
Laut terus bergolak, Buwana Dewi seperti tidak mendengar apa yang di katakan oleh Selamet.
Pusaran air semakin mendekat, badai petir mulai menghantam laut dan di sekitarnya.
Jerit tangis dan suara para penumpang yang ketakutan terdengar silih berganti.
“Cepat….cepat Raden! Redakan kemarahan Buwana Dewi,” Buto Ijo berkata dengan nada cemas, setelah Aria berhasil naik ke atas kapal.
Nahkoda kapal sampai sujud di depan Aria, meminta tolong agar Aria meredakan kemarahan Buwana Dewi.
Suketi terus memeluk leher Buto Ijo, kera kecil berwarna hitam itu sangat takut melihat pusaran air laut semakin besar dan mulai mendekati kapal.
“Takut mati, Jo? Tanya Wangsa.
“Keparat kau, Resi palsu! Dalam keadaan seperti ini masih saja bertanya macam-macam.
“Aku tidak takut mati, tetapi takut tenggelam,” jawab Buto Ijo.
“Sama saja, Jo! Balas Wangsa.
“Lebih baik kau diam! Ucap Buto Ijo sambil menatap Wangsa dengan tatapan penuh ancaman.
Melihat tatapan Buto Ijo, kali ini Wangsa diam, sedangkan Ujang Beurit tampak acuh sambil menatap ke arah pusaran air yang semakin mendekat.
Aria di tuntun oleh Selamet mendekati Buwana Dewi yang masih berdiri sambil mengerahkan kekuatan.
Aria setelah mendekat, langsung memeluk pinggang Buwana Dewi dari belakang.
Setelah di peluk Aria, perlahan tangan Buwana Dewi turun, begitu pula tubuhnya.
Setelah kaki Buwana Dewi menginjak lantai perahu, Buwana Dewi balikan tubuhnya, mata Buwana Dewi yang berubah warna menjadi biru menatap Aria.
Suasana alam di sekitar kapal perlahan mereda seiring perubahan yang terjadi terhadap mata Buwana Dewi yang kembali normal.
Pusaran air serta badai petir hilang, Buwana Dewi menangis dalam pelukan Aria.
Sebagian penumpang matanya berkaca-kaca melihat kejadian penuh haru di depan mereka.
Suketi memeluk leher Buto Ijo.
“Kalau marah jangan sampai seperti itu, Suketi! Seru Buto Ijo.
Suketi anggukan kepala mendengar perkataan Buto Ijo.
“Paling berubah jadi gorila, Jo!
Plak!
Wajah Wangsa terkena lemparan kacang Suketi, setelah sang resi berkata.
“Sudah….sudah, sayang! Biarkan saja, dia hanya iri sama kita, karena resi tidak bisa kawin,” Buto Ijo berkata kepada Suketi.
Phuih!
“Lebih baik aku tidak kawin daripada harus menikah dengan kera,” Wangsa berkata dalam hati melihat kemesraan Buto Ijo dan Suketi.
Setelah laut mulai tenang, Nahkoda memerintahkan anak buahnya untuk membetulkan tiang layar yang patah terkena hantaman tubuh Selamet.
Dari kejauhan, tampak Dua kapal perang mendekati kapal penyeberangan.
Kedua kapal perang dari sisi berbeda melihat fenomena alam yang tidak biasa, lalu mendekati tempat kejadian, tetapi setelah dekat, Fenomena alam yang tak biasa sudah hilang.
“Raden! Ada dua kapal mendekat, apa kita hancurkan saja kapal itu? Tanya Buto Ijo.
“Jangan….hamba mohon jangan, Raden! Kedua kapal itu milik Prabu Anak Wungsu, penguasa Istana Tampak siring.
“Mau dia anak bungsu, mau anak sulung, memangnya aku peduli,” ucap Buto Ijo setelah mendengar perkataan Nahkoda kapal.
“Wungsu, Jo….Wungsu! Seru Wangsa.
“Wungsu….Wangsa,” ucap Buto Ijo sambil keningnya berkerut.
“Apa dia masih kerabatmu, So? Tanya Buto Ijo.
__ADS_1
Hmm!
“Lama-lama ku pecahkan batok kepalamu,” wangsa berkata.
“Apa kau mampu? Tanya Buto Ijo, sambil menirukan perkataan yang sering di sebut oleh Selamet.
Keduanya lalu bersiap, begitupula Suketi yang sudah merogoh kantong berisi kacang tanah, siap untuk menyerang Wangsa.
“Cing atuh geus karolot mah, tong pasea wae ( sudah tua jangan bertengkar terus ) Ujang Beurit berkata, tanpa melihat ke arah kedua seniornya, tetapi mata ujang Beurit terus menatap kedua kapal yang semakin mendekat, begitupula dengan Selamet.
