Keberadaan Yang Tersembunyi

Keberadaan Yang Tersembunyi
Memulai Bisnis


__ADS_3

Mereka semua memeluk Yuni yang sudah kembali. Riana, Ririn dan juga Aris hanya bisa melihat mereka bahagia.


"Kau kembali, Kak Aris" Kata Riana


"Terimakasih. Jadi ada perkembangan apa?" Tanya Aris


"Tanah disini sangat subur. Kami memiliki banyak sekali hasil bumi. Kami semua menunggu kedatangan Kak Aris" Jawab Riana


"Menunggu kedatanganku?" Tanya Aris yang kebingungan


"Ya, kami tidak tau apa yang harus dilakukan dengan semua sayuran dan juga buah-buahan yang ada di gudang" Jawab Riana


"Begitu, ya. Baiklah, aku akan mencari seseorang yang mau membeli hasil panen kita" Kata Aris


"Ngomong-ngomong, siapa dia?" Tanya Riana


"Dia adalah putri dari suku kalian. Apa kalian tidak pernah kenal sebelumnya?" Tanya Aris


"Bukan tidak kenal. Aku tidak pernah bertemu sebelumnya. Apa kau benar-benar tuan putri?" Tanya balik Riana


"Memangnya kemana saja kamu selama ini?" Tanya Aris kepada Ririn


"Aku dan orangtuaku memang selama ini tidak pernah ada di desa. Mereka melatihku dihutan agar saat monster tiba aku tidak lari. Tapi, bukannya monster yang datang malah sekumpulan orang yang berbaju besi dan membawa pedang yang datang. Mereka menyerang semua warga desa, Ayahku yang mengetahuinya langsung berlari ke desa untuk melawan mereka. Karena aku yang panik, aku dan ibuku langsung mengikuti ayahku dan pada saat disana orangtuaku melawan mereka. Tetapi, mereka kalah dalam pertarungan itu. Ayahku yang masih sadar menyuruhku untuk lari. Tapi apa daya, pada saat itu aku hanyalah gadis lemah yang tidak bisa apa-apa. Saat terbangun, aku sudah berada dipenjara. Mereka semua melihatku dengan wajah yang menakutkan. Seolah-olah mereka ingin memiliki diriku. Dan pada waktu itu, aku diberi serbuk yang membuat aku tertidur. Dan pada saat aku terbangun, aku sudah berada di ruangan itu dan aku berhasil dipertemukan oleh dirimu. Aris" Jawab Ririn


"Begitu, ya. Memang kejam pasukan kerajaan" Kata Aris


"Itu cerita yang menyedihkan. Maafkan aku, tuan putri" Kata Riana sambil menundukkan kepalanya


"Sudahlah, angkat kepalamu. Dan juga, berhenti memanggilku tuan putri. Karena gelar itu sudah tidak ada lagi padaku. Panggil saja aku Ririn" Kata Ririn


"Baiklah, aku pikir kita seumuran. Jadi, aku akan memanggilmu Ririn" Kata Riana


"Terimakasih.." Kata Ririn yang kesusahan memanggil namanya


"Riana" Kata Aris menyahut


"Riana" Kata Ririn


"Ya, terimakasih. Aku harap kita bisa lebih akrab" Kata Riana


"Oy.. Kalian, mau sampai kapan kalian berpelukan?" Tanya Aris


"Ih, Kak Aris ini tidak tahu kami sedang bahagia, ya" Kata Tasya


"Tahu nih, kami sedang bahagia tahu" Kata Melani


"Mau sampai kapan kalian seperti itu? Kemarilah Kak Riana sudah dapat teman baru" Kata Aris


"Teman baru? Mana, aku mau lihat" Kata Tasya


"Ayo, kawan-kawan. Kita lihat teman baru Kak Riana" Kata Melani


"Ayo!!" Kata mereka serempak


Meraka semua datang dan terkejut karena dia memiliki tubuh persis seperti mereka.


"Kak Aris, dia itu siapa?" Tanya Yuli


"Dia adalah tuan putri" Jawab Yuni


"Tuan putri?" Tanya Melani yang terkejut

__ADS_1


"Maksudmu tuan putri dari ras kita?" Tanya juga Tasya yang terkejut


"Ya, kenapa kalian tidak mengenalnya?" Tanya Aris


"Kami, bukan tidak mengenalnya. Hanya saja, dia jarang terlihat" Jawab Tasya


"Mohon maafkan saya semuanya. Orangtuaku menyuruhku untuk terus berlatih agar menjadi penerus yang hebat. Saya minta maaf bila tidak bisa bermain dengan teman-temanku yang seumuran dengan saya" Jawab Ririn sambil menundukkan kepalanya


"Ya, mau bagaimana lagi" Kata Melani


"Pasti berat, ya" Kata Tasya


"Baiklah semuanya. Mari kita masuk ke dalam" Kata Riana


"Itu ide yang bagus. Kebetulan aku sudah lapar" Kata Aris


"Kalau begitu. Biarkan aku yang masak" Kata Melani


"Aku juga akan membantumu" Kata Tasya


"Baiklah. Ayo kita masuk ke dalam" Kata Aris


Semua orang masuk kedalam rumah. Aris yang melihatnya sangat kagum dan terkejut karena rumah yang selama ini ditinggalkan menjadi sangat bersih dan rapi.


