Iblis Buta

Iblis Buta
Ambisi Jati Wilis


__ADS_3

Saudagar Suminto kerutkan keningnya mendengar suara di belakang Ki Bowo.


“Siapa kalian? Tanya Saudagar Suminto setelah mendengar perkataan Aria.


Buto Ijo maju, lalu berhadapan dengan saudagar Suminto, mulutnya masih tampak mengunyah ketela rebus yang masih tersisa di mulutnya.


Saudagar Suminto beserta tukang pukulnya mundur satu tombak, saat melihat Buto Ijo tiba-tiba memukul mukul dada, kemudian menepak nepak leher.


Plak….plak….Huek!


“Kenapa si Hejo? Batin Wangsa melihat tingkah laku Buto Ijo.


“Jang….Jang! Ambil air, Jang, aku Keselek,” ucap Buto Ijo, matanya tampak mendelik.


Ujang Beurit lari masuk ke dalam, mengambil air dari satu kendi kecil, kemudian di berikan kepada Buto Ijo.


Setelah mendapat Air, Buto Ijo mencium kendi yang baru saja di terima, setelah tahu isinya air putih, Buto Ijo langsung menyiramkan air dari dalam kendi ke wajahnya.


“Ambil lagi….ambilnya Wedang jahe, Jang! Seru Buto Ijo.


“Wedang jahe punya paman sudah habis,” balas ujang Beurit.


“Ambil punya siapa yang ada di meja! Ucap Buto Ijo, sambil tangannya memberi isyarat agar Ujang Beurit segera mengambil apa yang di perintahkan olehnya


Ujang Beurit kembali masuk ke dalam, tak lama kemudian datang membawa cangkir yang terbuat dari bambu, berisi wedang jahe.


Gluk…gluk….gluk….aaaahh….Lega!


Seru Buto Ijo setelah minum wedang jahe yang di ambil ujang Beurit.


“Ki Sura kerutkan kening melihat kelakuan Buto Ijo, begitu pula dengan Ki Bowo, “siapa orang ini? Batin Ki Sura melihat tubuh tinggi besar memakai caping.


“Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami,” ucap Saudagar Suminto.


“Kau mau menyerah atau mati? Tanya Buto Ijo.


“Seorang tukang pukul saudagar Suminto yang bertubuh sedang, melesat tanpa di perintah oleh sang majikan.


Sambil lompat, tangan kanan tukang pukul tersebut, menghantam ke arah kepala Buto Ijo yang memakai caping.


Setelah tubuh tukang pukul tersebut berada dalam jangkauan tangannya.


Tangan kanan Buto Ijo bergerak ke arah wajah si tukang pukul.


Jarak tangan tukang pukul dengan wajah Buto Ijo masih sejengkal, tetapi tangan Buto Ijo sudah terlebih dahulu sampai di wajahnya.


Prak!


Tukang pukul tersebut kembali terpental dan ambruk di hadapan Juragan Suminto.


Brak!


Tukang pukul naas yang jatuh, tidak bangun lagi, wajahnya hancur terkena tinju Buto Ijo yang mengandung ajian Brajamusti.


Juragan Suminto saking terkejut dan tak menyangka, langsung mundur setombak menjauh dari Buto Ijo, raut wajahnya terlihat ketakutan.


“Siapa kalian? Jangan macam-macam denganku, aku adalah kepala para pedagang daerah sekitar Panarukan,” ucap Juragan Suminto sambil tangannya memberi isyarat kepada tukang pukul untuk bergerak.


9 tukang pukul langsung mengelilingi Jutagan Suminto.


Melihat Buto Ijo hendak maju, Juragan Suminto berkata.


“Ki Sura! Jadi ini orang-orang dari Raden Kusumo yang kau banggakan itu? Tanya juragan Suminto.


“Bukan mereka! Tetapi kami orang Raden Kusumo yang sebenarnya,” ucap seorang pemuda terlihat menghampiri, bersama dengan 2 orang pria.


“Aku Ranggajati! Wakil Raden Kusumo di kota Panarukan,” ucap pemuda gagah yang berpakaian bagus layaknya seorang anak pembesar.


“Sudah kuduga memang kau orangnya, anak Ki Demang Ranggaweling.


“Apa kau sudah tahu, apa kedudukanku di Panarukan? Tanya Juragan Suminto.


“Memangnya kau punya kedudukan di Panarukan? Pemuda yang di panggil Ranggajati balik bertanya.


“Kau hanya manusia yang berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan, jilat sana jilat sini.


“Di Panarukan tidak ada kepala pedagang yang mewakili semua pedagang.


