
Raut wajah Tumenggung Wirabumi, Rara Ayu serta Kunto berubah mendengar perkataan Buto Ijo, begitu pula dengan Sarka yang tak menyangka Buto Ijo memanggil Raden kepada Aria.
Suasana berubah hening.
Keheningan suasana pecah saat Kunto memanggil pelayan untuk meyiapkan makanan kecil.
“Kisanak sekalian hendak kemana? Tanya Tumenggung Wirabumi.
“Kami akan ke gunung Semeru Tumenggung,” jawab Aria.
“Perjalanan masih jauh,” balas Tumenggung Wirabumi mendengar perkataan Aria.
“Terima kasih kepada Tumenggung, sudah memberi kami tempat dan makanan, kami tidak akan lama berada di Daha dan akan melanjutkan perjalanan kembali ke gunung Semeru,” Aria membalas perkataan Tumenggung Wirabumi.
Raut wajah Tumenggung Wirabumi tampak berubah mendengar perkataan Aria, sambil menoleh ke arah Rara Ayu dengan wajah sedih.
Rara Ayu tahu kesusahan Ayahnya dan ia bingung tak tahu harus berkata apa.
Tak lama kemudian pelayan datang, membawa makanan kecil, bersama seorang pria muda yang di punggungnya terselip keris.
Pria muda bertubuh kekar itu kerutkan kening, melihat rombongan Aria.
“Siapa mereka Tumenggung? Tanya Pria itu.
“Oh iya Senopati Aji gatra! Perkenalkan ini adalah, Tumenggung Wirabumi diam saat hendak memperkenalkan Aria karena belum tahu namanya.
“Aku Aria Pilong, ucap Aria mendengar perkataan Wirabumi, Wulan serta yang lain menyebutkan nama.
“Pilong, itu artinya buta,” batin Aji gatra sambil melihat tongkat dan caping yang menutupi wajah Aria.
Senopati Aji gatra anggukan kepala, kemudian bertanya kembali, “siapa yang membawa mereka kesini Tumenggung?
“Kunto yang membawa mereka kesini,” jawab Wirabumi.
Kunto anggukan kepala mendengar perkataan Wirabumi.
“Kau membawa orang tanpa menyelidiki terlebih dahulu asal usul orang yang kau bawa, sungguh ceroboh! Ucap Senopati Aji gatra dengan nada sinis.
Raut wajah Aria, Wulan serta Sarka berubah mendengar perkataan Aji gatra, hanya Buto Ijo yang sepertinya tak peduli.
“Jika kami mengganggu ketenangan kalian semua, kami akan pergi sekarang juga,” balas Aria dengan suara dingin.
“Tunggu apalagi? Ucap Senopati Aji gatra dengan senyum mengejek, sambil melirik ke arah tongkat Aria.
“Bawa-bawa orang buta kesini, memangnya tempat ini penampungan buat orang-orang cacat,” lanjut perkataan Aji gatra.
“Tutup mulutmu!? Teriak Wulan mendengar perkataan Aji gatra.
Sedangkan Buto ijo menatap tajam ke arah Senopati Aji gatra.
“Raden apa perlu hamba bunuh orang ini? Tanya Buto ijo, yang tidak berani sembarangan lagi setelah mendengar nada dingin Aria.
Ha Ha Ha
“Apa kau bilang? Kau mau membunuh seorang Senopati, apa kau mampu? Tanya Senopati Aji gatra.
“Sudah….Sudah!? Teriak Rara Ayu dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Senopati Aji gatra! Aku tahu kau seorang Senopati pilih tanding, tetapi kau tidak boleh berkata sembarangan karena kau hanyalah seorang bawahan ayahku, apa hakmu berkata tidak sopan di depan tamu ayahku,” lanjut perkataan Rara Ayu yang tajam menusuk.
“Maaf kan aku putri Rara Ayu, aku hanya memikirkan keselamatan Tumenggung Wirabumi,” ucap Senopati Aji gatra yang sudah lama suka dengan Rara Ayu, tetapi gadis itu selalu menjauh jika ia berusaha mendekat.
Aria berdiri setelah mendengar perkataan Aji gatra.
“Mari kita pergi,” ucap Aria.
“Sarka! Kau bebas menentukan tujuanmu, karena memang kita baru saling kenal,” lanjut perkataan Aria sambil melangkah pergi.
“Kisanak….tunggu dulu kisanak! Seru Kunto, sambil bersujud di depan Aria, menghalangi langkah Aria.
“Terima kasih atas makanan yang paman berikan, maaf kami harus pergi,” ucap Aria dengan nada dingin.
Mata Tumenggung Wirabumi menatap tajam ke arah Aji gatra, tidak suka dengan kesombongan pemuda itu yang suka meremehkan orang.
Wulan menuntun Aria melangkah pergi dari Pendopo, menuju pintu gerbang.
Brak!
Pendopo bergetar, kayu keras yang menjadi tiang pendopo retak terkena hantaman Buto Ijo.
Phuih!
“Kalau saja Raden bilang habisi, sudah ku patahkan leher kalian semua,” dengus Buto Ijo sambil melangkah pergi mengikuti langkah Aria.
Sarka tampak ragu sambil menatap ke arah Rara Ayu, lalu ke arah rombongan Aria, akhirnya pemuda itu memutuskan untuk pergi dan melangkah mengikuti di belakang Buto Ijo.
“Aji gatra! Aku tahu gurumu resi Sarpa kencana tokoh yang di segani, tetapi kau tidak boleh merendahkan orang lain,” ucap Tumenggung Wirabumi dengan nada dingin.
