Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 70 : Mendapat 2 Pelayan


__ADS_3

“Apa….apa kau yang sudah membunuh Kawilarang? Tanya Andira dengan mimik muka tak percaya.


“Kau lihat aku bergerak? Aria balik bertanya.


Andira gelengkan kepala, begitupula dengan Andini.


“Kalian bantu kawan kalian, basmi para perampok,” Aria berkata kepada sepasang pedang Kemala hijau.


Sebagian perampok sudah tewas oleh Wangsa, resi berwajah mirip Singa bertempur melawan musuh yang banyak, Wangsa bertempur layaknya se ekor macan, tangan sudah seperti kaki depan se ekor binatang, Wangsa lompat menerkam dan terkadang mencabik-cabik tubuh musuhnya.


Keluarga Kemala yang ikut bertempur bergidig melihat Wangsa, rambut yang tumbuh dikepala dan di wajah Wangsa sudah berubah merah, darah korban para perampok yang sudah ia bunuh.


Seorang perampok yang ketakutan, berusaha lari, tetapi Wangsa lompat, kedua kakinya setelah menjejak batang pohon, tubuhnya melesat dengan Kedua tangan menyambar punggung si perampok.


Bret!


Dengan dua kali cakaran, tubuh si perampok langsung tersungkur, dengan punggung robek.


Semakin lama, para perampok sadar bahwa mereka menyerang tempat yang salah, apalagi setelah Buto Ijo datang membantu, satu persatu para perampok yang tidak sempat melarikan diri, tulang leher atau dada mereka di pastikan remuk oleh hantaman Buto Ijo.


Sepasang pedang Kemala tidak mau ketinggalan setelah di suruh Aria untuk membantu.


Tidak menunggu waktu lama, hampir semua rampok berhasil di bunuh, mayat-mayat para perampok berserakan.


Pranaya menyuruh anggota keluarga dan para penduduk yang mulai berdatangan, setelah para perampok tewas, untuk menggali lobang besar, memakamkan anggota keluarga yang tewas dan sebagian membakar mayat para perampok.


“Siapa yang membunuh si juling itu? Tanya Wangsa, saat melihat Kawilarang dengan dada bolong, tengah di seret oleh salah seorang anggota keluarga Kemala.


“Kalian berdua? Kembali Wangsa bertanya setelah tidak mendengar ada yang menjawab pertanyaannya.


Andini dan Andira gelengkan kepala, tapi keduanya langsung menoleh ke arah Aria, kemudian mata kedua gadis itu melirik ke arah ujung tongkat Aria yang masih berlumuran darah.


Wangsa hanya melirik ke arah tongkat Aria, kemudian diam tidak membahas lagi.


“Kakak pertama! Kau tahu siapa yang membunuh Kawilarang? Tanya Andini, lalu melirik ke arah Aria, sedangkan Andira ikut mendengarkan sang bibi, ia juga penasaran siapa yang sudah membunuh Kawilarang.


“Kawilarang kan berhadapan dengan kalian, memangnya kalian tidak melihat siapa yang membunuh Kawilarang? Wangsa balik bertanya.


“Kami hanya melihat ujung tongkat menembus dada Kawilarang, tetapi kami tidak lihat siapa yang sudah menusuk Kawilarang,” jawab Andini.


Andira yang berdiri dekat sang ayah, mencolek lengan ayahnya dan berbisik, “lihat ujung tongkat si buta.”


Raut wajah Pranaya terkejut tetapi akhirnya ia gelengkan kepala, mungkin eyang Naga hijau yang sudah membantu kita, membunuh Kawilarang,” Pranaya berkata berusaha menghapus keraguan di kepala Andini serta Andira yang ia tahu kedua gadis itu curiga, bahwa Aria yang sudah membunuh Kawilarang.


Pranaya mempersilahkan Wangsa, Buto Ijo serta Aria masuk ke rumahnya, sementara anggota keluarga yang lain dan para penduduk, membersihkan mayat para perampok.


Pranaya memberi hormat kepada Wangsa dan Buto Ijo, kini pandangan Pranaya terhadap mereka bertiga langsung berubah, apalagi setelah melihat kepandaian Wangsa, serta Buto Ijo yang merupakan anak dari Eyang Naga hijau, penunggu gunung Kelud.


“Terima kasih atas pertolongan tuan pendekar, entah dengan apa kami bisa membalas kebaikan tuan sekalian,” ucap Pranaya setelah memberi hormat.


“Kau tidak perlu memberikan apa-apa lagi, karena yang kau berikan kepada kami sudah lebih dari cukup,” Wangsa membalas perkataan Pranaya.

__ADS_1


Kerut tampak di kening Pranaya, lelaki paruh baya itu bingung mendengar perkataan Wangsa, sebab ia merasa belum memberikan apapun kepada mereka bertiga.


“Apa maksud Resi? Sebab aku belum memberikan apapun kepada kalian,” balas Pranaya dengan wajah bingung.


“Kau sudah memberikan kedua gadis ini untuk melayani kami,” ucap Wangsa.


Pranaya serta Andini diam, saat Andira hendak menjawab tetapi melihat lirikan Buto Ijo, gadis itu tidak berani bicara, di keningnya masih tampak bulatan menjendol akibat sentilan jari Buto Ijo, dan beberapa kali nyawanya hampir melayang oleh raksasa itu.


