
Malam terakhir Chaim dan Rere di maldives, mereka berdua kenikmatan makan malam romantis di pinggir pantai, mereka betul-betul tidak ingin melewatkan malam terakhir mereka di maldives.
Rere sangat bahagia dengan perlakuan sang suami, Laki-laki yang awal dia kenal sangat dingin, tapi ternyata dia mempunyai sisi romantisnya juga.
"Kamu semua yang nyiapin ini kak?" tanya Rere dengan bahagia.
"Ia di bantu oleh pegawai restauran lah yang" jawab Chaim.
"Terimakasih kak, aku semangat banget nggak bisa aku ucapin dengan kata-kata" ucap Rere dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama sayangku" jawab Chaim dan langsung memeluk Rere.
Setelah selesai makan malam, mereka berdua tidak langsung kembali ke penginapan, mereka masih menikmati suasana pantai, karena besok pagi mereka akan bertolak ke Jakarta.
Rere juga sudah menyiapkan oleh-oleh untuk semua keluarga mereka yang ada di sana, oleh-oleh khas maldives, setelah puas berkeliling Rere dan Chaim kembali ke penginapan, untuk menyiapkan barang-barang mereka.
"Tidak terasa kita akan kembali lagi ke Jakarta" ucap Chaim sambil menggandeng tangan Rere.
"Tidak apa-apa kak, soalnya kakak akan kembali kerja lagi, kasian pekerjaannya di sana" jawab Rere.
Sesampainya di kamar, seperti biasa Rere segera membersihkan diri, dan memoles mukanya dengan cream malamnya.
"Udah cantik, nggak usah di poles lagi" ucap Chaim memeluk Rere dari belakang.
"Ini cream aja kok kak" jawab Rere.
Chaim mencium batang leher Rere dengan lembut, Rere sangat tau apa yang di inginkan suaminya walaupun mereka baru menikah tapi kalau sudah begitu, pasti ujung-ujungnya olahraga di ranjang.
"Kita habiskan malam ini dengan indah, sebelum kita kembali besok ke Jakarta, ucap Chaim dan langsung menc**m bi**r Rere dengan lembut, dan lama kelamaan ci**an mereka jadi panas, ruangan yang dingin sudah terasa panas.
Chaim menuntun Rere sampai di tempat tidur, dan membaringkan Rere dengan lembut, tanpa terasa mereka berdua sudah tidak memakai busana apa pun, mereka berdua bergantian mengeluarkan suara indah mereka, membuat mereka semakin bergairah.
Malam ini entah berapa kali mereka melakukannya dengan banyak gaya, entah gaya apa saja yang mereka lakukan, malam yang sangat panas bagi Chaim dan Rere, malam terakhir di maldives mereka lewatkan dengan olahraga malam dengan bermandikan keringat.
Malam yang benar-benar menguras tenaga bagi mereka berdua, akhirnya Rere dan Chaim tertidur dengan pulas saling berpelukan karena kelelahan.
Pagi-pagi tere sudah bangun bersiap-siap walaupun tubuhnya masih sangat pegal dan lelah karena mereka berdua memadu cinta sampai hampir subuh.
"Aku masih sangat lelah kak" ucap Rere pada Chaim yang juga baru bangun.
__ADS_1
"Nanti kamu tidur di pesawat aja sayang" jawab Chaim.
Setelah bersiap-siap, mereka berdua akhirnya sarapan pagi, karena mereka minta diantarkan sarapan masuk ke kamar.
"Ayo sarapan dulu, nanti kita telat lagi" ucap Rere pada Chaim yang baru saja selesai berganti pakaian.
Mereka berdua langsung menyantap sarapan mereka tanpa ada yang sisa.
"Apa semuanya sudah siap, ingat-ingat lagi jangan sampai ada yang ketinggalan" ucap Chaim pada istrinya.
"Sudah tidak ada kak" jawab Rere.
Akhirnya mereka berdua meninggalkan penginapan menuju bandara, satu minggu di maldives, begi mereka berdua sangat singkat, mereka masih ingin tinggal tapi karena pekerjaan sudah menunggu Chaim jadi harus kembali ke jakarta.
