Iblis Buta

Iblis Buta
Gabungan Kekuatan


__ADS_3

Kalasrenggi, Aria Pilong serta Ki Sayuti duduk di satu meja.


Mereka bertiga hendak membicarakan langkah apa yang akan mereka lakukan, untuk menhadapi ancaman dari penguasa Alas Purwo.


“Apa kalian tahu siapa penguasa Alas Purwo? Tanya Aria.


“Penguasa Alas Purwo adalah siluman seperti aku, usianya lebih tua dariku dan ia menjadi sangat sakti karena mendapatkan Qodam dari leluhur tanah Jawa yang Moqsa, bangsa kami juga tidak tahu siapa nama leluhur itu,” Jawab Kalasrenggi.


“Jadi begitu rupanya,” balas Aria.


“Lantas, bagaimana penguasa Alas Purwo di segel oleh Resi Lanang Jagad? Lanjut pertanyaan Aria.


“Kalau masalah itu! Aku tidak tahu, karena aku sudah di asingkan oleh kelima penjaga,” jawab Kalasrenggi.


“Tentu saja kau di asingkan, karena kau suka memangsa siluman piyik ( anak ayam ) Buto Ijo angkat bicara.


Brak!


Kalasrenggi langsung menggebrak meja, lalu berdiri sambil menunjuk ke arah Buto Ijo.


“Tutup mulut mu! Seru Kalasrenggi dengan nada kesal, di sebut suka makan siluman piyik, yang bisa di artikan, hanya memangsa siluman yang baru lahir dan masih kecil.


“Kau pikir aku tidak bisa memakan mu? Lanjut perkataan Kalasrenggi.


“Memangnya kau mampu? Tanya Buto Ijo.


Selamet yang bersama dengan Raden untung berkata, “sekarang kata-kataku selalu di pakai oleh Buto Ijo,” ucap Selamet.


“Biarkan saja! Daripada kau tidak Selamet lagi,” balas Raden untung.


“Mari kita keluar! Seru Kalasrenggi.


“Kalian berdua bisa diam, tidak? Ucap Aria dengan nada dingin, Raut wajah tanpa caping terlihat kesal, mendengar Kalasrenggi dan Buto Ijo saling memaki.


Kalasrenggi duduk setelah mendengar nada perkataan Aria.


Kalabenda yang berada di belakang Kalasrenggi menatap tajam ke arah Buto Ijo, setelah melihat ketuanya di ledek oleh raksasa bertubuh hijau itu.


“Mau apa kau pelatat pelotot kepada orang Jagad Buwana? Tanya Singabarong, setelah melihat Kalabenda yang menatap Buto ijo tanpa berkedip.


“Memangnya kenapa, Kau tidak terima? Tanya Kalabenda.


Ki Sayuti menarik napas, ia yang selalu memperhatikan orang Jagad Buwana, lalu menoleh ke arah sahabatnya, resi Wangsanaya, yang berdiri di dekatnya.


“Ku Abdi di tingal, ti ker di lapang keneh, balad anjeun, te weleh pasea wae. ( saya lihat sejak di arena, kawan mu, terus saja bertengkar )


“Pasea kie mah te sabaraha, jeung urang mah malahan mineng silih hapuk ( bertengkar seperti ini tidak seberapa, kalau dengan saya malah lebih parah dan sering saling hantam ) jawab Resi wangsa sambil tersenyum.


Hmm!


“Jelema owah hungkul,” ( orang gila semua ) batin Ki Sayuti, sambil gelengkan kepala.


“Kalasrenggi! Kalau kau dan anak buahmu tidak bisa diam, apa perlu aku habisi dulu partai Matahari, baru kita bicara? Aria berkata dengan nada penuh ancaman.


Kalasrenggi memberi isyarat kepada Kalabenda dan anak buahnya untuk diam, mendengar perkataan Aria.


Setelah semuanya diam, Aria mulai bicara.


“Mungkin kalian dengar sendiri janji pati Elang jantan yang mengancam Jagad Buwana.

__ADS_1


“Aku! Khususnya Jagad Buwana tidak akan tinggal diam.


“Tetapi aku ingin tahu sikap partai matahari dan Padepokan gunung Gede, mengenai Padepoan Elang emas yang hendak meluaskan daerah kekuasaan mereka ke berbagai wilayah di tanah Jawa, Aria berkata.


“Kami dari padepokan gunung Gede, sebenarnya sudah jenuh dan tak mau ambil pusing, jika mereka datang ke tempat kami, hanya ada dua pilihan untuk kami dan musuh, Hidup atau mati,” ucap Ki Sayuti.


“Jadi Ki Sayuti setelah pertemuan ini, akan langsung kembali ke gunung Gede? Tanya Wangsa.


“Benar, sahabat! Setelah ini kami akan kembali ke gunung Gede.


“Bagaimana denganmu, muka udang! Bagaimana denganmu? Tanya Buto Ijo dengan tatapan sinis.


Brak!


“Bangsat kau kotoran kerbau! Dari tadi mulutmu bikin aku kesal,” ucap Kalasrenggi, saat siluman merah hendak berdiri.


Suara dengusan dari hidung Aria, langsung membuat Buto Ijo diam, dan Kalasrenggi tak jadi berdiri.


“Kalau boleh tahu maksud dari ketua Aria dengan tidak akan tinggal diam itu apa? Tanya Kalasrenggi.


“Masa kau tidak mengerti, ya bertempur tolol,” Buto Ijo yang membalas perkataan Kalasrenggi.


Kalasrenggi langsung menatap Buto Ijo, tetapi Siluman merah tak bicara, setelah mendengar Aria angkat bicara.


