Iblis Buta

Iblis Buta
Siasat Untuk melawan Jati Wilis


__ADS_3

Setelah semua anak buah Tumenggung Jati Wilis Tewas, berikut kepala prajurit yang bernama Narpati.


Rencana Aria tetap berlanjut namun ada sedikit perubahan, hanya Raden untung yang di tunjuk Aria pergi mengawal Rama membawa barang dagangan ke Panarukan, sementara Selamet ikut untuk menyiapkan segala sesuat hal dan Selamet juga bisa di perintah untuk menghubungi kawan yang lain, karena Selamet memiliki aji Halimun yang dapat bergerak dengan cepat.


Sedangkan Ki Sura membawa orang dari Desa Osing untuk kembali, Aria juga mengatakan kepada Ki Sura agar menjaga mulut, tidak mengatakan apa yang terjadi hari ini, karena penyamaran mereka akan terbongkar jika banyak beredar kabar burung tentang Jagad Buwana.


Setelah semua sepakat, tak lupa Ki Surya bersama Warga desa Osing, terlebih dahulu menyembunyikan mayat-mayat prajurit Jati Wilis.


Setelah semua beres, rombongan terpecah dan bergerak ke tiga arah.


Ki Sura menuju Desa Osing, Rama serta Raden Untung ke kota Panarukan mengambil jalan memutar, sedangkan Aria menuju kota Keta


Setelah mendapat gambaran dari Rama, Selamet akhirnya sampai ke kota Keta, kota yang lumayan besar dan ramai penduduknya.


Setelah memesan tempat penginapan, Selamet menunggu kedatangan Aria, Buto Ijo, Buwana Dewi serta Suketi.


Selamet terkejut, saat melihat rombongan orang berambut emas tengah jalan bersama beberapa prajurit kota Panarukan.


Selamet tundukkan kepala, agar tidak di kenali oleh orang-orang dari Padepokan Elang emas.


“Celaka! Mereka malah datang kesini,” batin Selamet sambil memutar tubuh, membelakangi orang dari padepokan Elang emas dan prajurit Jati Wilis.


“Apa benar yang kisanak katakan? Tanya salah seorang prajurit dengan suara pelan.


“Kenapa aku harus berbohong kepadamu? Balas Orang dari padepokan Elang emas.


“Gudang utara sudah penuh oleh barang dagangan Raden Kusumo yang kami rampok,” bisik orang dari padepokan Elang emas.


“Apa ada yang melihat kisanak mengambil barang-barang milik Raden Kusumo? Tanya salah seorang prajurit.


“Aku rasa tidak ada! Walau ada yang melihat, apa yang harus kita takutkan? daerah timur berada di bawah kekuasaan Elang emas,” jawab orang dari padepokan Elang emas.


“Nanti malam Mata Elang hendak bertemu dengan Tumenggung Jati Wilis, mereka akan membicarakan masalah jual beli barang dagangan di gudang utara,” lanjut perkataan salah seorang murid padepokan Elang emas.


“Bagus….bagus! Aku lihat Tumenggung Jati Wilis belakangan ini sering tersenyum semenjak berkawan dengan ketua padepokan Elang emas, Si Elang jantan,” balas salah seorang prajurit kota.


“Tentu saja Tumenggung Jati Wilis senang, karena usaha perdagangan nya maju. membeli barang dari padepokan Elang emas dengan harga murah, kemudian di jual kembali dengan harga mahal.


“Sementara padepokan Elang emas memenuhi permintaan barang Tumenggung Jati Wilis dengan jalan merampok barang-barang milik anggota Jagad Buwana,” ucap salah seorang anggota Padepokan Elang emas.


Sssssttt…!


“Hati-hati kalau bicara di tempat umum, pohon dan batu bisa mendengar,” ucap salah seorang prajurit.


Phuih!


“Kenapa kau takut! Ini adalah daerah kekuasaan kami dan Tumenggung Jati Wilis, kalau Jagad Buwana mau macam-macam, ketua sudah memberikan perintah. “Bunuh.” Ucap seorang anggota padepokan Elang emas dengan nada berapi api.


Prajurit lalu meminum tuak yang sudah mereka pesan, kemudian tertawa tawa bersama orang dari padepokan Elang emas yang sekarang menjadi, padepokan yang di lindungi oleh Tumenggung Jati Wilis.

__ADS_1


Jadi selama ini orang yang merampok para pedagang adalah orang dari Elang emas, “keparat! Seru Selamet dalam hati.


Selamet terus menunggu, sampai Prajurit dan orang dari padepokan Elang emas pergi.


Setelah mereka pergi, Selamet langsung menuju ke tempat Aria dan kawan lain.


“Kemana saja kau? Di tunggu dari tadi, tidak datang-datang,” Buto Ijo berkata dengan nada kesal.


“Aku mau langsung kesini setelah mendapat penginapan, tetapi ada berita mengejutkan dari prajurit anak buah Jati Wili, jadi aku tertarik dan mendengar kan terlebih dahulu, tetapi berita yang kudapat sangat penting, nanti aku ceritakan saat kita sampai di penginapan,” Selamet berkata menjawab pertanyaan Buto Ijo.


“Raden! Lebih baik aku gendong biar cepat sampai,” ucap Buto Ijo.


