
"Sepertinya cukup" Kata Bekti melihat gucinya
"Kemana kita selanjutnya?" Tanya Vera
"Kita akan ke kerajaan Liman, kerajaan pelabuhan. Kemungkinan kita akan makan ikan" Jawab Bekti
"Baik" Kata Vera
"Sudah malam, waktunya tidur. Quester" Kata Aris
"Baik, Tuan" Kata Quester
Keesokan paginya, Dedi mengetuk pintu kamarnya Aris. Dan ternyata, Aris masih tidur terlelap bersama Quester.
"Tuan, bangun. Ada yang mengetuk tuh" Kata Quester yang sudah bangun duluan
"Baik. Aku akan bangun" Kata Aris yang masih setengah sadar
Aris langsung bangun dari kasurnya dan membukakan pintunya. Ia melihat Dedi yang sudah sangat bersemangat.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Dedi
"Ini masih pagi, loh. Kira-kira bangunin orang dong" Jawab Aris
"Mengerjakan pagi-pagi itu lebih bagus dan cepat. Karena udara pagi sangat sejuk" Kata Dedi
"Ya sudah, masuklah. Duduk di dalam, aku mau cuci muka dulu" Kata Aris
Saat ke kamar mandi, Aris terkejut melihat Quester berada di dalam kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Aris
"Aku harus bersembunyi" Jawab Quester
"Ya, aku tahu. Tapi, kenapa disini. Cepat masuk" Kata Aris
"Baik, Tuan" Kata Quester tubuhnya bercahaya
Setelah Quester masuk ke tubuh Aris dan selesai cuci muka. Aris mempersilahkan Dedi untuk masuk ke kamarnya. Didalam, Aris dan Dedi sangat bersemangat untuk membuat dapur. Hal pertama yang dikerjakan adalah membuat pembatas antara kamar dan dapur.
"Aku akan mengukur panjangnya terlebih dahulu. Kau ambilkan papan saja" Kata Dedi
"Baik. Setelah ini apa?" Tanya Aris
"Setelah membuat garis dan mengukur kecocokannya. Kau pegangi papannya agar mudah terpotong" Jawab Dedi
Mendengar hal itu, Aris langsung mengambilkan papannya dan memberikannya kepada Dedi untuk dibuatkan sesuai ukurannya. Setelah membuat garis, Dedi menyuruh Aris untuk memegang papannya agar mudah dipotong. Mereka lakukan itu selama 15 menit.
"Akhirnya, jadi juga. Setelah ini apa?" Tanya lagi Aris
"Setelah ini bantu aku memotong kayu agar membuat pondasi" Jawab Dedi
"Aku tidak tahu. Ternyata bagian konstruksi ternyata sulit sekali" Kata Aris
"Itulah pentingnya ilmu. Aku belajar ini dari ayahku pada saat aku dikampung halaman. Pada saat itu aku berusia 10 tahun. Dan setelah itu akhirnya aku menguasainya" Kata Dedi
"Apa kau memiliki cita-cita?" Tanya Aris
"Ya, suatu saat aku ingin menjadi ahli kontruksi dan membuat banyak proyek pembangunan. Tapi, sebelum itu, aku harus memulai dari sini terlebih dahulu" Jawab Dedi
__ADS_1
"Itu sudah bagus. Aku yakin cita-cita mu pasti tercapai" Kata Aris
"Aku senang mendengarnya. Sekarang bantu aku mengangkat kayu ini berdiri, ya. Kau pegangi aku yang akan memaku" Kata Dedi
"Baik" Kata Aris
Setelah itu, mereka akhirnya membuat batas antara kamar dan juga dapur. Sekarang tinggal memasang papan dan selesai.
"Sepertinya tidak sampai sore hari" Kata Dedi
"Kau hebat sekali. Aku yakin cita-citamu pasti akan cepat tercapai" Kata Aris kagum
"Tidak juga. Ini juga kan dibantu oleh mu. Jika tidak, mungkin akan sampai malam hari" Kata Dedi
"Begitu, ya. Sepertinya kita istirahat dulu. Aku akan membuatkanmu mie cup saja, ya. Aku hanya punya itu" Kata Aris
"Tenang saja, kawan. Apapun itu aku akan memakannya" Kata Dedi
"Syukurlah. Kamu suka. Kalau begitu, aku ke dapur dulu" Kata Aris
Aris pun pergi ke dapur untuk membuat air panas menggunakan kompor terbarunya.
"Wah, canggih sekali. Aku berpikir apakah batu sihir api ini juga akan habis, ya?" Tanya Aris
"Tentu saja, Tuan. Itu adalah sumber apinya untuk membuat api. Tinggal menyalakan pemantiknya maka sumber api akan keluar dan kita hanya tinggal mengendalikan apinya saja sesuai dengan keluarnya lubang apinya" Jawab Quester
"Kau hebat juga tahu tentang begituan" Kata Aris
"Hehe" Kata Dedi
Setelah air panas, Aris langsung menuangkan airnya ke dalam mie cup. Setelah memasuki bumbu-bumbunya, Aris langsung menyajikannya kepada Dedi yang sedang istirahat.
