Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 54 : Ancaman Di Tempat Pertemuan


__ADS_3

“Aku terima tantanganmu,” ucap Aria sambil balas menatap panglima Sanjaya.


“Buto Ijo! Jika ada yang menghalangi kepergian kita, bunuh! Lanjut perkataan Aria.


“Baik Raden,” jawab Buto Ijo.


Buto Ijo lalu melangkah di ikuti oleh Aria meninggalkan kampung di sisi hutan yang di jadikan tempat pertemuan, menuju arah Alun alun kota.


“Panglima….panglima tidak apa-apa? Tanya Singalodra.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Sanjaya.


“Maaf Senopati pertemuan hari ini kita sudahi dulu, nanti kita bertemu lagi di lain hari.”


“Baik panglima Sanjaya, aku mengerti, aku juga tidak menyangka di kerajaan Kadiri ada pendekar tangguh,” balas Senopati Singalodra sambil tersenyum pahit melihat 2 orang yang ia andalkan masih tak sadarkan diri.


Panglima Sanjaya bersama Sekar Arum, naik kereta kuda, kemudian kereta melesat meninggalkan perkampungan, menuju alun-alun kota.


“Ayah kenapa ayah menantang dia di arena sayembara? Tanya Sekar Arum.


“Kalau aku tidak berkata seperti itu, apa kau pikir, kau masih bisa bernapas sekarang? Tanya Sanjaya.


“Pemuda itu sangat tenang walau di tengah kepungan musuh, itu sudah suatu tanda bahwa orang itu punya kemampuan,” lanjut perkataan Sanjaya.


“Dia buta, tetapi kemana saja aku pergi, dia tahu dan terus mengejarku,” balas Sekar Arum.


“Aku juga tak mengerti kenapa bisa seperti itu,” jawab Sanjaya sambil menarik napas panjang.


“Di Galuh kecepatanmu memang tidak ada yang menandingi, sehingga kau mendapat julukan Walet terbang, tetapi menghadapi ilmu menghilang yang dia miliki, ilmu mu tidak ada apa-apanya,” Lanjut perkataan Sanjaya, memberi peringatan kepada putrinya agar berhati hati dalam bertindak, jika bertempur lagi dengan Aria.


Setelah sampai di rumah Tumenggung Wirabumi, Aria sudah di tunggu.


“Raden! Prabu Samarawijaya ingin bertemu dengan Raden malam ini,” ucap Tumenggung Wirabumi.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Tumenggung Wirabumi.


Aria istirahat dan tak mau di ganggu di dalam kamarnya sambil menunggu waktu pertemuan dengan Prabu Samarawijaya.


“Raden tidak apa-apa? Tanya Nyi Selasih saat Aria sudah berada di dalam kamar, wajah perempuan itu tampak cemas sambil meraba-raba tubuh Aria, mencari luka di tubuh suaminya itu.


“Kau tenang saja! Aku tidak apa-apa, tetapi yang aku heran panglima Sanjaya bisa menahan Aji Cakra candhikalla milikku,” balas Aria.


“Tanah Pasundan memang terkenal dengan ilmu kanuragannya, tetapi Raden jangan khawatir menurut penglihatan ku, Aji Cakra candhikalla masih setingkat diatas ilmu panglima Sanjaya.


“Jika kekuatan Selasih belum bergabung, mungkin Raden tidak akan kuat menahan ajian yang di pakai menahan Cakra candhikalla, biar hebat ilmu yang di miliki, jika si pemilik tidak mempunyai tenaga dalam yang mempuni, tetap saja ajian itu tidak berguna menghadapi musuh yang memiliki tenaga dalam tinggi,” Nyi Selasih berkata.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan istrinya, kemudian memeluk Nyi Selasih.


“Terima kasih istriku, karena kekuatanmu, aku masih bisa hidup,” balas Aria.


“Tugas seorang istri adalah berkorban untuk suaminya, jadi Raden tidak usah berkata seperti itu,” ucap Nyi Selasih.


“Aku ingin seperti waktu kita habis menikah! Ucap Aria.


“Ih, genit,” balas Nyi selasih, “baru mencoba sekali, mau lagi,” lanjut perkataan Nyi Selasih, rona wajahnya berubah merah setelah berkata.


“Nanti sehabis pertemuan dengan Prabu Samarawijaya, Selasih akan melayani Raden, sekarang lebih baik Raden istirahat, untuk memulihkan tenaga.”


Aria anggukan kepala mendengar perkataan sang istri, setelah mencium kening istrinya, Aria rebahan di tempat tidur, untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku sehabis bertempur.


