
Davin yang melihat sebuah proposal yang di berikan Risna dia tadi saat baru tiba.
Dia membuka dan membacanya sebelum menyerahkannya pada Adit, Davin membacanya dengan teliti.
Tidak lama Adit tiba di kantor, dia langsung masuk ke dalam ruangannya, tiba-tiba Davin muncul dengan sebuah proposal di tangannya.
"Bos, ini ada proposal pengajuan kerja sama dengan perusahaan kita" ucap Davin pada Adit.
"Kamu sudah membacanya?" tanya Adit kembali.
"Sudah bos, tapi kalau menurut saya lebih baik kita selidiki dulu, sebelum tanda tangan kerja sama dengan mereka" jelas Davin pada Adit.
"Ya saya juga setuju dengan usulan kamu" jawab Adit.
Ekspresi Adit setelah mendengar pendapat Davin, dia memang selalu puas dengan hasil kerja sang asistennya.
Davin tidak hanya asisten biasa, tapi dia juga lihai dalam dunia hacker.
Setelah selesai mengobrol dengan Adit, akhirnya Davin kembali ke ruangannya, dia akan menyelidiki perusahaan yang mengajukan kerja sama dengan mereka.
Di kantor Rio, Nadin malah menggoda sang bos dengan candaan.
"Pak Rio, bapak kan sudah satu bulan lebih sedikit habis menikah, apa ibu Mia sudah isi?" tanya Nadin.
"Belum, tapi sabar saja sedikasihnya" jawab Rio.
"Aduh jangan-jangan bapak kurang power saat membuatnya mungkin, atau bapak hanya dua kali seminggu?" tanya Nadin si mulut lemes.
Dia tidak sadar kalau sang kekasih sudah dari tadi memperhatikan dia.
"Enak saja, hampir tiap malam kali Nadin" jawab Rio tertawa.
"Aduh kasian dong ibu Mia, tiap malam gempa di tempat tidur" jawab Nadin sambil tertawa keras.
Ferdi langsung datang menghampiri meja Nadin, karena dia sedikit malu mendengar omongan Nadin dengan atasannya.
"Kalau bicara itu mulut di saring dulu, bisa-bisanya kamu bicara begitu dengan pak Rio" tegur Ferdi.
"Tenang aja sayang, nanti kita juga akan rasakan, kalau kita nanti tidak cuma gempa di kamar tapi seisi rumah" jawab Nadin kembali cengengesan.
Rio sudah terbahak-bahak tertawa mendengar ucapan sang sekertaris, betul-betul tidak di saring.
Karena malam meladeni Nadin, akhirnya Ferdi pergi begitu saja.
"Aduh calon imanku jangan ngambek dong, nanti cepat tua, bisa-bisa orang bilang aduh si Nadin cantik-cantik menikah dengan kakek-kakek" goda Nadin pada sang kekasih yang berlalu meninggalkan dia.
Rio hanya tertawa mendengar ocehan Nadin pada Ferdi, memang dasar si Nadin dia tidak sadar apa kalau dia sedang di kantor, mulut asal bunyi saja.
__ADS_1
Kini Rio juga sudah meninggal Nadin, dia masuk ke dalam ruangannya karena dia akan pergi meeting bersama dengan Ferdi.
"Pak, semuanya sudah siap, saatnya kita berangkat" ucap Ferdi.
"Ok ayo jalan soalnya klien kita ini orangnya sangat ribet" ucap Rio.
Rio dan Ferdi langsung meninggalkan kantor mereka dan menuju tempat meeting, dalam perjalanan mereka berdua membahas tentang Nadin.
"Pak, saya minta maaf atas ucapan Nadin tadi" ucap Ferdi.
"Kenapa kamu yang minta maaf, santai saja kan Nadin cuma bercanda" jawab Rio.
"Aku juga heran bos, mulutnya itu asal bunyi saja, tidak pernah berpikir sebelum bicara" ucap Ferdi
"Ha ha ha tapi dia orangnya sangat bertanggung jawab kok, dan menurut saya dia memang cocok dengan kamu, dia periang dan kamu pendiam" jelas Rio.
"Amin pak, semoga dia betul-betul jodoh saya" jawab Ferdi.
Karena asik cerita mereka berdua sudah tiba di tempat meeting.
