
Buto Ijo yang sudah berubah, terus menatap ke arah Elang betina.
Elang betina melihat tatapan Naga hijau yang bengis, perlahan mulai mundur.
Whut!
Buto Ijo melesat ke arah elang betina.
Elang jantan melihat istrinya mendapat ancaman, kemudian melesat ke arah Buto Ijo, pusaka Jarum tongkat emas langsung di tusukan ke tubuh Buto Ijo yang sudah berubah wujud menjadi naga hijau.
Badan naga yang sebesar batang pohon besar, seperti tak peduli dengan serangan Elang jantan.
Trang!
Jarum pusaka tongkat emas tak bisa menembus sisik naga yang tebal, jarum berbalik dan mental kembali, belum lepas rasa kejut Elang jantan, buntut naga mengibas ke arah Elang jantan.
Buk!
Elang jantan langsung terpental setelah terkena hantaman buntut naga.
Setelah Elang jantan terpental, Buto Ijo terus memburu ke arah Elang betina.
Kepala naga menghantam ke arah Elang betina, wanita berambut emas tersebut melesat, menghindari serangan naga hijau.
Brak!
Tenda padepokan Elang emas hancur, setelah kepala naga masuk kedalam tenda, buntut naga melesat menyabet ke arah Elang betina yang melesat ke atas, dan hinggap diatas tenda merah milik Kalasrenggi.
Brak!
Kalasrenggi dan Kalabenda melesat keluar dari tenda milik mereka, begitu pula dengan anak buah Kalasrenggi yang mempunyai kepandaian tinggi, sementara itu sisanya, terpental bersama tenda merah yang hancur terkena hantaman Buto Ijo.
Elang betina melesat ke arena setelah tenda merah hancur.
Buto Ijo langsung berbalik ke arena dan terus memburu Elang betina.
Sewaktu kekacauan terjadi, Wangsa melesat dan membawa Suketi, ketika meraih tubuh Suketi yang tubuhnya masih hangat, sedangkan kedua tangannya bersidakep, seperti tengah memeluk sesuatu.
Wangsa tidak memperhatikan posisi Suketi, lalu menitipkan Suketi kepada Nyai Kidung kencana, sementara dirinya bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
“Kenapa kau menyerang kera itu? Tanya Elang jantan menyesali tindakan sang istri.
“Aku tidak menyerang kera itu, aku menyerang si raksasa saat melihat kakang terdesak,” jawab Elang betina.
“Panggil Raja Elang untuk membantu kita! Seru Elang jantan saat melihat Buto Ijo sudah bergerak ke arah tengah Arena.
Sementara itu para ketua padepokan dan anak buah mereka yang masih menonton, perlahan menjauh dari arena pertempuran, karena takut terkena salah sasaran jika terlalu dekat, sebagian malah langsung turun dari gunung Bromo dan kembali ke padepokan masing-masing.
Suitan panjang terdengar dari mulut Elang betina.
Tak lama kemudian, tampak Elang raksasa berputar di atas Arena pertempuran.
“Ketua! Kenapa kita tidak membantu Buto Ijo? Tanya Singabarong.
“Kita harus pegang janji, tetapi aku yakin Buto Ijo bisa menghadapi kedua Elang emas itu,” balas Aria Pilong sambil tersenyum.
Buto Ijo terus mengejar Elang betina, moncongnya selalu terbuka, seperti hendak menelan bulat-bulat Elang betina jika berhasil ia terkam.
Blar!
Mulut naga menghantam lantai batu, sepasang Elang melesat kedua arah, agar perhatian Buto Ijo terpecah.
__ADS_1
Tetapi Buto Ijo tak sekalipun melirik ke arah Elang jantan, ia terus mengejar Elang betina yang melesat ke arah kanan.
Suuuuiiiiiiiiiit!
Suitan panjang terdengar dari mulut Elang jantan melihat pasangannya terus di buru.
Raja Elang yang berputar putar di atas arena, mendengar suara suitan panjang dari mulut Elang jantan, langsung melesat turun dan kedua kakinya dengan cakar tajam, langsung menyerang ke arah badan Buto Ijo.
Geraman marah terdengar dari mulut naga hijau, buntutnya mengibas ke badan Elang, saat Raja Elang hendak mencengkeram dengan kedua kaki.
Sayap Raja Elang mengibas ke arah buntut naga.
Plak!
Angin kencang langsung menderu setelah kedua bagian tubuh mahluk raksasa itu bertemu.
Resi Wangsanaya, melihat angin kencang menderu ke arah tenda Jagad Buwana, langsung memagari tenda dengan Ajian benteng angin.
Blam!
Angin yang menderu langsung buyar setelah menghantam ajian benteng angin.
Kepala Buto Ijo terus memburu ke arah Elang betina, sementara buntutnya mengibas, menangkis dan terkadang menyerang Raja Elang yang berusaha menyerang dari Atas.
Blar!
Kembali lantai arena yang terbuat dari batu alam, hancur terkena hantaman mulut Buto Ijo, setelah Elang betina berhasil melesat menghindari serangan Buto Ijo.
Elang jantan berusaha menarik perhatian Buto Ijo, agar menyerang dirinya dengan sesekali menyerang badan Buto Ijo dengan jarum pusaka tongkat emas , tetapi Buto Ijo seperti yang tidak peduli dengan serangan Elang jantan dan terus memburu ke arah Elang betina.