💕💕
Tya yang selalu jadi bahan ejekan Cello karena masih betah menyendiri, bukannya tidak ada yang menyukai Tya, tapi Tya masih ingin menikmati pekerjaan nya.
"Kak, emangnya kakak tidak ingin berkeluarga?" tanya Cello pada Tya.
"Mau lah, emangnya kenapa?"
"Biasa aja, kamu juga belum tentu bertahan dengan Ema, palingan besok putus lagi" jawab Tya sambil menatap layar komputer.
Mereka berdua asik mengobrol tapi mata dan tangan tetap bekerja, banyak yang mendekati Tya tapi selalu Tya tidak meresponnya.
Cello yang mendengar jawaban tya, hanya geleng-geleng kepala, karena kakak sepupunya itu memang orang cuek, dia mengikuti karakter ayah Davin. tapi sifat perhatiannya mengikuti bunda Dea.
"Kakak jangan terlalu cuek sama laki-laki, nanti tidak ada yang suka" lanjut Cello.
"Kalau sudah waktunya pasti akan di pertemukan juga dengan jodoh aku" jawab Tya santai.
"Gimana mau ketemu kalau kakak aja cuek, banyak tuh yang mau sama kakak tapi kakak menolaknya" ucap Cello kembali.
Tya malas berdebat dengan cello, apa lagi membahas tentang hal pribadi, karena dia tau Cello tidak akan mau kalah.
"Udah ah, malas bahas itu terus, ayo lekas selesaikan aku udah lapar" jawab Tya.
Mereka berdua kembali fokus dengan pekerjaan mereka, karena sedikit lagi jam istirahat siang, kali ini Cello tidak makan siang bersama dengan Ema.
__ADS_1
"Kak kita makan siang bareng ya" ajak Cello.
"Aku mau makan siang bareng papa dan ayah" jawab Tya.
"Ia aku ikut, karena hari ini Ema tidak bisa makan siang bareng aku, dia mau bertemu dengan customer nya" jelas Cello.
"Oh baiklah" jawab Tya sambil membereskan meja kerjanya.
Tidak lama mereka berdua meninggalkan ruangan kerjanya dan langsung menuju ruangan papa Adit, karena mereka ingin makan siang bersama, di dalam ruangan papa Adit ternyata sudah ada ayah Davin menunggu mereka.
"Ayah udah di sini, Jangan-jangan ayah tidak kerja" tanya Tya pada ayahnya.
"Ayah baru datang, baru aja duduk" jawab ayah Davin.
"Ayo kita jalan" ajak papa Adit, setelah membereskan meja kerjanya.
Mereka berempat akhirnya meninggalkan kantor dan langsung menuju restauran untuk makan siang.
"Mudah-mudahan hari ini makan siang aku tidak terganggu oleh mantan-mantan kamu" ucap Tya pada Cello.
Cello hanya tersenyum mendengar omongan Tya, karena apa yang di katakan Tya ada benarnya juga, karena mereka sering sekali terganggu makan siang nya, karena ada aja yang datang menghampiri Cello.
"Sebentar lagi Linzy menikah, terus anak gadis papa yang satu ini kapan?" tanya papa Adit pada Tya, di sela makan siang mereka.
"Sabar pa, jodohnya masih otw, kalau Cello mau duluan tidak apa-apa, biar lambat yang penting pasti" jawab Tya tertawa.
"Betul, kayak ayah dulu, ayah tidak pernah berpacaran tapi giliran bertemu dengan bunda langsung ajak nikah" sambung ayah Davin.
Tya langsung memeluk ayah saat mendengar pembelaan dari sang ayah, walaupun banyak diam tapi ayah Davin sangat dekat dengan Tya, mungkin karena Tya anak satu-satunya.
Karena memang Davin tidak ingin menambah momongan lagi, setelah dia melihat secara langsung perjuangan Dea melahirkan Tya. perjuangan antara hidup dan mati.
💕💕💕
Jangan lupa di like dan komentar ya kakak🙏🤗
Terimakasih
Bersambung 🤗😘
__ADS_1