“Benar apa yang di katakan Buto Ijo, kami akan bertempur dengan padepokan Elang emas, serta penguasa Alas Purwo.


“Jagad Buwana tidak akan menunggu, tapi kami akan datang langsung ke tempat mereka, agar mereka tidak bisa bergerak lebih jauh dari tempat kediaman mereka.


“Apa kita mampu jika menyerang sarang mereka? Tanya Kalasrenggi.


“Kau takut? Buto Ijo balik bertanya.


“Aku bukannya takut! Tetapi jarum emas mereka bisa melumpuhkan pendekar ber ilmu tinggi, dan membuat tenaga dalam tersumbat, itu sangat berbahaya, jika kita tidak mempersiapkan rencana yang matang.


“Rencanaku hanya satu, serang mereka sampai habis, kita atau mereka yang hancur,” jawab Aria.


Kalasrenggi menarik napas panjang setelah mendengar perkataan Aria.


“Apa boleh aku memberi saran,” ucap Kalasrenggi.


“Silahkan ketua! Seru Aria.


“Kita culik satu persatu pemimpin mereka, lalu kita habisi,” anggota kita tidak banyak korban, begitu pula dengan anak buah mereka, yang tidak akan bisa bertindak, kalau pemimpin mereka sudah tidak ada,” ucap Kalasrenggi.


“Aku setuju dengan usul ketua Kalasrenggi,” balas Aria, “menurutku itu memang yang terbaik yang bisa kita lakukan, jika kita tidak berhasil, anggota kita yang tersisa bisa memperdalam ilmu mereka untuk meneruskan perjuangan kita yang tertunda,” lanjut perkataan Aria.


Padepokan Jagad Buwana akan membawa, Buto Ijo, Resi Wangsanaya, Selamet dan Raden untung, sedangkan sisanya yang lain akan kembali ke gunung Lawu.


“Singabarong, istana kali mati aku serahkan padamu,” jika kami tidak kembali, kau latih orang-orang Jagad Buwana untuk membalaskan dendam kami,” Aria memberi perintah kepada Singabarong.


“Aku ingin bersama ketua, berjuang membasmi penguasa Alas Purwo,” Ucap Singabarong.


“Tugasmu lebih penting dari kami semua yang berangkat ke alas Purwo,” balas Aria Pilong.


“Tapi ketua! Seru Singabarong.


“Tidak ada tapi, keputusan ku sudah bulat,” Aria berkata kepada Singabarong.


“Lalu bagaimana denganmu Suyudi? Tanya Buto Ijo.

__ADS_1


“Namaku Sayuti bukan Suyudi,” Ki Sayuti berkata setelah mendengar Buto Ijo salah menyebut namanya.


“Aku akan kembali ke padepokan gunung Gede.


Tetapi aku akan menyuruh salah satu anak buahku untuk membantu kalian.


Phuih!


“Sudah hanya satu, nantinya menyusahkan,” ucap Buto Ijo.


“Tidak usah khawatir! Biarpun satu orang, anak buahku tidak akan menyusahkan kalian, kalian bisa menyuruh anak buah ku memata matai musuh, karena dia sangat handal menyusup ke garis depan dengan ilmu yang dia miliki.


“Memangnya ilmu apa yang dia miliki? Tanya Aria.


Anak buahku mempunyai ajian Dasar bumi, dia bisa masuk ke dalam tanah dan berjalan ratusan kaki di dalam tanah sehingga susah untuk di serang dan pandai melarikan diri.


“Mana orangnya? Tanya Buto Ijo.


Jang ( sebutan untuk pemuda di Jawa bagian barat ) keluarlah, jangan malu-malu.


Tanah di sekitar mereka bergetar setelah Ki Sayuti berkata.


Aria kerutkan kening, saat kakinya merasakan getaran tanah yang ia pijak.


Krak!


Lantai batu di dekat Ki Sayuti Rengkah, tampak kepala seorang pemuda yang wajahnya di sekitar mulut berbentuk tirus, dengan mata sayu, seperti sedang mengantuk.


Tampak seperti orang yang malas bicara, “aya naon ketua? Tanya pemuda itu.


“Ketuamu sekarang adalah tuan Aria Pilong, lakukan semua yang ia perintahkan.


Pemuda itu anggukan kepala, lalu naik, keluar dari tanah dan berdiri di samping Buto Ijo.


“Siapa namamu? Tanya Buto Ijo.


Aku biasa di panggil “Si Beurit,” ( Si tikus ) jawab pemuda itu, tampak acuh seperti yang malas untuk menjawab.


“Bentit,” ucap Buto Ijo.


“Beurit….” Pemuda itu berkata kembali, setelah Buto Ijo salah menyebut namanya.


“Kenapa, banyak nama-nama yang aneh, Selamet, Untung, sekarang Beurit.” Ucap Buto Ijo.


“Namaku ada artinya! Seru pemuda itu.


“Apa artinya? Tanya Buto Ijo merasa penasaran.


“Tampan,” jawab Si Beurit.


Wangsa sampai menutup mulut dengan tangan, berusaha menahan tawa, mendengar celoteh anak buah Ki Sayuti.


Sedangkan Buto Ijo menatap tajam ke arah wajah pemuda itu.


“Artinya Si Beurit itu apa tadi kau bilang? Tanya Buto Ijo.


“Tampan,”


Hmm!

__ADS_1


Buto Ijo mendengus, kemudian membalas perkataan Si Beurit.


“Muka seperti tikus, tapi mengaku tampan.”


__ADS_2