
Se ekor Elang juga mempunyai rasa, sebelum ajal menjemput, Raja Elang menitikan air mata teringat akan anak yang belum lama melihat dunia, harus hidup tanpa orang tua.
Terkadang dunia memang kejam, apa yang diharapkan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan.
Terlihat manis di depan mata, tetapi akhirnya hanya mengakibatkan cucuran air mata.
Ini yang dirasakan oleh Raja Elang dan Elang jantan.
Elang jantan hidup bahagia bersama sang istri, walau padepokan mereka tidak terlalu besar, hanya penampungan para buronan kerajaan, tetapi mereka hidup dengan tenang, sampai datangnya Ki Banyu Alas menawarkan kerjasama.
“Apapun yang kau inginkan akan terkabul, kau dan istrimu juga akan berkuasa, jika bergabung dan menjadi pengikutku,” masih teringat oleh Elang jantan perkataan Ki Banyu Alas.
Elang jantan tadinya ragu, karena untuk mencapai ke tahap itu, jalan yang di lalui pasti menanjak dan berbatu tetapi akhirnya ia setuju, setelah Elang betina terus mendesak untuk menerima tawaran Ki Banyu Alas.
Dan akhir dari sebuah impian ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, istrinya tewas di gunung Bromo, belum lama berselang sahabatnya si raja Elang juga tewas.
Hanya putus asa dan penyesalan mendalam yang kini di rasakan oleh Elang jantan, ia ingin balas dendam serta menyusul istri serta sahabatnya, berkumpul lagi bersama di alam keabadian.
Hiaaaaaat!
Teriakan panjang terdengar keluar dari mulut Elang jantan, sang ketua padepokan Elang emas berusaha melepaskan beban yang menghimpit hati serta perasaannya saat ini.
Elang jantan memutar jarum pusaka tongkat emas di atas kepala, semakin lama putaran tongkat semakin kencang.
Aria melihat aura Emas seperti piringan diatas kepala Elang jantan dan perlahan aura mulai memencar.
Raut wajah Aria berubah, kemudian berteriak kencang.
“Berkumpul!
Buto Ijo, Ujang Beurit, Selamet, Aria serta beberapa orang prajurit yang berada dekat langsung berkumpul.
Sementara itu dari atas pusaran air, Buwana Dewi menatap bengis ke arah Elang jantan yang sedang memutar tongkat di atas kepala.
“Pakai Aji benteng angin! Seru Aria melihat aura ke emasan mulai berpencar dan melesat ke segala arah, menyerang siapa saja yang ada di dekat Elang jantan.
Kedua tangan Wangsa langsung terangkat, perlahan di sekeliling mereka yang berkumpul tampak seperti angin berputar mengelilingi mereka.
Kecemasan Aria bukan tanpa sebab melihat Aura yang terpecah, pasti akan menjadi senjata rahasia.
Elang jantan menyerang dengan ajian Badai Jarum ilmu andalan yang ia dapat dari Ki Banyu Alas, putaran jarum pusaka tongkat emas melesat kan ratusan jarum kecil yang dapat melumpuhkan lawan.
Tring….tring….tring….Crep!
Jarum-jarum kecil rontok setelah menghantam ajian Benteng angin, beberapa prajurit yang terlambat berkumpul dan menyelamatkan diri langsung terjungkal, oleh jarum Elang jantan.
Lembusora melesat ke kiri dan kanan menghindari jarum pusaka tongkat emas, dan akhirnya bisa bernapas lega, setelah berlindung di balik pohon besar.
Jarum pusaka tongkat emas tidak berdaya menghadapi Buwana Dewi, tubuh gadis itu langsung di selimuti air yang mengkristal jika ada serangan musuh.
Tring….Tring….Tring!
Ratusan jarum emas terpental setelah menghantam pelindung air yang di ciptakan Buwana Dewi.
Hmm!
Suara dengusan keluar dari hidung Elang jantan melihat ajian badai jarum miliknya sama sekali tidak berpengaruh terhadap Buwana Dewi.
