Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 87 : Penari Di Desa Coblong


__ADS_3

Plak!


Tangan mungil Suketi menampar pipi Buto Ijo setelah mendengar sebutan Kera.


“Memangnya kau bukan kera? Tanya Buto Ijo.


“Sudah….sudah! Kalau kau terus menampar ku, nanti kukembalikan kau ke iblis Kawi,” Seru Buto Ijo.


Suketi langsung diam mendengar perkataan Buto Ijo.


Semuanya diam ketika Aria mulai bicara.


“Kami akan mengawasi kalian dari kejauhan, sebelum kami berangkat ke Semeru,” ucap Aria.


“Sekali lagi aku ucapkan terima kasih kepada tuan Aria, balas Li Ho sambil memberi hormat.


“Kakak ketiga! Aku ada sesuatu untukmu,” tiba-tiba Andira berkata.


“Sesuatu? Tanya Aria sambil kening berkerut.


Andira anggukan kepala sambil tersenyum, lalu gadis itu berdiri dan melangkah ke arah kereta kuda, mengambil sesuatu.


Setelah mengambil dari dalam kereta kuda, Andira membawa satu pedang dan satu tongkat.


“Kakak ketiga tidak pantas memakai tombak! Aku ambil tongkatmu dari rumah Tumenggung Wirayuda dan ini pedang milik Bibi.


Raut wajah Aria tampak gembira mendengar perkataan Andira, Aria lalu mengambil tongkat miliknya yang di ambil oleh Tumenggung Wirayuda.


“Terima kasih adik kelima! Tongkat ini pemberian dari kakekku, kalau sampai hilang, aku bisa kena damprat,” ucap Aria.


Mereka lalu bercakap-cakap santai, terkadang di selingi oleh pertengkaran antara Buto Ijo dan Wangsa.


Tak terasa hari berganti pagi, setelah tidur sebentar untuk menyegarkan badan.


Pagi-pagi Li Ho tampak sedang mempersiapkan kereta kuda yang akan mereka bawa.


Andini terkadang melirik ke arah Aria, yang masih duduk.


“Sudahlah kak Andini! Cinta itu adalah sesuatu yang Suci, melihat orang yang kita cintai bahagia dan terus mendoakannya, itulah arti cinta yang sesungguhnya,” ucap Li Mei.


“Kau benar! Seru Andini sambil menarik napas.


“Aku tahu, kau juga suka dengan kakak ketiga, tetapi kau malu untuk mengatakannya,” balas Andini.


Li Mei tersenyum dari balik cadarnya mendengar perkataan Andini, lalu memegang tangannya.


“Kakak! Semuanya aku serahkan kepada takdir, jika aku berjodoh dengan tuan Aria aku bahagia, tetapi jika tidak! Aku akan terus mendoakan tuan Aria,” balas Li Mei.


Andini anggukan kepala mendengar perkataan bijak dari Li Mei, kini ia sadar bahwa cinta mempunyai makna yang luas, bukan hanya sekedar menyukai seseorang, tetapi membuat orang yang kita sukai bahagia, adalah cinta yang sesungguhnya.


Kereta berjalan pelan, Aria, Buto Ijo serta Wangsa, mengawal kereta melewati daerah sekitar kawasan Tumapel untuk berjaga-jaga dari serangan prajurit Tumapel.


Setelah melewati daerah Tumapel, akhirnya Aria berpisah, mata Andini, Andira serta Li Mei berkaca kaca melihat kepergian Aria Pilong.


Dalam hati mereka berharap bisa bertemu lagi dan bahagia bersama sang pemuda.


Setelah memastikan rombongan saudagar Ming selamat keluar dari kawasan Tumapel, Aria melanjutkan perjalanan menuju gunung Semeru.


Menurut Andini, dari Tumapel menuju gunung Semeru bisa di tempuh 3 hari perjalanan, dengan berkuda.


Se ekor kuda yang di tunggangi 2 orang melesat, sementara di samping kuda yang di pacu, seorang pria bertubuh besar terus berlari di samping kuda.


Beberapa bukit serta hutan hutan kecil sudah mereka lewati, saat hari senja kuda yang di tunggangi oleh Wangsa sampai desa yang terlihat ramai, di gapura desa tampak tertulis, Selamat Datang Di Desa Coblong.