“Setan alas! Sepertinya dia tidak peduli dengan diriku dan terus menyerang istriku,” batin Elang jantan, setelah berbagai upaya yang ia lakukan agar memancing Buto Ijo agar menyerang dirinya tak berhasil.
Raja Elang juga terus menyerang dengan kedua kakinya yang berkuku tajam, terkadang paruhnya mematuk ke arah kepala Naga.
Tapi kibasan ekor Buto Ijo, selalu menggagalkan serangan raja Elang.
Lama kelamaan Tenaga Elang betina mulai terkuras, karena terus lompat dan menghindari terkaman serta sabetan buntut naga dari perwujudan Buto Ijo.
Elang jantan tahu ke adaan sang istri, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Ketika keduanya berdekatan, Elang jantan berbisik kepada sang istri.
“Kau naik ke Raja Elang dan pergi dari sini! Beritahu yang terjadi kepada penguasa Alas Purwo,” ucap Elang Jantan.
“Tapi bagaimana denganmu? Tanya Elang betina dengan wajah cemas.
“Jangan pikirkan aku, kau pergi saja! Setelah kau pergi, aku akan berusaha menyusul mu,” Balas Elang Jantan.
“Awas! Teriak Elang jantan, melihat kepala naga melesat ke arahnya.
Blar!
Kembali lantai Arena hancur terkena terkaman mulut Naga hijau.
Elang jantan dan betina kali ini melesat bersama tanpa berpencar.
Buto Ijo terus memburu, dengusan yang keluar dari hidungnya menimbulkan suara gemuruh serta angin.
Suitan panjang kembali terdengar dari mulut Elang jantan, memberi isyarat kepada Raja Elang, untuk menyerang Buto Ijo.
Raja Elang mengerti dengan maksud sang majikan, Elang raksasa langsung menukik menuju kepala Buto Ijo.
__ADS_1
Kepala Naga bergeser menghindari patukan Elang, kemudian buntut naga mengibas ke arah tubuh Elang raksasa.
Kembali sayap kanan mengibas ke arah buntut naga.
Plak….Blam!
Buntut naga yang terkena kibasan sayap Elang langsung terhempas ke lantai arena, lantai arena retak, debu mengepul ke atas dan beterbangan di sekitar arena.
Elang jantan melihat Naga jelmaan Buto Ijo terdesak setelah terkena hantaman sayap raja Elang, kembali bersuit panjang memberi isyarat kepada Raja Elang.
Raja Elang langsung melesat naik mendengar isyarat sang majikan.
Melihat Raja Elang bergerak naik.
Elang jantan memegang pinggang sang istri, kemudian dengan sekuat tenaga melemparkan sang istri ke arah raja Elang, yang sedang menunggu di udara.
Whut!
Tubuh Elang betina melesat, setelah di lempar oleh sang suami.
Melihat musuh yang ia benci hendak melesat menuju ke arah Elang raksasa yang tengah menunggu.
Naga hijau jelmaan Buto Ijo, tubuhnya yang panjang langsung melingkar seperti layaknya sebuah per besar, lalu buntut naga menghantam dengan keras kelantai Arena.
Blam!
Masih dalam ke adaan tubuh yang melingkar, tubuh Naga bergerak naik menyusul ke arah Elang betina.
Whut!
Lingkaran tubuh naga membuka, kemudian kepala naga melesat dengan mulut terbuka dan badan yang menjulur ke arah Elang betina yang tengah melesat.
Elang jantan terkejut dan tak menyangka, naga perwujudan Buto Ijo, bisa berbuat seperti itu.
Suara lengkingan dan suara suitan susul menyusul keluar dari mulut Elang jantan yang cemas melihat Buto Ijo dengan mulut terbuka, siap menerkam ke arah sang istri.
Raja Elang mendengar suara suitan dari mulut sang majikan, langsung menukik turun dan menyerang Naga hijau.
Elang betina menatap ngeri setelah melihat ke bawah, mulut Naga perwujudan Buto Ijo terbuka dan terus memburu ke arahnya.
Jikalau kaki Elang betina bisa bertumpu, tubuhnya masih bisa melesat naik, tetapi saat tumpuan tidak ada dan hanya mengandalkan lemparan sang suami, perlahan lesatan tubuhnya mulai melambat.
Sedangkan Raja Elang yang tengah menukik untuk menyerang, terlambat.
Mulut Naga hijau yang terbuka, menerkam tubuh Elang betina sebatas pinggang.
Crash!
Jeritan panjang yang menyayat hati terdengar keluar dari mulut Elang betina, saat tubuhnya sebatas pinggang putus terkena gigitan Naga hijau jelmaan Buto Ijo.
Pekikan raja Elang yang marah terdengar saat melihat tubuh sang majikan jatuh dengan tubuh yang tersisa setengah.
Begitu pula Elang jantan yang menjerit kencang melihat nasib tragis yang menimpa istrinya, kemudian Elang jantan memburu ke arah tubuh sang istri yang meluncur deras dari udara.
Tap!
Elang jantan berhasil menangkap tubuh sang istri yang hanya tersisa dari bagian pinggang ke atas.
Mata Elang betina menatap ke arah sang suami, dengan suara terputus-putus sambil menahan rasa sakit, Elang betina berkata kepada sang suami, sebelum napasnya terhenti.
“Per….pergi, ting….tinggalkan tempat ini! Jangan lawan dia.”
__ADS_1