“Kalau aku kau gendong, lantas Buwana Dewi bagaimana? Tanya Aria.


“Aku sanggup mengendong Raden dan Sri Buwana Dewi,” jawab Buto Ijo.


“Aku tidak mau! Kalau di gendong Raden, baru aku mau,” Buwana Dewi berkata.


“Sudahlah! Biar aku gendong Buwana Dewi biar lebih cepat dan kalian tenang saja, aku akan mengikuti langkah kalian,” Aria berkata.


“Kau naiklah! Seru Aria.


Mendengar suara Aria, Buwana Dewi langsung naik ke punggung dan kedua tangan memeluk leher Aria, sedangkan kepala Buwana Dewi langsung mendarat di bahu, sehingga kepala gadis itu seperti menyender di pipi Aria.


Hidung Aria langsung mencium aroma wangi yang keluar dari tubuh Buwana Dewi.


Buto Ijo melihat Buwana Dewi langsung nemplok di punggung Aria, kemudian berkata kepada Suketi.


Suketi langsung melesat, lalu kedua tangannya memeluk leher Buto Ijo.


Rombongan Aria lalu melesat mengikuti langkah Selamet menuju kota Keta.


Dalam perjalanan jantung Aria terus berdegup kencang, bau harum dari tubuh Buwana Dewi, serta dua gunung kembar yang menekan punggung Aria dan menimbulkan hawa hangat, membuat pikiran Aria agak terganggu.


“Raden….Raden! Kita sudah sampai,” seru Buto Ijo, setelah melihat Aria masih menggendong Buwana Dewi sampai masuk ke dalam penginapan.


Sebenarnya Selamet sudah memberitahu, tetapi Aria yang pikirannya sedang tidak fokus, jadi tidak mendengar.


Setelah Buto Ijo menegur, baru Aria sadar dan raut wajahnya langsung berubah merah, tetapi tidak terlihat karena tertutup caping.


Setelah sampai di kamar Aria, Selamet kemudian menceritakan apa yang ia dengar dari prajurit dan orang padepokan Elang emas.


Hmm!


“Berarti yang selama ini mengganggu usaha Raden Kusumo adalah Elang jantan? Aria berkata.


“Benar ketua! Sepertinya janjipati yang di ucapkan oleh Elang jantan di mulai dari usaha dagang Raden Kusumo,” balas Selamet.


“Kau sudah menyelidiki di mana gudang utara yang di maksud oleh anggota padepokan Elang emas? Tanya Wangsa.

__ADS_1


“Belum tetua! Tetapi menurutku itu hal mudah,” jawab Selamet.


“Hal mudah bagaimana? Tanya Wangsa.


“Suruh Beurit yang memeriksa,” Selamet berkata.


“Menurut ceritamu, malam ini Jati Wilis akan bertemu dengan Mata Elang, untuk membicarakan jual beli hasil rampokan yang di kumpulkan di gudang utara? Tanya Aria.


“Menurut yang hamba dengar, memang seperti itu ketua,” jawab Selamet.


“Jang! Bukankah kau bisa menarik barang dari atas dan menariknya ke dalam tanah? Tanya Aria.


“Bisa ketua! Tetapi tergantung,” jawab Ujang Beurit.


“Tergantung, bagaimana? Tanya Aria.


“Tergantung dengan tenaga dalam yang aku miliki, ketua! Untuk saat ini, tenaga dalamku hanya bisa menarik se ekor kuda atau kerbau.


“Bagaimana kalau menarik satu gudang ke dalam tanah? Tanya Aria.


Ujang Beurit gelengkan kepala mendengar pertanyaan Aria.


“Kalau menarik yang sebesar itu, mungkin guruku yang bisa,” jawab Ujang Beurit.


“Jadi, kalau tenaga dalammu tinggi! Kau bisa menariknya? Tanya Aria.


Ujang Beurit anggukan kepala.


Aria tersenyum mendengar perkataan anak buahnya.


“Kalau begitu, masalah selesai,”


“Maksud ketua? Tanya Selamet.


“Setelah makan malam, kita langsung menuju ke gudang utara, setelah kita memastikan Jati Wilis membayar barang hasil rampokan dari Padepokan Elang emas.


“Aku akan menyalurkan tenaga dalamku, lalu Ujang menarik gudang ke dalam tanah.


“Besok saat Jati Wilis akan mengambil barangnya, dia pasti akan terkejut karena gudang sudah tidak ada,”


“Selamet bertugas menghasut para pedagang dan prajurit Jati Wilis.


“Katakan bahwa kau melihat rombongan Orang padepokan Elang emas membawa pedati keluar dari kota Keta.


“Tumenggung Jati Wilis pasti akan merasa tertipu oleh Padepokan Elang emas.


“Para pedagang yang sudah di beri arahan oleh Selamet, harus bisa membuka rahasia kebusukan Tumenggung Jati Wilis di depan penduduk kota Keta.


“Jadi maksud ketua adalah? Tanya Wangsa sambil menatap Aria.

__ADS_1


“Benar! Jawab Aria yang mengerti akan maksud pertanyaan Wangsa, sambil tersenyum dan berkata.


“Kita Adu domba mereka, agar saling baku hantam,”


__ADS_2