Jatuh Cinta Setelah Menikah

Jatuh Cinta Setelah Menikah
Eps 122( season 2)


__ADS_3

Sudah waktunya pulang kerja, Chaim sempat mengirim pesan pada Rere untuk menjemputnya, tapi Rere membawa kendaraan sendiri.


Setelah pamit pada semua rekan kerjanya Chaim langsung menuju parkiran di mana mobilnya terparkir.


"Udah mau pulang pak" tanya salah satu rekan kerjanya yang lagi mau piket malam.


"Ia pak, selamat bertugas pak, saya pamit pulang dulu" ucap Chaim pada rekannya.


"Siap pak, Hati-hati di jalan".


Chaim langsung mengangkat jempolnya dan langsung meninggalkan parkiran untuk kembali ke rumahnya, tidak lama David datang mencarinya.


" Semalam sore ada Chaim?" tanya David pada John yang lagi duduk di pintu jaga.


"Pak Chaim udah pulang non, baru aja meninggalkan parkiran" jawab John.


"Ok terimakasih pak, saya pulang dulu ya pak" pamit Devi.


"Ok hati-hati di jalan cantik" ucap jawab rekan John yang lainnya.


Devi hanya tersenyum dan langsung meninggalkan kantor polisi, kali ini dia tidak datang membawa makanan tapi dia akan datang pamitan karena Devi mau ke luar kota.


Setelah beberapa menit akhirnya Chaim tiba juga di rumahnya, saat masuk di halaman rumah dia melihat sangat adik lagi duduk di teras rumah.


Chaim langsung turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di dalam garasi, Chaim langsung menghampiri sangat adik.


"Lagi santai ni" ucap Chaim pada adiknya.


"Biasa lagi nikmati secangkir kopi" jawab Cello sambil tersenyum.


"Ada masalah?" tanya Chaim yang sepertinya tau apa yang dirasakan oleh adiknya.


Cello hanya menarik nafas panjangnya sedangkan Chaim langsung duduk di samping adiknya, dia menunggu sang adik untuk menceritakan masalahnya.


"Kak, mungkin ini karma buat aku, karena dulu aku suka banget gonta-ganti pasangan, dan sekarang aku menyukai salah satu wanita yang aku sukai, dia yang membuat aku berubah, tapi dia malah cuek sama aku kak" cerita Cello.


"Itu pelajaran buat kamu dek, kamu harus buktikan ke dia kalau kamu udah berubah tidak seperti dulu lagi" jawab Chaim.

__ADS_1


"Aku udah jelaskan kak, tapi dia tidak percaya sama aku" ucap Cello sedikit prustasi.


"Jangan putus asah gitu dong, kalau kamu memang suka sama dia, rubah sikap kamu yang dulu, dan harus buktikan sama dia" jawab Chaim sambil memukul pundak adiknya.


"Ia aku akan berubah kak, aku tidak akan seperti dulu lagi" ucap Cello pada kakaknya.


"Ok baik, kakak percaya sama kamu, kaka masuk dulu ya mau mandi" pamit Chaim.


"Baik kak, makasih ya nasehatnya" jawab Cello. Chaim hanya menganggukkan kepala dan tersenyum pada sang adik.


Chaim langsung masuk ke dalam rumah, dia tidak melihat mama dan papanya di ruang keluar, Chaim langsung menuju lantai dua, karena dia ingin segera mandi.


Setelah selesai mandi dan sudah memakai baju santai, dia segera turun ke lantai bawa, dia ingin membuat kopi.


"Kamu udah pulang kak?" tanya mama Dita yang berada di dapur membantu bibi menyiapkan makan malam.


"Udah ma, dari tadi malah" jawab Chaim sambil membuat kopi.


"Kakak ke depan dulu ya ma" pamit Chaim pada mamanya.


"Ok sayang, mama masak dulu" jawab mama Dita.


Walaupun dia tidak terjun langsung ke perusahaan tapi Chaim juga selalu membatu sang adik kalau Cello meminta pendapat nya.