Aria keluar dari kamar setelah mendengar perkataan Wulan, bahwa ia sudah di tunggu oleh Tumenggung Wirabumi dan Resi Sarpa kencana.


Tumenggung Wirabumi, Aria serta resi Sarpa kencana naik ke kereta kuda yang sudah berada di depan rumah Tumenggung Wirabumi.

__ADS_1


Kereta melaju ke arah pusat kota, di iringi Buto Ijo yang berlari di belakang kereta.


Setelah sampai, Tumenggung Wirabumi dan rombongan di persilahkan masuk.


Sedangkan Buto Ijo di suruh Aria untuk menunggu di luar.


Mereka lalu duduk sambil makan dan minum yang telah di sediakan, sambil menunggu kedatangan Prabu Samarawijaya.


Tak lama kemudian, Prabu Samarawijaya masuk ke ruangan bersama dengan rombongan beberapa orang, Rombongan yang masuk bersama sang Prabu terus menatap ke arah Aria yang duduk di tengah, antara tumenggung Wirabumi dan resi Sarpa kencana.


Setelah duduk dan berbasa-basi sebentar, baru Prabu Samarawijaya, angkat Bicara.


“Saudara-saudara sekalian, Sayembara yang diadakan oleh kerajaan Kadiri ternyata di sambut hangat oleh, para pendekar dan kerajaan tetangga, aku juga tidak menyangka bahwa sayembara yang kita adakan ternyata menarik banyak minat kawan-kawan pendekar untuk unjuk kebolehan.


Dua sahabat terdekat kita sudah hadir ingin menyaksikan sayembara.


“Adikku Adimas Mapanji Garasakan mengirimkan seorang utusan, Senopati Singalodra, sedangkan kerajaan Galuh mengirimkan utusan, panglima Sanjaya yang sangat terkenal akan kebranian serta kesaktiannya,” ucap Prabu Samarawijaya.


Raut wajah Aria berubah mendengar perkataan Prabu Samarawijaya, kemudian Aria berbisik kepada tumenggung Wirabumi.


“Tumenggung, apa kedua utusan yang di sebut sang Prabu ikut hadir? Tanya Aria.


“Benar Raden! keduanya ada di kursi kehormatan,” ucap Tumenggung Wirabumi.


Hmm!


Panglima Sanjaya menatap Aria yang tengah berbisik-bisik dengan tumenggung Wirabumi, sementara itu, Sekar Arum terus menatap ke arah Aria yang kali ini tidak memakai caping.


Baru sekarang Sekar Arum melihat jelas Aria Pilong, dan Sekar Arum dalam hati memuji ketampanan Aria, apalagi jika menatap mata pemuda itu yang berwarna ke emasan, hatinya langsung bergetar.


Panglima Sanjaya bertanya kepada Prabu Samarawijaya.


“Yang Mulia Prabu, siapa pemuda yang berada di sisi Tumenggung Wirabumi? Tanya panglima Sanjaya.


Panglima Sanjaya anggukan kepala mendengar perkataan Prabu Samarawijaya.


“Berarti benar apa yang dikatakan oleh Aria kepadaku,” panglima Sanjaya berkata dalam hati.


Rasa simpati mulai muncul di hati sang panglima, karena Aria sudah berkata jujur kepadanya.


Senopati Singalodra tersenyum, tiba-tiba ia mendapat akal untuk memojokkan Aria di depan orang yang hadir.


“Baginda Prabu! Kami semua disini adalah orang kerajaan, kenapa bisa ada seorang pendekar di tempat ini?


Apa orang itu tamu sang Prabu? Tanya Singalodra.


“Bukan! Dia adalah Tamu Tumenggung Wirabumi,” jawab Prabu Samarawijaya.


“Jadi kenapa dia ada di sini? Tanya Senopati Singalodra.


“Senopati Singalodra apa maksudmu? Tanya panglima Sanjaya.


“Panglima tidak sudah khawatir, aku hanya bertanya kepada Prabu Samarawijaya.


“Aku pernah mengutarakan maksudku untuk mengambil tuan Aria menjadi pembantuku, tetapi tua Aria menolak,” ucap Prabu Samarawijaya.


“Kalau dia sudah menolak Prabu Samarawijaya, lantas kenapa dia bisa berada di sini? Ucapan Senopati Singalodra mulai memojokkan Aria.


Semua orang diam mendengar perkataan Senopati Singalodra.


“Aku berada di sini karena di undang oleh Prabu Samarawijaya,” ucap Aria.


“Maaf! Aku tidak mengundang saudara Aria,” Prabu Samarawijaya berkata.

