, perut Bahurekso akan terlebih dahulu terkena pukulan Buto Ijo.


Kembali Bahurekso menarik serangan sambil tubuh nya melenting ke belakang, setelah turun, Bahurekso maju sambil berguling, lalu kaki kanannya menghantam ke arah kaki Buto Ijo.


Buto Ijo angkat sebelah kaki yang diserang Bahurekso, setelah berhasil menghindar, tangan kanan bergerak ke atas, kemudian Buto Ijo balik menghantam ke arah kepala Bahurekso.


Bahurekso terkejut, dengan satu kaki menahan sambil menekuk dibantu dengkulnya yang bertumpu di lantai arena,tangan kanannya bergerak ke atas kepala berusaha menahan hantaman tangan Buto Ijo.


Blam!


Suara keras terdengar, saat kedua tenaga dalam mereka bertemu.


Debu mengepul di sekitar mereka, lantai arena yang menjadi tumpuan kaki serta dengkul Bahurekso terlihat retak.


Buto Ijo mundur selangkah, kemudian lompat dan menghantam kembali dari atas, kali ini dengan kedua tangan terkepal.


Bahurekso terkejut, melihat serangan Buto Ijo, kali ini ia tak berani menahan.


Tubuhnya berguling mundur menjauh dari Buto Ijo.


Blar!


Lantai arena berlubang, terkena hantaman Buto Ijo, setelah Bahurekso berhasil menghindari serangan.


“Keparat! Serangan Buto Ijo susah di tebak, karena ia menyerang sesuka hati dan tubuhnya yang kebal membuat aku susah,” Bahurekso mengeluh dalam hati.


“Satu-satunya jalan untuk membunuh raksasa ini harus dalam sekali pukul, dan itu bisa kulakukan jika aku dapat menghantam kepala Buto Ijo, aku harus mendekat,” batin Bahurekso.


Bahurekso berinisiatif menyerang lebih dulu, tubuhnya melesat, tangan kirinya menghantam ke arah dada Buto Ijo.

__ADS_1


Buk!


Buto Ijo tidak menghindar, tubuhnya mundur selangkah, setelah terkana hantaman, Bahurekso melesat kembali, kali ini tangan kanan bergerak berusaha menghantam kepala Buto Ijo dari sisi kanan.


Plak!


Tangan kiri Buto Ijo menahan serangan Bahurekso.


Kali ini tangan kiri Bahurekso yang bergerak menghantam kepala dari sisi.


Dan kembali tangan kanan Buto Ijo menangkis.


Plak!


Kepala Buto Ijo seperti terjepit oleh 4 tangan dan susah bergerak, karena Bahurekso terus menekan.


“Bangsat! Kau mau berkelahi atau mengakak aku menari? Tanya Buto Ijo dengan nada kesal, karena kepalanya masih terjepit.


“Kalau tidak ingin terjepit! Jangan kau tangkis seranganku,” jawab Bahurekso.


Phuih!


“Kau pikir aku tolol! Setelah berkata, Buto Ijo perlahan menarik kepalanya kebelakang, setelah berhasil kemudian kepala bergerak cepat menghantam ke arah kepala Bahurekso yang berada tak jauh di depannya.


Prak!


Darah muncrat dari kening Bahurekso, begitu pula dengan kening Buto Ijo setelah kedua kepala mereka beradu.


Bahurekso lompat mundur sambil terhuyung dan menggeleng gelengkan kepala, kepalanya sangat pusing setelah di hantam kepala Buto Ijo.


Melihat Bahurekso menunduk sambi goyangkan kepala, Buto Ijo melesat ke belakang Bahurekso, lalu tangan kanan masuk dan siku lengan kanan langsung mencekik leher Bahurekso.


Bahurekso terkejut, merasakan tangan besar berkulit hijau berada di lehernya, tangan kanan serta kiri Bahurekso langsung bergerak ke arah tangan Buto Ijo yang mencekiknya dari belakang, berusaha melepaskan cekikan.


Buto Ijo memperkuat cekikan dengan tangan kiri, setelah kedua tangan Bahurekso berusaha melepas tangannya.


Setelah di bantu tangan kiri, cekikan Buto Ijo semakin kuat.


Mata Bahurekso mendelik, kedua tangannya mulai menepak kemana saja, ke tubuh Buto Ijo.


“Lepas….lepaskan, Adi….Adi Buto Ijo,” ucap Bahurekso dengan suara terputus putus, karena cekikan lengan Buto Ijo.


“Akan aku lepaskan jika kau berjanji tidak akan menyerangku,” ucap Buto Ijo.


“Baik….baik adi Buto Ijo! Aku….aku berjanji tidak akan pernah menyerang dan bertempur denganmu lagi,” balas Bahurekso dengan napas putus-putus, raut wajahnya mulai berubah merah, akibat cekikan lengan Buto Ijo.


“Baiklah karena kita kenal, aku penuhi permintaan mu,” ucap Buto ijo, sambil mengencangkan jepitan lengannya.


“Kau….kau sudah ber….berjanji,” ucap Bahurekso putus-putus, perlahan matanya mendelik, kedua tangan bergerak ke arah tangan Buto ijo, kuku jari Bahurekso mencengkeram tangan Buto Ijo, asap hitam mengepul dari 10 cengkeraman kuku Bahurekso di tangan Buto Ijo.


Krek….Krek!


Suara remuk tulang leher Bahurekso terdengar, perlahan tubuh Bahurekso yang meronta dan tangan yang mencakar Buto ijo diam tak bergerak.


“Aku penuhi janjiku melepaskan mu,” ucap buto ijo sambil melepaskan jepitan lengannya.


Brak!


Tubuh Bahurekso langsung jatuh ke lantai arena, tewas seketika dengan tulang leher hancur.


Phuih!


Buto ijo meludahi telapak kiri, lalu tapak kirinya di usapkan ke 10 gurat berwarna hitam akibat cakaran Bahurekso.


Perlahan bekas cakaran Bahurekso di tangan Buto ijo menutup dan mengering.


Setelah berhasil menyembuhkan luka nya, Buto ijo menatap mayat Bahurekso.

__ADS_1


“Aku sudah penuhi janjiku melepaskan mu dan kau juga sudah menepati janjimu.


“Karena dari mulai sekarang, kau tidak akan menyerangku lagi.”


__ADS_2