
Ada dua hal yang menjadi pertimbangan kenapa Aria tidak membantu Buto Ijo.
Hal pertama adalah Aria tidak ingin tenaga dan pemikiran yang sudah ia dan anak buahnya keluarkan tidak sia-sia, akibat kecerobohan Buto Ijo.
Hal kedua dan yang paling penting, Aria melihat aura tenaga dalam orang yang bertempur, baik dari pihak Jati Wilis maupun Mata elang belum mampu untuk membahayakan Buto Ijo.
Jati Wilis kembali ke kediamannya begitu pula dengan Aria dan rombongannya, karena nanti siang mereka akan melaksanakan langkah selanjutnya yang sudah mereka rencanakan.
Sedangkan Selamet terus berusaha menyakinkan pedagang, untuk berani meminta kembali barang mereka yang sudah di rampok dan kini berada di dalam gudang utara.
Salah seorang pedagang berkata setelah mendengar ucapan Selamet.
“Apa Jati Wilis tidak akan membunuh kita semua, jika kita minta kembali barang kita yang sudah di rampok oleh Mata elang? Tanya seorang pedagang yang bernama Rangkuti.
“Kita hanya menanyakan, kita juga menanyakannya mengajak para penduduk kota, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan,” jawab Selamet.
“Kalian bukan saja di rampok tetapi kalian hendak di usir dari Keta dan di gantikan oleh para pedagang anak buah Jati Wilis,” lanjut perkataan Selamet.
Rangkuti kerutkan keningnya mendengar perkataan Selamet.
“Darimana kisanak tahu hal ini? Tanya Rangkuti.
“Memangnya kau tidak tahu? Selamet balik bertanya sambil menatap wajah Rangkuti.
“Aku….aku pernah dengar berita itu, tetapi aku tidak menanggapinya,” balas Rangkuti dengan nada gugup.
“Kalau kau sudah dengar, kenapa kau tidak memberitahu kawan pedagang? Tanya Selamet sambil menatap tajam ke arah Rangkuti.
“Semua pedagang sudah tahu hal ini, kenapa aku harus memberitahu,” jawab Rangkuti.
Suara riuh para pedagang terdengar, saat mendengar perkataan Rangkuti, mereka berkata bahwa mereka baru mendengar akan niat Jati Wilis yang akan mengganti para pedagang di Kota Keta.
Selamet menatap tajam ke arah Rangkuti, saat mendengar suara para pedagang.
“Jadi kau dengar informasi ini, sedangkan sebagian besar tidak mendengar.
“Aku jadi penasaran! Kau dengar informasi penting ini darimana? Tanya Selamet,
utusan Jagad Buwana itu mulai curiga terhadap Rangkuti.
Selamet jadi teringat cerita Si Beurit tentang Pancamuka, orang padepokan Elang emas yang pandai menyamar
“Aku….aku dengar dari obrolan para penduduk di kedai tuak,” Jawab Rangkuti.
“Bohong! Seru Selamet.
“Siapa kau sebenarnya? Karena rata-rata pedagang yang aku tanya belum tahu bahwa jiwa mereka terancam oleh Tumenggung Jati Wilis.
Rangkuti balas melotot dan menunjuk Selamet.
“Aku adalah pedagang anak buah Raden Kusumo, tentu saja aku tahu.
“Tetapi kau! Aku baru kali ini melihatmu di kota Keta, apa kau pedagang? Lalu apa maksudmu dengan menghasut para pedagang, agar kami melawan Tumenggung Jati Wilis? Rangkuti balik mencecar Selamet dengan pertanyaan yang berusaha untuk menyudutkan Selamet di depan para pedagang.
“Hampir semua pedagang disini adalah anak buah Raden Kusumo, tetapi mereka tidak tahu informasi ini, kenapa hanya kau seorang yang tahu? Selamet balik bertanya.