Karena sudah waktunya makan siang, semua karyawan beristirahat untuk makan siang, tiba-tiba Chua muncul di hadapan Risna.
"Hai... lagi sibuk ya" sapa Chua pada Risna.
"Nggak sih, ini udah mau istirahat makan siang dulu" jawab Risna.
"Kalau begit kebetulan dong, ayo kita makan siang bareng" ajak Chua.
Mereka berdua memang dekat tapi hanya sebatas teman karena Chua belum pernah mengutarakan isi hatinya pada Risna, padahal sudah lama menyimpan perasaan pada sekertaris Adit itu.
Adit yang lagi ingin keluar makan siang, tiba-tiba hpnya berdering dengan cepat dia mengeceknya ternyata sang istri yang menghubunginya.
"Ia sayang, ada apa?" tanya Adit dengan lembut.
"Sayang, aku mau makan papeda" ucap Dita.
"Apa? sepeda?" tanya Adit heran.
"Pa-pe-da, sayang, makanan khas Papua yang terbuat dari sagu, dan di makan dengan ikan kuah" jelas Dita.
"Tapi mas belum pernah lihat sayang bentuknya bagai mana, dan di jual di mana?" tanya Adit
"Tapi aku ingin banget makan itu mas" bujuk Dita kembali.
"Ok sayang, mas pulang ya nanti kita cari bersama ya" ucap Adit pada Dita.
Dengan senang hati Dita mengiyakan dan langsung menutup sambungan telepon dengan suaminya.
Adit langsung meninggalkan kantor dan menuju pulang, karena dia ingin menemani Dita mencari makanan yang bernama papeda.
__ADS_1
Hampir satu jam Adit menempuh perjalan dari kantornya sampai ke rumah mertuanya, akhirnya dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah dengan sempurna, dia segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Siang papa" sapa Dita pada suaminya.
"Siang sayang, kamu sudah siap? ayo kita jalan" ucap Adit.
"Tidak usah sayang, aku malas keluar rumah" jawab Dita.
"Terus katanya mau makan papeda" ucap Adit.
"Nanti bibi Sumi yang buat, katanya dia bisa buat kok sayang" jawab Dita.
"Ok kalau begitu, kamu minta tolong saja pada bibi untuk buatkan"
"Sudah bibi lagi sementara membuatnya kok di dapur" jawab Dita.
"Tapi kamu tau kan cara makannya?" tanya Adit kembali.
"Tau lah sayang, tadi aku sempat lihat di televisi" jawab Dita kembali.
"Bunda juga penasaran dengan rasanya makanya bunda suruh bibi bikin agak banyak, agar kita bisa rasa semua" sambung bunda Astrid yang keluar dari kamar.
Tidak lama bibi Sumi akhirnya muncul dari dapur, dia ingin memanggil Dita karena papeda pesanan sudah siap.
"Mbak Dita, maaf mengganggu tapi papeda sudah siap" ucap bibi Sumi.
"Ok makasih bibi, ayo ma, mas kita coba, dan bibi tolong panggilkan mbak Mia ya" ucap Dita
Bunda Astrid dan Adit langsung menyusul Dita ke meja makan sedangkan bibi Sumi naik ke lantai atas memanggil Mia.
"Sayang kok bentuk begini?" tanya Adit heran.
"Ia ini kan terbuat dari sagu sayang, tapi kayaknya enak dek" jawab Dita.
Tidak lama Mia sudah turun dari lantai dua, dia juga ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Apa ini bunda?" tanya Mia.
"Ini namanya papeda, makan khas Papua yang terbuat dari sagu, dan di makan dengan ikan kuah" jelas Dita.
"Kayaknya enak ini" ucap Mia dan langsung duduk di samping bundanya.
walaupun awalnya mereka agak susah memakannya tapi karena bimbingan bibi Sumi akhirnya mereka sudah lihai makan papeda, kecuali Adit, dia terpaksa makan nasi saja.
**Papeda makanan khas Papua.
ππππ
__ADS_1
Hai siapa di sini suka dengan masakan di atas? kalau author jangan di tanya lagi, walaupun author bukan orang asli Papua tapi sangat suka makan, makanan khas Papua terutama papeda ππ
ππππBersambungππππ**