“Tumenggung Jati Wilis adalah pejabat licik yang tidak suka bila melihat orang lebih sukses dari dirinya dan terus berusaha menjatuhkan orang itu, kau salah satu boneka Tumenggung Jati Wilis yang ingin menghancurkan usaha dagang Raden Kusumo,” Ranggajati berkata dengan penuh nafsu, karena pemuda itu memang tidak suka kepada Tumenggung Jati Wilis yang selalu mengganggu ayahnya, ketika menjadi Demang di Kota Panarukan.

__ADS_1


Buto Ijo, setelah kedatangan Ranggajati, seperti yang tidak di anggap oleh mereka berdua, keduanya terus beradu mulut di dekat Buto Ijo.


Raksasa bertubuh hijau, kembali bertanya kepada Aria.


“Raden! Apa boleh keduanya aku bunuh? Tanya Buto Ijo.


“Tangkap orang yang bernama Suminto, jangan lukai pemuda itu, karena ia masih kawan kita,” balas Aria.


“Baik! Jawab Buto Ijo.


Ranggajati menatap ke arah Buto Ijo, setelah mendengar perkataan sang Raksasa.


“Minggir kau! Buto Ijo berkata sambil balas menatap Ranggajati.


Baru saja Ranggajati mundur, Buto Ijo langsung bergerak dan menghantam seorang tukang pukul di dekatnya.


“Whut….Prak!


Tukang pukul juragan Suminto langsung tewas, terkena hantama Buto Ijo.


8 orang tukang pukul yang tersisa langsung mengeluarkan golok, kemudian melesat menyerang Buto Ijo dari berbagai arah.


Whut!


Buto Ijo angkat kaki kanan, kemudian kaki kanan yang terangkat, langsung menendang ke orang yang berusaha membacok kaki Buto Ijo.


Plak!


Si tukang pukul, langsung jatuh setelah kepalanya remuk, terkena tendangan Buto Ijo.


Dua orang membacok punggung serta kepala, Buto Ijo maju dua langkah menghindari serangan, kemudian tangan kiri menonjol pinggang seorang tukang pukul Juragan Suminto, yang hendak menyerang dari samping.


Buk!


Setelah musuhnya rubuh, dengan cepat Buto Ijo memutar tubuhnya, kemudian balik menyerang dari belakang,


Buk….Prak!


Dua orang tukang pukul juragan Suminto kembali tewas di tangan Buto Ijo, dengan tulang punggung hancur dan satu lagi kepalanya remuk.


4 orang tukang pukul yang tersisa, langsung lemparkan golok dan melarikan diri, setelah melihat 6 kawan mereka tewas dengan mudah.


Teriak Juragan Suminto melihat pendekar bayarannya melarikan diri.


“Mau kemana, To? Tanya Buto Ijo sambil menyeringai, melihat mata juragan Suminto menoleh ke arah sekeliling.


“Jangan bunuh….Jangan bunuh! Aku menyerah,” juragan Suminto berkata sambil angkat kedua tangan, setelah melihat Buto Ijo melangkah mendekati dirinya.


Setelah berada di depan juragan Suminto, Buto Ijo meraih baju depan sang juragan, lalu di lemparkan ke arah Aria Pilong.


Brak!


Suminto merintih kesakitan, setelah dirinya di lempar oleh Buto Ijo.


“Maaf tuan! Dia adalah musuh kami, biar kami yang akan menangani dia,” Ranggajati berkata kepada Buto Ijo.


“Lebih baik kau diam dan jangan banyak bicara,” Buto Ijo berkata sambil menatap Ranggajati.


“Kau berani melawan orang-orang Raden Kusumo? Tanya Ranggajati.


Phuih!


“Kau pikir aku takut,” balas Buto Ijo.


Bawa dia untuk di tanyai,” ucap Aria yang tidak mau berkata panjang lebar.


Wangsa menyeret Suminto masuk ke dalam rumah Ki Bowo untuk di tanyai.


“Siapa mereka, Ki? Sepertinya aku baru melihat mereka di dusun Osing,” tanya Ranggajati kepada Ki Sura.


“Mereka adalah tamu Ki Bowo, Den! Jawab Ki Sura.


“Mari kita lihat! Apa yang akan di lakukan oleh mereka, terhadap juragan Suminto.


Ki Sura anggukan kepala, kemudian bersama Ranggajati masuk ke rumah Ki Bowo.


Di ruangan tengah, mereka melihat Raden Suminto hanya memakai celana pendek tanpa memakai baju, duduk di lantai rumah Ki Bowo.


Deretan kursi berada di sekitar juragan Suminto yang tengah duduk di lantai rumah Ki Bowo.”

