
Sesampainya di apartemen lampu masih dalam keadaan mati Allea mencari Bram di kamar namun tidak ada, Allea duduk di depan televisi ia memejamkan matanya sembari memikirkan apa yang akan dia katakan nanti bila Bram pulang.
Allea membuka matanya di meja ada amplop coklat ia buka betapa terkejutnya nya Allea itu surat permohonan cerai yang sudah di tanda tangani oleh Bram, Allea terkejut mengapa surat ini sudah ada di rumah, tak lama kemudian ponsel Allea berdering.
📲
"haloo Grace!"
"hallo Lea, lo itu beneran mau cerai, lo ga mikir-mikir dulu, Lea lo kenapa sih ambil keputusan sendiri, Bram telepon gue dia minta semuanya di percepat, yaudah gue lakuin gue ga habis fikir ajah, yang egois lo apa Bram sih??, Lea asal lo tau yaa Bram itu gak pernah ngasih berkas untuk syarat perceraian, gue ke rumah lo tempo hari cuma buat dengerin Bram curhat doang dia mau banget pertahankan rumah tangga sama elu Lea, Bram barusan transfer biaya ke gue dia minta 2 minggu ini harus kelar" Grace bicara panjang lebar mengomeli Allea
"gue bingung Grace.." Allea menangis di telepon.
"heum, kalo udah gini lu juga kan yang pusing makanya jangan ambil keputusan sendiri." Grace terdengar kesal, Allea tak menjawab hanya isak tangis yang terdengar oleh Grace.
"maaf yaa Lea gue ngmng gini karena gue sayang ma lo, gue gak mau lo nanti terbebani dengan status 'janda', Lea punya status kayak gituh tuh ga enak, mau lo baik banget kek, lo bawa gelar 'janda' tetap ajah lu jelek Lea, lu lihat gue, gue single parent predikat janda gue bawa, gue mau baik sama orang tetap status janda yang gue punya pasti di pandang sebelah mata, gue ga mau lo ngerasain apa yang gue rasain lea, gue mohon bicarakan lagi sama Bram ,oke...dah yaa lu tenangin diri lu dulu," Grace menyudahi obrolan nya.
"yaa Grace makasih yaa.." Allea tak bisa bicara banyak ia hanya menangis.
Malam itu Allea tak bisa memejamkan matanya Allea terus menghubungi Bram, namun ponsel Bram tidak aktif. Keesokan harinya Allea sudah melakukan aktivitas seperti biasanya, ia pergi ke kampusnya sepulang dari kampus Allea bergegas pulang, Allea dengan cepat membuka pintu berharap Bram sudah pulang namun nihil ia belum pulang juga, Allea berjalan ke toilet untuk mencuci wajahnya.
"loh.. kok.. ada baju kotor mas Bram," Allea melihat baju di keranjang baju kotor milik Bram.
"berarti tadi mas pulang" bisik hati Allea, Allea segera mencoba menelepon Bram namun tetap tidak aktif.
sudah hampir 3 hari Bram tidak pulang ke apartemen Allea juga enggan mencari tahu ke rumah mertua nya ia takut semua keluarga akan tahu.
Sementara itu di kantor pukul 7 pagi Tio sudah datang ke kantor dan segera masuk ke ruangan Bram namun betapa terkejut nya Tio melihat Bram yang tertidur di sofa kantor.
"haaah..!!! bram.?" Tio menghampiri Bram
"Bram.. Bram.. bangun Bram" Tio membangunkan Bram yang tertidur pulas
"heumm... gue masih ngantuk yo" Bram kembali tidur
"heumm" Tio membiarkan Bram tidur selang beberapa jam Tio kembali ke ruangan Bram di dapayti Bram sudah rapih dengan baju kerjaannya
"Bram lo gak balik ke rumah??" tanya Tio sembari mengernyitkan dahi nya.
"gak..," jawab Bram singkat.
"kenapa?, lo ribut ma istri lo?" tanya Tio kembali.
"pisah ranjang!"
"haaaaah.. gilaa lu, baru nikah udah pisah ranjang , pasti gara gara si celine?"
__ADS_1
"salah satunya itu" Bram selalu menjawab singkat
"Bram lo tau ga, ada sesuatu yang belom gue ceritain"
"apaan tuh" Bram mulai mendengar kan Tio
"gue mergokin Celine jalan sama Arya" Tio mendekatkan wajahnya ke Bram
"hahaha ah boong ajah lu" Bram tertawa seakan tak percaya.
"heum terserah lo dah..,gue cuma mau bilang lo cuma di ambil butuh doang sama si Celine, noh si Arya sendiri yang ngomong Celine calon istri nya" Tio memasang wajah kesal ke Bram, Bram terkejut dengar perkataan dari Tio
"jangan jangan duit yang 18 juta yang laporannya masuk ke tagihan gue atas pembelian jam tangan mewah itu buat si arya" Bram mengingat semuanya.
"yaa kemungkinan begitu," Tio melirik ke Bram.
