
Sudah dua hari Aria berada di dusun Randu alas, tetapi tak ada gerakan dari perguruan golok setan seperti yang di khawatirkan oleh Ki sepuh.
Sambil menunggu, Aria selalu di temani oleh Kemuning, apa yang di ucapkan oleh Kemuning benar adanya, semua kebutuhan pemuda itu di penuhi oleh Sang gadis.
Kemuning juga memberitahu segala sesuatu hal tentang kehidupan bermasyarakat, tetapi Kemuning tidak berani menjelaskan apa itu istri kepada Aria, karena ia seorang gadis, Kemuning malu jika harus membicarakan masalah itu, apalagi gadis seumuran Kemuning di anggap tabu bila membicarakan masalah tentang suami atau istri jika bukan terhadap pasangan sendiri.
Ratmi merasa cemburu terhadap Kemuning, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa, karena Aria juga selalu berusaha menjauh jika Ratmi mendekat, karena Aria tidak suka dengan perkataan-perkataan Ratmi yang terkadang suka menyinggung.
Malam hari di teras rumah kediaman Ki sepuh, tampak lima orang sedang berkumpul dan bercakap cakap, sambil menikmati wedang jahe bikinan Ratmi.
“Ki sepuh! Sepertinya tidak ada gerakan dari perguruan golok setan, jika tak ada aral melintang, besok aku akan pergi dari desa Randu alas,” Aria berkata, ketika mereka tengah asyik minum wedang jahe.
“Apa den Aria tidak bisa tinggal lagi beberapa hari di dusun Randu alas? Tanya Ki sepuh dengan raut wajah kecewa, begitu pula dengan Kemuning.
“Aku ingin berkelana Ki sepuh! Menurut penuturan Kemuning, Kota besar yang paling dekat adalah Wengker.
“Aku ingin jalan-jalan kesana,” Aria berkata.
Ki sepuh menarik napas panjang sebelum berkata.
“Baiklah! Jika Den Aria sudah bertekad akan ke Wengker, kami tak bisa menahan lagi.”
“Jika padepokan golok setan datang sesudah saya pergi, jangan di lawan, Katakan saja! Aku Aria Pilong yang telah membunuh anak buah mereka, suruh mereka untuk mencari ku ,” Aria membalas perkataan Ki Sepuh.
“Baik Den Aria,” ucap Ki sepuh, sambil anggukan kepala mendengar perkataan Aria.
Sebenarnya Ki sepuh ingin agar Aria menikahi putrinya dan berusaha menahan pemuda itu, agar tidak meninggalkan desa Randu alas, tapi apa mau dikata, sepertinya Aria tidak suka terhadap Ratmi.
“Kami juga akan ke Wengker, tapi tidak sekarang, aku harap kita bisa berjumpa lagi,” Ki Demang surya ikut berkata.
***
Di Padepokan Golok setan.
Suto Abang mendengar kabar bahwa tangan kanannya tewas di tangan seorang pendekar dari desa Randu alas.
Diam-diam ia mencari tahu siapa yang telah membunuh Kala Abang.
Tetapi setelah mendengar kabar, bahwa yang menghabisi anak buahnya adalah seorang pendekar buta, Suto abang bersiap menuju Randu Alas untuk meluluh lantakan desa itu.
__ADS_1
Saat rombongan padepokan golok setan melewati bukit, tempat dimana dulu ia pernah membantai pedagang yang mempunyai anak buta.
Suto Abang langsung teringat peristiwa dimana ia telah kehilangan sebagian telinga kiri, setelah menghitung kejadian serta ciri dari matanya, Suto Abang ragu untuk pergi ke dusun Randu alas, kemudian menyuruh anak muridnya untuk kembali ke padepokan, dan untuk sementara waktu murid padepokan golok setan di larang keluar.
Suto abang terus mengeram diri dalam kamar, ia sangat takut akan balas dendam dari pemuda buta itu, terlebih lagi jika teringat kakek bengis berwajah hitam yang telah menolong si bocah, setelah mempertimbangkan masalahnya, Suto abang pergi ke tempat kakak seperguruannya di gunung Wilis untuk minta bantuan, jikalau pemuda buta itu datang bersama si kakek untuk membalas dendam.
Itu sebabnya Aria menunggu di desa Randu Alas, tetapi tidak ada pergerakan dari padepokan golok setan.
***
Pagi menjelang siang, Aria dengan menggembol sebuah buntelan berisi pakaian dan makanan yang di siapkan oleh Kemuning, Aria berangkat meninggalkan desa Randu alas.