"Sudah lama aku tidak membersihkan tempat ini. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada tempat ini jika tidak ada kalian semua" Kata Aris


"Sudahlah Kak Aris, kami juga merasa ini menjadi rumah kami sendiri. Seharusnya kami yang berterimakasih karena kita semua bertemu dengan Kak Aris" Kata Melani


"Kau benar. Aku mau periksa gudang dulu. Kalian masaklah" Kata Aris


Aris pergi ke gudang sendirian dan iapun terkejut karena melihat hasil buminya sangat banyak. Iapun mulai mendapatkan ide untuk menjual barangnya. Aris kembali ke rumah dan menemui Tasya.


"Bibit yang aku beri, apa segitu hasilnya?" Tanya Aris


"Aku juga kebetulan mempunyai ide untuk menjual hasil panen tersebut. Tetapi, aku kesulitan untuk menemukan orang yang kupercaya. Jika aku menyuruh salah satu kalian maka akan banyak orang yang curiga di kota" Kata Aris


"Kak Aris. Kami rasa bisa menjual hasil panennya asalkan ada yang bisa bertarung diantara kami" Jawab Tasya


"Memangnya kalian ingin menjualnya kemana?" Tanya Aris


"Aku rasa desa sebelah" Jawab Tasya


"Desa sebelah, ya? Itu kan masih masuk wilayah kerajaan Ayus. Aku rasa tidak apa-apa" Kata Aris


"Jadi, bagaimana? Apa kami boleh menjualnya?" Tanya Tasya


"Aku menolak. Biar aku saja yang menjualnya. Aku berniat mengajari kalian berlatih agar bisa menjaga diri kalian sendiri" Jawab Aris


"Baiklah, kalau begitu. Aku tahu kamu pasti mengkhawatirkan kami. Tapi, kami akan mengikuti apa yang kau katakan saja" Kata Tasya


"Terimakasih. Aku akan berangkat sekarang" Kata Aris


"Dengan ini saja?" Tanya Tasya


"Aku rasa membawa sedikit akan cepat habis. Maka dari itu, aku akan kembali dengan cepat" Jawab Aris


"Baiklah. Hati-hati di jalan, ya" Kata Tasya


"Baik" Kata Aris


Aris pergi ke desa sebelah dan berpamitan dengan Tasya. Sesampainya disana, Aris melihat banyak sekali orang padahal desa ini tidak terlalu besar.

__ADS_1


"Wah, ramai sekali. Sekarang dimana aku harus berjualan, ya? Dimana-mana tempatnya sudah penuh" Kata Aris


Tidak berapa lama, Aris melihat ada tempat yang kosong segeralah dia berlari kesana agar tempat itu tidak diambil orang lain. Akhirnya, Aris berhasil menempati tempat itu dan langsung menggelar kain untuk menaruh sayuran dan buah-buahan.


"Ramai sekali, ya. Saking ramainya tidak ada satupun yang kemari" Kata Aris menghela nafas


Tidak lama terdengar, suara seorang perempuan yang ingin membeli dagangannya.


"permisi, apa ini dijual?" Tanya wanita itu


"Ya, silahkan. Pilih saja mana yang kamu suka" Kata Aris


"Kenapa barangnya sangat sedikit?" Tanya wanita itu


"(sedikit terkejut).. Aku ini baru berjualan disini. Makanya aku sedikit membawa daganganku" Jawab Aris


"Begitu, ya" Kata wanita itu


"Kalau mau silahkan dicoba" Kata Aris sambil memberikan apel


"Eh, apa boleh?" Tanya wanita itu yang sedikit terkejut


"Tidak apa-apa. Silahkan saja" Kata Aris


"Baik. Aku akan mencobanya" Kata wanita itu mengambil apel yang diberikan Aris


Wanita itu pun memakan apelnya dan kaget dengan rasanya.


"Bagaimana?" Tanya Aris


"Apa ini? Aku belum pernah memakan apel yang seenak ini" Jawab wanita itu


"Itu aku yang menanamnya sendiri dan saat panen aku tidak tahu bagaimana rasanya. Karena kulihat apel ini tidak ada cacat. Jadi, aku langsung menjual saja" Kata Aris


"Kau menjual barangnya tanpa mencobanya? Apa kau tidak takut jika buah itu mengandung racun?" Tanya wanita itu


"Tentu saja, tidak. Karena aku yakin penawarnya pasti bisa ditemukan" Jawab Aris


"Kalau kau yang bilang begitu, ya sudah. Aku beli semua apelnya" Kata wanita itu


"Baik" Kata Aris sambil merapikan apelnya


"Jadi berapa totalnya?" Tanya wanita itu


"Apel semuanya jadi 5, ya. 15 Keping perunggu saja" Kata Aris


"Jadi kau menghargai 1 apel ini 3 keping perunggu?" Tanya wanita itu


"Ya, memangnya kenapa?" Tanya Aris yang terkejut


"Apa tidak terlalu murah?" Tanya lagi wanita itu


"Aku tidak memiliki pengalaman dalam usaha. Jadi, aku menjual seadanya saja" Jawab Aris


"Jadi, yang lainnya?" Tanya lagi wanita itu


"Ya, semuanya 3 keping perunggu. Aku masih memiliki banyak stock. Karena tanahku sangat subur untuk semua jenis tumbuhan" Jawab Aris


"Memang dimana kau tinggal?" Tanya wanita itu


"Aku tinggal di rumah lamaku. Yaitu hutan Ecber" Jawab Aris

__ADS_1


"Hu-tan Ec-ber?" Kata wanita itu benar-benar terkejut


...END...


__ADS_2