__ADS_1


Juragan Suminto layaknya seorang pesakitan di tengah persidangan.


“Aku tertarik dengan ucapanmu yang mengatakan, usaha dagang Raden Kusumo di Panarukan akan di ambil alih oleh Tumenggung Jati Wilis, apa benar? Tanya Aria.


“Benar! Di Keta sudah di ambil alih oleh Tumenggung Jati Wilis, sekarang tinggal yang di Panarukan.


“Aku bisa membantu tuan jika tuan mau bekerja sama dengan Tumenggung Jati Wilis.


Melihat Aria diam tak menjawab, Juragan Suminto berkata kembali.


“Raden Kusumo selama ini selalu menguasai perdagangan di kota-kota besar, Tumenggung Jati Wilis tidak suka melihat hal itu karena Raden Kusumo orang Daha, apalagi setelah Raden Kusumo bergabung dengan Padepokan Jagad Buwana, karena si Iblis buta keparat itu, di yakini oleh pemerintah Kahuripan, adalah orang yang membunuh penguasa Tumapel, Tumenggung Wirayuda.


“Tumenggung Jati Wilis sedang mengumpulkan para pendekar pilih tanding, untuk mengusir pedagang-pedagang yang berada di bawah naungan


Kusumo, karena mereka di bantu para pendekar Jagad Buwana.


“Jika tuan pendekar berminat! Aku akan bicara kepada Tumenggung Jati Wilis, agar tuan di beri jabatan tinggi oleh Tumenggung.


“Jangan terbujuk oleh rayuan orang Jati Wilis, tuan pendekar! Ranggajati berkata setelah mendengar perkataan juragan Suminto


Buto Ijo dan Wangsa saling pandang.


Karena rombongan dari sore belum makan, hanya ketela rebus dan Wedang jahe.


“Kau lapar tidak? Bisik Wangsa.


“Lapar,” jawab Buto ijo.


“Kalau mereka terus saja bicara, kita tidak akan makan malam ini,” bisik Wangsa.


Hmm!


“Jadi, apa yang harus kulakukan? Tanya Buto Ijo.


Mata Wangsa melirik ke arah Raden Suminto.


Buto ijo mengerti dengan lirikan Wangsa.


Buto ijo menghampiri Suminto yang sedang beradu omong dengan Ranggajati.


Tak jauh dari keduanya Aria terus mendengarkan, karena dalam beradu omong, secara tidak sadar juragan Suminto membuka semua rencana Tumenggung Jati wilis terhadap Raden Kusumo serta usaha dagangnya.


Suminto dan Ranggajati langsung diam, melihat Buto Ijo sudah berdiri di depan mereka.


Buto Ijo sambil menunjuk ke arah Juragan Suminto, kemudian bertanya.


“Apa Tumenggung Jati Wilis tidak suka dengan Jagad Buwana? Tanya Buto Ijo.


“Benar,” Jawab Suminto.


Kening Aria berkerut mendengar perkataan Buto Ijo.


Tak lama kemudian terdengar suara.


Prak!


Suara yang berasal dari Tinju kanan Buto Ijo sewaktu menghantam kepala Suminto sampai hancur.


Ki Bowo kaget setengah mati, wajahnya terkena cipratan darah juragan Suminto, begitu pula dengan Ranggajati serta Ki Sura.


Aria hanya bisa menarik napas, setelah tahu Buto ijo membunuh juragan Suminto.


“Jang! Buang mayat Suminto,” ucap Wangsa.


Ujang Beurit memanggul mayat Juragan Suminto, di bawa keluar lalu di buang.


Setelah ujang Beurit berlalu.


Ki Bowo termenung memikirkan juragan Suminto yang tewas di desa Osing, kejadian ini pasti akan berbuntut panjang, jika Tumenggung Jati Wilis tahu sang anak buah tewas di tempatnya.


“Desa Osing dalam bahaya,” batin Ki Bowo


Ki Bowo menatap ke arah Wangsa, karena Wangsa di anggap orang tertua di dalam rombongan yang akan menginap di rumahnya, apalagi salah satu orang yang berada di rombongan mereka membunuh juragan Suminto serta tukang pukul bayarannya.


Kabar pasti akan cepat tersebar, karena 4 orang yang kabur pasti melaporkan apa yang terjadi terhadap kawan mereka, kepada penguasa di Keta yang tak lain Tumenggung Jati Wilis.


“Selanjutnya apa yang akan kita lakukan, kisanak? Tanya Ki Bowo.


Buto Ijo mendahului, sebelum Wangsa menjawab pertanyaan Ki Bowo

__ADS_1


“Makan”


__ADS_2