
"Linzy... aku mau ngomong sesuatu sama kami" ucap Kevin yang duduk di sofa berhadapan dengan Linzy.
"Mau ngomong apa?" tanya Linzy.
"Kita udah lama kenal, sejak di bangku kuliah, dan aku merasa cocok dengan kamu" ucap Kevin sedikit gugup dia merasa bingung mau ngomong bagai mana.
"Terus?"
"Aku ingin kita menjalani hubungan, aku mereka kalau kita itu cocok" ucap Kevin menatap Linzy.
"Kamu jangan bercanda" jawab Linzy tertawa.
"Aku tidak bercanda, aku serius" ucap Kevin sambil memegang kedua tangan Linzy.
Linzy kaget karena Kevin langsung memegang kedua tangannya dan berlutut di hadapannya, dia tidak menyangka kalau Kevin memendam perasaan padanya selama ini.
"Kevin apa-apa sih, ayo berdiri nanti ada yang lihat lagi" ucap Linzy pada Kevin.
Kevin langsung berdiri dan kembali duduk di samping Linzy.
"Aku tidak memaksa kamu untuk menjawab atau menerima aku, tapi aku hanya ingin jujur dengan perasaan aku selama ini ke kamu" lanjut Kevin.
Linzy hanya diam mendengar Kevin mengutarakan isi hatinya.
"Bisa beri aku waktu?" tanya Linzy ke Kevin.
"Ok, aku tunggu jawaban kamu, aku siap menerima apa pun keputusan kamu nantinya" jawab Kevin kembali.
Linzy langsung tersenyum pada Kevin, dia juga tidak ingin buru-buru memberikan jawaban pada Kevin.
"Ok sehabis makan siang, aku terbang kembali ke kalimantan" ucap Kevin.
"Terus kapan lagi datang ke jakarta?" tanya Linzy.
"Belum tau juga, soalnya pekerjaan udah selesai" jawab Kevin.
Mereka berdua mengobrol, dan tidak lama Kevin pamit untuk pulang karena dia akan kembali ke hotel untuk siap-siap kembali ke kalimantan.
Setelah Kevin pergi Linzy kembali duduk di kursi nya dan memikirkan tentang ucapan Kevin padanya, bagi Linzy Kevin memang orangnya sangat baik, selama dia mengenal Kevin, dia tidak pernah mendengar Kevin mempunyai pasangan.
Tapi Linzy belum punya perasaan apa-apa sama Kevin kecuali sebagai sahabatnya. tapi dia akan belajar membuka hatinya untuk Kevin, karena bagai mana pun Kevin orangnya sangat baik sama dirinya, selalu ada untuknya walaupun mereka berjauhan.
Kevin selalu memberikan perhatian dari jauh sebagai sahabat, tempat Linzy mencurahkan semua keluh kesahnya.
__ADS_1
ππ
Cello yang baru selesai meeting, langsung masuk ke dalam ruangannya di susul oleh sekertaris yaitu Mada.
"Pak, barusan ada yang datang mencari bapak tapi bapak lagi meeting" ucap Mada.
"Siapa?" tanya Cello kembalikan badannya pada Mada.
"Maaf Pak, aku tidak tau namanya siapa, tapi orangnya lebih tua dari bapak, sepertinya mantan bapak deh" ucap Mada kembali.
"Kamu tidak tanya siapa namanya? tanya Cello penasaran.
"Tidak pak, saya lupa" jawab Mada kembali.
Cello langsung duduk tapi dia masih penasaran siapa yang datang mencarinya, Mada yang lihat tingkah Cello ingin ketawa tapi dia tahan.
"Katanya bapak ingin berubah?" tanya Mada kembali.
"Ia tapi saya sedikit penasaran siapa yang datang mencari saya tadi" jawab Cello.
"Saya ingat, siapa namanya" ucap Mada.
"Siapa?" tanya Cello kembali.
Cello sedikit emosi melihat sang sekertaris yang berhasil ngeprank dirinya. Mada dan Cello kadang saling ngeprank.
Mada sangat bahagia bisa membalas perbuatan Cello, karena Cello pernah datang mengaku sebagai pacar Mada saat Mada lagi makan malam dengan kekasihnya, untung saja Mada dan pacarnya tidak marahan atau sampai putus.