Wangsa urungkan niatnya mendengar perkataan Ujang Beurit, begitu pula dengan Buto Ijo, setelah melihat isyarat tangan Aria Pilong.
“Saya mohon Raden jangan mengganggu kedua kapal itu,” Nahkoda kapal berkata kembali, kali ini raut wajahnya tampak serius ketika bicara.
“Prabu Anak Wungsu penguasa Tampak Siring adalah raja yang di cintai rakyatnya, sang Prabu sangat adil dan bijaksana,” lanjut perkataan Nahkoda kapal.
“Baik! Tetapi jangan kau beritahu yang sudah terjadi,” balas Aria, karena ia belum tahu kerajaan di pulau Bali seperti apa, apakah mereka bersekutu dengan padepokan Elang emas atau penguasa Alas Purwo.
“Baik….baik, Raden! Seru Nahkoda kapal.
“Jangan ada yang bertindak dan tunggu perintah,” Aria berkata setelah mendengar perkataan Nahkoda kapal.
Kedua kapal perang mendekat, lalu merapat ke kapal penyeberangan.
Papan panjang di tempelkan ke kapal perang, seorang pria paruh baya dengan gagah, melangkah ke kapal penyeberangan.
Nahkoda kapal memberi hormat, kepada sang pemimpin kapal yang sudah ia kenal.
“Panglima laut, I Gusti Wardana selamat bertemu kembali,” ucap Nahkoda kapal.
“Kalian tidak apa-apa? Tanya I Gusti Wardana.
“Tadi aku lihat ada alap-alap raksasa dan pusaran air laut di sekitar sini.”
“Benar panglima, tetapi keduanya sudah hilang dan tidak mengganggu kami,” Nahkoda kapal membalas perkataan panglima laut kerajaan Bali.
“Syukurlah jika kalian tidak apa-apa,” ucap Panglima I Gusti Wardana, kemudian lanjut berkata.
“Kalau alap-alap aku sering melihat dan mengusirnya karena burung itu sering mengganggu para nelayan.
“Yang tuan panglima katakan memang benar, nelayan desa Ketapang juga banyak yang dilaporkan hilang, ada yang melihat, burung raksasa itu menyambar dan membawa pergi nelayan dari desa Ketapang,” Nahkoda kapal berkata sambil menarik napas ikut merasa prihatin serta merasakan, karena para penumpang kapal hampir saja di celakai oleh burung raksasa yang di maksud I Gusti Wardana.
“Kau harus hati-hati! Beberapa hari yang lalu satu kapal kami hancur.
“Ketika burung raksasa hendak menyerang kapalku, untung saja puluhan anak buah ku menyalakan api sehingga mereka tak berani mendekat,” I Gusti Wardana bercerita sambil memberitahu Nahkoda kapal agar berhati hati.
Setelah berbincang dengan Nahkoda kapal, mata panglima laut I Gusti Wardana menatap ke arah para penumpang kapal.
Sang panglima merasa tertarik dengan 6 orang yang terpisah dari rombongan lain, 5 orang pria dan 1 orang wanita cantik yang sedang berpelukan dengan salah satu pria bercaping.
“Siapa mereka? tanya I Gusti Wardana.
“Mereka adalah penumpang kapal kami,” jawab Nahkoda kapal.
“Penumpang kapal,” Balas I Gusti Wardana.
“Benar tuan panglima,” ucap Nahkoda kapal.
I Gusti wardana merasa tertarik mendengar keterangan dari Nahkoda kapal, kemudian kakinya melangkah ke arah rombongan Aria.
Raut wajah Nahkoda kapal tampak terkejut melihat Panglima laut kerajaan Bali hendak mendekati rombongan Aria.
Tanpa berpikir panjang, Nahkoda kapal langsung memegang tangan I Gusti Wardana.
Pengawal I Gusti wardana bernama Tirta bertubuh tinggi besar, serta tangan penuh rajah ( Tato ) langsung membentak Nahkoda kapal.
“Lancang, kau! Ucap Tirta melihat Nahkoda kapal memegang tangan I Gusti Wardana.
( jaman dahulu, rakyat jelata tidak boleh sembarangan memegang anggota tubuh pembesar kerajaan, karena dianggap tidak sopan dan hukumannya adalah mati )
Buto Ijo, Wangsa, Selamet serta Ujang Beurit langsung menoleh ke arah Tirta yang membentak Nahkoda kapal.
Sedangkan Aria bersama Buwana Dewi tampak acuh dan tak peduli.
