
Setibanya di rumah, semua penghuni rumah sudah tertidur pulas, Chaim langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya, dia merasa sangat lelah.
Dia hanya melepaskan jaketnya dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur, dan akhirnya dia Tertidur dengan pakaian seragamnya.
Pagi-pagi mama Dita masuk ke dalam kamar Chaim dia ingin membangunkan anaknya itu.
"Astaga anakku, kok gini sih" ucap mama Dita melihat chaim tidur dengan baju kerjanya.
Mama Dita tidak berani membangunkan chaim karena dia melihat anaknya kelelahan, dan akhirnya mama Dita kembali keluar dari kamar Chaim
" Chaim mana ma, kok belum bangun" tanya papa Adit.
"Masih tidur pa, mungkin dia sangat kelelahan sampai-sampai dia tertidur dengan baju seragamnya" jawab mama Dita.
Akhirnya pagi ini mereka hanya sarapan bertiga saja, karena Chaim masih tertidur, setelah selesai sarapan Papa Adit dan Cello pamit untuk ke kantornya.
Tidak lama Chaim turun dengan baju yang sudah rapih, karena waktu mama Dita keluar dari kamarnya Chaim langsung terbangun.
"Loh sudah rapih aja nak?" tanya mama Dita.
" Banyak kerjaan di kantor ma, kenapa mama tidak bangunkan aku tadi" ucap Chaim.
"Maaf nak, tadi mama lihat kamu tidur sangat nyenyak jadi mama tidak tega bangunin kamu" jawab mama Dita.
Chaim langsung duduk sarapan tidak sendirian ada mama Dita menemaninya, setelah sarapan Chaim langsung pamit pada mamanya dan langsung berangkat ke kantor.
Hari-hari mama Dita hanya di habiskan di rumah sebagai ibu rumah tangga, peran itu sangat di nikmati mama Dita, segala urusan suami dan anak-anaknya dia yang siapkan.
Setelah selesai memarkirkan motornya, Chaim langsung masuk ke dalam kantornya.
"Chaim..." teriak seseorang dari belakang.
Chaim dan lainnya langsung menoleh melihat siapa yang memanggil dirinya.
"Chaim... ini aku bawakan kamu sarapan" ucap Devi sambil menyodorkan rantang yang berisi makanan.
"Terimakasih Devi" ucap Chaim pada Devi sambil mengambil rantang makanan tersebut.
"Sama-sama, aku tau kalau kamu pasti belum sarapan" jawab Devi sambil tersenyum bahagia karena akhirnya Chaim mau mengambil pemberiannya.
"Kalian belum sarapan?" tanya Chaim pada temannya yang ada di depan.
"Belum pak, ini baru mau pergi cari sarapan" jawab yang lainnya.
"Kalau begitu ambil ini, ini untuk kalian" ucap Chaim memberikan rantang tersebut pada temannya.
Devi sangat kaget karena bekal darinya ternyata di berikan ke pada orang lain, senyum bahagia Devi menjadi senyum di paksakan.
__ADS_1
Bukan hanya Devi yang kaget rekannya yang lain juga ikut kaget.
"Tapi itu untuk bapak, kenapa kasih ke kami lagi".
" Ini kan sudah menjadi milik saya, makanya saya kasih ke kalian, karena saya sudah sarapan tadi dari rumah" jawab Chaim.
"Oh ya kalau kalian tidak mau, simpan aja di situ" ucap Chaim kembali.
Devi semakin kesal pada Chaim, Devi langsung meninggalkan kantor polisi dengan hati yang kesal, karena bekal yang dia bawa untuk Chaim ternyata di kasih orang lain.
"Terimakasih pak sarapannya" ucap Roy salah satu teman Chaim.
"Ia sama-sama, saya masuk dulu" jawab Chaim dan langsung masuk ke dalam ruangannya.
Sedangkan roy dan dua temannya lagi, langsung duduk menikmati sarapan yang di bawa oleh Devi, mereka makan sambil mengobrol.
"Kasian juga ya melihat nona Devi, dia melakukan segala cara agar bisa dekat dengan pak Chaim tapi tetap aja di cuekin".
"Ya mungkin ada sesuatu hal yang pak Chaim tidak suka darinya" jawab Roy.
