
Siska terus mengoceh saat Zara tidak merespon panggilannya,dan pintunya juga tidak di buka,padahal mereka sudah membuat janji dengan calon istrinya Tomi.
"Sial sekali Zara,aku bisa malu,jika sampai uang yang diminta mereka tidak ada,dan juga mobil tidak terlihat." Sungut Tomi,siska juga sudah menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Bagaimana kalau kita menunggunya disini saja ma,aku tidak mau pulang kalau belum mendapat uang yang di janjikan oleh Zara,pokonya aku tidak mau pulang." Ucap Tomi,dia duduk di pintu apertemen Zara.Lama sekali Zara beranjak dari tempatnya,rasanya dia begitu malas melanjutkan hidupnya yang semakin tidak ada tujuan sama sekali.
"Andaikan aku menerima lamaran Robi mungkin aku tidak akan merasakan sulit seperti ini,aku sangat menyesal,ini semua karena keluargaku yang selalu menjadi benalu,dalam hidupku,sekarang aku memutuskan untuk meninggalkan semua ini,aku ingin menjadi orang biasa."Suara hati Zara,dia berjalan menuju kamar lalu mengambil semua baju yang seksi,mulai hari ini dia sudah berjanji tidak akan mau lagi hidup di kubangan kotor seperti ini.
Zara berniat menjual mobil dan apertemen nya,tekadnya sudah bulat untuk merubah semua jalan hidupnya,dia cukup lelah dengan kehidupannya yang selama ini.Zara memilah semua pakaiannya lalu menjual pakaian bekasnya melalu jualan online baik,sepatu tas dan semua yang dia rasa sudah tidak pantas dia pakaian dia jual,dalam waktu sebentar barangnya langsung terjual Habis karena di borong oleh seseorang untuk di jual kembali.
Sudah tidak hari Zara tidak keluar dari apertemen,semua isi kulkas sudah habis,bahkan dia sudah tidak punya air minum.Zara keluar dari apertemen nya,dia keluar memakai masker karena dia takut ibu dan adiknya masih berkeliaran di luar,sementara dia sudah mengunci apartemennya dan mobilnya sudah di titip di parkiran.
Zara berjalan tampa tujuan sama sekali,dia menghirup udara yang sangat sejuk baginya,pikirannya sedikit lebih tenang,dia menonaktifkan ponselnya karena dia tidak mau adalagi orang yang ingin mengganggu hidupnya.
Pada saat Zara berjalan sendirian dia melewati sebuah taman,di sana dia menemukan cukup anak-anak terlihat bahagia dengan canda tawa tampa beban sedikit pun di hatinya.
Zara masuk kedalam taman dia berjalan mendekati kursi panjang yang ada di taman,dia menikmati kebahagiaan bersama anak-anak itu,bahkan dia bisa tertawa lepas saat melihat anak-anak juga tertawa.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu tertawa nak?" Tiba-tiba seorang wanita yang sudah lumayan tua duduk di sampingnya.Zara menoleh wanita itu lalu menatap
"Aku nenek yanti,mereka semua anak-anak yang tidak di harapkan oleh ibunya,aku merawat mereka penuh kasih panti asuhan kasih bunda." Ucap nenek yanti seakan mengerti arti tatapan Zara.
"Namaku Zara nenek,bisakah aku ikut bersama nenek,aku ingin tinggal bersama mereka bahkan kalau bisa aku bisa membantu nenek untuk melayani mereka." Ucap Zara,dia sangat menikmati kebahagiaan bersama anak-anak itu.
"Nak,aku bukan menolak mu,tapi jujur saja nak,aku tidak punya uang membayar gaji mu,jangankan membayar gaji mu,memberikan makanan yang layak saja kadang aku tidak mampu." Ucap nenek yanti dia terlihat sedih sekali hingga membuat Zara menjadi iba.
"Tidak masalah nenek,aku tidak membutuhkan bayaran,aku hannya ingin membantu nenek,tapi aku tidak punya uang yang banyak nenek,aku hannya punya banyak tenaga membantu nenek."Ucap Zara.Nenek Yanti terlihat senyum,jujur saja selama ini dia sangat kewalahan untuk mengurus mereka semua,sebelumnya dia punya teman untuk menemaninya,lama-kelamaan dia keluar karena gajinya katanya kurang.
Mereka kembali ke panti asuhan kasih bunda,disana kakek Tarjo sudah menunggu kepulangan mereka karena bayi kecil mereka sudah mulai rewel mungkin dia sudah mulai lapar.
"Nenek milik siapa bayi ini?" Tanya Zara saat dia sudah masuk ke rumah dan sudah menyalami kakak Tarjo,dia juga sudah memasukkan tas berisi pakaiannya yang di sediakan panti.
"Ini namannya Dimas,dia bayi baru satu bulan,bayi ini di berikan seorang anak SMA,dia tidak menginginkan bayi itu karena dia takut orang tuanya akan membunuhnya kalau sampai mereka tau dia punya anak,dengan terpaksa dia membuang bayi ini kepada kami." Ucap nenek yanti.Melihat wajah tampan Dimas serta bibirnya yang sangat imut membuat Zara sangat gemas dia memangku bayi itu dan mengayunkannya.
****
__ADS_1
Tidak terasa sudah seminggu Zara tinggal di panti,dia begitu menikmati kehidupannya di sana walau hannya makan lauk apa adanya,dia begitu bahagia hingga dia melupakan semua masalahnya.Hari ini dia ingin kembali ke apertemenya,dia ingin mengurus apertemenya agar segera laku karena dia ingin merenovasi panti asuhan yang sudah banyak bocor,tapi dia belum menceritakan keinginannya kepada pemilik panti.
"Kek,nek...Hari ini aku ingin keluar,mungkin untuk beberapa hari ini aku tidak kembali tidak papa ya kek .nek." Ucap Zara kepada nenek yanti dan juga suaminya,sebenarnya berat hatinya untuk meninggalkan rumah itu,tapi dia lebih tidak tega saat hujan datang mereka harus berlarian karena seng yang sudah bocor dimana-mana,sementara panti itu hannya memiliki donatur itu pun tidak rutin dan hannya ala kadarnya saja.
"Tidak papa nak,kami tidak mungkin melarang mu pergi,tapi kakek tidak punya uang untuk saat ini,kami punya sedikit uang lagi itu untuk membeli sepatu sekolah Ira yang sudah sobek." Ucap kakek Tarjo.Sudah hampir sepuluh tahun mereka menjadikan rumahnya menjadi panti asuhan sejak anak-anak yang mereka lahir kan menjadi orang sukses dan melupakan mereka berdua.
"Tidak usah kakek aku masih punya uang,kakek simpan saja,aku sudah mencuci semua piring dan mencuci pakaian kotor,kalian sudah bisa istrahat."Ucap Zara.Setelah pamit dia langsung meninggalkan panti dan menunggu angkot menuju kota.
****
Sementara itu Tamara sedang bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit,mereka ingin melihat kapan waktu yang tepat untuk melahirkan.
"Kamu kenapa bisa lupa,biasanya biar pun mesin hasil USG tidak bisa sempurna,kita harus banyak mengingat tanggal kapan terakhir datang bulan."
"Kenapa tidak kamu saja yang ingat mas,kan kamu yang memerkosa aku waktu itu,kamu yang memaksaku pada malam itu,sementara aku sudah memohon kepadamu." Ucap Tamara,kesal,melihat wajah Tamara,Abian tidak berani komentar lagi.
** Bersambung**
__ADS_1