“Kenapa diam! Kau keberatan mereka menjadi pelayan kami? Tanya Wangsa.


“Hilang satu anak saja seperti mau mati, tinggal bikin lagi,” kali Ini Buto Ijo ikut bicara.


“Kau pikir bikin anak seperti bikin makanan, langsung jadi.” Wangsa berkata ketika mendengar perkataan Buto Ijo.


“Apa susahnya bikin anak, tinggal goyang jadi,” balas Buto Ijo.


“Memangnya kau pernah bikin anak? Tanya Wangsa.


“Kata orang,” jawab Buto Ijo.


Phuih!


“Jangan percaya omongan orang, kalau kau belum lihat sendiri,” kembali Wangsa berkata.


“Baik! Kau yang bikin anak, aku mau lihat bagaimana caranya,” ucap Buto Ijo.


“Aku resi, tolol! Seorang resi tidak mementingkan wanita, tetapi ketenangan diri,” balas Wangsa dengan hati kesal mendengar perkataan Buto Ijo.


Phuih!


“Bangsat! Kau bilang apa? Tanya Wangsa sambil berdiri dan jarinya menunjuk ke arah Buto Ijo.


Melihat Wangsa menunjuk ke arah wajahnya, amarah Buto Ijo mulai tersulut.


Brak!


Meja bergetar di gebrak Buto Ijo, kemudian Buto Ijo berdiri dan balik menunjuk ke arah Wangsa


“Jangan tunjuk-tunjuk aku! Ku pecahkan nanti batok kepalamu,” balas Buto Ijo, kini keduanya sudah berdiri berhadapan dengan raut wajah sama-sama geram.


Raut wajah Pranaya, Andini serta Andira, tampak pucat, mereka takut Wangsa dan Buto Ijo bertempur di dalam ruangan.


Hmm!


Suara dengusan dan ujung tongkat yang mengetuk lantai terdengar.


Buto Ijo sambil melotot duduk kembali setelah mendengar dengusan Aria, begitupula dengan Wangsa.


Andini serta Andira menoleh ke arah Aria, “siapa dia ? Kenapa setiap kakak ketiga bicara, kakak pertama dan kedua selalu saja menuruti perkataannya,” Andini berkata dalam hati, apalagi ketika teringat, saat keponakannya hendak di hantam oleh Buto Ijo, suara Aria yang telah menghentikan Buto Ijo.


Wangsa setelah duduk, kembali menatap Pranaya.

__ADS_1


“Kau belum menjawab pertanyaanku,” ucap Wangsa.


Pranaya menatap Andini serta Andira sebelum bicara.


“Keluarga Kemala kini hanya mengandalkan adik dan putriku, karena mereka berdua yang kepandaiannya paling tinggi, jika mereka berdua ikut dengan kalian.


“Siapa yang akan melindungi kami, jika ada perampok menyerang penduduk di sekitar lereng gunung Kelud? Ucap Pranaya.


“Itu urusanmu, bukan urusanku,” jawab Wangsa.


“Ayahku berjanji akan melindungi kalian, dia menyuruh anggota Kemala yang mempunyai bakat datang ke telaga Kelud untuk di didik oleh ayahku, untuk kepentingan keluarga Kemala, karena tidak setiap hari ayahku bisa keluar dari tempat pertapaannya,” Buto Ijo ikut bicara.


Raut wajah Pranaya langsung berubah gembira mendengar perkataan Buto Ijo.


“Kakak! Mungkin ini sudah takdirku untuk ikut bersama kakak ketiga serta yang lain.


Aku bersedia menjadi pelayan dan ikut bersama mereka.


“Jika kakak ketiga berkenan, jangan paksa Andira untuk ikut,” Andini berkata.


Aria hendak menjawab, tetapi Andira terlebih dahulu bicara.


“Tidak! Aku ikut bersama bibi,” balas Andira.


Pranaya menarik napas dalam-dalam mendengar perkataan sang putri.


“Jika jadi pelayan, jaga mulutmu! Seru Buto Ijo.


Andira diam. tetapi kepalanya mengangguk, mendengar perkataan.


“Kalian berdua hati-hati dalam perjalanan, selalu ikuti perintah dari Resi dan kedua kisanak ini,” Pranaya berkata setelah mendengar putrinya ikut bersama dengan rombongan Aria.


“Kalau kami boleh tahu, resi hendak pergi kemana? Tanya Pranaya.


“Kami akan ke gunung Semeru, bertemu seseorang,” jawab Wangsa.


“Gunung Semeru! Cukup jauh perjalanan ke gunung Semeru,” balas Pranaya.


“Hanya ke gunung Semeru? Tanya Pranaya merasa penasaran.


Wangsa tidak menjawab, sang resi malah menatap ke arah Aria, “apa adik ketiga ada tujuan lain, sebelum ke gunung Semeru? Tanya Wangsa.


“Sebelum ke gunung Semeru, kita akan singgah di Tumapel,” jawab Aria.


Semua mata yang ada di ruangan memandang ke arah Aria mendengar jawaban pemuda itu.


“Untuk apa kisanak ke Tumapel? Tanya Pranaya.


Suara dingin keluar dari balik caping, menjawab pertanyaan Pranaya.


“Menghabisi Tumenggung Wirayuda”

__ADS_1


__ADS_2