"ck.. gue harus nemuin Celine," Bram beranjak dari duduknya.
"weyy mo kemana ? mau ketemu celine? pergi dah asal nanti lu balik temuin istri lo, terus lo minta maaf" Tio berbicara sembari teriak karena Bram pergi meninggalkan tioy sendiri.
Bram sudah menunggu celine di cafe western wajahnya nampak kesal, tak lama kemudian Celine datang dengan wajah sumringahnya.
"beby.. maaf yaa aku lama." Celine memeluk dam mencium Bram.
"pertama aku mau tau Allea ngomong apa sama kamu?" tanya Bram ke Celine dengan nada seperti menginterogasi.
"aku ga habis fikir ajah selera kamu jadi berubah" Celine memasang wajah angkuh nya .
"bukan itu jawaban yang mau aku denger, aku cuma mau tau Allea ngomong apa" bram terlihat kesal
"heuum dia nyerahin kamu ke aku, dan jangan ngehianatin kamu.." senyum Celine seakan menggoda Bram.
"hhhaaaah..." Bram menarik nafasnya dalam dalam.
"kenapa? bukannya ini tujuan kita, kamu pernah janji nikahin aku kan sekarang Allea mau nyerahin kamu, kenapa kamu sekarang kayak berat begitu" Celine mengatakan nya dengan tenang, Bram memandang dingin ke Celine.
"selamat untuk rencana pernikahan mu dengan Arya" Bram mengucapkan nya dengan sangat lantang, membuat Celine gelagapan dan gugup.
"heum..aeh... Arya?, kamu ngomong apa sih beby?" Celine tersenyum ketir ke Bram
"ga usah pura pura aku tau semua dari Tio"
"ihh sialan tuh si Tio, pake ngadu segala" bisik hati Celine
"jadi selama ini kamu bohongin aku ya, hebat kamu hebat banget.." bram bertepuk tangan.
__ADS_1
"kembalikan semua kartu kredit miliku yang kamu pegang" pinta bram.
"beby aku ga bawa.. plis beby besok ajah pliis "Celine memohon, Bram hanya diam sembari memainkan ponselnya dan ia menelepon seseorang.
"halo bu irma tolong blokir semu kartu kredit saya" Bram menelepon bu Irma
"ohh baik pak termasuk punya ibu Allea?" tanya bu Irma.
"punya Allea tidak usah karena itu milik istri saya" Bram mengatakan nya sembari menatap dingin ke celline , Celline terkejut dengan perkataan Bram, Bram menutup teleponnya
"beby plis jangan begini?" Celine memohon
"loh kan kamu yang mulai, ngebohongin aku" tegas Bram.
"oke oke aku salah, aku emang terima lamaran Arya karena sebenernya ku tau dari awal kalo kamu sudah menikah dengan Allea, aku sengaja ga bilang dan nutupin karena ak masih sayang kamu Bram" Celine mencoba menjelaskan.
"aku mencintainya" Bram memandang Celine tanpa senyum.
"aku tau.. mustahil kamu gak jatuh hati sama Allea, dia wanita baik," Celine berkata seraya tersenyum
"aku akan ngembaliin semua uang kamu yang aku pakai, semuanya.." Celine tertunduk malu.
"hhaaaeehhh... ga usah kamu balikin semua aku yakin kamu ga akan mampu untuk kembalikan semua, pasti nanti Arya yang kesulitan, aku cuma minta kamu kembalikan yang 18 juta saja uang yang kamu pakai untuk membeli jam tangan mewah setelah anniversary kita dan aku gak tau itu untuk siapa"
Bram mengatakannya dengan tenang
"haaah maaf aku membeli kannya untuk ultah Arya" Celine makin merasa malu.
"yasudah, aku tunggu kamu mengembalikan uang itu, mulai hari ini dan seterusnya jangan pernah hubungi aku dalam keadaan apapun, jalin hubungan yang baik dengan Arya dan jangan pernah menemui atau berbicara dengan Allea bila kamu bertemu dengannya dimanapun itu" Bram meminta kepada Celine.
"baiklah..tapi apa aku boleh memelukmu untuk terakhir kali" Celine mulai menetes kan air matanya ia merasa sedih bercampur malu kepada Bram.
Bram bangun dari duduk nya, menghampiri Celine dan memeluk Celine yang terduduk.
"maafin aku Bram, aku bukan wanita baik." isak Celine.
"its okey, aku maafin, kabari aku tanggal pernikahan mu dengan Arya aku tunggu" Bram mencium rambut Celine.
"heuumm" Celine mengangguk mengiyakan.
"jaga Allea, akui dia jadi istri mu dia wanita baik.." Celine kembali menangis.
"iyaah.. " bram membelai lembut bahu Celine seraya menguatkan,
Di hati Bram tak ada rasa kesal melainkan hanya rasa mengikhlaskan karen ia tau semua ini harus ia akhiri karena ada Allea yang hati nya harus ia dapatkan kembali.
__ADS_1