
Dita yang terbangun sempat kaget karena sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, tapi Dita langsung tersenyum saat melihat muka suaminya yang masih tertidur pulas.
"Selamat pagi papa" ucap Dita pelan di telinga Adit.
Dita turun dari tempat tidur dengan pelan, dia tidak ingin suaminya terganggu.
Setelah mandi Dita langsung turun ke lantai bawa, untuk menyiapkan sarapan, udah kebiasaan bagi Dita. di dapur sudah ada bundanya dan juga sang bibi, Dita tidak lupa membuatkan kopi untuk Adit.
Tidak lama Adit turun dari lantai dua dengan pakaian yang sudah rapih siap untuk ke kantornya, kini semuanya sudah berkumpul dieja makan untuk sarapan.
"Davin kapan melangsungkan pernikahan nak" tanya bunda Astrid pada Adit.
"Belum tau bunda, Davin dan Dea belum menentukan tanggalnya" jawab Adit.
"Ayah juga kasian melihat Dea, ternyata ibu tirinya sangat jahat dan mata duitan" ucap ayah Romi.
"Kok bisa ayah bicara begitu?" tanya Dita yang kepo.
"Soalnya Dea mau di nikahkan dengan orang tua yang sudah punya istri, dan parahnya lagi Dea itu mau di jadikan istri ke tiga" jelas ayah Romi sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Wi sadis amat jadi orang tua, bagai mana pun Dea itu sudah termasuk anaknya juga, kalau dia sudah siap menerima ayah Dea, dia harus juga menerima Dea sebagai anaknya" jelas Dita.
Semuanya langsung melihat ke arah Dita, tidak biasanya Dita bicara sebijak itu, apa lagi kalau ada Rio yang di dengar hanyalah perdebatan yang tidak masuk akal.
Setelah selesai sarapan, Adit langsung pamit kepada bunda dan ayahnya, Dita mengantar sang suami sampai halaman depan, sebelum berangkat Adit mencium kening Dita dahulu dan juga perut Dita, dia pamit ke pada anaknya yang masih di dalam rahim Dita.
"Mas jalan dulu ya sayang" pamit Adit.
"Ia sayang, hati-hati di jalan" jawab Dita dan langsung mencium tangan Adit.
Setelah berpamitan Adit langsung naik ke mobil dan langsung meninggalkan rumah menuju kantornya.
Setelah Adit pergi Dita langsung masuk kembali ke dalam rumah, dia langsung ke dapur karena sang bunda masih di dapur karena mau lanjut membuat kue.
"Bunda Abang Rio dan mbak Mia kapan pulang" tanya Dita pada sang bunda.
"Bunda juga belum tau nak, karena mereka tidak kasih kabar" jawab sang bunda.
Mereka berdua langsung memulai membuat kue, Dita juga sangat senang membuat kue, kalau soal dapur Dita jangan di ragukan lagi.
__ADS_1
Sedangkan Adit sekarang sudah di kantornya, dia langsung menghadapi tumpukan dokumen tapi dia tidak sendirian dia di bantu Davin sang asisten.
Mereka berdua hanya diam fokus menghadapi dokumen-dokumen yang sudah menunggu di periksa dan di tanda tangani.
Saking asiknya dengan pekerjaan sampai-sampai mereka lupa untuk makan siang, itu bukan pertama kalinya mereka lupa makan siang, tapi sudah sering kali karena pekerjaan.
Adit melirik jam yang melingkar di tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Davin... ternyata sudah mau sore, kita belum makan siang" ucap Adit sambil merenggangkan otot-ototnya.
"Tidak terasa juga mungkin karena pekerjaan ya sampai lapar pun kita tidak rasa" jawab Davin tertawa.
"Ayo sudah kita pergi cari makan dulu, nanti baru lanjut lagi kerjanya" ucap Adit langsung berdiri dari duduknya. Davin juga langsung berdiri mengikuti Adit dari belakang.
