
Pernikahan devin dan Dea tinggal sehari lagi, pernikahan Davin dan Dea juga hanya di gelar secara sederhana, seperti pernikahan Adit dan Dita.
"Sedih dan bangga akhirnya anak bontot mama sudah mau melepas masa lajangnya" ucap mama Metha sambil memeluk Davin.
"Terimakasih ma, sudah mau menganggap Aku sebagai anak kandung mama, seandainya tidak ada mama dan papa mungkin aku sampai sekarang masih tinggal di panti asuhan" jawab Davin membalas pelukan mama Metha.
"Mama cuma mau bilang, jangan terlalu cuek ya sama istri kamu, Sebaik-baiknya Dea kalau kamu tetap cuek begini dia juga akan bosan, dan bisa meninggal kamu, rumah tangga kamu akan berantakan nak" sambung mama Metha.
"Ia ma, Davin usahakan" jawab Davin.
Itulah jawaban singkat dari Davin, mama Metha hanya tersenyum pada-Nya, mama Metha sangat mengerti dengan sikap anaknya itu.
Kini halaman rumah sudah dekorasi dengan indah, karena mereka akan menikah di rumah saja, seperti Adit dan Dita saat menikah dulu. sedangkan Dea lagi ke butik mengambil baju mereka, di temani Dita dan juga Adit.
ayahnya Dea lagi asik mengobrol dengan papa Lukman dan ayah Romi. ayah dan bunda Dita juga sudah berada di rumah besan mereka, sedangkan Mia tinggal di rumah karena dia masih merasa lemas.
Setelah pulang dari butik, mereka langsung masuk ke dalam rumah, keadaan rumah sedikit ramai, di dalam rumah bunda Astrid dan mama metha lagi asik mengobrol.
"Kalian sudah pulang sayang?" tanya bunda Astrid.
"Belum bunda, kami masih di jalan" jawab Dita bercanda.
"Dita, bunda bicara serius malah di jawab bercanda".
" Ya bunda lihat, kita sudah ada di depan bunda, masih saja bertanya" jelas Dita.
"Tau ah, malas berdebat dengan kamu, sampai besok tidak ada berhenti nya kalau berhadapan dengan kamu" sambung bunda Astrid.
"Calon nenek lagi ngambek" ucap Dita tertawa.
Dita memang selalu menggoda bunda nya, apa lagu kalau lagi bersama Rio, ada-ada saja yang mereka perbuat untuk menggoda sang Bunda. Adit langsung naik ke kamar karena dia merasa lelah, dia naik untuk beristirahat.
Dea dan Dita malah asik di dapur, mereka berdua lagi menikmati salad buah, karena sebelum keluar Dea dan Dita sempat membuat salad buah.
"Adit mana nak? " tanya mama Metha.
"Dia lagi istirahat ma, katanya dia merasa sedikit capek" jawab Dita.
__ADS_1
"Oh, kenapa kalian tidak istirahat, terutama kamu Dea, harus banyak istirahat karena besok kamu pasti sangat capek" ucap mama Metha.
"Nggak bisa ma, Dea merasa sedikit gugup, padahal besok baru hari H nya" jawab Dea.
"Itu biasa nak, bawa santai saja".
" Bukan mikirin itu ma, tapi mikirin malam pertamanya, apa lagi Davin orangnya sangat dingin, aku tidak bisa bayangin malam pertama mereka berdua" lanjut Dita tertawa.
"Mbak Dita, kok pikirannya sampai ke situ sih" jawab Dea sedikit berteriak.
Mama Metha dan bunda Astrid ikut tertawa, karena mendengar candaan Dita pada Dea.
ππ
"Sayang bunda dan ayah kemana? " tanya Rio pada istrinya.
"Bunda dan ayah ada di rumah depan" jawab Mia.
"Mereka tau saja kalau kita mau berduaan" goda Rio pada Mia.
"itu sih maunya Abang" jawab Mia, Rio hanya tertawa mendengar jawaban istrinya.
Karena sudah malam, bunda Astrid dan ayah Romi pamit untuk pulang ke rumah untuk beristirahat, karena besok ayah Romi yang akan menjadi saksi bagi Davin.