Apa lagi tya sekarang sudah sibuk di anak cabang perusahaan mereka, dia membatu ayah nya di sana, perusahaan keluarga mereka memang berkembang dengan sangat pesat, berbarengan dengan perusahaan keluarga ayah Romi, yang di bawa pimpinan Linzy dan juga ayah Rio.


Chaim dan Cello asik mengobrol di teras depan, tanpa menyadari sang papa datang menghampiri mereka berdua.


"Asik banget ngobrol nya?" tanya papa Adit ke pada kedua Putra nya itu.


"Eh papa, ayo duduk pa" ucap Chaim ke pada papanya.


"Lagi bahas apa sih?" tanya papa Adit dan langsung duduk di kursi yang kosong.


"Biasa pa, lagi bahas tentang pekerjaan" jawab Cello.


Mereka bertiga kembali asik mengobrol, entah apa yang mereka bahas, karena kadang mereka tertawa, membuat mama Dita sedikit penasaran tapi dia tidak ingin mengganggu ke bahagian mereka bertiga.

__ADS_1


Karena sudah malam akhirnya mereka pindah masuk ke dalam rumah, kali ini Cello melupakan sendiri kegalauan nya, karena siang tadi dia di cuekin sama Ema.


Tidak lama mama Dita datang menghampiri mereka dan mengajak mereka makan malam, karena semuanya sudah siap di meja makan.


Mereka langsung menuju meja makan dan mulai mengambil tempat duduk masing-masing, mama Dita langsung mengambil makanan untuk papa Adit, setelah papa Adit dia juga mengamankan Chaim dan Cello, mama Dita memang begitu dia tidak hanya mengamankan suaminya tapi kedua anaknya juga.


"Tadi bunda dea bilang kalau undangan kakak udah jadi" ucap mama Dita.


"Bagus lah ma, karena hari H nya juga semakin mepet, jawab papa Adit.


" Ia kalau masalah baju dan WO juga sudah beres, tinggal gedung saja yang mama belum tau" ucap mama Dita.


"Yang urus itu kan tantenya Rere, nanti aku tanya Rere apa semuanya sudah siap" ucap Chaim pada mama dan papanya.


Mereka berempat makan malam sambil mengobrol santai, mereka kali ini membahas tentang persiapan pernikahan Chaim.


Mama Dita yang tidak ingin ada kesalahan dalam pernikahan anak sulung nya itu, makanya dia turun langsung untuk mempersiapkan semuanya.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Di pagi hari, Ema yang sudah berada di butiknya, dia lagi membungkus baju yang di beli oleh Rere kemarin, setelah semuanya sudah terbungkus rapi, Ema langsung menyuruh karyawan nya, untuk mengantarkan langsung ke alamat rumah mama Lia.


Dan ada juga yang di antar ke rumah mama Dita, yaitu baju Chaim dan juga baju mama Dita sendiri, setelah semuanya beres Ema kembali bersantai sejenak di dalam ruangannya.


Tiba-tiba teringat pada Cello yang mulai dari kemarin tidak pernah lagi menghubungi dia, dan Ema mengira yang akan menikah Cello dan Rere, karena kemarin saat fitting baju Cello yang hadir bukan Chaim


"Bodoh amat, kenapa juga aku mau pikirkan orang kayak begitu" batin Ema yang duduk di atas kursinya.


Ema mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memulai menggambar model baju-baju koleksi. Ema kalau sudah berhadapan dengan alat gambarnya, dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Tiba-tiba hpi berdering, Ema cuma melihat siapa yang menghubungi dia, dan ternyata Cello yang menghubungi nya. Ema masih mengabaikan telepon Cello, Tapi hpnya tidak berhenti berdering. dengan terpaksa Ema mengangkat telepon dari Cello.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Terimakasih buat Kakak-kaka yang baik hati, udah memberikan aku vote nyaπŸ™πŸ€—


Dan jangan lupa di like dan komentar yaπŸ™ terimakasih πŸ€—πŸ™

__ADS_1


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•bersambung πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2