Mereka berdua segera meninggalkan kantor, untuk pergi mencari makanan, walaupun mereka sudah terlambat makan siang.
Setelah selesai makan siang, Adit dan Davin langsung kembali ke kantor mereka, karena pekerjaan masih menunggu mereka berdua.
Sedangkan Rio dan istrinya kini sudah dalam perjalanan menuju Jakarta, mereka berdua sengaja tidak memberitahukan orang rumah kalau mereka akan pulang hari ini, agar menjadi suprise pada mereka.
"Bang pasti orang rumah kaget kita pulang dengan diam-diam" ucap Mia pada Rio.
"Ia bang, aku juga selalu dia chat tapi aku selalu jawab belum tau kapan balik Jakarta"
Dita memang selalu bertanya pada kakak iparnya kapan mereka pulang, karena Dita sudah terbiasa dengan kehadiran Mia di rumah orang tuanya.
Setelah menempuh perjalan jauh akhirnya mereka tiba di Jakarta, Rio dan Mia sudah masuk ke dalam pekarangan rumah, setelah memarkirkan mobil dengan sempurna Rio dan Mia langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Karena pintu rumah tidak terkunci, Rio dan Mia langsung masuk ke dalam rumah, di ruang keluarga Dita dan bunda Astrid sedang asik menonton.
"Sore bunda" sapa Mia.
"Mbak Mia" teriak Dita dan langsung berdiri menghampiri kakak iparnya itu.
"Mbak, aku kangen sama mbak, kenapa mbak nggak bilang kalau sudah mau pulang hari ini" tanya Dita.
"Jadi kamu tidak kangen dengan Abang?" tanya Rio yang sudah duduk di sofa.
"Nggak sama sekali, aku cuma kangen dengan mbak Mia" jawab Dita.
__ADS_1
"Ia kah, terus siapa dong yang suka chatting aku, bertanya kapan pulang" ucap Rio.
"Oh, itu bunda mungkin bang" jawab Dita mengelak.
Mereka semuanya langsung tertawa mendengar jawaban Dita.
Tidak lama bibi Sumi datang membawa kopi dan juga teh di temani kue hasil buatan bunda Astrid dan Dita.
"Wa... tau aja kalau kami mau pulang, jadi bunda buat kue kesukaan aku ni" ucap Rio dan langsung mengambil sepotong kue yang memang kue favoritnya.
"Itu bukan cuma bunda aja kali yang buat tapi juga kali bang" protes Dita.
"Ia Abang tidak ragukan kamu lagi soal buat kue kamu ahlinya" ucap Rio memuji sang adik. Dita hanya tersenyum bangga atas pujian sang kakak.
Kini sudah tiba waktunya makan malam, mereka semua sudah berkumpul di meja makan tanpa Adit.
ππ
"Hai cantik kita ketemu lagi" tanya Zico pada seorang wanita yang lagi duduk santai pada sebuah meja cafe.
"Gue nggak mengenal loe" jawabnya jutek.
"Masak kamu langsung melupakan cinta semalam kita di hotel waktu itu" jawab Zico pada Sesil, ya wanita itu adalah Sesil.
"Minggir gue mau lewat" ucap Sesil langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan cafe tersebut.
Tapi Zico langsung menarik tangan Sesil dan berhasil membuat Sesil kembali duduk di tempatnya.
"Jangan buru-buru dong cantik, kita ngobrol-ngobrol dulu atau kita langsung ke hotel saja" ucap mulut sampa Zico.
"Eh kambing jaga mulut loh yang sampah itu, gue nggak ada urusan lagi sama loe" bentak Sesil pada Zico.
Zico yang mendengar ucapan Sesil hanya tersenyum dengan genit pada Sesil yang lagi kesal padanya.
πππ
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, maaf ya kalau aku terlalu maksa.
πππ Bersambungπππ
__ADS_1