"Waktu Rio menikah pak Lukman yang jadi saksi, kini giliran Davin ayah yang di pilih jadi saksinya" ucap bunda Astrid.
"Ya karena kita sudah seperti saudara, bukan hanya sebagai besan" jelas ayah Romi.
"Betul juga, ya ayo tidur, agar besok tidak tepat bangun" ucap bunda Astrid.
"Oh ayah kira kita mau buat adik untuk Rio dan Dita" jawab ayah Romi.
"Ayah ngawur ya, tidak malu apa, kalau cucu ayah lebih tua dari anak ayah nanti".
" Nggak apa-apa bunda, kan seruh cucu lebih tua dari anak". ucap ayah Romi sambil tertawa.
Bunda Astrid tambah sebal mendengar candaan suaminya, bunda Astrid langsung membaringkan tubuhnya sambil mengomel pada suaminya.
__ADS_1
"Bunda makin seksi deh kalau mengomel begini" lanjut ayah Romi.
Bunda Astrid pura-pura tidak dengar, dia malas menanggapi candaan suaminya, karena kalau di ladeni tidak ada berhentinya, seperti Rio dan Dita.
Anak-anaknya suka bercanda karena mengikuti jejak sang ayah yang suka bercanda, ayah Romi selalu saja menggoda bunda Astrid.
ππ
Dea kini duduk sendirian di balkon lantai dua, dia memandang langit yang penuh dengan bintang, tidak lama air matanya jatuh karena dia mengingat sang ibu yang sudah tenang di alam sana, tiba-tiba Davin datang menghampiri Dea.
"Kamu kenapa? kok menangis?" tanya Davin pada Dea.
"Ee, tidak, aku hanya mengingat ibu yang sudah tenang di sana, seandainya masih ada pasti dia bahagia sekali melihat aku yang akan menikah" jawab Dea.
"Kita sama-sama, kamu masih merasakan kasih sayang orang tua, tapi aku di besarkan di panti asuhan, aku nggak tau siapa orang tua kandung aku" jelas Davin.
"Tapi kamu beruntung mendapatkan orang tua angkat yang sudah menganggap kamu sebagai anak kandungnya" ucap Dea.
"Tapi bagai mana pun kita juga pasti ingin mengetahui orang yang sudah melahirkan kita ke dunia ini, dan seandainya aku tau siapa yang sudah melahirkan aku, aku cuma ingin tahu apa alasannya meninggalkan aku di panti asuhan" lanjut Davin.
"Ia betul juga kak, tapi mungkin ada alasan tersendiri kenapa mereka menitip kakak di panti asuhan" ucap Dea sambil menatap Davin.
"Mungkin juga".
Ini pertama kalinya Davin bercerita panjang lebar kepada Dea, wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya.
" Kenapa aku pendiam begini karena aku merasa tidak pantas hidup di dunia, karena orang tua kandungku saja tidak menginginkan aku" lanjut Davin kembali.
"Kak, kakak jangan berbicara begitu, kakak seharusnya bersyukur karena kakak mendapat mama Metha dan papa Lukman orang tua yang baik dan menyayangi kakak dengan tulus, mendapatkan abang seperti abang Adit, kakak harus mensyukuri semua itu" jelas Dea panjang lebar.
Dari kejauhan ada yang mendengar obrolan mereka, dan tanpa terasah dia meneteskan air matanya mendengar cerita Davin, ya siapa lagi kalau bukan Dita, saat Dita mau ke kamarnya, dia tidak sengaja mendengar cerita Davin.
"Ada pantas Davin selama ini sangat pendiam, hanya berbicara seperlunya saja, ternyata dia memikirkan orang tua kandungnya, dan mencari tau alasan orang tuanya menitip dia di panti asuhan, itu yang menjadi beban pikiran nya selama ini, kasihan sekali adik ku ini" batin Dita sambil menghapus air matanya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
πππ
Ayo jangan lupa di like dan komentar ya ππ€ terimakasih ππ
__ADS_1
β€β€β€Bersambung β€β€β€