
Akhirnya Bram berhasil membawa Allea pindah ke apartemen. Sesampainya di apartemen milik Bram, Allea terkagum akan isi apartemen Bram yang diisi dengan barang-barang mewah, ia melihat ke luar jendela pemandangan malam kota jakarta terlihat indah bila di lihat dari kediaman bram yang berada di lantai paling tinggi.
"lea..!! ni kamar lo.." Bram menunjukan kamar untuk Allea kamar kecil yang hanya di beri satu ranjang, lemari pakaian, dan ber ac.
"aku disini mas...??" Allea bertanya pada Bram.
"iya! trus lo mau tidur di kamar gue..!!" Bram Mendekatkan wajahnya ke wajah Allea, membuat wajah Allea memerah, Allea terdiam.
"jangan mimpi ...! jangan pernah mikir kita bakal hidup kayak rumah tangga seperti yang lainnya" Bram tersenyum licik dan meningglkan Allea ia masuk ke kamarnya sendiri, Allea hanya terdiam
"Alhamdulillah... segini juga gue udah bersyukur, gak apa-apa memang sebenernya gue sama bram ga da rasa apa-apa wajar kalo sampe sini kita masing masing" Allea berbicara dengan diri Sendiri, ia segera membereskan pakaiannya dan di masukan ke lemari tak lama kemudiam terdengar Bram mengetuk pintu kamar Allea.
"tok..tok..tooook..,tok tok toook" Bram mengetuk dengan sangat kasar, Allea keluar dari kamarnya.
"ada apa mas?" tanya Allea ke Bram yang terlihat dingin.
__ADS_1
"nih baju baju lo yang di beliin mami tadi ada di lemari gue.." bram menyodorkn setumpuk baju baru yang di belikan oleh mami Ajeng.
"ohh iyaa makasih" Allea menerimanya dengan senang hati.
"oia jangan sembarangan masuk kamar gue...!" Bram menoleh sinis ke Allea dan meninggalkan Allea,
Allea hanya terdiam mau bagaimanapun ia adalah suami Allea. ia harus menurut dan merawatnya dengan baik pula.
Allea kembali ke kamarnya ia merebahkan tubuhnya di kasur air matanya mulai menetes ia sedih malam itu malam pertama ia tak tidur di kamarnya ia merindukan keluarganya malam itu .
Pagi harinya Allea sudah bangun dan sudah masak untuk sarapan pagi seperti seorang istri yang mengurus suaminya.
"maaf mas aku lagi masak sarapan pagi" Allea kaget pagi itu Bram membentak dirinya
"gak usah masak yang aneh-aneh yaa gue gak suka percuma lo masak, gue udah pesen sarapan pagi.." Bram memasang wajah jutek nya, ia membuka pintu balkon dan duduk di teras menikmati udara pagi.
__ADS_1
Allea membawa secangkir kopi untuk Bram dan menaruhnya di meja samping Bram yang sedang merebahkan tubuhnya di kursi santai pagi itu.
"mas kopinya" Allea menaruh kopi itu.
"heum.., Allea lo ngerasa banget yaa kita ini pengantin baru???" Bram tertawa sinis.
"iyaa memang salah yaa aku merasa seperti itu??" Allea menjawab pertanyaan Bram.
"hahahahha.. hahaha Allea Allea ..!! lo itu lucu yaa kita ini nikah di jodohin gue sih ngerasa ini bukan pernikahan sungguhan tapi maen maen.. hahaha" Bram tertawa seperti meledek Allea.
"makanya elu jangan terlalu mikirin gue, ngurusin gue masing-masing ajah, oke...! yang penting gue tiap bulan ngasih jatah bulanan lo duit buat kebutuhan lo" bram menjelaskan panjang lebar.
"aku ga bisa gitu mas bagiku pernikahan yang sudah terlanjur mas ikrar kan itu pernikahan sungguhan untukku yang penting aku sudah menjalani kewajiban ku sebagai istri terserah mas mau terima atau enggak" Allea menjawab panjang lebar.
"cih.... ck.. ribed.. amat.. dah ah mau ke cafe di bawah mau sarapan lu makan sendiri deh masakan lu itu" Bram pergi meninggalkan Allea yang masih terdiam di balkon.
__ADS_1
Allea berjalan menuju dapur dan duduk di meja makan ia memakan masakannya sendiri, suapan pertama ia terdiam, ia mengunyah pelan makanannya itu suapan kedua Allea mulai terisak menahan sesak dan air matanya mulai jatuh, pagi itu pagi yang menyakitkan untuk Allea ia sarapan pagi sendirian tanpa di temani Bram ia sarapan sambil menangis terisak perasaan dalam hatinya berkecamuk.
"sabar Allea sabar.. kuat kuat kuat...!!" Allea menyemangati dirinya sendiri sembari sesekali mengunyah makanannya pelan-pelan rasa lapar sudah tak lagi dapat ia rasakan pagi itu yang ia rasakan hanya rasa sesak dalam dada.