"Wah, senangnya bisa makan. Dan kenapa kau membawa nasi? Memangnya untuk apa?" Tanya Dedi
"Oh, ini. Jika mie ditambahkan dengan nasi maka akan membuat perut semakin kenyang dan juga rasa lapar juga akan berkurang" Jawab Aris
"Begitu, ya. Coba berikan padaku. Aku jadi ingin mencobanya juga" Kata Dedi
"Aku yakin kau akan suka" Kata Aris sambil memberikan sedikit nasinya
"Kenapa sedikit sekali?" Tanya Dedi
"Aku memberikanmu sedikit agar kau terbiasa terlebih dahulu. Jika kau mulai suka aku akan memberikannya lagi" Jawab Aris
"Baiklah. Akan aku coba" Kata Dedi
Dedi pun mencoba memakannya dan benar saja. Ia mulai menyukainya dan meminta lagi kepada Aris.
"Aku tidak tahu ternyata mie sangat enak jika dicampur nasi" Kata Dedi
"Syukurlah. Kamu suka. Tapi aku beritahu sesuatu yang penting, ya. Nasi dan mie sebenarnya itu cukup berbahaya. Jadi, aku sarankan kau untuk tidak terlalu sering memakan mie cup atau sejenisnya. Aku sarankan kau untuk memakan buah dan yang lainnya agar kebutuhan tubuh kita tetap terjaga" Kata Aris
"Apa bisa menyebabkan kematian?" Tanya Dedi
"Dari kasusnya, jarang ada kematian. Tetapi, yang akan berbahaya adalah ususmu. Jika itu terjadi, maka jalan satu-satunya adalah dioperasi" Jawab Aris
"Begitu, ya. Baiklah, aku akan ikuti saranmu" Kata Dedi
"Terimakasih banyak. Sudah, cepat habiskan. Nanti keburu sore" Kata Aris
__ADS_1
"Ah, kau benar" Kata Dedi langsung melanjutkan makannya
Setelah selesai istirahat dan makan, Dedi melanjutkan pekerjaannya. Dan saat ditengah-tengah mengerjakan pekerjaannya, datanglah Resti seorang diri membawakan makanan.
"Permisi" Kata Resti
"Resti, ada apa?" Tanya Aris
"Ini aku bawakan makanan. Aku yakin kalian pasti lapar" Jawab Resti
"Makanan? Tapi, kami sudah..." Kata Dedi dipotong pembicaraannya oleh Aris
"Ya, ya. Taruh saja disana. Kami akan memakannya" Kata Aris sambil tertawa kecil
"Kau? Apa yang kau lakukan? Kita kan sudah makan" Kata Dedi bersuara kecil
"Kau ini, tidak mengerti perasaannya wanita, ya. Apa kau tahu apa yang akan terjadi bila kita menolak tawaran mereka? Mereka akan merasa bahwa usahanya tidak dihargai. Maka dari itu, kita terima saja" Jawab Aris bersuara kecil
"Kalian, kenapa berbisik-bisik?" Tanya Resti
"Ti-Tidak ada" Kata Aris tertawa kecil
"Iya. Tidak ada apa-apa kok" Kata Dedi juga tertawa kecil
"Begitu, ya. Jadi, sudah sampai mana pekerjaan kalian?" Tanya Resti
"Tinggal pasang pintu dan juga papan selesai" Jawab Dedi
"Ternyata kau hebat juga, ya" Kata Resti memuji
"Ah, tidak juga. Aku hanya memiliki ilmu saja" Kata Dedi
"Begitu, ya. Kalau begitu, aku pulang dulu. Jangan lupa dimakan, ya" Kata Resti
"Baik. Terimakasih banyak" Kata Aris
"Selamat tinggal" Kata Dedi
"Dadah" Kata Resti
"Jadi, kapan kita akan memakannya?" Tanya Dedi
"Kalau kau masih lapar. Kau boleh memakannya" Jawab Aris
"Lalu kau bagaimana?" Tanya lagi Dedi
"Sudahlah makan saja. Masakannya terbaik. Aku pernah mencobanya" Jawab Aris
"Mencobanya? Kapan kau pernah mencicipinya masakannya?" Tanya Dedi
"Ah, sialan. Aku keceplosan. Maksudku masakan ibunya" Jawab Aris tertawa kecil
"Begitu, ya. Ya sudah aku mau lanjutkan pekerjaanku dulu. Kau santai saja" Kata Dedi
"Baiklah" Kata Aris
Di lain tempat.
"Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu, Sa-ya-ng-ku" Kata perempuan berambut hitam dengan tatapan mata yang menyeramkan
__ADS_1
...END...