Ki Demang Surya tadinya ragu memberi tahu jalan pintas melalui hutan belantara di kaki gunung Lawu, tetapi setelah di paksa oleh Aria bahwa tempat apapun yang ia lewati adalah sama, akhirnya Ki Demang surya memberitahu letak hutan yang ada di sebelah barat.
Ki Demang surya sebenarnya tidak mau memberitahu jalan tembus melewati hutan Kali mati, karena hutan itu terkenal angker dan sering terdengar suara-suara menakutkan dari dalam hutan kali mati, sehingga hanya sebagian orang saja yang berani melewatinya
“Apa ini yang di sebut hutan kali mati? Tanya Aria dalam hati, ketika langkahnya agak tertahan oleh banyaknya semak belukar.
Aria berjalan agak lambat, karena situasi tanah di dalam hutan banyak semak berduri.
Hmm!
“Menyesal aku tidak lewat jalan raya,” batin Aria setelah tahu jalan yang ia lewati sangat sukar dan penuh rintangan.
Aria teringat akan perkataan Suro keling, bahwa bukan hanya mahluk kasat mata saja yang hidup di dunia ini.
“Rupanya aku sedang di awasi oleh penghuni hutan ini,” batin Aria sambil terus melangkah.
Semakin masuk kedalam hutan, tiba-tiba telinga Aria mendengar suara samar yang bergaung.
“Suara apa itu? Batin Aria, sambil terus menyusuri jalan menuju arah suara.
Langkah Aria berhenti di depan sebuah goa.
“Rupanya suara itu berasal dari dalam goa ini,” batin Aria.
Perlahan tongkat Aria memukul pinggiran goa, untuk memastikan goa itu bisa di masuki atau tidak.
Setelah memastikan bahwa goa di depannya cukup besar dan bisa di masuki, perlahan di bantu tongkatnya, Aria mulai memasuki goa.
__ADS_1
Semakin dalam Aria memasuki goa, semakin kencang suara yang terdengar.
Aria tercekat setelah mendengar suara itu seperti suara harimau mengaum serta desis suara ular.
“Celaka! Ada binatang buas sedang berkelahi, batin Aria.
Aria yang tidak dapat melihat, tidak tahu bahwa di depannya terdapat ruangan cukup besar, dan di ruangan itu tengah bertempur se ekor Harimau berwarna hitam dengan belang merah menghiasi tubuh sang harimau.
Sementara musuh harimau itu adalah se ekor ular yang memakai mahkota di kepalanya.
Keduanya berhenti bertempur, setelah mengetahui di dekat mereka ada manusia.
Tiba-tiba si harimau berubah wujud menjadi seorang pria dengan pakaian mewah berwarna merah, sedangkan si ular berubah menjadi seorang wanita berparas cantik mengenakan kebaya hijau, di kepala wanita itu di hiasi oleh mahkota bertabur Intan permata.
Mata pria yang baru saja berubah wujud menatap Aria dengan sorot mata menakutkan.
“Siapa sampeyan? Untuk apa datang ke hutan kali mati? Tanya pria itu dengan nada dingin.
Aria terkejut mendengar suara itu, karena suara yang bertanya, seperti di ucapkan dari tempat jauh, atau dari dalam jurang yang sangat dalam, tidak seperti suara manusia pada umumnya yang biasa ia dengar.
“Tadi aku mendengar suara binatang! Kenapa sekarang ada suara manusia? Ucap Aria tanpa membalas perkataan orang yang bertanya.
Pria berwajah seram, karena raut wajahnya di penuhi bulu mirip seperti Harimau, langsung meraung.
Saat pertanyaannya tidak di gubris oleh Aria.
“Mendengar suara raungan mirip Harimau, Aria kerutkan kening.
“Aneh! Tadi ada suara orang bicara, sekarang suara raungan Harimau, apa di dalam goa ini ada orang yang memelihara Harimau? Batin Aria.
Keanehan yang terjadi di dalam goa bukan saja di rasakan oleh Aria, tetapi wanita yang memakai mahkota juga tampak heran, sambil melihat ke arah Aria.
“Siapa manusia ini? Apa dia tidak takut terhadap kami berdua? Batin wanita itu.
Aria tidak tahu, bahwa yang berada di depannya adalah sebangsa mahluk tak kasat mata yang pernah di singgung oleh Suro keling.
Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, setelah Aria menyadari tidak ada tarikan napas dari mereka yang berada di dalam goa.
Aria mulai waspada dan mempertajam pendengaran serta penciumannya, untuk mengantisipasi bila dirinya di serang.
__ADS_1
Setelah menenangkan diri, Aria kemudian berkata kepada mereka yang berada di dalam goa.
“Siapa kalian?