
Dea yang terlebih dahulu bangun, masih merasakan sakit di bagian tertentu, tapi dia paksa untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk mendirikan karena badannya terasa sangat lengket akibat keringat kerena habis berolahraga malam bersama Davin.
Dea melangkah dengan pelan-pelan masuk ke dalam kamar mandi, dia tidak ingin suaminya terbangun. di dalam kamar mandi dea tersenyum membayangkan keganasan sang suami, ternyata orangnya pendiam tapi kalau soalnya r*n**ng dia sangat ganas, Dea tersenyum malu sendiri.
Setelah selesai mandi Dea langsung keluar dan memakai baju santai, Davin masih berkelana dalam alam mimpinya.
Dea langsung turun ke lantai bawa untuk membantu yang lainnya menyiapkan sarapan pagi, apa lagi ayahnya akan kembali ke kampung halamannya.
"Cie.. pagi-pagi sudah keramas aja" goda Dita.
Dea hanya tersenyum mendengar ucapan sang kakak. karena tadi Dea memang keramas dia mengeringkan rambutnya tapi tidak terlalu kering.
Dita terus mengganggu Dea, bibi Ani dan bibi Yos hanya tersenyum mendengar candaan Dita pada si pengantin baru.
Davin yang baru bangun langsung mencari sang istri tapi sudah tidak ada di dalam kamar, Davin langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Tidak lama Davin turun ke lantai bawa, dia segera ke dapur membuat kopi untuk dirinya.
"Nanti aku yang buatkan" ucap Dea.
"Tidak apa-apa kamu kerja yang lain saja, kalau cuma kopi si gampang" jawab Davin tersenyum pada Dea.
"Aku juga mau buat teh untuk ayah, udah sana nanti aku bawa ke teras" sambung Dea.
Davin terpaksa mengalah dan langsung keluar menuju teras depan tempat favoritnya. di sana sang ayah mertua sudah ada duduk menikmati udara pagi hari.
"Ayah jadi pulang hari ini? " tanya Davin yang sudah duduk di samping ayah mertuanya.
"Ia nak, ayah kepikiran ternak ayah di sana".
__ADS_1
Tidak lama dea datang tapi bukan datang mengantar kopi tapi datang memanggil mereka untuk sarapan bersama.
" Ayah, kak, ayo kita sarapan dulu, papa dan yang lainnya sudah menunggu di meja makan" ucap Dea.
Mereka akhirnya berdiri mengikuti Dea menuju maja makan untuk sarapan bersama-sama sebelum melanjutkan aktifitas mereka masing-masing.
Mereka semuanya sudah duduk menikmati sarapan, ayah Dea juga sudah berpamitan mau kembali ke kampung halamannya, walaupun besan mereka masih ingin menahannya tapi karena alasan ternaknya tidak ada yang rawat, akhir mama Metha dan papa Lukman bisa mengerti.
"Davin nanti kamu kan yang antar ayah kalian ke stasiun?" tanya papa Lukman.
"Ia pa, aku yang akan mengantarnya bersama Dea" jawab Davin.
Papa Lukman hanya mengangguk mengerti, sedangkan Adit hari ini sudah masuk kantor, karena banyak pekerjaan yang belum terselesaikan apa lagi Risna sudah meneleponnya kalau hari ini ada meeting yang tidak bisa di tunda.
"Bang, hari abang meeting saja, kalau. masalah berkas besok baru aku kerjakan, apa lagi masih banyak e-mail dari perusahaan cabang aku belum cek" ucap Davin pada Adit.
"Beres itu, kamu cuti aja dulu, kalau bisa malam nanti langsung tinggal di apartemen agar tidak terganggu" goda Adit pada adik angkatnya itu, tapi Davin tidak meresponnya.
Ayah Dea sedang berada di ruang tamu bersama dengan papa Lukman dan juga Davin, mereka menikmati kopi dan juga teh, karena ayah Dea tidak bisa minum kopi.