"Betul juga, tapi ngomong-ngomong nona Devi itu cantik juga" jawab rekannya yang duduk di sampingnya.
"Kalau kamu mau ambil saja, kamu jadikan istri kedua" jawab Irwan dari belakang.
Mereka langsung tertawa dengan candaan mereka, tidak lama semuanya sibuk kembali dengan pekerjaan mereka masing-masing, karena Roy dan kedua temannya sudah selesai sarapan.
ππ
"Masuk" ucap Cello dari dalam ruangan.
"Permisi pak, ini yang harus bapak periksa, saya di suruh pak Adit memberikannya ke bapak" ucap sekertaris nya.
"Terimakasih, kirain kamu datang cari saya, ternyata datang memberikan pekerjaan" goda Cello padanya.
"Bapak bisa aja, saya memang mencari bapak karena ada pekerjaan untuk bapak" jawab Mada yang tak lain adalah anak dari Chua dan Risna.
Mada bekerja di sini semenjak lulus kuliah itu pun permintaan papa Adit untuk menjadi sekertaris Cello, karena Mada anaknya pintar seperti mamanya Risna.
Mada memang sudah tau sikap bosnya tersebut, makanya dia tidak terpancing dengan gombalan Cello.
"Saya permisi dulu pak, mau lanjutkan pekerjaan saya yang lainnya" ucap Mada pamit pada Cello.
"Jangan panggil bapak dong, kedengarannya sangat tua, padahal kita seumuran" jawab Cello.
"Bagai mana pun, tetap saya memanggil bapak karena ini kantor bukan taman" jawab Mada sambil tersenyum pada Cello.
Cello hanya mengangguk dan Mada langsung keluar dari ruangan bosnya dan kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
ππ
Tiba waktunya makan siang, Rere bersama teman-temannya memilih makan di luar kantor, mereka ingin makan bakso di pinggir jalan depan kantor mereka.
Tiba di tempat penjual bakso, Rere dan teman-temannya langsung memesan bakso pada si penjualnya.
"Pak... baksonya 3 ya" ucap Rere sama Pakde penjual bakso.
"Siap non, tunggu sebentar ya" jawab pakde bakso.
Rere akhirnya kembali bergabung bersama temannya, yang sudah duluan duduk.
"Re... ada cogan" bisik dewi sahabatnya.
"Mana?" tanya Rere penasaran.
Dewi langsung menunjuk ke arah laki-laki yang lagi makan, dan ternyata Chaim dan rekan-rekannya lagi makan siang.
"Oh itu biasa aja, nggak ada yang ganteng" jawab Rere cuek.
"Sok jual mahal loe" ucap rekannya yang lain.
"Udah ayo makan, kita ke sini mau makan bukan datang melihat orang makan" jawab Rere dan langsung mengaduk baksonya.
Mereka berempat akhirnya menikmati bakso yang mereka pesan, karena sebentar lagi jam istirahat siang habis, sedangkan Chaim dan beberapa temannya, langsung meninggalkan mereka makan siang dan kembali ke kantor mereka.
"Tadi di tempat penjual bakso, ada cewek-cewek cantik" ucap Irwan.
"Matamu Wan...jelalatan terus" jawab Chaim.
"Cuci mata bos, siapa tau ada yang kesandung di hati" jawab Irwan tertawa.
"Betul Wan, apa lagi pak bos kayaknya masih betah Menyendiri" sambung Jony.
"Belum saatnya, kasian anak orang mau di kasih makan apa nantinya" jawab Chaim santai.
"Aduh pak bos, kekayaan pak bos tidak akan habis tujuh turunan kok, jangan takut pak" ucap Irwan kembali.
Asik mengobrol akhirnya mereka tiba di kantor kembali, Chaim langsung masuk ke dalam ruangannya.
Begitu juga dengan Rere, dia juga sudah kembali ke kantornya bersama teman-temannya.
"Kayak yang tadi anaknya teman mama deh" batin Rere.
Tapi Rere tidak terlalu ambil pusing, karena menurut Rere, itu tidak penting yang penting adalah pekerjaan.
π·π·π·π·
__ADS_1
Jangan pernah bosan memberikan like dan komentar buat aku, buat author rengginang iniππ€
β€β€β€β€Bersambungβ€β€β€β€