Para pedagang mulai bingung mendengar perkataan antara keduanya, mereka silih berganti menatap Rangkuti dan Selamet bergantian
Yang satu mereka kenal, sedangkan satunya lagi yang telah memberitahu mereka tentang informasi gudang utara.
“Coba kalian dengar! Seru Rangkuti.
__ADS_1
“Dia bilang tidak ada yang tahu tentang informasi ini dan hanya aku yang tahu, sekarang kawan pedagang dengarkan baik-baik! Informasi gudang utara pindah ke markas Padepokan Elang emas di wilayah barat, siapa yang tahu selain dia,” Rangkuti berkata sambil menunjuk ke arah Selamet.
Selamet menatap tajam saat dirinya di tunjuk oleh Rangkuti, kemudian membalas perkataannya.
“Pedagang yang berada di sini adalah korban perampokan, mereka pasti ingin menanyakan barang mereka yang hilang, tetapi kau malah berusaha menghalangi mereka, aku jadi curiga padamu, apa benar kau Rangkuti? Tanya Selamet.
Phuih!
“Memangnya kau pikir aku siapa kalau bukan Rangkuti?
Mata Rangkuti tampak liar dan menatap tajam, tetapi kulit wajahnya biasa saja, tidak tampak perubahan seperti orang marah.
Selamet tersenyum sinis, lalu berkata.
“Kau bukan Rangkuti, tetapi Pancamuka.
“Orang dari padepokan Elang emas yang pandai menyamar, kemudian memberikan informasi kepada Mata elang, agar bisa merampok para pedagang yang berada di bawah naungan Raden Kusumo.
Rangkuti mundur satu langkah sambil mengoyangkan tangannya setelah mendengar perkataan Selamet.
“Tidak….aku adalah Rangkuti, aku tidak tahu siapa Pancamuka.”
Perlahan tubuh Selamet berubah menjadi asap tipis.
Para pedagang terkejut melihat Selamet yang baru mereka kenal bisa menghilang.
Rangkuti terkejut, kemudian lompat menjauh sambil terus menatap sekeliling sambil matanya mencari Selamet.
Bret….aaarrrgggghhh!
Jeritan panjang terdengar setelah Selamet dari samping menarik kulit wajah Rangkuti.
Raut wajah para pedagang berubah setelah melihat sebagian wajah Rangkuti robek dan terlihat wajah lain dari kulit yang berhasil di robek oleh Selamet.
Whut!
Tubuh Selamet menghilang dengan ajian Halimun, setelah muncul di samping Pancamuka, telapak Selamet menghantam.
Plak!
Pancamuka terpental sambil muntahkan darah segar.
Pancamuka bangkit, kemudian tubuhnya melesat hendak melarikan diri, tetapi kembali Selamet sudah berada di depannya.
Buk!
Tinju Selamet menghantam dada Pancamuka.
Pancamuka langsung jatuh tersungkur, salah seorang pedagang yang gemas karena istri dan anaknya tewas setelah dagangan mereka di rampok, langsung memburu ke arah Pancamuka, lalu pisau kecil yang selalu ia bawa, langsung di tancapkan ke perut Pancamuka.
“Mampus kau! Teriak pedagang itu sambil menusukan pisaunya.
Crep….aaaarrrgghh!
Jeritan panjang terdengar dari mulut Pancamuka, para pedagang yang kesal langsung memukuli Pancamuka saat tengah sekarat.
Pancamuka tewas dengan tubuh babak belur dan pisau yang menancap di perutnya.
Pedagang yang menusuk Pancamuka kemudian berkata.
“Biarpun aku tidak kenal tetapi aku percaya kepada kisanak, anak serta istriku akhirnya bisa tersenyum diatas sana karena dendam mereka terbalaskan.
__ADS_1
Mendengar perkataan pedagang itu, para pedagang langsung teriak sambil mengepalkan tangan ke udara.
“Kami juga percaya….kami percaya!