Setelah selesai menikmati kopi, kini ayah Dea bersiap-siap untuk pulang, Dea dan Davin juga sudah siap, setelah semuanya selesai ayah dea langsung berpamitan pada besannya.
"Pak Lukman, ibu Metha, saya pamit dulu, saya titip anak saya Dea kepada bapak dan ibu" ucap ayah Dea.
"Ia hati-hati di jalan, bapak tenang saja, Dea itu sudah bagian dari keluarga kami, dia sudah menjadi anak kami, jadi bapak tidak usah khawatir" jelas papa Lukman.
"Ia pak, Dea kan sudah juga sudah jadi anak kami pak" lanjut Mama Metha.
"Terimakasih bapak, ibu, saya lega akhirnya Dea bisa mendapatkan keluarga yang menyayangi dia, saya sedih karena selama ibunya pergi untuk selamanya dia sudah tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, tapi sekarang dia sudah mendapatkannya kembali" ucap ayah Dea dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Setelah berpamitan akhirnya ayah Dea naik ke mobil bersama dengan Davin dan juga Dea, mereka langsung menuju stasiun kereta api.
"Nak davin, ayah titip Dea sama kamu ya, ayah harap kamu menyayangi Dea dengan tulus" ucap ayah mertuanya.
"Ayah tenang saja, aku akan menyayangi dia dalam susah maupun senang, dalam untung dan malang" jawab Davin pada ayah mertuanya.
"Terimakasih nak, kalau begitu karena ayah kasihan sama dia, selama ibu pergi untuk selamanya Dea sudah tidak merasakan kasih sayang" lanjut sang ayah.
"Ayah, maaf kalau saya lancang, tapi menurut saya, ayah harus tegas pada istri ayah di sana, kalau dia tidak mau di atur ya ayah tinggal dia, kan ayah juga tidak punya anak dengan dia" ucap Davin.
Dea kaget mendengar ucapan suaminya barusan, selama ini Davin tidak pernah mau ikut campur dengan urusan keluarga Dea, apa lagi berurusan dengan ibu tirinya, begitu juga dengan ayahnya dia hanya diam mendengar saran dari anak menantunya itu.
"Untuk apa di pertahankan kalau dia tidak bisa menghargai kita, kita mencari pasangan hidup agar sama-sama saling membantu satu sama lain, kalau sifat dia yang egois suka seenaknya, untuk apa di pertahankan, ayah takut kehilangan tempat tinggal? jangan khawatir ada aku dan Dea". lanjut Davin kembali.
"Bukannya begitu nak, tapi ayah sudah tua tidak ada yang mengurus ayah nanti" jawab ayahnya.
"Apa dia mengurus ayah? tidak kan?" tanya Davin lagi.
"Kak Davin orangnya pendiam tapi dia betul-betul bijak, terimakasih Tuhan sudah memberikan saya suami kayak kak Davin" batin Dea sambil menatap suaminya yang lagi asik menyetir di depan, ya karena dia duduk di belakang karena ayahnya duduk di depan bersama dengan Davin.
Ayah Dea juga tidak menjawab pertanyaan Davin, karena apa yang di ucapkan Davin benar adanya, selama ini istrinya tidak mengurus dirinya.
"Kalau ayah sampai di kampung baru dia marah-marah sama ayah, jangan sungkan hubungi aku, aku sendiri yang akan ke sana menjemput ayah, rumah dan tanah milik ayah yang ada di sana biarkan dia ambil, itu kan yang dia inginkan selama ini, dia mau menguasai milik ayah" jelas Davin kembali.
Ayahnya hanya diam mendengar penjelasan anak mantunya, semua apa yang Davin ucapkan semuanya benar adanya.
โจ๐๐โจ
**Jangan lupa like dan komentar nya ya๐๐ terimakasih๐ค
__ADS_1
๐๐Bersambung๐๐๐**