“Tak kusangka, orang yang ingin ku bunuh terlebih dahulu, ternyata orang paling berbahaya di antara anggota padepokan Jagad Buwana,” batin Elang jantan.
Niat Elang jantan mengeluarkan ajian Badai jarum bermaksud untuk membunuh beberapa orang dari rombongan Jagad Buwana, biarpun ia akan tewas setidaknya ada anggota Jagad Buwana yang menemani, tetapi satu keinginan terkadang hasilnya jauh dari kenyataan.
Hanya prajurit rendahan yang terkena ajian badai jarum miliknya.
Aria langsung melesat saat Wangsa menarik Ajian Benteng angin, Elang jantan langsung bersiap melihat kedatangan Aria.
Tongkat emas miliknya langsung menyabet ke arah bayangan Aria.
__ADS_1
Whut!
Elang jantan terkejut, karena Aria menghilang, saat merasakan hembusan napas di samping kiri, Elang jantan hantamkan tangan kirinya ke arah tangan kiri Aria yang hendak menyerang.
Blar!
Elang jantan mundur dua langkah, kemudian tongkatnya berputar dan lompat sambil hantamkan tongkat ke arah kepala Aria.
Aria menangkis serangan Elang jantan, dengan memalangkan tongkatnya di atas kepala.
Whut….Trang!
Setelah berhasil menangkis, telapak kiri Aria menghantam ke arah perut Elang jantan dengan ajian Mawageni.
Whut!
Elang jantan lompat sambil salto ke belakang, menghindari serangan Aria.
Tetapi baru saja Elang jantan menghindar dan berdiri siap balas menyerang.
Tanpa di sadari oleh ketua padepokan Elang emas, tangan Buwana Dewi dari atas pusaran air mengibas.
Syuuut!
Lembing air melesat cepat ke arah Elang jantan yang baru saja berdiri.
Crak!
Elang jantan terlempar beberapa tombak, tubuhnya seperti di tusuk oleh ribuan batang jarum, saat lembing air yang di lesatkan Buwana Dewi menghantam dirinya tanpa bisa ia hindari.
Hoaks!
Elang jantan menyemburkan darah segar dari mulut, kemudian bangkit berdiri.
Perlahan tangannya mengambil botol kecil dari balik baju, setelah meminum dua pil yang terdapat di dalam botol, perlahan raut wajah Elang jantan yang tadinya pucat, berubah merah kembali.
“Elang jantan! Kau hendak berkhianat kepada Ki Banyu Alas.”
“Diam kau! Seru Elang jantan dengan nada dingin.
“Kembalikan pusaka yang di berikan oleh Ki Banyu Alas,” Lembusora berkata sambil menyodorkan tangannya kepada Elang jantan.
“Minggir!? Teriak Elang jantan sambil hantamkan Jarum pusaka tongkat emas ke arah Lembusora.
“Keparat,” ucap Lembusora sambil menghindari hantaman Elang jantan.
“Whut….Blar!
Tongkat emas menghantam tanah, air serta lumpur melesat ke kiri dan kanan terkena hantaman.
Lembusora langsung menyingkir setelah melihat mata Elang jantan bergerak liar, seperti mata orang tidak waras.
Lembusora memang benar, akibat tekanan batin dan pikiran Elang jantan saat teringat dengan istri serta sahabatnya yang tewas, membuat Elang jantan menjadi gila.
Elang jantan menyerang membabi-buta, setiap melihat orang bergerak, Elang jantan langsung menghantam.
Aria hantamkan tongkatnya ke arah kepala, Elang jantan tanpa memikirkan nyawanya, balas mengantam ke arah pangkal paha Aria.
Aria lompat mundur, melihat serangan nekat Elang jantan, karena serangan tadi membiarkan dirinya terkena hantaman, tetapi tongkatnya bisa menghantam bagian mematikan Aria.
Kedua tangan Buwana Dewi berputar-putar, setelah 3 bulatan air tercipta, tangan Buwana Dewi mengibas ke arah Elang jantan.