__ADS_1


Kuda yang di tunggangi Wangsa berhenti di sepan gapura desa, Wangsa lalu bertanya.


“Adik ketiga! Kita mampir di sini atau melanjutkan perjalanan? Tanya Wangsa.


“Kita di sini saja dulu, untuk melepas lelah dan mencari rumah makan,” jawab Aria.


Wangsa anggukan kepala setelah mendengar perkataan Aria, kuda lalu melangkah pelan memasuki Desa Coblong.


“Desa Coblong adalah desa yang tidak terlalu besar, tetapi hampir sebagian besar penduduknya sukses dalam bertani.


Ketika kuda yang di tunggangi oleh Wangsa masuk ke dalam desa Coblong.


Beberapa orang menatap Wangsa, Aria dan Buto Ijo yang memakai caping.


Setelah bertanya tempat rumah makan, Wangsa langsung mengarahkan kuda ke tengah desa.


Menurut keterangan penduduk yang di tanya oleh Wangsa, hanya ada satu-satunya rumah makan di desa dan rumah makan itu terletak di alun-alun desa Coblong.


Setelah sampai di alun-alun desa Coblong.


Wangsa melihat ke arah sekeliling, mencari rumah makan yang tadi ia tanyakan.


“Sepertinya itu rumah makan yang di maksud oleh orang tadi,” batin Wangsa melihat rumah tidak terlalu besar, tetapi beberapa bale-bale yang ada di luar rumah, tampak hampir penuh.


Kuda bergerak ke rumah tersebut, setelah menambatkan kuda, Wangsa lalu menghampiri, kemudian bertanya.


“Punten….punten!


Seorang pria paruh baya datang menghampiri, setelah sampai di depan Wangsa, pria itu menatap Wangsa dari atas sampai bawah, kemudian menatap Aria dan Buto Ijo.


“Maaf tuan! Juminten sudah tidak bekerja lagi di sini,” ucap pria itu.


Wangsa kerutkan kening mendengar jawaban pria itu.


“Loh! Bukannya tadi tuan yang memanggil manggil Juminten? Jawab Pria itu.


“Aku bilang, punten! Bukan Juminten,” ucap Wangsa.


“Oh….maaf kisanak! Saya salah dengar,” balas orang itu.


“Tetapi di sini tidak ada yang namanya punten, kisanak,”


Buto Ijo langsung maju, “pesan ayam bakar 3 berikut nasi, serta sayur kalau ada,” ucap Buto Ijo dengan nada tidak sabar.


“Maaf tuan! Saya akan menyiapkan makanan untuk Kisanak ini, kisanak cari saja teman kisanak yang bernama Punten,” pria itu berkata kepada Wangsa, lalu kembali kedalam rumah.


“Perut lapar, mau makan saja repot, punten lah….Juminten lah! Bikin darahku naik saja,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.


“Orang itu yang tolol! Punten itu sama seperti salam di tempatku kalau mau masuk ke rumah orang,” balas Wangsa.


“Memangnya kau sedang berada di Pasundan? Kalau bicara, pakai bahasa yang mereka ngerti,” ucap Buto Ijo.


“Raden! Mari kita duduk di bale bambu itu, sambil menunggu hidangan,” ucap Buto Ijo.


Aria anggukan kepala.


Wangsa juga tak membantah ajakan Buto Ijo, karena bale bambu yang di tunjuk tepat berada di bawah pohon dan terlihat sangat nyaman untuk tempat berkumpul.


Satu buah obor di ikat pada pasak dan di tancapkan dibatang pohon, tinggal menyalakan bila malam hari tiba.


Satu panggung lumayan besar dengan berbagai macam hiasan dan umbul-umbul, terlihat di tengah alun-alun desa Coblong.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang, 3 ekor ayam bakar, serta satu bakul nasi dan sayur tampak masih mengepulkan asap, berikut teh panas yang di pesan oleh Buto Ijo.

__ADS_1


“Kisanak! Sedang ada acara apa di desa ini? Tanya Wangsa sambil matanya menatap ke arah panggung yang berada di tengah alun-alun.