Cello kembali duduk di kursi kerjanya, dia langsung di hadapkan dengan dokumen yang sudah menumpuk di atas meja.
Dia memanggil Mada untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi bapak memanggil saya?" tanya Mada.
"Ia, tolong buatkan saya kopi ya dan satu lagi, mulai hari ini detik ini, kamu harus memanggil saya dengan panggilan bos, ingat ya bos" ucap Cello.
"Apa? bos? biasanya juga di panggil bapak" jawab Mada.
"Kalau panggil bapak kesannya sudah terlalu tua" jelas Cello.
"Ok bos, saya permisi dulu bos" jawab Mada dengan nada mengejek.
Mada langsung meninggalkan ruangan Cello dan segera pergi membuat kopi untuk bosnya. setelah selesai, Mada langsung kembali ke ruangan Cello.
__ADS_1
Setelah mengetuk pintu, Mada langsung masuk setelah mendengar jawaban dari dalam.
"Permisi pak bos, ini kopinya" ucap Mada sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja Cello.
"Kamu bilang apa tadi? pak bos? panggilan yang sangat bagus" jawab Cello.
"Terimakasih pak, saya permisi dulu".
" Ingat pak bos, bukan bapak ok!" ucap Cello memperingatkan Mada.
Mada hanya mengangguk dan langsung keluar dari dalam ruangan Cello, dia kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan nya.
****
Di rumah mama Dita, bunda Dea dan juga ibu Mia sudah pada berkumpul, Lintang memilih naik ke kamar tamu di lantai atas untuk main games karena dia malas mendengar parah ibu-ibu mengobrol.
"Mbak, Linzy kan udah hampir 25 tahun, udah bisa menikah tuh" ucap Dea.
"Ia sih, tapi aku tidak pernah melihat dia jalan bareng laki-laki selain sahabatnya" jawab Mia.
"Lebih parah Tya, aku tidak pernah melihat ada temannya laki-laki, kecuali kakak dan adik sepupunya" ucap Dea.
"Chaim juga mungkin belum akan menikah seandainya aku tidak jodoh kan dengan Rere" lanjut Dita.
Linzy dan Tya memang tidak pernah terdengar kalau mereka berdua itu mempunyai kekasih, padahal mereka berdua juga tidak kalah cantik. Linzy yang lema lembut mengikuti sang ibu, tapi paling suka berdebat dengan Cello, setiap bertemu pasti ada saja yang di perdebatkan.
Sedangkan Tya orangnya tegas, mengikuti sifat sang ayah, tapi sangat ramah mengikuti sang bunda, tapi dia menguasai belah diri dan mahir memakai pistol dan senjata tajam lainnya, tapi hanya ayah dan bundanya yang tau kalau Tya mahir memakai senjata tajam, karena setiap latihan pasti dia dan sang ayah latihan di basecamp ayahnya.
"Tapi aku berharap mereka berdua secepatnya ada yang datang melamarnya" ucap mama Dita.
"Amin... semoga saja" jawab bunda Dea dan di Amini ibu Mia.
Tidak lama Lintang turun dari lantai dua, dan langsung menuju dapur untuk mengambil air dingin di dalam kulkas, dia masih mendapati ketiga ibu-ibu rempong itu asik mengobrol di ruang keluarga.
Lintang hanya geleng-geleng kepala mendengar mereka membahas anak-anak mereka sendiri, Lintang langsung kembali naik ke lantai dua, Lintang memang anaknya seperti Chaim, dia banyak diam hanya sibuk dengan games di hpnya.
Apa lagi kalau dia sudah bertemu dengan Cello mereka berdua bisa main games sampai larut malam.
terkadang Lintang dapat omelan dari sang ibu, karena begadang main games, tapi Lintang tidak playboy seperti Cello, sampai sekarang dia juga belum mempunyai kekasih, karena dia ingin fokus dengan kuliahnya dulu, nanti kalau sudah kerja baru memikirkan pendamping hidup.
ππ
Sampai di sini dulu ya kak, jangan lupa dukungan nya, lewat like dan komentar nya, kalau bisa bunga atau secangkir kopinya jugaπ€£ terimakasihππ€
__ADS_1
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·