3 bulatan air melesat setelah berada di atas Elang jantan, ketiga bulatan air perlahan turun ke arah Elang jantan,
Whut….Whut….Whut!
Setelah turun ke tubuh Elang jantan, ketiga bulatan air mengecil dan mengikat kaki tangan serta dada Elang jantan.
__ADS_1
Elang jantan berusaha meronta dengan mengerahkan tenaga dalam, tetapi air yang membelitnya, seperti akar pohon yang liat dan terus mengencang, membuat dirinya tak bisa bergerak.
Buk!
Elang jantan akhirnya jatuh setelah tidak kuat menahan jeratan air, tangan kanan masih memegang jarum pusaka tongkat emas, tak mau melepaskan pusaka yang sudah di anggap miliknya sendiri.
Saat mendengar suara Elang jantan jatuh, Aria hendak melesat, tetapi dari samping tubuhnya terdengar angin cepat melesat.
Syuuut….Prak!
Suara kepala pecah terdengar.
Tampak Buto Ijo tersenyum sambil berdiri di samping tubuh Elang jantan yang kepalanya pecah akibat hantamannya.
“Suketi! Dendammu sudah aku balaskan,” ucap Buto Ijo.
Mendengar perkataan Buto Ijo, Suketi langsung mencium pipi Buto Ijo, kemudian memberikan kacang kepada kekasihnya.
Phuih!
“Anak kecil juga bisa, kau pukul orang yang sudah tidak bisa bergerak,” ucap Wangsa.
“Memangnya kenapa? Bertempur itu, kalau tidak membunuh ya terbunuh,” balas Buto Ijo.
“Kumaha Maneh we,” ( terserah kamu saja ) ucap Wangsa.
“Artinya Jang! Seru Buto Ijo.
“Kepalanya aneh, paman! Balas ujang Beurit.
“Apanya yang aneh? Bukankah sekarang dia sudah tidak punya kepala,” batin Buto Ijo.
Aria memburu ke arah Aura Buwana Dewi yang perlahan mulai mengecil.
Buwana Dewi turun, setelah pusaran air perlahan lenyap, tubuh Buwana Dewi limbung akibat terlalu banyak mengerahkan tenaga, saat hendak jatuh, Aria langsung memeluk Buwana Dewi.
“Kau tidak apa-apa? Tanya Aria sambil memeluk sang kekasih.
“Tidak apa-apa kakang, aku hanya lemas,” jawab Buwana Dewi sambil tersenyum.
“Syukur lah kalau begitu,” balas Aria Pilong sambil tersenyum.
Saat Buto Ijo dan Wangsa terus beradu omong, Lembusora menatap ke arah jarum pusaka tongkat emas yang sudah berubah mengecil dan berada di tangan Elang jantan.
Diam-diam Lembusora melesat ke arah tangan Elang jantan, saat tangannya hendak mengambil jarum pusaka tongkat emas.
Tiba-tiba tubuh Lembusora terpental seperti terkena hantaman angin besar.
Buto Ijo, Wangsa, serta Ujang Beurit langsung menoleh ke arah Lembusora yang terpental.
“Ku naon Maneh? Tanya ujang, melihat Lembusora terpental.
Tak jauh dari tubuh Elang jantan yang tewas sudah berdiri seorang kakek berpakaian putih dengan selempang putih, mengambil Jarum pusaka tongkat emas dari tangan Elang jantan.
“Akhirnya kau kembali kepada pemilik sebenarnya,” ucap Si kakek.
Ujang Beurit menatap si kakek kemudian balik menatap ke arah Buto Ijo.
Mata sayu Ujang Beurit setengah terpejam dan berkata ketika melihat ke arah Buto Ijo.
“Pasti salah lagi.”
Buto Ijo melihat kedatangan kakek berpakaian putih dengan selempang putihnya.
Tangannya terangkat dan menyapa kakek itu sambil tersenyum.
“Hai, Batara!
__ADS_1