__ADS_1


Tumenggung Wirabumi mendengar perkataan Prabu Samarawijaya, hatinya merasa tidak enak, karena dia yang mengajak Aria mengatasnamakan Prabu Samarawijaya.


“Maaf kelancangan hamba Baginda, Hamba yang mengajak Raden Aria, mengatasnamakan Prabu Samarawijaya,” Tumenggung Wirabumi berkata.


Aria langsung menoleh ke arah Tumenggung Wirabumi, dari raut wajah Aria tampak kecewa mendengar perkataan Tumenggung Wirabumi.


Setelah Tumenggung Wirabumi berkata, suara-suara sumbang mulai terdengar.


Aria mendengar suara sumbang tentang ia dan rombongannya, akhirnya dengan raut wajah kelam Aria berkata.


“Kami hanya berniat membantu, jika kehadiran kami tidak di harapkan, tidak jadi masalah dan kami akan pergi dan tidak akan mencampuri urusan sayembara serta kerajaan Kadiri.


“Kami juga tidak mau membantu Raja yang hanya ingin di hormat tetapi tidak mau menghormati orang.”


Prabu Samarawijaya langsung berdiri dan menunjuk ke arah Aria dengan nada gusar.


“Kau menghina aku,” ucap Prabu Samarawijaya dengan raut wajah gusar.


“Jika aku menghina, kau mau apa? Balas Aria dengan nada dingin.


“Dasar penipu! mengaku sebagai raja dan tidak mau tunduk kepadaku, tangkap dia dan hukum mati,” teriak Prabu Samarawijaya dengan nada geram.


Setelah memberi perintah, Prabu Samarawijaya duduk kembali.


“Baginda Raja! Apa maksudnya dia adalah seorang raja? Tanya Panglima Sanjaya.


“Menurut anak buahnya, dia adalah Raja lelembut bangsa siluman ular penguasa gunung Lawu


Raut wajah panglima Sanjaya berubah, begitupula dengan Senopati Singalodra yang terkejut, setelah mendengar keterangan Prabu Samarawijaya.


Panglima pengawal Raja yang memang dari awal tidak suka terhadap Buto Ijo, langsung melesat ke arah Aria.


Tetapi Aria sudah menghilang dari tempat ia duduk.


Tak lama kemudian terdengar suara Aria tanpa wujud.


“Resi Sarpa kencana, lebih baik kau tinggalkan Raja yang tidak tahu cara menghormati orang.


“Tadi siang aku bertempur dengan orang-orang dari Kahuripan yang di pimpin oleh Senopati Singalodra, mereka menyerangku, karena aku mengetahui rencana mereka yang hendak mengacaukan sayembara dan menyerang kerajaan Kadiri.


Setelah Aria berkata, suasana di tempat pertemuan langsung hening, semua mata kini tertuju kepada Senopati Singalodra.


“Bohong….kami tadi siang memang bertempur, tetapi semua yang dia katakan bohong,” ucap Senopati Singalodra, setelah Prabu Samarawijaya menatap tajam ke arahnya.


Tiba-tiba panglima Sanjaya berdiri, lalu memberi hormat dan berkata.


“Prabu Samarawijaya! kami mohon undur diri, terima kasih atas undangan serta jamuan dari Baginda Prabu,” ucap Panglima Sanjaya.


“Kenapa terburu-buru panglima? Tanya Prabu Samarawijaya.


“Kami ingin mengejar tuan Aria, kami dari Galuh hendak mengajak tuan Aria kerjasama, kalau memang benar perkataan baginda bahwa ia adalah raja lelembut bangsa ular.


“Bagi kami dari Galuh, tuan Aria lebih berharga dari 5 Tumenggung dan 10 Senopati.”


Setelah berkata, Panglima Sanjaya langsung meninggalkan pertemuan.


Begitupula dengan Senopati Singalodra yang pamit undur diri, walaupun rencananya telah di bocorkan oleh Aria, tetapi sebagai utusan, Senopati Singalodra tahu Prabu Samarawijaya tidak berani bertindak terhadap seorang utusan, karena itu akan langsung memicu perang.


Setelah kedua utusan pergi, baru Prabu Samarawijaya menyadari kesalahannya.


Sambil melihat ke arah kursi Aria yang kosong, Prabu Samarawijaya menyesali perkataannya terhadap Aria.


Sementara itu, Senopati Singalodra keluar dari ruangan sambil tersenyum lebar, dalam hatinya tertawa karena provokasinya berhasil, dalam hatinya berkata, karena orang yang ia takuti, sekarang tidak mau ikut campur lagi urusan kerajaan Kadiri.

__ADS_1


“Samarawijaya! Kita lihat, apa yang bisa kau perbuat?


__ADS_2