
Tepat jam sepuluh malam Tamara sampai di desanya,tadi mereka memaksakan harus pulang ke desa.Tamara merasa sangat malu kepada ibu dan adik karena perlakuan mama mertuanya yang tidak punya perasaan sedikit pun di hadapan keluarganya.
"Ayo masuk,jangan dipikirkan,kalau kamu stres bayi yang ada di kandungan mu juga akan stres." Ucap Rosa,dia mengangkat barang-barang milik Tamara dan membawa Tamara masuk kedalam rumah.
"Aku malu bu...ini pertama kalinya kalian datang ke kota, tapi harus mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mama mertua ku,selama ini mama memang tinggal bersama kami,dia memang kerap menyiksaku dan memaksaku untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah jika mas Abian tidak di rumah,tapi aku tidak pernah menyangka mama akan melakukan hal seperti ini." Ucap Tamara,Dia tidak sanggup menahan air matanya dan akhirnya jatuh juga di wajahnya.
"Sudah...Sudah..Beginilah nasib yang harus kita tanggung kalau kita orang miskin,doakan saja supaya Abian segera datang menemui mu." Jawab Rosa dia memeluk Tamara yang sesenggukan.
"Ma...Kalau mas Abian datang aku tidak mau ikut ke kota lagi,aku mau melahirkan disini saja,sakit ma,aku tidak mau diperlakukan seperti itu,padahal bukan aku yang mengejar-ngejar Abian ma..." Ucap Tamara,dia terus menagis mengingat semua kata-kata kasar mertuanya kepada keluarganya.
Selama ini dia bertahan,menghadapi sikap angkuh mertuanya tapi dia sangat tidak terima saat mertuanya memaki-maki ibunya.
Kakak,ini minum dulu,tenangkan pikiran,aku yakin bang abian akan segera menemui mu,lebih baik Kakak istrahat,kasihan calon dede bayinya." Ucap Riski,dia berusaha menghibur kakaknya yang sedang terluka karena mertuanya yang begitu jahat.
Karena sudah kelelahan mereka bertiga tidur,Riski tidur di kamarnya sementara Tamara tidur bersama mamanya.Malam ini mereka begitu kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh apalagi Tamara tidak menunggu lama dia langsung tertidur pulas.Rosa mengambil ponsel Tamara dari dalam tasnya lalu membuka ternyata ponsel itu sudah mati kehabisan baterai terpaksa Rosa mengisi daya untuk ponsel Tamara.
Keesokan paginya Abian bangun dari tidurnya,dia merasakan pusing di kepalanya,dia memukul-mukul kepalanya karena dia merasakan pusing yang luar biasa.
"Kamu sudah bangun,ini mama buatkan teh kamu harus minum?"
"Kenapa mama masuk ke kamar ku,dan dari mana mama tau aku sedang tidak enak badan?"
__ADS_1
"A_aa mungkin ini feeling seorang mama,sekarang habiskan air minum mu lalu kamu kembali tidur." Ucap Lilis dia memaksa Abian untuk menghabiskan air yang sudah di campur ramuan dari dukun tadi siang.
"Mam,apa Tamara sudah kembali?"
"Untuk apa kamu menanyakan dia lagi,dia sudah pergi bersama pria lain kamu jangan terlalu bodoh Abian,dia sudah membohongimu selama ini,lebih baik kamu pokus untuk masa depanmu!!"
"Sudahlah ma...Aku mencintai Tamara,dia istriku dan dia sedang mengandung anakku,lebih baik mama keluar dari dalam kamarku,atau mama pergi dari apertemen ku,aku sangat frustasi kalau mama datang kesini,entah sejak kapan mama suka datang ke tempat ku ini."
"Sudah kamu tidur saja mama keluar." Jawab Lilis dengan nada ketus,dia kesal melihat Abian yang terus menyebut nama Tamara di hadapannya.