“Seperti biasa kisanak! Kalau sudah panen raya, desa Coblong selalu mengadakan syukuran dengan mengundang penari terkenal yang bernama Nyai Srikantil.


Nanti setelah matahari terbenam, baru acara akan di mulai.


“Oh! Begitu rupanya,” ucap Wangsa, lalu memberi isyarat kepada pelayan untuk pergi, setelah ia mendapat informasi.


Ketiganya makan dengan lahap, setelah selesai makan, Wangsa berkata.


“Lebih baik kita di sini saja,


karena sebentar lagi acara pertunjukan di mulai.


“Apa bedanya buatku? Tanya Aria.


“Buat adik ketiga mungkin iya, tetapi aku sudah lama tidak menonton hiburan rakyat yang seperti itu,” jawab Wangsa.


“Tetapi adik ketiga bisa mendengar alunan musiknya,” lanjut perkataan Wangsa.


Tanpa terasa mereka bercakap-cakap, malam pun tiba, pelayan lalu menyalakan obor yang ada di depan rumah makan, termasuk obor yang berada di batang pohon, dekat bale bambu yang di tempati oleh Aria.


Satu persatu penduduk desa Coblong tua dan muda mulai berkumpul di sekitar panggung, menunggu penari yang setiap tahun selalu tampil untuk memberi hiburan sambil mendoakan para penduduk Coblong, agar hasil panen tahun depan berlimpah.


Kepala desa Coblong naik ke atas panggung di iringi tepuk tangan para penduduk.


Setelah memberi kata sambutan dan pengarahan, kepala desa turun dari panggung, kemudian duduk di tempat yang telah di sediakan.


Setelah kepala desa turun dari panggung, alat-alat musik gamelan yang akan mengiring si penari, satu persatu naik ke atas panggung dan yang terakhir naik ke atas panggung adalah seorang gadis cantik dengan memakai kebaya dengan selendang menjuntai di kanan dan kiri pinggangnya.


Perlahan musik mulai mengalun, para penduduk tampak antusias mendengar suara gamelan yang mengalun.


Wangsa kerutkan keningnya mendengar suara gamelan dari atas panggung, lalu menatap tajam ke arah pemain dan penari.


“Siapa mereka? Kenapa musik ini yang mereka mainkan, apa ada sesuatu yang aneh di kampung Coblong? Wangsa bertanya tanya dalam hati.


Suara musik gamelan semakin keras dan cepat, penari yang bernama Nyai Srikantil setelah musik gamelan semakin cepat mulai menari dengan lemah gemulai mengikuti suara alunan gamelan.


Hati Aria bergetar setelah mendengar musik gamelan semakin kencang dan cepat.


Mata Aria langsung menatap ke Arah panggung, walau tidak bisa melihat, tetapi suara alunan gamelan sangat jelas terdengar.


Saat Wangsa masih berpikir keras dan Aria tengah menatap ke arah panggung.


Buto Ijo yang tengah duduk tiba-tiba berdiri, kedua tangannya mulai bergerak gerak mengikuti alunan suara gamelan, begitu pula dengan Suketi yang berada di bahu Buto Ijo, ikut menari bersama.


Aria kerutkan keningnya mendengar gerakan Buto Ijo dan Suketi, ketika Aria hendak bertanya, terdengar suara Wangsa.


Hmm!


“Sudah kuduga bakal seperti ini,” ucap Wangsa.


Mendengar perkataan Wangsa, Aria lalu bertanya.


“Apa yang terjadi? Tanya Aria.


“Sepertinya para pemain gamelan dan sang penari bukan orang sembarangan,” jawab Wangsa, sambil terus menatap Buto Ijo dan Suketi yang asyik menari, tanpa memperdulikan para penduduk yang sebagian mulai menatap ke arah keduanya.


Buto Ijo dan Suketi tak memperdulikan tatapan heran mata para penduduk, keduanya terus menari sambil bergerak ke arah panggung.


“Sebenarnya ada apa? Tanya Aria.


Wangsa mendengus, lalu menjawab pertanyaan Aria.

__ADS_1


“Mereka sedang memainkan musik yang di beri nama, “Gamelan pemikat arwah.”


__ADS_2