__ADS_1
Nahkoda kapal menyadari kesalahannya, kemudian langsung melepaskan pegangan tangannya dari tangan I Gusti wardana, lalu sujud di hadapan I Gusti wardana dan berkata.
“Ampun….maafkan hamba tuan! Hamba tidak bermaksud kurang ajar terhadap tuan panglima,” ucap Nahkoda kapal sambil sujud.
Hmm!
Suara dengusan keluar dari hidung I Gusti wardana, matanya menatap ke arah Nahkoda kapal yang tengah sujud.
Mendengar suara dengusan sang majikan, Tirta langsung memegang gagang golok di pinggang, siap menunggu perintah.
Buto Ijo menatap tajam ke arah Tirta, kemudian berkata kepada Si Beurit.
“Kau tarik kakinya, Jang! Nanti aku yang habisi.”
“Tidak bisa, paman! Jawab Si Beurit.
“Kenapa tidak bisa, Jang? Tanya Buto Ijo.
“Lantai kapal terbuat dari kayu, bukan tanah,” jawab Ujang Beurit.
Buto Ijo tak membalas, hanya kepalanya tampak mengangguk, mendengar jawaban si Beurit.
“Ai Maneh di layanan ae, sidik jelema burung,” ( jangan di ladenin terus, sudah tahu otaknya rada-rada kurang beres ) Wangsa ikut bicara.
“Wongso ngomong apa, Jang? Tanya Buto Ijo.
Ujang Beurit menarik napas sebelum berkata.
“Mereka bukan pelayan dan bukan pemilik burung,” jawab Si Beurit.
“Dasar tolol! Tentu saja bukan, pemilik burung adalah Elang jantan, ketua padepokan Elang emas, kau beritahu dia Jang, aku malas bicara dengan orang tolol,” Buto Ijo berkata setelah mendengar perkataan Ujang Beurit.
Ujang Beurit langsung menoleh ke arah Wangsa, melihat raut wajah sang Resi perlahan berubah kelam, ujang Beurit berkata.
“Nggeus, Ki! Tong saruana.”
Phuih!
Wangsa langsung meludah mendengar perkataan Ujang Beurit.
Suara meludah yang keluar dari mulut Wangsa terdengar kencang, karena sang resi meludah dengan hati kesal.
I Gusti Wardana, Tirta serta para prajurit yang ikut naik, langsung menatap tajam ke arah Wangsa.
Tirta langsung maju dan menunjuk Wangsa, kemudian berkata.
“Dasar manusia berkasta rendah, tidak sopan di depan panglima kerajaan Bali, segera minta maaf atau ku penggal kepala kalian.”
Nahkoda kapal yang masih sujud, tubuhnya langsung gemetar ketakutan, saat mendengar perkataan Tirta.
Bukan rombongan Aria yang ia cemaskan, tapi I Gusti Wardana serta anak buahnya yang di cemaskan oleh Nahkoda kapal, jika Tirta berani mengusik ke enam orang penumpang kapal yang sudah membunuh satu elang raksasa dan membuat kabur elang lainnya serta menciptakan pusaran air di tengah laut yang baru pertama kali ia lihat.
Nahkoda kapal yakin, I Gusti Wardana serta seluruh anak buahnya akan tewas di tangan ke enam orang penumpang kapalnya.
Buto Ijo menyeringai mendengar bentakan Tirta.
“Kau bilang apa, kasta? Tanya Buto Ijo sambil menatap tajam, kedua tangannya mulai mengepal.
Nahkoda kapal tanpa memperdulikan nyawanya langsung memegang tangan I Gusti Wardana, setelah mendengar suara bernada penuh ancaman dari Buto Ijo, kemudian berkata.
“Hamba mohon, tuan panglima jangan sampai mengusik mereka, jika sampai tuan panglima mengusik mereka, hamba bisa pastikan tuan panglima bersama seluruh prajurit yang tuan bawa, tidak akan bisa kembali ke Bali.”
Raut wajah I Gusti Wardana berubah mendengar perkataan Nahkoda kapal.
“Apa kau pikir dua kapal perang serta 200 prajurit tidak mampu menghadapi mereka? Tanya I Gusti Wardana dengan nada gusar karena merasa di remehkan setelah mendengar perkataan Nahkoda kapal.
“Hamba sangat yakin, di tambah 3 kapal perang dan 300 prajurit, masih tidak akan mampu menghadapi mereka, tuan panglima,” ucap Nahkoda kapal, kemudian lanjut berkata.
“Karena….Karena.”
“Karena apa? Tanya I Gusti Wardana, merasa penasaran.
Jawab Nahkoda kapal.
__ADS_1
“Karena mereka bukan manusia.”