“Guruku sudah berada di sini, Tumenggung, jadi Tumenggung tidak usah khawatir terhadap Tumenggung Adiguna bersama pendekar bayarannya,” balas Aji gatra.
Tiba-tiba datang seorang prajurit tergopoh-gopoh, setelah memberi hormat, kemudian prajurit itu memberi laporan.
“Ada Tumenggung Adiguna di depan, tuan Tumenggung,” ucap Prajurit itu.
“Sudah di suruh masuk? Tanya Tumenggung Wirabumi.
“Sudah tuan Tumenggung, tetapi Tumenggung Adiguna tidak mau masuk, wajahnya seperti terlihat kesal,” jawab Si Prajurit.
“Tumenggung Adiguna datang bersama berapa orang? Tanya Wirabumi.
“Mereka berlima Tumenggung,” jawab si prajurit.
“Mari kita kesana! Seru Wirabumi.
Mereka lalu masuk ke dalam gedung, dan menyambut Tumenggung Adiguna dari dalam rumah.
Aria beserta rombongan berhenti ketika melihat seorang pria paruh baya berpakaian kebesaran keraton berdiri di halaman luas, depan rumah Tumenggung Wirabumi.
Aria beserta rombongan berada di samping halaman berada di bawah pohon rindang.
Wulan memberitahu Aria bahwa yang datang adalah Adiguna, begitu pula dengan Sarka yang menatap tajam ke arah Adiguna, orang licik yang suka menggunakan segala cara agar keinginannya tercapai.
Tumenggung Wirabumi keluar bersama Senopati Aji gatra, Rara Ayu, Kunto serta seorang kakek tua yang membawa tongkat, berbentuk kepala ular.
“Kenapa Dimas tidak langsung masuk saja,” ucap Wirabumi.
__ADS_1
“Tidak perlu kakang,” balas Adiguna dengan nada dingin.
Wirabumi kerutkan kening mendengar nada jawaban Adiguna.
“Lantas ada keperluan apa Dimas datang ke kediamanku? Tanya Wirabumi.
“Kakang sudah terlalu jauh mencampuri urusanku,” Jawab Adiguna dengan nada dingin.
Hmm!
“Rupanya persoalan itu,” balas Wirabumi.
“Kita belum siap untuk berperang dengan Kahuripan, jika Dimas menyerang Tumapel, kita sendiri yang akan rugi,” lanjut perkataan Wirabumi.
“Tahu apa kakang tentang peperangan, jika kita tidak menyerang Kahuripan lambat laun Mapanji Garasakan yang akan menyerang Daha,” ucap Adiguna.
“Dimas benar! Tapi sekarang bukan saat yang tepat bagi Panjalu untuk berperang.
“Perang membutuhkan biaya besar, dan perhitungan matang, bukan hanya soal tenaga saja,” balas Wirabumi.
“Kakang selalu menentang ku di depan baginda Prabu, satu-satunya jalan agar kakang selamat adalah mengundurkan diri dari jabatan Tumenggung, karena kesabaranku sudah habis.
“Jika tidak! Hari ini adalah hari terakhir kakang menjabat sebagai seorang Tumenggung,” Tumenggung Adiguna berkata sambil menatap dengan tatapan penuh ancaman.
“Keparat! Kau mengancam kakakmu sendiri,” teriak Wirabumi dengan nada gusar sambil menunjuk Tumenggung Adiguna.
“Kau pikir hanya datang berlima bisa mengancam ku? Lanjut perkataan Wirabumi.
“Anak buah ku sudah mengepung kediaman kakang, jika kakang tidak mau mundur, Tumenggung Wirabumi dan seluruh pengikutnya akan musnah hari ini,” balas Adiguna.
“Rupanya kau sudah mempersiapkan semuanya,” Wirabumi berkata dengan nada dingin.
“Apa baginda prabu tahu kedatanganmu ke tempatku ini?
“Setelah semuanya habis, baru aku beritahu baginda Prabu, bahwa aku menumpas kakang Wirabumi karena bersekutu dengan Mapanji Garasakan,” jawab Adiguna sambil tersenyum licik.
“Keparat, dasar manusia licik dan berhati binatang!? Teriak Wirabumi.
Senopati Aji gatra tak bisa menahan kemarahan, tubuhnya melesat dan kerisnya menyambar Tumenggung Adiguna.
Sebelum keris sampai di tubuh Tumenggung Adiguna, sebatang tongkat menangkis tusukan Aji gatra.
Trang!
Aji gatra lompat menjauh setelah tusukannya berhasil di tangkis.
“Senopati bau kencur sudah berani berlagak di depanku, jika bukan karena melihat muka gurumu, sudah dari dulu kau ku habisi,” ucap Adiguna sambil menatap Aji gatra.
“Ki Sarpa! Aku kasih kau kesempatan sekali lagi, jika kau sekarang bergabung denganku, apa yang kujanjikan padamu akan ku tepati, tetapi jika kau menentang! Jangan salahkan aku jika hari ini adalah hari kematianmu,” Tumenggung Adiguna menatap ke arah Ki Sarpa setelah berkata.
Resi Sarpa kencana maju dan berdiri di samping muridnya, setelah mendengar perkataan Tumenggung Adiguna, lalu berkata.
“Menurutku apa yang dikatakan oleh Tumenggung Wirabumi benar, Raden harus bersabar jika ingin berperang dengan Kahuripan.”
“Tutup mulutmu! Ucap Adiguna mendengar perkataan Resi Sarpa kencana.
Tumenggung Adiguna angkat tangannya, seperti memberi isyarat kepada 4 pendekar yang ia bawa, kemudian berkata
__ADS_1
“Bunuh mereka.”