Selamet tersenyum setelah mendapat kepercayaan dari para pedagang.
“Mari kita ke tempat Tumenggung Jati Wilis untuk meminta keadilan,” ucap Selamet.
Setelah para pedagang mengatakan setuju.
Selamet langsung memimpin para pedagang menuju kediaman Tumenggung Jati Wilis.
Rombongan yang di pimpin oleh Selamet semakin lama semakin banyak, karena para penduduk kota yang melihat puluhan pedagang, mengikuti mereka dari belakang.
Alun-alun kota Keta penuh dengan ratusan penduduk dan pedagang, mereka teriak-teriak memanggil Tumenggung Jati Wilis untuk keluar dari kediamannya.
Gerbang besar kediaman Tumenggung terbuka, ratusan prajurit keluar dan mulai berbaris di depan gerbang kediaman sang Tumenggung.
Tak lama kemudian, barisan prajurit terbuka, Tumenggung Jati Wilis di kawal oleh pengawal pribadinya melangkah, kemudian berdiri di depan ratusan prajurit, sambil menatap ke arah para pedagang.
“Mau apa kalian? Tanya Tumenggung Jati Wilis dengan nada dingin.
“Kami minta keadilan, Tumenggung! Seru Selamet tang mewakili para pedagang.
“Keadilan! Keadilan apa yang kau maksudkan? Tanya Tumenggung Jati Wilis sambil menatap tajam.
“Gudang utara sudah di temukan, kami ingin barang kami yang di rampok oleh Mata elang di kembalikan,” ucap Selamet.
Aria dari jauh anggukan kepala mendengar perkataan Selamet.
“Apa Buto Ijo sudah kembali? Tanya Aria.
“Sebentar lagi pasti kembali, setelah menghabisi Mata elang,” jawab Wangsa.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Wangsa dan kembali mendengarkan Selamet.
“Gudang utara berisi barang-barang milik anak buahku yang di rampok oleh Mata elang,” Tumenggung Jati Wilis membalas perkataan Selamet.
“Tumenggung bohong! Mana ada orang yang berani merampok anak buah Tumenggung, kami juga mendengar kabar Tumenggung bersekutu dengan Padepokan Elang emas,” pedagang yang menusuk perut Pancamuka ikut bicara.
“Tutup mulutmu!? Teriak Tumenggung Jati Wilis mendengar perkataan si pedagang.
“Kalau aku bersekutu dengan padepokan Elang emas, kenapa aku membunuh mereka semua? Tanya Tumenggung Jati Wilis dengan nada dingin.
“Karena kau berpikir padepokan Elang emas telah mengambil kembali barang yang sudah kau beli, jadi kau membantai mereka semua, apa benar tebakanku? Tanya Selamet sambil menatap Tumenggung Jati Wilis.
Hmm!
“Rupanya kalian sudah bodan hidup berani memfitnah pejabat kerajaan,” Tumenggung Jati Wilis berkata dengan nada dingin sambil matanya menatap tajam ke arah Selamet dan para pedagang.
Tumenggung Jati Wilis angkat tangannya siap memerintahkan prajurit Kota Keta untuk menyerang.
Tetapi tangannya tak bergerak, dan mulutnya tidak berkata untuk memberi perintah, saat mendengar suara derap puluhan kaki kuda datang mendekat.
Selamet tersenyum lebar setelah puluhan kuda mendekat dan salah satu penunggang kuda yang berada di depan adalah Raden Kusumo.
Raut wajah Tumenggung Jati Wilis berubah pucat, setelah melihat siapa yang datang.
Tumenggung Jati Wilis tidak menganggap Raden Kusumo, tetapi saat melihat penunggang berkuda di sebelah Raden Kusumo yang membuat gentar Tumenggung Jati Wilis.
Bibir Tumenggung Jati Wilis bergerak menyebut nama penunggang kuda di sebelah Raden Kusumo.
__ADS_1
“Patih Argobumi”