Lilis keluar dari dalam kamar Abian dan berjalan menuju ruang tamu,dia akan menunggu reaksi obat itu,dia masih penasaran dengan khasiat obat pemberian dukun itu.
"Kalau obatnya tidak mempan aku akan menuntut dukun sialan itu,tapi aku rasa memang obat itu manjur buktinya Abian tidak keluar mencari istrinya dia hannya tiduran di kamar dari semalam." Suara hati Lilis,dia berharap Abian benar-benar melupakan Tamara,agar dia segera menikahkan abian dengan Retha wanita pilihan hatinya.
"Ma..Memangnya Tamara pergi kemana?" Tanya Abian dengan wajah polos,bibir Lilis tersenyum lebar saya melihat Abian kebingungan seperti itu.Itu artinya obat sang dukun sangat manjur.
"Mama juga tidak tau,mungkin dia sudah kabur bersama pria lain,memangnya kamu tau apa saja yang dia lakukan di apertemen ini selama kamu di kantor,namanya dia orang kampung yang tidak ada pendidikannya yang pastinya dia tidak menjaga harga dirinya." Lilis mencuci otak Abian,dan saat itu abian mempercayai semua momongan mamanya.
Lilis sangat bahagia melihat reaksi Abian,wajahnya yang kebingungan terlihat mengangguk semua ucapannya.Lilis terlihat bahagia dia tidak tau jika obat pemberian sang dukun memiliki masa tenggang selama tiga bulan,obat itu hannya berlaku selama tiga bulan ini jika waktunya sudah lewat dan tidak memberikan obat yang baru maka abian akan kembali seperti semula.
"Ma...aku lapar!!"
__ADS_1
Lilis berjalan kebelakang lalu mengambil makanan yang dibawanya tadi dari luar,dia tau pelayan di apertemen ini sudah tidak bekerja lagi.
"Ini makan lah,mama mau ngomong sama kamu."
"Ngomong saja ma!"
"Kamu tau kan Tamara sudah mengkhianati cinta mu,lebih baik sekarang kamu pikirkan ucapan mama,menikahlah kamu dengan Retha,dia sudah lama mencintai mu,dia wanita yang baik,dan wanita yang pantas menjadi istrimu." Ucap Rosa,Abian hannya diam,dan terus menikmati makanan yang ada di piringnya.
"Terserah mama saja jika memang itu yang terbaik." Jawab Abian.Dia seperti kerbau yang di cucuk hidungnya apa pun yang di suruh dia mau saja tampa berpikir panjang,Lilis benar-benar mengendalikan anaknya abian.
****
Sementara itu Tamara sedang duduk di teras rumahnya sambil bermain ponselnya,dia sudah menunggu panggilan dari abian semenjak pagi tapi sampai siang ini dia belum memanggilnya juga membuat Tamara semakin sedih.
"Wah...Orang kaya pulang kampung ya...Mana suami kaya mu,kok pulang sendirian saja,jangan biasakan meniggalkan suami sendirian,takut suaminya di culik pelakor." Sindir Dewi yang kebetulan lewat dari depan Tamara,dia mungkin sudan lupa saat abian memberikan pelajaran kepadanya pada waktu pertama mereka datang ke kampung ini.
Tamara mengabaikan ucapan Dewi,dia menganggap dewi hannya wanita sinting yang kebetulan lewat saja,walaupun kata-kata yang di ucapkan Dewi ada benarnya tetap saja dia merasa sangat sakit hati.
Tamara masuk kedalam rumah kalau duduk di sopa tiba-tiba dia menangis membayangkan ucapan Dewi,dia takut abian malah jatuh cinta dengan wanita lain.Tamara mulai bingung dia lupa entah sejak kapan dia jatuh cinta kepada Abian suaminya.
"Apa kata nenek lampir itu,dia belum jera juga ya,waktu di permalukan nak Abian,dasar nenek lampir,kamu tidak usah pikirkan kata-katanya." Ucap Rosa dia memeluk putri kesayangannya.
__ADS_1
*** Bersambung***